Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 64


__ADS_3

Pekat malam masih menyelubung setengah belahan dunia. Termasuk tempat itu.


Sebuah rumah sederhana, dengan perabotan alakadarnya yang nampak kuno. Di atas ranjang kayu yang hanya dibalut sehelai permadani tipis, tanpa kasur, tanpa bantal--Lin Mu terbaring di sana. Tubuh tegapnya terjolor tanpa busana lengkap. Hanya sepotong pakaian dalam yang menutupi kawasan sakral di bagian bawahnya.


"Sakit sekali," racau Lin Mu di antara timbul tenggelam kesadarannya--masih dengan mata terpejam.


Di ruangan lain rumah itu, di hadapan sebuah potret seorang kakek tua berkemeja putih yang terletak di atas meja, Zhou duduk bersimpuh. Tiga batang dupa hio diangkatnya hingga ke depan wajah dengan mata terpejam. "Guru ...," gumamnya dengan suara parau.


.....


Kilas balik sepuluh tahun lalu ....


"Guru ... semua salahku." Gadis kecil dengan tubuh berisi juga pipi chubby itu tak lain adalah dirinya sendiri--Zhou Shiyun. "Aku membuatmu menjadi begini." Ia terus menangis seraya memeluk tubuh renta kakeknya yang terbaring di atas sebuah ranjang tua.


Di antara kembang kempis napas yang mulai berat, orang tua itu bertutur dengan suara parau, "Yun ... menolong orang yang akan meninggal adalah kewajiban seorang dokter." Sejenak meraup napas yang semakin sulit mengaliri kerongkongannya. "Guru dapat meninggal tanpa sesal karena telah menolong nyawamu." Katup matanya mulai berat untuk terbuka, perlahan menyipit, lalu tertutup sempurna. "Kamu harus hidup dengan baik dan menolong lebih banyak orang."


.......


Mengingat selaksa kejadian di masa lalunya, Zhou tak bisa menahan titik-titik air mata yang luruh berjatuhan tanpa komando di pipinya.


"Saat dibesarkan Guru, aku menderita penyakit langka. Jika bukan karena kekuatan rahasia Guru, aku tidak akan ada saat ini."


Wanita berambut cola yang saat ini sedang tak mengenakan seragam dokternya itu mulai bangkit setelah menaruh tiga batang dupa di tangannya ke tempatnya.


Langkah kakinya menuntun ke arah di mana sebuah lemari dua pintu berdiri. Disibaknya satu bagian untuk mengambil sesuatu di sana.


"Setiap kali setelah menggunakan kekuatannya, Guru semakin lemah," Zhou masih berkicau dalam sendunya. "Dia telah menukar nyawanya untukku ...." Sebuah kotak kayu sudah digenggamnya, kemudian dibawanya menuju sebuah meja.


KREETT


Dibukanya tutup peti kecil di hadapannya. "Walaupun ini kekuatan rahasia, aku tidak menguasainya dengan baik. Hanya dapat berusaha," celotehnya seraya mengeluarkan isi dari kotak tersebut yang ternyata adalah sekumpulan jarum akupuntur. "Tetapi selama aku masih seorang dokter ...." Ditatapnya benda-benda kecil nan runcing itu penuh keyakinan. "Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Lin Mu." Ia lalu bangkit dan berjalan membawa serta jarum-jarum itu ke dalam ruangan di mana Lin Mu terbaring, lalu mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping ranjang.


Diambilnya satu jarum setinggi telunjuknya itu dengan gerak dan perasaan ragu. Lalu mengalihkan pandangnya pada tubuh telanjang Lin Mu. Bagian perut sisa tusukan pisau Qing She itu sudah dibalutnya dengan perban.


Entah apalah alasan wanita dokter itu membawa Lin Mu malah ke kediamannya dan bukan ke rumah sakit.

__ADS_1


Zhou Shiyun, nama lengkap wanita dokter itu. Mengumpulkan segenap keyakinannya untuk mengambil tindakan. "Kamu tidak boleh mati, Lin Mu. Aku akan berusaha menyelamatkanmu!" Ia bertekad.


