
Tengah malam ....
KOTA DONGHAI - DISTRIK PINGJIANG
Angin bertiup tanpa tenaga. Matahari mungkin telah cukup lelah, memalingkan hadap sinarnya pada lain belahan dunia. Tidak ada decit hewan-hewan nocturnal dan sejenisnya walah sebentuk kesiur. Suasana di sekitaran benar-benar senyap, seolah dibekukan kelamnya udara malam.
Di puncak atap sebuah bangunan berlantai satu, sesosok manusia bergerak merangkak-rangkak dengan tapak lemah dan hati-hati. Sejenak ia berhenti untuk mengamati sejurus yang tertangkap netra hijaunya di bawah sana.
"Aneh, aku jelas-jelas merasakan ada banyak orang di sini. Tapi kenapa seluruh ruangannya kosong?" Ia bertanya--mungkin pada genteng yang berjejer.
Tempat itu terlihat biasa, tak ada yang menarik. Tapi dia merasakan lain daripadanya, melalui insting spiritualnya tentu saja.
Memutus segala asumsi di kepalanya, sosok yang tak lain adalah Lin Mu itu, kini mulai bergerak. Memerosotkan tubuhnya mencapai ujung atap, untuk ....
HAP
Ia melompat, terjun bebas mencapai dasar bangunan tanpa pengaman. Beruntung sepatu yang dikenakannya memiliki alas cukup tebal dan empuk. Atau mungkin ... karena ia memang telah menyiapkan segala sesuatunya dengan perhitungan.
Penampilannya pun terlihat cukup santai saat ini. Hoodie hitam berpadu jeans dongker tak longgar juga tak terlalu ketat, menjadi busana paling nyaman saat beraksi tengah malam buta seperti sekarang ini.
Sepasang matanya awas mengamati keadaan sekitar, kalau-kalau ada orang yang sampai melihat keberadaannya di tempat itu.
Dinding yang tersusun dari tumpukan bata merah di dekatnya, disandari punggung Lin Mu. Tepat di sisi kirinya, sebilah jendela persegi terpahat dengan lampu menyala di dalamnya.
Dilihat dari kondisinya yang sedikit mencekam dan minim penataan, selain paving block yang terhampar luas tanpa tumbuhan dan lainnya, yang dipijaknya saat ini sepertinya adalah bagian halaman belakang bangunan.
Ya!
Ada apa sebenarnya ini? tanya hati Lin Mu masih bingung. Semua terasa seperti kamuflase.
Bangunan itu layaknya rumah pada umumnya, namun ada atmosfer yang sedikit sulit dicerna makna di baliknya.
Situasi yang sekarang dihadapinya mungkin masih sebentuk teka-teki, tapi ia akan berusaha mengupas keadaan itu hingga terkelupas seluruhnya.
Di tengah irama berpikir juga pandang mengedar, sesuatu di depan sana berhasil mencuri perhatiannya. "Itu ...," gumamnya. Lantas dituntunnya langkah menghampiri apa yang menjadi titik pandangnya tersebut saat ini, untuk memastikan.
Sebilah lempengan besi dengan bentuk bundar berdiameter cukup lebar--entah mirip atau memang jenis yang sama, benda itu menyerupai penutup perigi dengan ukuran tak jauh berbeda.
Lin Mu menurunkan tubuhnya mengamati lempengan besi tersebut. "Heh, ternyata di sini," gumam pemuda itu sebelum akhirnya menyentuh dan mengangkatnya secara perlahan. Setelah terangkat, ia lantas meletakkan benda pipih lebar itu di tepian dengan hati-hati.
Nampaklah pemandangan menakjubkan dari dalam lubang selebar perigi di hadapannya tersebut.
Anak-anak tangga yang tersusun miring secara apik dan memanjang turun ke dasar, membentuk jalan menuju ruang bawah tanah. Perlahan Lin Mu turun, menapaki satu demi satu bagian tangga tersebut dengan pijak tanpa suara.
__ADS_1
Semakin ke bawah, terasa semakin dalam dan jauh, hingga kini lubang di atas sana telah tak lagi terlihat. Lin Mu masih terus memapah langkahnya perlahan dan hati-hati.
Sedikit mengejutkan ketika netra hijaunya menangkap sosok seorang pria dengan senjata laras panjang digenggam tangannya, mengenakan buff corak tengkorak untuk menutupi bagian bawah wajahnya, berdiri mondar-mandir dengan tatapan waspada, mengamati sekeliling.
Lin Mu tak gentar, pria itu tak cukup awas untuk bisa melihat bagaimana ia bersembunyi di balik tangga di atas kepalanya.
