Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 69


__ADS_3

Kediaman Keluarga Yan.


Ruangan itu terlihat cukup luas dan berkelas, di sanalah seorang pria tua berjas hitam lengkap dengan dasi dan rengrengannya, duduk tegang di atas sebuah sofa, menghadap bidak-bidak catur yang telah disusun namun tak dimainkannya di atas meja.


"Tuan. Ada berita dari mata-mata kita." Pria berkacamata datang menghampiri dengan berita yang dibawanya. "Anak muda yang bernama Lin Mu, sekarang sudah pulang."


"Apa maksudmu dengan pulang?" tanya pria yang disapanya tuan itu, penasaran.


"Qing She mati di tangannya, Tuan. Lin Mu selamat."


"Apa?!" sentak pria yang tak lain adalah Yan Zhongqing, kepala keluarga Yan--ayah Langshi. "Bertahun-tahun pelihara Qing She, dan sekarang dia kalah di Donghai?!" serunya tak habis pikir.


"Tuanku, tidak perlu kesal karena bocah itu, 'kan?" Sang pesuruh mencoba menenangkan, namun ....


"Menurutmu dia hanya seorang bocah?!" hardik Yan Zhongqing keras. "Bagaimana kalau kamu sendiri yang membereskan dia?"


Wajah pesuruh itu seketika menegang. Dihelanya wajah ke lain arah demi membuang rasa kikuk dan takutnya. "Umm, hamba tidak berani. Serahkan saja pada Xue Chi."


Orang tua itu semakin meradang dibuatnya. "Kamu tahu tentang Qing She. Dia bahkan mati di tangan Lin Mu. Apa kamu masih berpikir dia seorang bocah?!"


...****...


"Lin Mu! Kapan kamu kembali?" Ketiga perempuan penghuni atap yang sama dengannya bertanya terkejut. Lin Mu sudah berdiri di depan pintu utama--hendak masuk ke dalam rumah.


Pemuda itu kemudian berbalik menghadap mereka. "Semuanya maaf. Beberapa hari ini telah terjadi sesuatu. Jadi ...."

__ADS_1


Belum sempat kalimat itu ia tandaskan, Zixi telah lebih dulu menyela, "Lin Mu sialan! Pulang juga tidak memberitahu. Apa kamu tahu, bagaimana kami mencemaskanmu?!"


"Benar! Kami mencarimu di mana-mana. Sedangkan kamu malah diam-diam pulang ke rumah." Xuanrong menimpal kesal.


Di tengah kekesalan kedua sahabatnya, Song Yuru maju menengahi. "Kalian berdua, jangan salahkan Lin Mu. Lagi pula dia 'kan juga baru sembuh."


Lin Mu memasang wajah heran menanggapi kalimat Song Yuru. "Dari mana kamu tahu, aku terluka?!" tanyanya bingung.


"Kakak Zhou yang memberitahu kami." Xuanrong mengungkapkan. Sedikit pancaran sinis dari matanya tertusuk pada Lin Mu. "Dia tadi pagi datang ke kampus mencarimu."


Di antara keterkejutan, Lin Mu bertanya, "Apa yang kalian maksud itu Dokter Zhou?! Dia kenapa mencariku?!"


"Dia bilang kamu tidak menyalakan telepon! Khawatir terjadi sesuatu padamu! Katakan sebenarnya, apa hubungan kalian?!" Nada dan wajah Zixi sinkron membentuk bulatan emosi. Jika ditatap secara kasat mata, dua tanduk besar mungkin berdiri dengan api menyala di kiri dan kanan kepalanya.


Mendapat serangan tanya demikian, Lin Mu memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang. "Bukan seperti yang kalian pikirkan. Dokter Zhou adalah penolongku. Terakhir kali saat terjatuh dari gedung, dia yang menyelamatkanku." Ia coba menjelaskan sebisanya. "Kali ini aku diserang diam-diam. Untung ada dia, kalau tidak, kalian tidak akan dapat bertemu lagi denganku."


Belum sempat pertanyaan itu terjawab, saku celana Lin Mu bergetar. Ponsel yang ditaruhnya di dalam sana mengeluarkan bunyi pertanda panggilan masuk. Lin Mu merogoh dan mengambilnya lantas. Namun sebelum menggeser icon hijaunya, ia berujar terlebih dahulu, "Dengar, aku bukan orang semacam itu!" elaknya tegas. "Tidak bicara lagi dengan kalian, aku angkat telepon dulu," katanya kemudian.


Ditempelkannya benda pipih itu ke telinganya. "Hallo, Dokter Zhou. Tadi ponselku jatuh ke dalam air. Ini baru diperbaiki." Sedikit senyum tersungging di bibirnya.


Cemburu satu - Zixi.


"Telepon dari Kakak Zhou. Apakah Lin Mu akan mengubah hatinya akibat perasaan syukur karena telah ditolong?"


Cemburu dua - Xuanrong.

__ADS_1


"Susah dikatakan. Apalagi parasnya cantik, juga telah menolongnya dua kali."


Kedua wanita itu terus berceloteh dengan suara kecil dan wajah sama-sama menyayangkan.


Dan Lin Mu, ekspresi dengan kening berkerut perlahan menggeser raut senangnya.


"Aaaarrrhh, kalian mau apa?! Lin--"


Suara di seberang teleponnya itu kemudian membuatnya mengangkat wajah dipulas raut tersentak. "Hallo! Dokter Zhou! Kamu kenapa?!"


"Hehe .... Jika tidak ingin wanita ini bermasalah. Segeralah datang ke Yinghuang Zhaoge, lantai tiga. Bosku di sini menunggumu!" Tiba-tiba suara seorang pria menggantikan.


"Siapa kalian?! Hallo, hallooo!!"


TUT TUT TUUTTT


Panggilan dimatikan sepihak dari seberang. Lin Mu menatap layar ponselnya dengan alis saling bertemu. Bola matanya bergulir dalam kecemasan.


"Lin Mu, apa yang terjadi? Apa teleponnya bukan dari Dokter Zhou?" Song Yuru bertanya ingin tahu.


"Dokter Zhou sepertinya diculik. Aku harus pergi menolongnya!" jawab Lin Mu sedikit emosi. Bukan karena pertanyaan Yuru, melainkan bentuk kekhawatiran terhadap Zhou Shiyun.


"Tidak bisa! Terlalu berbahaya!" Zixi, si oppai gembul menghardik keras. "Jika kamu pergi begitu saja, bagaimana kalau ini perangkap?!"


"Benar! Pertama hubungi polisi dulu," timpal Xuanrong menyarankan.

__ADS_1


"Tidak!" tolak Lin Mu. "Jangan polisi. Takutnya mereka akan melakukan sesuatu pada Dokter Zhou! Biarkan aku bertemu dengan mereka dulu!"


__ADS_2