Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 24


__ADS_3

Pancaran jingga kemerahan menguasai pelataran langit sat ini. Sang surya mulai menyongsong peraduannya.


Senja menyapa.


Di depan pintu utama kediaman minimalisnya, bayangan Lin Mu nampak memanjang miring mengikuti cahaya lelah matahari yang menguning.


Tatapannya terjurus menunduk pada dua pasang sandal rumah yang berdampingan di sudut dinding. Menandakan ... jika satu lainnya, sudah ditanggalkan penggunanya.


"Hm? Apakah dia sudah pulang?" Pupil hijaunya memancarkan sirat bertanya didukung kerutan sepasang alis yang tertaut.


Di detik yang sama, semilir angin berkesiur melewati wajahnya seperti membawa sesuatu yang menggugah. "Aroma ini ... hmm."


Tanpa menuruti kepalanya yang hanya senang berargumen, Lin Mu gegas membuka pintu, kemudian dengan cepat menyongsong meja makan di timur bagian rumahnya.


Benar saja. Aroma lezat menggugah saliva itu tersaji apik di atas meja. Lin Mu tersenyum memandanginya. "Masih meninggalkan catatan kecil untukku."


Sehelai kertas yang terselip di bawah piring berisi sajian lobster bertabur warna-warni sayuran di atasnya, diambil pemuda itu lalu dibacanya.


Lin Mu, aku pergi dulu. Masih ada banyak hal di perusahaan yang menunggu untuk kutangani. Aku telah membuat beberapa masakan untukmu. Aku tidak tahu, apakah itu sesuai dengan seleramu atau tidak. Ingatlah untuk meneleponku jika kamu punya waktu.


^^^Luo Bingyun-189xxxxxxxxx^^^


Begitulah setidaknya penggalan isi tulisan di kertas yang ditinggalkan Luo Bingyun untuk Lin Mu.


Tanpa babibu, Lin Mu menurunkan tubuhnya setelah menarik salah satu kursi dan mendudukinya.


Sret


Sret


Makanan itu mulai dipotong kemudian dikunyahnya. "Wow, enak sekali!" komentarnya takjub dengan sepasang mata melebar.


Tak disangka keahlian memasaknya sangat bagus.


Ia hanya mencicipi. "Akan kumakan nanti," ucapnya. Lalu ditinggalkannya meja makan itu demi suatu hal. "Sekarang yang terpenting adalah mencobanya dulu."

__ADS_1


Setelah menuntun sedikit langkah, kini ia berdiri di depan sebuah lemari dan membukanya.


Sebuah kendil tanah liat dengan bentuk bulat cembung menyerupai labu, namun mengecil dan memanjang di bagian lehernya, diambil Lin Mu dengan hati-hati. Sekeliling luar benda itu nampak cantik dengan hiasan naga-naga ber-cat keemasan.


Setelah memotong beberapa bahan yang memang telah ia sediakan, kendil itu ia isi air dengan volume sebatas leher benda itu, lalu diletakannya di atas tungku kompor dengan api sedang.


"Langkah selanjutnya adalah merebusnya dengan perlahan," ujarnya setelah memasukkan bahan-bahan yang tadi telah disiapkannya. "Semoga berhasil dengan percobaan pertama ini." Lalu menutup dan membiarkan ramuan itu hingga batas waktu yang mungkin telah ia tentukan.


_____


Di lain belahan dunia.


MANHATTAN.


Itu bukan nama koktail yang dibuat dari campuran wiski, vermouth manis, bitters, juga es batu. MANHATTAN di sini adalah nama sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan ujung Sungai Hudson. Pulau yang merupakan salah satu dari kelima pulau yang membentuk kota New York, Amerika Serikat.


Dan di pulau inilah seorang pria hidup di bawah naungan perusahaan miliknya sendiri.


PRAAAKK


"Brengsek!! Putriku diserang dan hampir mati! Apakah ini cara kalian melindungi putriku?!" teriaknya menggaung memekakkan telinga.


"Maaf, Tuan Luo. Ini memang kelalaian kami kali ini." Salah satu dari dua orang pengawal yang berdiri di depannya menyahuti dengan suara kaku lengkap dibalut ekspresi ketar-ketir. "Namun kami telah menemukan penyerangnya, dan informasi tentang dalang di baliknya. Silahkan Tuan Luo lihat." Sebuah map coklat berlipat diberikannya pada pria tua atasannya tersebut.


