
Ji Qinglan tiba-tiba menghilang dari hutan pegunungan itu, saat pandangan Lin Mu mengarah ke lain hal. Dan saat ini Lin Mu tengah berjalan seorang diri menyusur jalan berkelok dan berundak menuju pulang.
Sejuk udara dengan angin yang sesekali menampar, membuat rambut coklatnya melecut-lecut seolah marah, tak dipedulikan Lin Mu.
Saat ini perasaannya tengah dituntun antara gusar, kesal, juga tak habis pikir.
"Menyerahkan diri untuk menjadi istri?" Ia berkata seorang diri seraya terus melangkah. "Sekarang ini anak perempuan terlalu sembarangan."
Sejenak menghentikan langkah untuk meraup udara sedalam-dalamnya.
Dengan keadaan ini, mau tidak mau, ia sudah terikat hubungan dengan Ji Qinglan.
Kuliah yang rajin, menunggu lulus, lalu menikah.
"Hhuft ... hal sepele membuat lelah. Sebaiknya sekarang memikirkan bagaimana ke alam bawaan saja dulu." Lin Mu memutuskan dengan mata terpejam di hentian langkahnya. Lalu meneruskan kemudian.
Langkah demi langkah terayun dengan pikiran berjejal. Hingga tanpa terasa, perjalanannya kini sudah mencapai sebuah wilayah di perbatasan kota.
DRAP
DRAP
DRAP
Suara itu spontan kembali menghentikan langkah Lin Mu. Irama terkejut menuntunnya gegas menoleh ke belakang.
Ada orang-orang terburu-buru ke arahku! Apa pembunuh yang kemarin itu?
Walaupun orang pemilik derap langkah cepat itu belum terlihat, Lin Mu sudah merasakan aura kelam di sekitarnya. Dan pembunuh yang dimaksud Lin Mu, adalah si pria berjubah hijau dengan pisau terbang yang menyerangnya kemarin saat kembali dari konser.
Dan ....
"MINGGIR!" Benar saja, orang itu berteriak menghalau Lin Mu. Dari jauh kemunculannya saja sudah tidak sedap untuk dipandang. "Anjing yang baik tidak akan menghalangi!" teriak orang itu lagi semakin dekat.
Lin Mu sudah berbalik badan menyongsongnya.
"AWAS!! MINGGIR!!"
Nggg ....
__ADS_1
Lin Mu sontak menghindar dan menyisi.
Ternyata bukan menyerangku! Ia berkacak pinggang sebelah tangan dan tangan satunya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, memandang punggung pria berjaket hitam dengan kupluk rajut kusam yang baru saja melewati tubuhnya.
Apa dia sedang latihan lari jarak dekat? terka konyolnya dalam hati. Kelihatannya tergesa-gesa.
Selang tiga puluh detik ...
SWUUUSSSHH
Satu orang menyusul di belakangnya--juga berlari.
Lin Mu memandangnya terkejut.
Bukannya itu ... Nona Polisi yang tempo hari ....
Lalu dengan konyolnya ia kembali berargumen, apa dia juga sedang berlatih lari jarak dekat?
Pandangan mata hijah berkilauan miliknya terus mengekor kedua orang yang semakin jauh dari pandangnya.
Jadi polisi sangat melelahkan. Setiap hari harus latihan lari jarak dekat, dan kembali berkomentar. Kali ini ia menaruh telunjuknya di bawah dagu, seolah berpikir--pikiran sinting. Tapi lelaki itu sepertinya lebih sekuat tenaga.
"Benar! Sorot mata itu ... sering kulihat di dunia Xiuzhen!"
Pertarungan orang-orang dengan pakaian hitam-hitam seperti Ninja, berkelebat bergantian di kepalanya. "Meskipun tidak sehebat Master Xiuzhen, tapi sorot mata orang itu ... penuh dengan hawa membunuh." Kemudian mengingat kembali cara berlari Polisi Wang di belakangnya.
"Apa jangan-jangan wanita itu sedang mengejar penjahat?!" tandas asumsinya.
Dan ...
DORRR
Suara itu mendengking menggema mengacau udara yang tenang.
Lin Mu berbalik memandangi gang di ujung kelokan dengan mata terbelalak. "Ada suara tembakan!"
Menyadari kebodohannya, dengan gerak kilat Lin Mu berlari menyongsong asal suara tembakan. "Sialan, aku terlalu ceroboh! Membiarkan penjahat menyelinap di bawah hidungku!"
