Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 25


__ADS_3

Di ruang kuliah super luasnya.


Duduk di antara berderet ratusan kursi, Lin Mu berdampingan dengan Beibei.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Beibei memecah kebisuan di antaranya.


"Aku sedang memeriksa hasil ujianku sebelumnya," sahut Lin Mu tanpa mengalihkan fokusnya dari layar ponsel digenggamannya.


Deretan angka-angka dalam file ber-format excel nampak serius ditatapnya bait demi bait.


Seraya memalingkan wajah menatapnya, Beibei tersenyum--tipis saja. "Luar biasa. Setelah keluar dari rumah sakit, nilaimu melambung tinggi. Kamu ingin membuatku melompat saja."


Lin Mu balas melirik gadis itu, lantas berujar, "Aku sarankan untuk tidak membahas hal itu lebih banyak." Obrolan keduanya lantas berlanjut hingga merambat pada tema bergantian.


Di ruangan lain, di waktu yang sama.


"Lin Mu itu benar-benar selamat dari malapetaka. Pasti ada berkah," gumam gadis berambut merah--teman dekat Du Xiaoyue, seraya menyanggakan dagunya pada telapak tangan yang ia tumpuk di atas meja.


"Itu urusan orang lain! Kurangi bergosip tentang itu dan baca buku dengan baik!" Xiaoyue menghardik.


"Aku dengar dia bersama Tang Beibei sepanjang hari." Gadis berambut merah mengangkat diri dari posisi dan beralih menautkan jari jemarinya di bawah dagu dengan sikut tersangga meja--tak peduli ucapan Xiaoyue. "Secara status nama, dia adalah tunanganmu, loh!" Ia mulai memprovokasi.


"Dalam status saja!" Xiaoyue menyela sembari merapatkan katup matanya. Entah mengapa, bahasan Lin Mu menjadi terasa aneh di telinganya. "Dan aku tidak peduli, dengan siapa dia sepanjang hari!" Ia menandaskan.


Lain di ruang kuliah, lain pula di parkiran universitas.


Sebuah Ferrari merah baru saja mengambil posisi nyaman di jejeran paling depan.


Luo Bingyun!


Wanita itu keluar dari dalamnya, dengan langkah percaya diri. Blazer bertali pinggang berlengan hingga ke pergelangan, dan panjang sedikit di atas lutut, membalut tubuh seksinya saat ini. Kaki jenjangnya seperti biasa, ia balut dengan stocking transparan sampai ke ujung kaki. Rambut ungunya berkilauan, masih setia ia buraikan.


....


"Lin Mu, seseorang mencarimu!"


Suara seorang pemuda terdengar cukup lantang memberitahu. Yang sontak membuat pandangan Lin Mu juga Tang Beibei menghela ke arahnya.


Sebelum Lin Mu merespon, seseorang yang tak lain adalah Luo Bingyun itu sudah melangkah memasuki ruangan. Hentak sepatunya bahkan terdengar nyaring bernada, seperti irama Turntable yang dimainkan DJ di atas stage-nya.

__ADS_1


"Ternyata kamu," kata Lin Mu menyambut cukup terkejut.


"Hehe ... tak menyangka itu aku, 'kan?" Kalimat pertanyaan yang terdengar seperti lelucon ikan asin.


"Bagaimana kamu menemukan tempat ini?" tanya Lin Mu. Kali ini wajahnya mulai menunjukkan ketidaknyamanan terkait pandangan sekitar.


"Karena seseorang tidak pernah meneleponku! Jadi aku harus menemuinya sendiri secara langsung." Enteng saja Luo Bingyun menjawab. Ya, walaupun terkesan sedikit memaksa.


Lin Mu tertawa kaku menanggapinya. "Maaf, aku agak sibuk akhir-akhir ini. Maafkan aku." Seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Aku benar-benar lupa, batinnya mengakui.


Tatapan menelisik dihunuskan Luo Bingyun. "Tapi aku melihat kamu tidak terlalu sibuk. Saat aku masuk tadi, aku melihatmu mengobrol dengan teman sekelas di sebelahmu itu, dengan gembira."


Nah loh!


"Umm ... bukankah saat ini kelas sudah selesai," kata Lin Mu menyergah. "Mengobrol dengan teman sekelas untuk meningkatkan hubungan baik." Ia mungkin berkelakar.


"Aku tidak tahu tentang itu!" sanggah Luo Bingyun. Sedang Lin Mu mulai beranjak dari posisi duduknya untuk berdiri.


"Sekarang kamu ikut denganku dan traktir aku makan!" ujar Bingyun lagi seraya menekankan telunjuknya ke dada Lin Mu.


"Ulang tahun kakekmu? Bukankah itu makan besar?! Aku juga ingin ikut!"


NGOK


Jawaban yang terlontar dari mulut Bingyun di luar dugaan Lin Mu.


