Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 13


__ADS_3

Cerutu berdiameter serupa ibu jari orang dewasa dengan panjang mungkin lebih mengarah pada telunjuk, santai terselip di antara jari jemari seorang pria yang terduduk santai di ruangannya. Helai-helai putih rambutnya terpaut apik ke belakang seluruhnya, menjadi simbol usia yang tak lagi muda. Namun masih cukup terlihat kekar di banyaknya waktu yang telah dijalaninya sampai detik ini.


Wang Junli--ayah Wang Dong.


"Fiuh ...."


Kepulan asap hasil hisapan dari cerutu di mulutnya, memendar memenuhi udara di sekitaran.


Kegiatan itu sebentuk situasi menanti untuk pria itu.


Ya ... menanti hasil perintahnya.


Dan waktu pun menyambut pada akhirnya.


Di hisapan mendaki ke sekian, benda berapi seukuran telunjuk itu tak sampai menempel di bibirnya. Suara berdebam dari arah pintu menjadi pemecah irama tenangnya saat ini.


Dua orang pria, datang berdampingan memberi informasi, "Bos, orangnya sudah dibawa! Ada di depan pintu perusahaan!" kata salah satunya tentu saja.


Wang Junli menanggapi semangat, "Bawa dia untuk menemuiku!" titahnya yang tentu langsung diangguki kedua pesuruhnya tersebut. Mereka berlalu tanpa menimpal apa pun setelahnya.


Tak lama, pintu kembali terketuk dari luar.


"Masuk!" Wang Junli menyahuti.


Hanya sepuluh detik saja.


Sosok yang dinantikannya sampai menghabiskan berbatang-batang cerutu itu, kini jelas menunjukkan batang hidung, berdiri tepat di hadapannya.


Lin Mu.


Berjejer tujuh orang pria di belakangnya yang bertindak sebagai pendorong, hingga tapak kakinya sampai di ruangan ini. Dipandangnya lekat, sosok tua yang terduduk santai di sejurus lurus posisinya berdiri saat ini--berseberangan.


"Bocah! Apakah kamu tahu, masalah apa yang sudah kamu buat?!" Suara Wang Junli menggelegar menguasai atmosfer sunyi di ruangan miliknya tersebut. "Wang Dong adalah putraku!" Ia mengakui lantas.


Hhuhh ....


Setelah sejenak mencerna kalimat itu, Lin Mu dengan ringan menanggapi, "Oh, masalah ini?" ujarnya santai. "Anak dipukul lalu orang tuanya keluar?"


PROK PROK PROK


Sepasang tangan Wang Junli saling menampar, membentuk tepukan--antara kagum, atau mungkin ... rasa tak dihargai.


"Bagus, bagus!" katanya penuh cemooh. "Berani bicara seperti ini denganku. Kelihatannya Keluaga Lin benar-benar memiliki orang-orang hebat," imbuhnya sinis.

__ADS_1


Kembali diraihnya cerutu baru dari dalam kemasannya di atas meja di hadapannya. Namun sebelum menyalakan benda itu, Wang Junli lebih dulu berkata, "Sebagai senior, aku juga tidak akan mempersulitmu. Kamu boleh pergi, asalkan ..." Sejenak pria tua itu diam, hanya untuk menarik sedikit sudut bibirnya, "... kamu patahkan sendiri tanganmu."


Lin Mu menyergah dengan aroma menantang, "Bagaimana kalau aku tidak mau?"


Dari belakang, sebuah telapak tangan milik salah seorang kaki tangan Wang Jungli mencengkram pundaknya cukup keras. "Bocah tengik! Masih tidak tahu diri!"


Namun siapa sangka, sebelum tangan itu mencapai keinginannya memberi pelajaran kecil, Lin Mu telah lebih dulu mengambil tindak.


BUGH


Satu bogeman mentah mendarat telak di wajah pria yang tampangnya tak cukup penting untuk ia ketahui bagus atau tidaknya. Ia menonjok pria itu tanpa menoleh walau sekilas, tapi tangkas dan tepat sasaran mengenai sekitaran tengkuknya.


Mantap!


GREBB


Satu pukul balasan berhasil Lin Mu gagalkan. Dicengkramnya pergelangan tangan si penantang, lalu ditariknya ke depan sekali hentak. Membuat tubuh tegap pria itu berdebam menimpa meja di hadapan Wang Junli, mengakibatkan benda itu hancur berserakan kemana-mana.


Walaupun cukup mengejutkannya, Wang Junli masih terlihat santai dengan cerutu yang sudah dinyalakannya. "Keterampilanmu tidak buruk," komentarnya mentah.


Berkurang satu orang tumbang, enam sisanya dari para kaki tangan Wang Junli tersebut mulai membentuk formasi melingkar--mengelilingi Lin Mu--menjebaknya dalam posisi skakmat.


