Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 41


__ADS_3

Gadis Qi es itu sempat terperangah beberapa saat ketika Lin Mu lagi-lagi muncul di hadapannya, setelah kemarin pria itu mati-matian mengejarnya, dan matian-matian pula ia melarikan diri, lalu sekarang ....


"Kenapa kamu lagi? Siapa kamu sebenarnya?!" Ia bertanya ingin tahu.


"Namaku Lin Mu." Ia menjawab ringan.


"Ji Qinglan," kata gadis itu tanpa menunggu Lin Mu bertanya.


Lin Mu tersenyum menanggapi. Jika kemaren ia harus mengejar, sepertinya hari ini tidak. Gadis itu terlihat lebih welcome. "Saat kita berdekatan satu dengan yang lainnya, kekuatan Qi memberi respon. Apakah kamu tidak ingin mencari tahu alasannya?" tanyanya dengan nada bersemangat, tanpa basi-basi dan membuang waktu.


Seiring pertanyaan itu menguntai dari mulut Lin Mu, ekspresi gadis bernama Qinglan tersebut berubah aneh. Ia bertingkah layaknya orang kedinginan. "Kelihatannya apa yang kamu ketahui, tidak lebih banyak daripada aku," tuturnya. Kemudian meringsut menaikkan kedua lengannya, memeluk tubuhnya sendiri. "Jika terus berlanjut, juga bukan merupakan solusi."


Tidak ada kata menimpal, Lin Mu tercenung di tempatnya dengan kedua tangan menggantung lurus di kedua sisi tubuhnya.


"Ikuti aku," kata Qinglan tiba-tiba. Aku tahu tempat yang terpencil. Di sana kita akan mempelajarinya."


Lin Mu mengangguk, walaupun masih terasa samar pikirannya untuk memahami secara mendalam perkataan gadis itu tentang apa saja yang tidak diketahuinya mengenai Qi mereka yang saling terhubung.


Setengah jam kemudian ....


Jalanan berundak selebar kurang lebih satu setengah meter, dengan sususan batu-batu yang menjadi alas pijaknya, ditapaki Lin Mu dan juga Qinglan saat ini. Di tepiannya, pohon-pohon dengan jenis beragam yang tidak diketahui detail namanya, tersebar ke seluruh penjuru, dihiasi rumput-rumput liar yang merembat dari badan pohon hingga menjalari tanah di sekitaran.


Tempat ... sepertinya hutan.


"Di sini tempatnya," kata Qinglan seraya menghentikan langkah.


"Selanjutnya harus bagaimana?" Lin Mu bertanya sembari mengedar pandang menyapu sekeliling.


Dan dengan lucunya Qinglan menjawab, "Aku juga tidak tahu. Apa kamu ada cara?"


Loh?!


Lin Mu menurunkan tubuhnya. Duduk dengan satu kaki tertekuk dan lainnya ia geletakan begitu saja ke tanah. Tangan kanan disanggakannya di atas lutut, dan kirinya ia jadikan penopang tubuh di sisi paha.


Suasana hening sejenak.


Baik Lin Mu atau pun Qinglan, keduanya sama-sama berusaha menendang pikir untuk mencari dan mendapatkan ide.


Sampai sepersekian menit kemudian ....


"Sekarang kita gabungkan saja kekuatan Qi kita. Lalu lihat apa yang terjadi," Lin Mu memutuskan.


Qinglan menanggapi dengan anggukan setuju. "Tidak masalah," katanya.


Namun sebelum itu dilakukan, keduanya terlebih dahulu mencari tempat yang tepat. Berjalan perlahan menyusur hutan dengan pandangan menilai.

__ADS_1


Tak lama, sebuah bangunan tua yang lebih mirip dikatakan sebagai goa, dengan ukiran cantik di sekeliling dindingnya yang terbalut lapuknya lumut, keduanya masuki. Entah bangunan apa itu.


Saling melempar pandang sesaat, lalu sama-sama mengangguk kemudian.


Ruang yang mereka jejaki saat ini cukup kering dan tidak terlalu lembab. Yang kemudian dipilih mereka untuk melakukan apa yang telah diniatkan dan menjadi tujuannya datang ke tempat itu.


Tanpa banyak bicara, Lin Mu dan Qinglan mulai menurunkan tubuh. Mengambil posisi berhadapan dan bersilah. Kedua telapak tangan saling mereka adukan sejajar. Kanan tangan Lin Mu dirapatkan dengan kiri tangan Qinglan, pun dengan satunya.


"Atur napas," instruksi Lin Mu. Qinglan mengangguk tanpa berkata. Lalu keduanya mulai mengatupkan mata.


Hening ....


Senyap ....


Untuk beberapa saat tak ada yang berubah.


Hingga ....