"Dibandingkan ini ... aku lebih tertarik pada pria yang ditemui Bingyun saat itu." Tatapan mata pria tua yang tak lain ayah kandung Luo Bingyun itu, terlihat tajam dan menusuk.


"Kami telah mengumpulkan informasi tentang pria itu, tapi ...." Pria pengawal berambut plontos menyerupai tentara itu merogoh dan meraba-raba bagian dalam jas yang dikenakannya.


Sehelai kertas didapat lalu diberikannya pada sang atasan.


"Lin Mu ... Keluarga Lin, di Kota Donghai," kata ayah Bingyun mengulang dari apa yang dibacanya. Kemudian membaca lain-lainnya tetap dengan kerutan tebal di dahi, dan .... "Pernah hidup kembali dari kematian!" Kini matanya benar-benar membelalak sempurna.


Pria pengawal yang masih setia berdiri di hadapannya menyambung penjabaran, "Menurut penjelasan dari rumah sakit, seharusnya karena kelelahan fungsi tubuh berlebihan, yang menyebabkannya mati suri sementara."


Ayah Bingyun menimpal seraya masih terus membaca isi kertas yang berisi penggalan riwayat hidup Lin Mu. "Setelah sadar ada perubahan bentuk fisik pada tubuhnya? Juga perubahan besar pada kepribadiannya?"

__ADS_1


Yang lalu diangguki pria pengawal itu lagi. "Betul, Tuan. Perubahan fisik tersebut, hanya bisa dijelaskan oleh pihak rumah sakit sebagai keajaiban medis. Dan ada pun perubahan kepribadian ...." Sejenak pria itu menjeda. Cukup ragu sepertinya kalimat lanjutannya ia lontarkan. "Itu seharusnya berkaitan dengan amnesianya," tandasnya kemudian.


Kini tatapan Ayah Bingyun menegak lurus ke depan membentur satu titik bermakna kosong dalam perhatiannya. "Apa hubungan antara dia dia dan Bingyun?" tanya pria itu perlu tahu.


"Nona Luo dan Lin Mu saling mengenal baru kurang dari lima hari. Bisa disebut sebagai teman untuk saat ini," jelas sang pengawal sesuai apa yang ia selidiki belakangan ini.


"Sangat bagus! Aku tidak ingin mendengar apa pun tentang serangan terhadap Bingyun lagi."


"Baik!"


Kedua pria pengawal mulai menyusun langkah meninggalkan ruangan. Tersisalah pria tua ayahnya Bingyun tersebut dengan segudang argumen di kepalanya mengenai pemuda bernama .... "Lin Mu." Itu suara gumamnya.


___


Kembali pada Lin Mu dengan kegiatan meracik ramuan pilnya.


Setelah menunggu beberapa waktu, ia kembali ke dapur. Membuka tutup kendil tanah liat berisi racikan obat yang masih bertengger di atas kompornya.


"Ternyata berhasil!" Ia berseru dengan ekspresi terlihat tegang namun dibalut sedikit senyuman senang.


Diangkatnya kendil tersebut untuk menuangkan isi yang sekarang telah mengental ke dalam mangkuk logam yang juga berwarna keemasan. Selanjutnya, seraya mengambil posisi duduk di sofa, mangkuk itu diletakannya di atas meja.


Seukuran buku terakhir telunjuk, ramuan kental itu diambil dan mulai membentuknya bulat-bulat menyerupai buah kelengkeng menggunakan kedua telapak tangannya yang saling memutar.


Dalam beberapa saat, sekitar tiga puluh butir hasilnya, sudah tersusun di atas sehelai kain berwarna merah dengan jejeran apik.


Lin Mu mengambil satu di antaranya, menimang-nimang sesaat seraya menatapnya. Kemudian ....


"Coba makan satu dulu, lihat bagaimana kekuatan obatnya." Pil itu pun ditelannya tanpa air untuk mendorong. Dipejamkannya mata untuk merasai efek dari apa yang baru saja ia ciptakan.


Sekejap saja, tubuhnya mengeluarkan cahaya kekuningan nyaris menyerupai warna bohlam lima watt yang biasa digunakan untuk menerangi kandang ayam di Indonesia.


"Meskipun kekuatan obatnya sedikit lebih lemah, tapi itu sudah cukup!" Lin Mu membuka matanya melebar. Cukup takjub sepertinya.


"Tidak peduli seberapa tipis kekuatan spiritual di bumi, tidak akan menghentikanku untuk kembali ke puncak."

__ADS_1


__ADS_2