Tak ada gerak antisipasi dari Lin Mu, selain ekor mata yang ia gilir ke sana kemari, juga senyum miringnya yang kemudian mendapat tanggapan keruh dari Wang Junli.


"Baik, baik. Sekarang kamu masih bisa tersenyum," katanya sinis. "Memang orang hebat berasal dari anak muda sepertimu." Sorot tajam matanya berkilat-kilat tak sabar. Permainan berikutnya mungkin akan sangat menyenangkan, pikirnya. "HABISI DIA!"


"Kalian maju bersama saja," imbuhnya sangat, sangat santai. "Aku buru-buru, dan masih harus menyisakan sedikit waktu untuk berbincang-bincang dengan bos kalian!"


Permintaan yang manis, yang tentu disambut berkobar-kobar oleh keenam pria jongos itu.


Setelah terlihat lawannya mulai mengambil aba-aba menyerang, barulah Lin Mu memasang kuda-kuda dan pukulan antisipasi.


Dan terjadilah baku hantam yang menggembirakan seluruh jagat bela diri.


BUGH


BUGH


BANG


ZAPH


BANG

__ADS_1


POW


BRUK


BRUK


BRUK


Sepuluh detik kemudian ....


Bukan sampah kertas atau pun cangkang-cangkang pisang yang berserakan, pemandangan apik ruangan itu dicemari tubuh-tubuh terkapar para kaki tangan Wang Junli yang baru saja dilahap kemampuan setan Lin Mu.


Tak terdengar deru napas terengah-engah seperti usai bertarung pada umumnya, tak ada juga percikan darah walaupun itu setetes, Lin Mu malah terlihat seolah baru saja selesai membereskan kamar tidur. Pemuda itu malah sibuk merapikan lengan bajunya yang mungkin ... sedikit kusut.


Lain daripadanya ....


"Ba-bagaimana bisa?!" Wang Junli berteriak. Pria tua itu baru saja keluar dari keterkejutannya. Tubuhnya terangkat dengan tampilan meronta. Perasaan takut mulai merayapi dirinya dalam sekejap.


"Baiklah! Kita sudah boleh membahas masalahnya. Kamu dan anakmu menyia-nyiakan waktuku yang begitu banyak. Bagaimana kalian akan membayarku?" tutur dan tanya Lin Mu dengan senyum tipisnya.


Wang Junli menurunkan kembali tubuhnya ke badan sofa. Gestur ketar-ketar membuatnya tak punya pilihan lain, selain .... "Masalah ini adalah kesalahan putraku! Sekarang aku akan mengirim uang empat puluh milyar untukmu, sebagai kompensasinya."


Sebelum mengiyakan, Lin Mu lebih dulu memastikan. "Apakah itu menggunakan akun yang bisa dilacak?"


"Oh, bukan, bukan! Pasti bukan!" Wang Junli menjawab kilat. "Ini adalah akun anonim milikku yang ada di luar negeri. Sudah pasti aman!" tandasnya.


"Bagus sekali!" ujar Lin Mu.


Satu telapak tangannya terlihat ia susupkan ke saku bagian dalam jas putih yang dikenakannya--merogoh sesuatu. "Kirimkan ke kartu ini!"


Pandangan Wang Junli lalu jatuh pada sehelai kartu berwarna silver di tangan Lin Mu. "Baik. Aku akan mengirimkannya sekarang. Tapi aku perlu menggunakan komputer di sana sebentar." Melalui wajahnya, ia menunjuk sebuah meja, dengan satu buah komputer di tengahnya.


Lin Mu hanya menganggukkan tipis kepalanya.


Tak lama Wang Junli mulai sibuk dengan keyboard dan layar menyala di depannya. Secara rinci, ia mengetikkan nominal yang dicetuskannya tadi kepada Lin Mu, berlanjut dengan deretan nomor rekening milik pemuda super itu, sebagai wadah transfer.


"Sudah selesai!" katanya memberitahu. Pria tua itu bahkan hingga memutar dan menghadapkan komputernya ke arah Lin Mu untuk meyakinkan. "Uang sudah aku kirimkan. Lihat, apakah nominalnya sesuai?"


Sekilas saja Lin Mu melihatnya. Ia tak meragukan, karena itu jelas. "Kalau begitu terima kasih, Bos Wang!" ucapnya. "Kalau tidak ada urusan lain lagi, aku pergi dulu."


Ada aedikit gelagat tak biasa ditunjukkan Wang Junli. Sepulas seringai aneh terpampang di keriput wajahnya yang mungkin ... berbau tanah. "Saudara Lin, jangan terburu-buru pergi seperti itu."


Dan ya ....

__ADS_1


Sebuah senjata api kecil berwarna hitam ia angkat dan ia todongkan ke arah Lin Mu, dengan posisi pelatuk siap tarik.


"Mari kita berbincang lagi."


__ADS_2