
Ada atmosfer bertentangan di antara dua kubu yang saling berhadapan. Di mana satu bilah diisi oleh Lin Mu juga si gadis bertopi,
dan bilah lainnya, berdiri Xiaoyue bersama dua temannya.
Sangat tidak elegan memang. Tidak juga pantas untuk dikaitkan dengan tema 'beradu'. Lin Mu dilihat dari segi mana pun, walaupun terkenal dengan kebodohannya selama ini, tetap saja dia adalah seorang pria.
Xiaoyue mungkin merasa posisinya cukup tinggi untuk bisa direndahkan. Menilai bagaimana dengan wajah rapuhnya pria itu menghindar acapkali berhadapan dengannya.
Namun ya ... untuk saat ini, ia tak tahu saja, Lin Mu seperti apa yang tengah dihadapinya.
Kelihatannya pemilik asli tubuh ini punya perselisihan janji pernikahan dengannya, argumen Cang Kunzi dalam hati--dengan wujud Lin Mu tentunya.
Akan lain tema, jika tubuh itu masih diisi oleh jiwa Lin Mu yang sebenarnya. Pemuda pecundang itu pasti akan diam dengan ekspresi tak tahu harus apa.
Terlalu tolol untuk memangku anugerah sebagai seorang lelaki.
Sehelai gaun kedodoran dengan tambalan kacau di sekujurnya, milik pemulung wanita di kawasan kumuh, mungkin lebih pas dikenakan Lin Mu, ketimbang setelan jas dengan saku celana yang nyaman digunakan untuk menyembunyikan telapak tangan.
Tapi karena yang mengisi raga Lin Mu saat ini adalah jiwa Cang Kunzi ....
"Membatalkan pernikahan?" Nada santai dengan mata terpejam, Lin Mu mengulang kalimat yang sesaat lalu diucapkan Xiaoyue. "Lakukan sesuai keinginanmu saja!" lanjutnya tanpa beban walau sebesar biji kuaci. "Aku sama sekali tidak peduli."
Pernyataan tegas yang tentu saja memancing keterkejutan di wajah Du Xiaoyue. Wanita itu merasakan lain dari sosok yang biasa direndahkannya tersebut.
Tak terkecuali si gadis bertopi. Mulutnya hingga menganga, walau tak cukup lebar untuk memasukkan ribuan lalat.
"Orang seperti dirimu ini ... aku juga tidak bersedia menikahinya!" Kalimat lanjutan yang menohok. Juga nada cukup tinggi yang mustahil bisa mereka dengar dari mulut seorang Lin Mu.
Tapi sayangnya ... memang begitu adanya.
"Kamu ...." Xiaoyue mungkin tak terima. Atau pahitnya ... merasa direndahkan.
Wajah angkuh memangku kesombongan yang biasa ia tunjukkan, kini berganti dengan wujud dari rasa tak menyangka, tak percaya, juga tak habis pikir.
__ADS_1
"Sesuai keinginanmu, batalkan pernikahan. Semoga kelak kamu tidak akan menggangguku lagi!" Lin Mu menanggapi. Sedikit ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman remeh.
"Haha." Tiba-tiba ... si gadis bertopi dengan rambut pendek itu, tergelak. "Kamu benar-benar keren sekali!" ujarnya seraya merangkulkan lengan kirinya di pundak tinggi Lin Mu.
Setelahnya, tanpa lagi berminat memperpanjang percakapan dengan Xiaoyue, Lin Mu dan si gadis bertopi berbalik badan melenggang pergi meninggalkan wanita itu tanpa sedikit pun menunjukkan kelemahannya seperti waktu-waktu yang lalu.
Xiaoyue menatapnya terheran-heran. Sepasang alisnya saling mendekat berkerut-kerut.
Mengapa Lin Mu bisa seberani itu? Setidaknya begitu tanya hatinya.
Melanjutkan kembali perjalanannya menuju ruangan kelasnya--mungkin, Lin Mu dan si gadis bertopi melangkah dengan perasaan lain.
Seperti ada kepuasan yang membuat mereka merasa cukup senang hari ini.
"Tadi kamu benar-benar sudah mengeluarkan kekesalan untuk diri sendiri!" Gadis bertopi itu bercakap dengan raut girang. Langkah demi langkah bahkan ia buat seperti menari-menari.
"Kenapa? Apa aku pernah ditindas?" Lin Mu ... ah, tidak, Cang Kunzi, tentu saja merasa ingin tahu.
"Bukan hanya ditindas, itu adalah penghinaan yang memalukan!" ungkap si gadis bertopi yang sampai saat ini belum juga diketahui namanya. "Saat dia berada di ruang kuliahnya sebelumnya ...."
