
TAK TAK TAK
Suara langkah dari dua pasang kaki milik Lin Mu dan juga Beibei, mengudara memecah kesunyian.
Suasana di dalam bangunan rahasia itu mulai sepi. Aktifitas para ahli di dalamnya sudah redup entah di angka waktu ke berapa.
Tidak dalam pembicaraan, Beibei nampak fokus ke depan, sedangkan Lin Mu sesekali menelisik sekitar. Keadaan sekeliling membuatnya cukup takjub.
Tak sampai sepuluh menit, ayunan tungkai kaki sepasang anak muda itu telah terhenti di hadapan sehelai daun pintu.
Tak menanggapi keingintahuan dari ekspresi wajah Lin Mu, Beibei mulai membuka pintu itu perlahan, tanpa ketukan apalagi teriakan permisi dan sejenisnya.
Setelah memasuki sekitar dua langkah dari ambang pintu, pasang mata milik Lin Mu dan Beibei sudah menangkap sosok seorang pria tua berambut ikal sebahu dengan warna coklat tanah, terduduk bersila di alas sebuah bantal bulat ceper di satu bagan sisian ruangan. Di balik punggung pria itu, pemandangan kota tergambar jelas melalui kaca besar yang terpasang di sana.
Lin Mu sedikit terkejut, ketika tanpa diduganya, sosok pria dengan tingkah mirip seorang petapa itu, membuka matanya tiba-tiba. Sebias cahaya kuning menyerupai api terpancar bersamaan seiring terbukanya mata dengan sorot melebihi tajamnya bidikan mata elang tersebut.
"Ternyata Beibei," kata pria itu. "Kenapa tengah malam datang ke tempat Paman Yang?"
Lin Mu masih memperhatikan.
Cahaya dewa yang keluar dari orang ini, dia mungkin sudah menembus alam dasar, dan mencapai tahap alam roh, asumsi Lin Mu dalam hati. Sejurus matanya terus menelisik. Tapi dia masih sangat jauh dari alam bawaan.
Beibei mengambil gerak sedikit maju ke depan.
Dengan wajah sopannya, ia mulai berkata, "Paman Yang, kali ini aku membawa satu-satunya orang yang berbakat dalam seni beladiri."
Sedikit senyuman tersungging di bibir pria yang disapa Paman Yang oleh Beibei tersebut. Seraya dengan perlahan mengangkat tubuhnya, pria itu lantas berujar, "Beibei, tengah malam begini, kamu bercanda dengan Paman Yang-mu?" Tubuhnya mulai menegak, lalu melanjutkan tanpa mengangkat wajahnya menatap kedua pemuda di depannya, "Usianya ini sudah cukup terlambat untuk berlatih beladiri." Ia menyimpulkan.
Merasa tertolak, Beibei maju dengan cepat mendekati pria tua berambut ikal tersebut. "Paman Yang percayalah padaku." Ia lalu menarik dan menggoyang-goyangkan lengan pria itu dengan wajah memaksa. "Jika tidak percaya, Paman periksa sendiri saja!"
Paman Yang terkekeh lucu. "Baik, baik," katanya. "Kamu ini."
__ADS_1
"Hehe." Beibei menanggapi dengan cengiran kuda yang menampilkan deretan rapi gigi depannya.
Paman Yang mulai melangkah mendekat ke arah Lin Mu. Tatapan matanya berganti tajam dan serius. Tanpa berkata, disentuhnya kedua bagian pundak pemuda itu oleh masing-masing kanan dan kiri tangannya. Sedikit gerakan memijat kecil untuk memastikan kekuatan otot-otot di tubuh Lin Mu, seperti yang dilakukan Beibei ketika itu.
Tak sampai tiga puluh detik, Paman Yang sudah dibuat terkejut saja. "Ini ... bagaimana bisa seperti ini?" Matanya hingga terbelalak. "Memiliki dasar yang begitu luar biasa, tapi tak berlatih seni beladiri apa pun?!"
Dengan senyuman riangnya, Beibei menyergah, "Benar, Paman. Namanya Lin Mu. Dulunya dia hanya orang biasa. Dia menjadi seperti ini karena sebuah kecelakaan. Jatuh dari gedung."
Siapa yang tidak akan terkejut dengan kabar konyol demikian, termasuk Paman Yang sendiri. Untuk kedua kali, sepasang mata pria tua itu dibuat terbelalak. "Ternyata ada hal seperti itu?"
"Benar," Lin Mu mengambil jawaban. "Aku pernah melakukan pemeriksaan yang cermat, dengan berbagai peralatan canggih di rumah sakit. Namun para dokter tetap tidak menemukan alasannya."