Pelan-pelan terasa membaik, kata hati Lin Mu memberi komentar atas apa yang mulai dirasakannya.


Sekejap setelah itu, dari dalam tubuhnya dan juga Qinglan sama-sama memancarkan cahaya berwarna biru terang.


Reaksi antar tubuh semakin terasa lain.


Semakin lama, cahaya biru yang keluar dari diri mereka, semakin berpendar tebal dan terlihat berputar-putar membentuk spiral-spiral kecil.


Ternyata sama denganku. Kekuatan Qi-nya juga sangat murni, Lin Mu menambahkan, dalam hati dan tetap dengan mata terpejam.


Teknik perasaan apa yang dia latih? Aku merasakan sedikit perasaan sejuk, lanjutnya bertanya, pada diri sendiri.


Setelah beberapa lama, dan mungkin merasa cukup, penyatuan tangan itu putuskan Lin Mu.


"Tampaknya kekuatan Qi kita berdua telah dimurnikan!" Lin Mu berseru seraya membolak-balikan telapak tangannya di depan wajah.


Pun dengan Qinglan, gadis itu juga melakukan hal serupa. "Benar, aku juga merasakan kekuatan Qi es-ku meningkat sedikit."


Lin Mu tersenyum tipis menyikapi. "Oh, ternyata Nona melatih kekuatan Qi es, tidak heran ada hawa sejuk yang terasa," ujarnya merasa keingintahuannya terjawab. "Tetapi jika berhenti sekarang, selalu ada keinginan yang tersisa."


Qinglan menurunkan kedua tangan dan menaruhnya di atas sepasang pahanya yang masih bersila. "Iya. Kali ini kita harus lebih konsentrasi. Sebisa mungkin menyatukan kekuatan Qi!" serunya bersemangat. "Ayo kita mulai."


Lin Mu mengangguk tak kalah semangat.


Pasangan tangan mulai mereka adukan kembali, lurus dan sejajar seperti sebelumnya.


SWUUSSHH

__ADS_1


Kali ini cahaya biru keluar lebih cepat dari sebelumnya. Dan itu artinya, cukup cepat pula kedua kekuatan beradaptasi, seperti sudah pada tempatnya.


Cukup lama, hingga saat ini menanjak angka satu jam kemudian. Tak ada lelah dan keringat yang mengusik, pergerakan mereka justru semakin terlihat bersemangat.


Dan ....


BUSSSHHH


Waktu yang dirangkai hanya dengan sebentuk penyatuan telapak tangan, kini membawa Lin Mu dan Ji Qinglan memasuki alam lain.


Sepertinya mereka telah berhasil.


Sebuah tempat, dengan bukit-bukit yang ditumbuhi hijaunya pepohonan, diselimuti kabut tebal yang bergumpal layaknya awan di bawah kakinya. Dan di sanalah ... Lin Mu dan Qinglan kini berada. Berteleportasi tanpa disadari.


Di salah satu puncak bukit, posisi mereka masih tetap sama, beradu telapak tangan dengan mata terpejam. Namun selain tempat asing yang sekarang mereka jejaki, hal lain yang membedakan kegiatan mereka berdua adalah ....


Keduanya sama-sama tak berbusana. Tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun tertinggal. Seolah terlahir kembali.


Cahaya biru yang memendar di diri mereka juga berubah sedikit kehijauan.


Dunia ini tampaknya merupakan kumpulan kekuatan Qi. Seseorang dapat dengan jelas merasakannya, tutur hati Lin Mu.


Setelah merasa cukup, secara perlahan ia membuka katup matanya, dan ....


Ini ... ini adalah ....


Apa yang terjadi? Ada perasaan segar. Ekspresi wajah Qinglan sedikit mengernyit, merasakan lebih dalam atas perubahan yang menurutnya sedikit aneh.


Sedangkan Lin Mu, sepasang bola matanya masih terbelalak. Pemandangan di depannya terasa lebih menakjubkan dibanding alam sejuk yang kini ia singgahi.


Pundak halus, buah dada menggantung mulus, juga bagian bawah yang berbulu itu ... sedikit membuatnya haus!


Hahaha!


"Aku ... aku ... aku tidak melihat apa pun!" Dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke samping, sebelum Qinglan membuka mata dan menyadari bahwa ia telah melihat semuanya.


Sampai ....


"Uhh!" Gadis cantik itu membuka mata.


Dan yang disorot matanya pertama kali adalah tubuh polos Lin Mu yang gagah dan berotot.


Hey, kenapa begitu?!


Menyadari ketidakberesan itu, ia laju dengan gegas menyapukan pandang pada dirinya sendiri. Dan .... "Ini ... aku ...." Dengan mata terbelalak, Qinglan lalu berteriak, "Aaarrrgghh! DASAR MATA KERANJANG!!!"

__ADS_1


__ADS_2