
Sesuai kesepakatan kemarin antara Daniel dan Raymond kini mereka berkumpul di Royal restauran. Peter, Daniel dan Angel menemuu Raymond yang datang sendiri, sedangkan Hansel berjaga di luar untuk berjaga. Takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Mereka berempat selalu waspada setiap kali berhubungan dengan Raymond.
Sebelum memulai pembicaraan Daniel menyuruh Raymond,angel dan orang ,peter untuk segera memakan, untuk makan dulu secara humble.
"Apa yang ingin anda katakan kepada saya tuan Raymond sepertinya penting sekali. " Daniel mulai membuka perbincangan.
"Maafkan saya tuan Daniel, karena saya sudah mengganggu waktu anda yang sangat sibuk. "
"Aku memberikan waktu berharga ku ini, karena kau memohon kepada asisten ku untuk bertemu, dan aku tidak akn membiarkan orang yang lebih tua memohon kepada orang yang lebih muda.
" Kata Daniel santai. "Dan sekarang, setelah kau memohon kepada Peter untuk bertemu, cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan tuan Raymond. " Daniel memberikan penegasan di setiap kalimatnya.
Raymond yang merasa terintimidasi dengan Daniel meneguk ludahnua kasar.
"Ini baru tuan Daniel yang bicara, belum princess. Mungkin kalau princess yang bicara kau sudah tidak bisa bernapas, Raymond. " gumam Peter dalam hati, memperhatikan gerak gerik Raymond.
"Saya ingin meminta bantuan anda tuan Daniel. Perusahaan saya terancam bangkrut. Para investor menarik sahamnya dan beberapa perusahaan membatalkan kontrak kerja sama. Perusahaanku benar-benar di ambang kehancuran. Saya mohon bantuanmu tuan. " Raymond memohon kepada Daniel dengan menangkup kan kedua tangannya.
"Apa kau lupa, dengan apa yang akan kau lakukan pada perusahaanku? " sinis Daniel. "Kau menyodorkan kontrak yang berisi kecurangan disana, dan syukur lah istriku ini pandai membaca dan memahami data yang kau berikan, Sehingga kami tidak sampai melakukan kerjasama denganmu. Dan sekarang kau dengan tidak tahu malunya memohon kepadaku untuk membantu perusahaanmu yang akan bangkrut itu. Apa kau waras?" geram Daniel
Angel yang melihat Daniel mulai terbawa emosi menggenggam tangan Daniel dengan kuat agar Daniel bisa bersabar menghadapi orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.
"Maafkan saya tuan, saya mohon maafkan saya. "
"Jika kami mau membantumu, apa yang bisa kau jaminan kepada kami. Tidak mungkinkan kami menolongmu secara cuma-cuma tanpa jaminan apapun." Kini Angel yang mengambil alih pembicaraan, karena kondisi Daniel yang penuh emosi dan sudah tidak memungkinkan.
"Jaminan? " tanya Raymond bingung.
"Tentu saja jaminan. Setiap transaksi pasti ada jaminan kan? Kau pikir kami adalah orang yang sangat dermawan sehingga, memberikan bantuan secara cuma-cuma dan tanpa jaminan. "
ketua Angel.
"Maaf nona, memangnya apa yang anda inginkan dari saya sebagai jaminan. Perusahaan hampir bangkrut, hutang kami di mana-mana. " kata Raymond memelas, berharap mendapat belas kasihan dari Daniel ataupun Angel.
"Ada." jawab Angel singkat.
"Apa nona? " tanya Raymond tak mengerti.
"Saham yang kau miliki, perusahaan dan rumahmu. Kami akan memberi waktu tiga bulan, untukmu berkembang dengan uang yang kami pinjamkan, namun jika dalam waktu tiga bulan kamu gagal mengembangkan usahamu, maka kami akan mengakuisisi perusahaanmu dan menyita rumahmu. " Angel berkata dengan santai, tanpa memperhatikan wajah Raymond yang sudah tidak enak dilihat. "Bagaimana tuan Raymond? apa anda setuju? " tanya Angel masih dengan santainya.
"Mana mungkin aku memberikan semua itu pada kalian nona. Itu semua adalah sesuatu sudah aku bangun sejak dua puluh lima tahun yang lalu nona. Jadi mana mungkin aku memberikannya kepada Anda. " kata Raymond dengan mata berkaca-ksca.
__ADS_1
Terserah padamu. aku dan suamiku sudah membicarakannya secara matang.
"Seprtinya ini sudah larut malam, ayo kita kembali sayang? " ajak angel kepada Daniel. Daniel pun menurut apa kata Angel.
"Tunggu. Sebenarnya saya sudah putus asa dengan krisis yang terjadi di perusahaan. Maksud saya menemui anda adalah, untuk menawarkan saham perusahaan saya kepada anda. Apakah anda mau membeli saham saya nona Angel. " Raymond menawarkan sahamnya, sambil menyerahkan beberapa berkas penting perusahaan diatas meja.