Rem di kakinya spontan bekerja, ketika gang berkelok itu sudah diinjaknya. "Suara tembakan itu seharusnya berasal dari sini!" Wajahnya celingukan mengedar kiri dan kanan, juga depan dan belakang, kemudian berlari kecil seraya masih mengedar lihat--mencari. Sampai ....
__ADS_1
"Itu ...," pekiknya tertahan.
Dari jarak kurang dari lima meter di depannya, Wang sudah terkulai dalam posisi meringkuk di atas tanah. Darah segar merembas ke sekitaran di depan perutnya yang ia tekan.
"Huh! Gadis bodoh! Demi menangkapku, nyawa pun sudah tidak mau lagi!" cemooh si penjahat. Soft gun di tangannya masih tertodong ke arah Polisi Wang.
"Uuhh, sialan!" Wang merintih dengan ringisan kuat di wajahnya. "Padahal sedikit lagi."
"Hey, Polisi! Kamu tidak apa-apa, 'kan?!"
Lin Mu Menyonsongnya. Menurunkan tubuh lalu berjongkok. Telapak kanan tangannya menyelinap ke bawah tengkuk Polisi Wang, sedang kirinya ia gunakan untuk menopang tubuh wanita itu membawanya untuk bangun.
Kini wajah mereka saling bertemu. Tunduk wajah Lin Mu menatap cemas wajah Wang yang mendongak balas menatapnya dengan raut naas. Tetesan darah segar nampak mengalir di sudut kanan bibir wanita itu, dalam lahunan Lin Mu.
Jantung!
Dengan mata terbelalak lebar, pandangan Lin Mu teralih pada bagian dada tepat di posisi saku atas tubuh ringkih dalam rengkuhnya. Sebuah lubang hasil tembusan peluru masih sibuk mengeluarkan darah.
Saat itu juga, Lin Mu menggunakan insting terdalamnya untuk melihat ke bagian mana peluru itu menembus tubuh Wang.
Tidak! Dilihat dari asal pendarahan ini, peluru seharusnya jauh dari jantung. Sungguh sangat beruntung. Tapi tidak boleh optimis dulu, ini jelas serius. Ia berasumsi disertai tepisan gusar.
"Jangan khawatir, peluru meleset dari organ vital. Kamu akan baik-baik saja!" Melihat tatapan redup aparat wanita itu, Lin Mu meyakinkan Wang segenap hati.
"Umm ... kamu," ucap polwan berambut sebahu itu parau. Dalam pelukan pria ini ... sesuatu yang hangat perlahan merayapi perasaannya. "Kamu ... kenapa bisa di sini? Cepat lari! Jangan pedulikan aku ...."
"Jangan bicara lagi. Tahan lukannya!" Lin Mu menghardik. Tatapan tajamnya kini menusuk ke arah depan di mana si pria penjahat masih terlihat di posisinya.
Tentu saja keberadaan Lin Mu bisa menjadi ancaman yang akan menyulitkan penjahat itu dalam waktu ke depan. Jadi ia tidak akan membiarkannya juga.
Diletakannya perlahan tubuh Wang kembali ke dasar jalanan. "Kamu tunggu sebentar. Tahanlah sedikit. Setelah aku membereskan Gangster ini, aku akan mengirimmu ke rumah sakit," ujarnya kemudian bangkit berdiri lalu melangkah ke depan menghadap pria bersenjata itu.
"A-apa? Kamu gila!" Wang melambai mencoba mencegah. Namun apa daya, ia dalam keadaan lebih dari lemah.
"Hahahaha!" Melihat Lin Mu yang melangkah tanpa raut takut mendekat ke arahnya, penjahat itu tergelak. "Pahlawan penolong si Cantik! Kamu tidak takut mati?!" ejeknya dan tergelak lagi. "Kamu terlalu banyak menonton film! Sekarang akan kubiarkan kamu merasakan kenyataan sebenarnya!" kicaunya percaya diri, lalu .... "Mati kamu!!"
DOOORRRR
Suara tembakan mendengking menyembah langit. Penghuni alam berteriak membangun kerisauan yang hakiki. Kemudian berakhir menjadi back sound paling mengerikan sepanjang sejarah peradaban tukang pijat buta tersandung lalu jatuh ke selokan.
__ADS_1
Apakah Lin Mu tertembak? Siapa pun pasti meyakini ... TIDAK!