Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 23


__ADS_3

Saat ini meja makan seukuran dua kali dua meter itu telah terisi setidaknya tujuh piring makanan yang dimasak Lin Mu dengan jenis menu berbeda-beda. Percokolan mereka cukup ringan saat ini. Terlihat dari raut wajah keduanya yang nampak tenang namun juga tersirat mimik ceria.


"Haha." Lin Mu tertawa ringan menanggapi kalimat Luo Bingyun sebelumnya. "Makanannya sedikit sederhana. Jangan tidak menyukainya, ya?!"


Gadis itu menyergah cepat, "Tidak, tidak! Kamu memasak dengan sangat baik."


Lin Mu terkekeh menanggapi, "Makanlah lebih banyak jika kamu suka." Cukup melegakan sepertinya.


"Omong-omong, apa kamu benar-benar tidak mengingatku?" tanya Luo Bingyun dengan mulut penuh terisi makanan.


Kerutan dengan alis tertaut--melukiskan tampang berpikir di wajahnya, cukup memperlihatkan jika Lin Mu benar-benar merasa tak tahu apa pun terhubung pertanyaan itu. "Umm ... aku benar-benar tidak mengingatmu. Kira-kira, kapan itu terjadi, ya?" Dengan polosnya ia balik bertanya.


"Umm, baiklah, aku beri kamu beberapa petunjuk," imbuh Luo Bingyun. "Kota Nangu ... kabin pesawat kelas VIP."


Kini Lin Mu menyentak pikirnya untuk mengingat. Dan berhasil menemukan kurang dari lima detik saja. Bayangan wanita berwajah angkuh dengan lengan bersilang di bawah dada, seketika membawa pandang Lin Mu pada gadis di seberang mejanya. Oh, ternyata dia.


"Aku tahu, bahwa ada perbedaan besar antara aku sekarang dan aku yang di pesawat itu. Jadi tidak heran, kalau kamu tak cukup mengenali."


Lin Mu mengangguk menyetujui. Seraya mengangkat gelas berisi air putih di hadapan mejanya, ia lalu bertanya, "Omong-omong, kenapa kamu bisa dikejar dan mau dibunuh?"


Sesaat saja Luo Bingyun memikirkan jawabannya. "Tidak ada! Mungkin hanya pesaing dalam bisnis. Mereka ingin mencapai tujuan dengan cara itu."


Anggukan Lin Mu tipis saja--berusaha mengerti. "Aku tidak akan bertanya lebih banyak lagi. Makannya sudah selesai. Sekarang aku akan menangani luka di kakimu," ujarnya ringan saja. Kemudian bangkit dari tempatnya, melangkah mengitari meja, lalu berakhir dengan menurunkan tubuhnya, bersimpuh di bawah kaki Luo Bingyun.


Kaki jenjang mulus putih nan telanjang itu ... pria lain mungkin akan meneguk liur hingga berulang, lalu menyergapnya dengan kecupan-kecupan erotis tanpa pikir panjang. Namun lain dengan Lin Mu, ia masih datar saja.


Seorang pembaca novel sampah ini pernah berkomentar, ‘banyak wanita cantik, tapi Lin Mu cuek dan terkesan naif. Apakah dia seorang gay?’


Ya ya ya ... mungkin nanti, si jagoan kultivasi itu ... akan menjawabnya di lain bab.


Pijatan-pijatan kecil mulai dilakukan Lin Mu pada bagian pergelangan kaki Luo Bingyun yang nampak memar. Wanita itu menyikapi dengan sikap enggan. Namun cukup membuat wajah mulusnya merona merah saking gugupnya.


"Bagian luarnya bukan masalah besar," celetuk Lin Mu memberitahu. "Tapi pergelangan kakimu ... mengalami keseleo yang parah. Aku akan mengobatimu. Mungkin akan sedikit menyakitkan."

__ADS_1


Gerak-gerak lihai memijat yang dilakukan Lin Mu menghasilkan pekik keras dari mulut Luo Bingyun. Namun sekuat hati di tahannya, mengingat betapa berharganya sebuah perhatian.


"Sudah," kata Lin Mu seraya mengangkat kedua tangannya menjauh.


Luo Bingyun menghela napas lega, lalu mulai memutar-mutar pergelangan kakinya perlahan. "Hah! tidak terlalu sakit!" serunya takjub. "Kamu hebat! Apakah kamu ahli pengaturan tulang yang legendaris?"


"Tentu saja bukan!" Lin Mu gegas menyela. "Hanya pernah belajar saja. Aku juga masih mahasiswa," akunya terus terang.


"Oh, masih mahasiswa, ya? Itu juga sangat hebat!" puji wanita itu lagi-lagi. Yang hanya dibalas senyuman simpul oleh Lin Mu.


Detik berikutnya, Luo Bingyun kembali bertanya, sedikit dengan nada sungkan, "Umm, Lin Mu ... apakah aku boleh mandi di sini?"