Kata demi kata terangkai menjadi kalimat. Gadis itu terus melanjutkan bercerita, apa saja yang diketahuinya dari hubungan Lin Mu dulu dengan Du Xiaoyue.
Semakin panjang didengarnya, semakin terlihat perubahan wajah Lin Mu. Dia adalah Cang Kunzi, maka jelas lain caranya menyikapi.
"Ternyata dia ingin memaksa aku membatalkan pernikahan." Gerak bibirnya menunjukkan kegeraman yang kental. "Kalau begitu, bukankah aku sudah menguntungkannya?!"
Gadis berambut pendek di sampingnya menanggapi dengan senyuman kecut. "Tidak masalah jika dibatalkan! Wanita seperti itu lebih baik jangan diterima!" komentarnya seraya bersilang lengan. "Apa kamu melihat parasnya yang cantik, lalu merasa menyesal?" Menunjukkan sedikit perasaan tak suka.
Pertanyaan itu disambut Lin Mu ringan saja. "Tentu saja bukan. Aku hanya menyesal terlalu mudah melepaskannya saja."
Sepertinya itu bukan jawaban yang disetujuinya. Gadis itu lagi-lagi mendengus. "Sudahlah! Lagi pula orang seperti dia itu ... menjauhinya sudah benar!" ujarnya. "Ayo ikut aku ke kelas, aku bawa kamu mengenal teman di dalam kelas lagi."
Hanya selang beberapa menit, keduanya sudah sampai di pintu kelas yang mereka maksud.
__ADS_1
Namun baru dua langkah kelas itu mereka masuki, sepasang mata gadis bertopi itu terbelalak bukan kepalang.
Sebuah busur dart, tiba-tiba melesat tepat ke arah matanya.
Dan ....
Sreeeettt
Benda runcing dan tajam itu berhasil ditangkapnya hanya dengan himpitan jari tengah dan telunjuknya, di jarak kurang dari sepuluh senti saja menuju salah satu bola matanya.
"Chen Hao!" teriak gadis itu menyebutkan salah satu nama teman sekelasnya. "Sudah berapa kali aku bilang padamu, jangan bermain dart di dalam kelas! Bagaimana jika melukai teman sekelas?!"
Habislah! Sudah menyinggung Tang Beibei ....
Batin si pelaku dengan ekpersi ketar-ketir. Telapak tangannya nampak mengusap kepala yang mungkin memang gatal.
Tang Beibei, itulah nama si gadis berambut pendek dengan topinya, yang sedari tadi bersama Lin Mu.
"Nona ketua kelas, aku sudah salah. Aku tidak berani lagi," ujar pemuda bernama Chen Hao itu penuh sesalan.
"Lihat dirimu! Keterampilan tidak baik, tapi masih senang untuk pamer! Apa tidak malu?!" Setelah kalimat itu disemburkannya, Beibei mengangkat busur seukuran jengkal orang dewasa itu ke atas, lalu melemparkannya ke arah papan dart yang tersampir di salah satu bilah dinding ruangan.
Dan tepat menancap di titik paling tengah papan tersebut. Keren!
Lin Mu cukup terkagum dengan hal itu. Seraya masih mengamati, hatinya mulai menyusun argumen, Kekuatan ini termasuk tingkat sensitivitas. Alam dasar tahap menengah, kurang lebih sama denganku.
"Aku perkenalkan kembali. Ini adalah teman sekelas kita, Lin Mu," ucap lantang Beibei kembali pada tujuan utamanya. Ia dan Lin Mu sudah berdiri tepat di depan kelas, membelakangi papan tulis. "Kalian semua tahu, beberapa waktu lalu, Lin Mu terluka dan masuk rumah sakit." Tatapannya terlihat serius. "Walaupun luka luarnya sudah sembuh, tapi dia hilang ingatan. Jadi aku harap, kita bisa saling mengenal lagi. Selain itu, sebisa mungkin untuk membantu memulihkan ingatannya kembali."
Entah apa yang ada dalam pikiran semua mahasiswa di dalam kelas itu. Menanggapi penuturan Beibei, mereka secara serempak bertepuk tangan, selayaknya bentuk apresiasi. Hmm ... entahlah.
Kepopuleran gadis ini tidak buruk, batin Lin Mu, seraya melirik tipis ke arah Beibei.
Di saat bersamaan, terdengar ketukan pintu dari luar. Menyusul kemunculan seorang wanita berbusana formal dari baliknya. Pupil biru matanya tersembunyi di balik kacamata bening yang sangat manis walau dipandang sekilas saja.
__ADS_1