"Aku mengerti," ucap Paman Yang. "Karena Beibei membawamu kemari, itu artinya kamu seharusnya sudah tahu masalah tentang Grup Baolong, 'kan?" Tatapannya menanjak semakin tegas. "Apakah kamu sudah memutuskan untuk bergabung dengan Grup Baolong?!"
Seperti besi-besi tangguh yang mampu menopang bobot luar biasa jalanan tergantung, aura yang dikeluarkan Paman Yang terasa semakin kuat dan menusuk. "Tapi sebelum bergabung, kamu harus lebih dulu lolos dari tesnya. Dan begitu kamu bergabung dengan Grup Baolong, kelak kamu akan sulit untuk melepaskan diri daripadanya. Apakah kamu sudah mempertimbangkan itu dengan baik?!" tanyanya memastikan.
"Sebelum datang kemari, Beibei sudah lebih dulu menjelaskannya padaku. Aku bersedia bergabung dengan Grup Baolong!" jawab Lin Mu menegaskan.
"Baiklah. Aku akan mengatur orang untuk menjalankan tes untukmu. Harusnya dengan kualifikasimu, ini bukan hal yang sulit," tutur Paman Yang. "Dasar sebaik ini, memang sayang sekali jika tidak berlatih seni beladiri."
Buku tersebut kemudian sodorkan ke arah Lin Mu. "Mengenai jurus beladiri, kamu bisa datang ke sini untuk belajar denganku. Tentu saja setelah familiar dan menguasai teknik pernapasan," Paman Yang menandaskan kalimatnya.
Lin Mu menerimanya penuh keyakinan. "Terima kasih, Senior Lu!" ujarnya, yang hanya diangguki tipis oleh pria berambut ikal coklat terdebut.
"Paman Yang, jika tidak ada hal lain, aku akan membawa Lin Mu untuk menjalankan tesnya." Beibei mengambil peran.
"Hmm ... pergilah!" sahut Paman Yang singkat saja.
Selepas kedua manusia muda berlainan gender itu berlalu dari hadapnya, tatapan Paman Yang masih geming menyorot pintu yang baru saja kedua orang itu dilalui.
"Lin Mu ...," gumamnya. "Beibei sungguh mengantarkan hadiah yang besar. Kemungkinan cabang Donghai-ku akan muncul petarung yang sangat hebat."
__ADS_1
____
Semalam, entah kenapa rasanya bulan terasa lebih bulat dan lebih besar dari biasanya. Awan-awan yang melintas di hadapnya menyingkir gegas seolah ketakutan.
Dan saat ini, di ufuk timur, matahari mulai mengintip, siap menggantikan peran bulan yang jelas hanya bagian kecil dari kekuasannya.
Di asrama Universitas Donghai.
Lin Mu telah berada di dalam kamarnya. Dan saat sendiri seperti ini, perannya mutlak kembali sebagai Chang Kunzi.
Tanpa mengganti busana formal dan lainnya, sepulang dari markas besar Baolong tadi bersama Beibei, ia langsung menarik kursi dan mendudukinya, lalu dengan serius mulai membuka lembar demi lembar buku yang diberikan Senior Lu, atau sesuai panggilan Beibei, Paman Yang.
Wajahnya nampak serius tak terusik.
Halaman demi halaman disibak dan dibacanya dengan fokus penuh.
Pantas saja napas Lu Shouyang itu begitu tidak murni, ternyata itu untuk menyerap kekuatan spiritual yang sedikit di bumi ini.
Setelah merangkai komentar di kepalanya, buku itu ditutup Chang Kunzi.
Di saat yang sama, ia merasakan lain di bagian kiri tangannya. Ditatap lalu diangkatnya telapak tangannya itu untuk melihat apa yang terjadi.
Cincin yang melingkar di jari telunjuknya nampak mengeluarkan sinar dengan asap hitam yang berkeliling di bagiannya.
Asap serupa seperti ketika pertama kali cincin itu terbentuk, beriring dengan proses menyatunya ruh dan raga berlainan yang membentuk diri Lin Mu atau Chang Kunzi yang sekarang.
Asap hitam itu berkumpul mengitari cincin. Chang Kunzi masih menatapnya dengan raut cengang.
Tidak tahu kapan aku bisa membuat cincin Dewa kuno ini, agar mengeluarkan kegunaannya, selain sebagai tempat penyimpanan.
Terlihat asap hitam itu mulai terserap ke dalam cincin, lalu menghilang seluruhnya. Chang Kunzi menyunggingkan senyuman tipis.
__ADS_1
Sudahlah. Karena ini sudah pagi. Kalau begitu lebih baik aku ke perpustakaan untuk mempelajari ilmu pengetahuan dunia ini saja.
Kini perannya kembali sebagai Lin Mu, si mahasiswa.