Lin Mu terkekeh menanggapinya, "Tentu saja boleh. Kamu tunggu sebentar." Ia lalu berdiri dan berbalik, melangkah ke suatu arah. "Aku akan membawakanmu baju ganti."


Lima menit kemudian, ia sudah kembali. Sesuatu berwarna putih lalu disodorkannya pada Luo Bingyun. "Aku tinggal sendiri di sini. Tidak ada pakaian wanita. Kamu hanya bisa memakai ini."


Benda itu diambil Luo Bingyun dari tangan Lin Mu. "Iya, tidak apa-apa. Terima kasih," ucapnya dengan senyum mengembang. Lalu melanting cepat menuju kamar mandi yang arahnya sesaat lalu ditunjukan Lin Mu.


Suara gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi. Di saat yang sama, Lin Mu meneriakkan sesuatu beberapa jarak di depan pintu ruangan lembab tersebut, "Sandalnya sudah ditaruh di depan pintu kamar mandi. Hati-hati tergelincir!"


Kini Lin Mu sudah terduduk di sofa panjang bersekat tiga dengan warna kunyit cerah di dalam sebuah ruangan yang cukup privasi baginya.


Di depannya di atas meja, tiga buah kotak berlainan ukuran, yang salah satunya berisi rumput yang ketika itu dibelinya dari pelelangan. Kotak satu itu dibiarkannya terbuka, hingga memperlihatkan isinya yang lebih mirip seperti segenggam ginseng.


"Hmm, walaupun khasiat obatnya mirip, tapi bagaimana cara menggunakannya tetap perlu dipertimbangankan."


Lima detik kemudian ....


TOK TOK TOK


Suara ketukan dari luar laju mengalihkan perhatiannya.


"Masuk." Lin Mu menyahuti.

__ADS_1


Hmm ....


Aroma khas sabun pria miliknya seketika menyeruak menusuk penciuman Lin Mu. Luo Bingyun, muncul dengan mengenakan baju yang tadi diberikannya.


Sehelai kemeja putih berlengan panjang, menutupi hanya sampai pangkal pahanya saja. Lebih tepatnya, terlihat hanya mengenakan kemeja tanpa celana. Bagian atasnya tak ia kancingkan sepenuhnya, cukup jelas memperlihatkan belahan dada yang ukuran aslinya mungkin setara mangkuk ramen di negara itu.


"Cantik sekali ...."


Hh, Lin Mu bergumam tanpa sadar. Ia bahkan hingga terbelalak menatapnya dilengkapi mulut menganga, persis seekor singa kelaparan berjumpa mangsa.


"Hey, terima kasih pujiannya," kata Bingyun seraya berjalan mendekat ke arahnya. "Eh, apa ini?"


Lin Mu terperanjat. Mengembalikan dirinya pada kenyataan. Diikutinya kemana pandangan Luo Bingyun mengarah. "Uh, ini ... bahan obat untuk pengobatan tradisional China. Digunakan untuk membuat resep," jelasnya.


Nyaris saja, ilusi lelaki sejati mendorong dirinya untuk menegak lalu menerkam wanita itu seperti seekor kucing melahap ikan segar.


"Pengobatan tradisional China?!" ulang Luo Bingyun setengah berteriak, terkejut. "Apakah kamu ingin memakan benda-benda ini?!"


"Hmm, iya." Lin Mu memejamkan matanya demi menghindari pemandangan ekstra segar di hadapannya. "Ada beberapa masalah dalam tubuh yang hanya bisa diobati dengan meminum obat tradisional China dalam waktu lama."


"Aku mengenal beberapa dokter barat yang hebat. Apakah kamu ingin aku memperkenalkan mereka kepadamu, dan membiarkan mereka memeriksanya?" Bingyun menawarkan.


"Tidak, terima kasih," jawab Lin Mu masih setia dengan pejam matanya. "Dokter barat tidak dapat menemukan masalahnya. Ini hanya bisa dipulihkan perlahan dengan obat tradisional China."


Tidak nyaman berbicara dengan mata terkatup, Lin Mu akhirnya membuka kelopaknya perlahan-lahan.


Damn! Pemandangan yang benar-benar mengusik kejantanan.


"Tidurlah, jika kamu lelah. Sudah terlalu larut untuk pulang. Kamar tamu di sebelah sudah dibersihkan. Hal lainnya kita bicarakan besok saja."


Senyuman setipis kelopak sakura disunggingkan Bingyun. "Baiklah. Kalau begitu aku akan tidur dulu. Kamu juga harus istirahat lebih awal. Selamat malam," tutur gadis itu seraya berbalik badan lalu mulai menyusun langkah ringan meninggalkan ruangan.


"Selamat malam," balas Lin Mu dengan senyuman lega.

__ADS_1


Singa tak butuh mangsa manis untuk saat ini. Yang jelas, Lin Mu bukan seorang pecinta sesama jenis, atau pun pria pasif yang tak bisa berdiri tegak.


__ADS_2