Sepasang mata pria bersenjata itu memicing, merasakan kesiur suara halus yang tiba-tiba menyergapnya. Ia memutar tubuh dan menengok ke sana kemari, namun tak setitik pun gerak mencurigakan ditangkapnya. Tak ada apa-apa di sana.
Pria itu menggedik bahu. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya.
Sampai mode lengahnya dimanfaatkan Lin Mu sebaik pemburu menangkap seekor kijang.
Tanpa diduga pria penjaga itu, sepasang kaki tiba-tiba terayun, mendarat tepat di kedua pundak dan menjepit bagian lehernya dari belakang.
Lin Mu turun bergelantungan.
Kini pria penjaga itu terjerat. Ia bahkan tak mampu bersuara ketika lingkaran kaki panjang Lin Mu, semakin kuat menguncinya.
"To-to ... long ...." Suara erangannya terdengar lemah, dan semakin lemah seiring napasnya yang semakin habis karena tercekik. "Hhh."
BRUK
Mungkin hanya tiga kedipan mata, pria itu terkapar dalam keadaan kehabisan napas. Terlalu kasar jika dikatakan mati, bukan?
Ini kesempatan untuknya melancarkan aksi selanjutnya dengan jalan mudah, tanpa perlu mengendap-endap seperti seekor tikus pencuri di lemari makanan.
Dengan gegas tanpa membuang waktu, Lin Mu memereteli pakaian penjaga itu, lalu membalutkan ke tubuhnya helai demi helai, untuk kepentingan penyamaran.
Cara klasik yang tetap dilestarikan.
Ia sudah selesai mengatributi tubuhnya secara lengkap dengan kostum si penjaga naas. Tak peduli betapa aroma dari baju itu yang bila diumpamakan ... setara dua minggu tak mandi.
Lihatlah ....
Buff itu digunakannya terbalik, demi menghindari bau jigong si penjaga naas yang sumpah demi apa pun ... membuat perut bergolak mual.
Airsoft gun yang panjangnya seukuran lengannya itu bertengger gagah dalam genggamnya. Lin Mu siap memulai aksi sebenarnya.
Ia berjalan menyusuri lorong demi lorong yang kosong. Sesekali wajahnya melongok ke belakang mengantisipasi gerak tak terduga.
Dan ....
Pintu di ujung lorong sana ... cukup diyakini Lin Mu terdapat hal menarik di dalamnya.
__ADS_1
Sesaat sebelum mengetuk, ia memejamkan mata, merasakan pergerakkan di balik pintu yang mungkin bisa memperkuat keyakinannya.
Oke!
Ketuk saja! Ia memutuskan.
TOK TOK TOK
Hanya sepuluh detik saja, seseorang dari dalam tanggap membukakan.
"Ada apa?!"
Wow! Lin Mu cukup terkejut. Sosok tubuh kekar tanpa baju dengan kepala botak yang mengkilap, menyembul dengan sepasang mata tajam menyorot dirinya layaknya seekor macan.
"Tadi ada ...." Ucapan Lin Mu tergantung, ketika dilihatnya si pria botak mulai menyentuh pistol yang terkait bersama sarungnya di pinggang celana army yang dikenakannya.
"Ada apa? Lanjutkan perkataanmu!" tuntut si botak itu tak sabar.
Lin Mu menyadari, ini ....
GEP
Digenggam dan ditahannya pergelangan tangan si botak itu, sebelum pistolnya terangkat dan menembaknya.
Pria botak itu refleks melawan dengan menaikkan lututnya untuk menendang bagian dada Lin Mu. Sayangnya tak berhasil. Lin Mu lebih dulu menghindar dengan menghela cepat tubuhnya ke belakang, lalu membalik keadaan dengan ikut melakukan tendangan keras tepat di bagian engkel kaki lawannya.
"Aarggh!" pekik pria botak itu. Tubuhnya terpental jatuh ke lantai, cukup keras. Sedang Lin Mu masih tegak berdiri dengan gayanya. "Kamu bukan orang dari kelompok kami! Siapa kamu!" tanyanya seraya mengarahkan pistolnya ke arah Lin Mu.
Tak ada jawaban. Lin Mu masih bergeming. Namun jelas tak ada ketakutan secuil pun dalam sorot mata hijaunya.
"Apa kamu bisu?!" seru si botak itu lagi. "Kalau begitu ... matilah!!"
Tapi ya ....
Lagi-lagi Lin Mu lebih tangkas menggagalkannya.
Satu gerak berputar membentuk salto, ia buat untuk mendaratkan tendangan telak, tepat di bagian wajah di sekitar tengkuk si botak itu, hingga membuatnya terkapar tak lagi bergerak.
Lin Mu kembali ke posisi berdiri tanpa cela.
Diamati sekeliling bagian dalam ruangan itu ....
"Kelihatannya semuanya ada di sini."
__ADS_1