"Umm, ini bukannya tidak terlalu baik? Lagi pula keluargaku sangat aneh. Aku takut mereka akan membuatmu terkejut."


"Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya!" Bingyun bersikukuh.


Senyuman percaya diri itu membuat usaha Lin Mu serasa terinjak lalu terhempas. "Hmm ... baiklah. Aku masih ada satu kelas lagi. Kita pergi bersama setelah kelas selesai saja." Dan mengalah pada akhirnya.


"Oke!" sahut girang Bingyun dipulas rekah senyumnya. "Kalau begitu beritahu aku saat kelasmu selesai. Aku akan datang menjemputmu." Ia pun berbalik lalu melenggang meninggalkan ruangan dengan langkah ringan.


Saat itu selepas Bingyun menghilang dari pandangan, Lin Mu mulai mengedar tatapnya mengamati keadaan sekitar. Kejadian ini tak seharusnya menarik perhatian siswa lain, 'kan?


Belum sampai satu menit kalimat itu ia ucapkan dalam hatinya, keadaan di deretan kursi belakang mulai gaduh terdengar.

__ADS_1


"Woy! Pacarnya sangat cantik, pantas saja tidak pernah menyebutnya!"


"Betul sekali! Kamu menyembunyikan pacar secantik itu, Lin Mu?!"


"Iya, pantas saja kamu tidak tinggal lagi di asrama kampus. Ternyata tidak nyaman tinggal di asrama dengan pacar yang begitu cantik!"


"Haha, apakah kamu punya teman wanita lain? Ayo kenalkan padaku!"


Bicara apa mereka?! batin Lin Mu tak cukup nyaman. Habis sudah! Aku kabur saja!


"Woooyy, jangan lari, Lin Mu!!!!"


Berlari dari kejaran orang-orang itu, cukup membuat tenggorokan Lin Mu terasa kering. Ia kini berdiri di depan sebuah show case berisi berbagai minuman, dan mengambil satu botol di antaranya. "Untunglah aku berlari dengan cepat. Kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana menjelasakannya pada mereka."


Untuk urusan sensitif semacam itu, Chang Kunzi bukan tipe yang luwes dan terbuka seperti kebanyakan pria tampan di luaran. Ia benar-benar kaku. Di kepalanya hanya berisi penguasaan kekuatan dan kultivasi.


Lalu apa kabar Lin Mu? Lin Mu dengan jiwa sebenarnya?


Hh! Mungkin akan terjengkang seperti halnya pria autis yang ngeces acapkali dibuat bingung.


"Tolong jelaskan padaku! Sebenarnya ada berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku?!"


Suara itu sontak membuat kepala Lin Mu berotasi ke belakang. Dan di dapatnya Beibei yang sudah berdiri dengan tampang tak sedap dipandang. "Beibei." Ia lalu berbalik untuk mendapatkan posisi lurus menghadap gadis itu. "Sayangnya tidak ada yang kusembunyikan darimu. Soal wanita tadi, aku baru bertemu dengannya dua kali." Ia coba menjabarkan. "Pertama kali bertemu di pesawat. Bahkan saat itu kami tidak mengobrol sama sekali." Sejenak menjeda. "Kedua kalinya di gang dekat rumahku. Dia bilang dia dikejar seseorang dan ingin dibunuh, lalu membutuhkan bantuan. Setelah itu aku mengantarnya ke kantor polisi dan mentraktirnya makan."


Rangkaian kata panjang lebar kali tinggi itu ditanggapi Beibei dengan dengusan. "Ouh, benarkah baru bertemu dua kali saja? Tapi sudah langsung mengejar sampai sekolah. Mungkinkah karena kamu pernah menolongnya, jadi dia ingin mengajakmu menikah?"


Lin Mu mengerutkan keningnya menanggapi itu. Sepertinya ada yang salah dari nada bicara Beibei. "Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana mungkin seorang nona besar yang cantik sembarangan mengajak menikah!" sanggahnya.


"Lalu kenapa dia datang mengganggumu?! Berpenampilan seperti itu dan dilihat semua orang?!" Beibei mulai meradang.


Lin Mu cukup bingung menyikapi. "Mengapa kamu begitu peduli pada urusannya?"


Ha!


Sejentik jari, ekspresi Beibei berubah kelabakan. Kedua pipinya memerah, semerah obat merah. "Uhh, tidak ada! Aku hanya khawatir kamu akan tertipu. Seperti kata pepatah, ‘semakin cantik seorang wanita, semakin licik perangainya’."


Lin Mu terkekeh menanggapi. "Aku bukan anak tiga tahun. Mana bisa aku dengan mudah ditipu." Lalu berbalik memunggungi gadis itu. "Ayo! Kelas sudah akan dimulai!"


Tanggapan yang cukup menjengkelkan. "Mau kabur lagi? Ayo jelaskan padaku!" tuntut Beibei seraya mengejar Lin Mu yang mulai menjauh.

__ADS_1


__ADS_2