Daniel menaikkan alisnya.
"Apa anda yakin tuan Raymond? " tanya Daniel tiba-tiba.
"Iya tuan, saya sudah menyerah mengelola perusahaan, dulu perusahaan saya sudah bangkrut sama seperti kejadian ini, Namun saya bisa bangkit berkat pinjaman dana dari sahabat saya. Sekarang terjadi hal yang sama. Tidak ada yang bisa membantu saya, selain menjual saham perusahaan saya kepada Anda. Setelah itu uangnya akan saya berikan kepada sahabat saya, dan saya ingin hidup dengan tenang tuan. " Raymond menjelaskan keinginannya setelah ini.
Namun seringaian licik muncul di bibir ketiga orang di hadapannya.
"Kau akan menghabiskan waktumu di penjara" batin Peter.
"Kau akan membusuk di penjara" batin Daniel.
"Kau akan mati di penjara. " batin Angel.
"Bagaimana tuan dan nona? apakah anda mau membeli saham saya? " tanya Raymond setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Besok kami akan mendatangi perusahaan anda bersama pengacara kami. " Angel melanjutkan.
Ketiga orang itu menoleh kearah Angel.
"Apa ada yang salah dengan perkataanku. Bukankah kita harus melihat-lihat keadaan perusahaan yang akan kita beli sahamnya. Apakah layak atau tidak. " ujar Angel santai.
DAn ketiga orang itupun mengangguk setuju.
"Terserah anda nona jika memang anda ingin datang ke perusahaan, kami kan menerima anda dengan senang hati. " ujar Raymond dengan tersenyum senang.
"Baiklah, kalau begitu pertemuan kita malam ini kita akhiri sampai di sini. " Daniel menutup pertemuan mereka malam ini.
Mereka pun keluar dari ruangan VIP restoran menuju mobil Dan kembali ke kediaman masing-masing.
Raymond merasa sedikit lega, setidaknya ada yang mau membeli sahamnya, dan dia akan gunakan uangnya untuk menutup semua hutang-hutangnya, setelah itu dia akan menghabiskan masa tuanya tanpa memikirkan urusan perusahaan lagi. Sungguh pemikiran yang indah bagi Raymond.
Namun berbanding terbalik dengan yang di pikirkan Daniel cs. Mereka ingin menghukum Raymond dengan hukuman setimpal atas apa yang telah lakukan dimasa lalu.
"Jadi besok kita akan ke perusahaan Ellmund? " tanya Daniel kepada angel saat perjalanan pulang.
__ADS_1
"Iya, kita akan melihat-lihat dulu disana. Setelah itu kita akan melakukan rencana kita yang terakhir. "
"Maksudmu? "
"Setelah tanda tangan akuisisi perusahaan, disaat itu pula polisi harus menjemput Raymond. " Kata Angel santai. "Dan kalian berdua harus bergerak besok. Berikan bukti-bukti kejahatan Raymond, dan atur agar penangkapan nya dilakukan setelah pengambil alihan kekuasaan. "
"Baik Princess akan kami laksanakan. " ujar Peter yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan atasannya.
"Bagus. pokoknya lakukan sesuai rencana kalian, yang sudah kalian susun dengan matang.
" Baik. " jawab mereka berdua kompak.
Mobil pun menuju mansion Alexander dengan kecepatan sedang.
Angel menggenggam erat tangan Daniel. Dia tau saat ini suaminya itu sedang dilanda rasa gelisah.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
"Apakah keputusanku untuk menghukumnya sudah benar? " tanya Daniel masih ragu.
"Sudah benar. semua kesalahan di dunia ini memang harus mendapatkan hukumannya. Apalagi kesalahannya yang sudah menghilangkan nyawa seseorang. " Angel masih berusaha menenangkan Daniel.
Angel tau selama ini Daniel adalah pria yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, walau sifatnya itu ditutupi oleh sikap dingin dan kakunya. Sehingga terlihat angkuh dan arogan dari luar.
"Apa malam ini kau tidak ingin memakanku?" bisik Angel di telinga Daniel.
Daniel merasa kegelian dengan kelakuan Angel.
"Malam ini kita tidur saja, aku sedang tidak ingin memakanmu." Balasnya dengan berbisik juga.
Dan kelakuan menggelikan itu diperhatikan dua asisten yang ada didepan mereka.
"Apa-apaan mereka itu. Seperti anak kecil, menggelikan. " gumam Peter dengan bergidik.
Hansel yang memperhatikan kedua atasannya dari kaca spion hanya tersenyum, dia merasa bahagia bila melihat nona dan tuannya juga bahagia.
"Semoga kebahagiaan kalian bisa menular padaku suatu hari nanti. " batin Hansel.
Bersambung
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1