Sejenak memejamkan mata seraya menarik napas, lalu dibukanya dan mulai menusukkan jarum itu ke titik tepat di bagian dada bawah Lin Mu.


"Uuhh," suara rintihan Lin Mu, masih dalam samar kesadarannya.


Cara rahasia ini dapat dengan mudah mengikis kekuatan. Kalau begitu, aku mungkin tidak dapat menyelamatkan nyawaku lagi, decit getir wanita itu dalam hati.


Zhou Shiyun ... semangat! Ia menyemangati dirinya sendiri.


Butiran peluh mulai bergelinding berjatuhan dari pelipis melewati pipi, lalu tercampak di atas pundak meresap ke dalam baju yang dikenakannya.


Guru menemukanku secara tidak sengaja, tapi dia menganggapku sebagai anaknya. Lalu rela menukar nyawanya demi menyelamatkanku.


Kini jarum berikutnya ia angkat.


Sejenak memejamkan matanya untuk menguatkan keyakinan.


Karena aku telah memutuskan untuk berlatih dan bergelut dalam dunia kedokteran untuk membantu orang-orang, seharusnya aku tidak perlu takut!


Mata itu kembali dibukanya dengan tatapan yang tak lagi ragu, segenap keteguhan telah dikaisnya.


"Akupuntur harus sangat akurat."


Kalimat singkat sang guru ketika ia kecil, bergaung di ruang kepalanya, menjadi penguat, setidaknya.


"Setelah menusukkan ke tubuhnya, aku harus segera mencabut jarumnya lagi!"


Wajah redup dengan segudang kegetiran beberapa saat lalu itu, kini berselimut ketajaman yang mengusung segenap keteguhan.


Tanpa berpikir lagi, Zhou mulai menusukkan beberapa jarum ke beberapa titik di bagian depan tubuh Lin Mu dengan gerakan luar biasa cepat, guna menghilangkan racun yang sudah menyebar di tubuh pemuda itu.


Kedua tangannya sigap bekerja tanpa celah walau hanya untuk menyeka keringat yang bercucur di wajahnya sekali pun.


"Waktu untuk menjaga jarum dalam satu titik akupuntur tidak boleh melebihi 0,5 detik. Jika tidak, semua upaya akan sia-sia."

__ADS_1


Bertahanlah, Lin Mu. Aku pasti bisa, dan kamu akan selamat!


SWOOOSSSSH


Seiring melemahnya gerak kerja sepasang tangan Zhou Shiyun ....


"Energi hitam di wajah Lin Mu mulai menghilang!" Wanita itu berseru senang. "Berhasil!"


Namun sayangnya tak sebaik itu.


"Tidak! Gawat!"


Satu jarum terakhir yang masih menancap di dada Lin Mu, tiba-tiba melesat terbang. Wanita itu kembali panik.


"Ingat, akupuntur tidak boleh terganggu! Kalau tidak, orang diselamatkan, pasti akan mati!"


Kalimat pelajaran yang diucapkan kakeknya itu, kini membuatnya semakin takut.


Tidak!


Aku tidak membiarkanmu mati, Lin Mu!


Tanpa banyak berpikir lagi, Zhou menaikan satu tangannya ke depan wajah dengan telunjuk mengacung, sedang tangan lainnya ia taruh dibawah sikut. Sepasang mata indahnya ia buat terpejam demi meraih setitik konsentrasi.


WUSSH WUSSH


Sebias cahaya hijau memancar dari ujung telunjuknya.


Dan itu adalah sebentuk cahaya Yang.


Setelah beberapa saat, Zhou menghujamkan telunjuk bercahayanya itu ke bagian dada kanan Lin Mu.


HUH HAH HUH HAH


Napas Zhou tersengal-sengal berat dan kasar setelahnya.

__ADS_1


"Guru ... aku berhasil," kicau wanita itu penuh syukur, namun terdengar cukup lemah.


Kekuatan yang dikeluarkannya untuk usaha terakhir itu cukup menguras energi. Kini justru tubuhnya sendiri yang terkena imbasnya. Ia akhirnya tumbang menimpa tubuh polos Lin Mu dengan tangan terkulai. "Lin Mu ... kamu selamat," tukasnya lalu meredup kehilangan kesadarannya.


__ADS_2