
Keluarga Yan
Pria tua berkumis tipis itu masih diam di posisinya--duduk di sofa dengan tampang gusar.
Sirat wajahnya menunjukkan beban yang begitu mengikat. Dan kegusarannya semakin bertambah ketika ....
"Tuan, aku sudah memeriksa jelas hal yang Anda perintahkan." Pria paruh baya berkacamata yang berperan sebagai asisten itu sudah berdiri di hadapan pria tua yang tak lain adalah ayah Yan Langshi--Yan Zhongqing. "Shen Zhuguang melaksanakan perintah administrasi umum. Li Guangrui memaksa melepaskan orang itu."
Informasi tersebut ditanggap Yan Zhongqing dengan kening berkerut. "Li Guangrui?" ulangnya bertanya heran. "Bagaimana dia mengenal anak muda bermarga Lin itu?"
Yang kemudian dijawab pesuruhnya dengan nada tegas, "Tidak, Tuan! Li Guangrui tidak kenal anak itu. Dia juga menerima telepon. Baru memerintah Shen Zhuguang," jelasnya sesuai informasi yang ia terima.
"Apa?!" Yan Zhongqing semakin tersentak. "Jadi ada orang yang dapat memerintah Li Guangrui? Siapa orang yang melindungi Lin Mu?!" tanyanya jelas penasaran.
"Maaf, Tuan. Untuk saat ini aku belum dapat memeriksa itu. Telepon mereka dienkripsi. Jika diuraikan secara paksa, takutnya akan menimbulkan kecurigaan." Pria berkacamata kotak itu menerangkan dengan sungkan.
Tatapan Yan Zhongqi semakin geram kentara. "Karena aku telah berhubungan dengan anak ini, hanya ada satu cara menuju kegelapan. Bagaimana pun juga ... dia harus mati!" Sejenak pria tua itu terdiam dengan tatapan berkilat marah. "Hubungi Xue Chi. Minta dia kirim pembunuh yang hebat dari luar negeri. Kali ini tidak boleh melepaskan anak itu lagi!"
"Tidak masalah, Tuan. Aku akan menghubunginya sekarang juga."
___
Biro Keamanan Kota Donghai - Pusat Penahanan
"Tuan Lin, maafkan kami, sebelumnya hanya salah paham. Aku banyak melakukan kesalahan dalam bertugas. Semoga Anda tidak memasukannya ke dalam hati," ucap panjang lebar seorang pria berseragam polisi pada Lin Mu. Wajahnya merunduk dengan tampang penuh sesal juga ... sedikit takut.
Tak ada yang menarik dari kalimat itu, Lin Mu menyahut dengan pertanyaan berbelok, "Apa aku sudah boleh pergi?"
Walaupun cukup menendang harga dirinya, polisi itu menyahuti juga, "Tentu saja. Silahkan, Tuan Lin."
Baru sepuluh derajat tubuh Lin Mu bergerak hendak pergi, suara seseorang berhasil menolehkan wajahnya.
__ADS_1
"Kak Lin, akhirnya kamu keluar!"
"Gendut."
Xing Weilong melambaikan tangannya tinggi-tinggi. "Syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku khusus datang menjemputmu," kata lelaki tambun itu dengan rekah senyumnya.
Lin Mu menghampirinya tanpa peduli pada para petugas yang kini menatap punggungnya menjauh.
"Untuk merayakan kebebasan Kak Lin, aku akan mentraktirmu makan di Hilton. Kamu boleh pesan makanan apa pun di sana."
Seulas senyum dihadiahkan Lin Mu sebagai sambutan. "Kamu begitu murah hati hari ini. Apa ada maksud lain?"
Weilong menghardiknya gegas, "Hey, apa yang kamu katakan?! Aku hanya ingin makan bersamamu, Kak Lin."
Sebuah mobil--entah milik Weilong ataukah bukan, mereka naiki kini.
Sampai setengah jam kemudian ....
Hilton Hotel
Lantai coklat bercorak aneh itu dijejaki pasang kaki Lin Mu dan Weilong.
"Xing Shao, meja pesananmu sebelah sini." Seorang lelaki berjas hitam menunjukkan arah pada Weilong, tepat ketika langkah dua pemuda itu melewatinya.
"Ya, terima kasih," sahut Weilong tanpa menatapnya sedikit pun. Yang jelas, ia kenal pria penunjuk itu.
Serangkap meja besar lengkap dengan kursi-kursi mewah itu, dua di antaranya diduduki Lin Mu dan si gendut saat ini.
"Kak Lin, ayo lihat buku menunya. Kamu ingin makan apa? Pesan saja," kata Weilog bernada ringan.
"Lupakan!" kata Lin Mu seraya menyerahkan buku menu berwarna hitam itu pada Weilong. "Kamu saja yang pesan."
__ADS_1
"Hehe," tanggap Weilong dengan wajah senang. "Kalau begitu aku tidak akan sungkan!" Buku berserat tebal itu kemudian dibukanya halaman demi halaman. Dalam sekejap saja, ujung bibirnya sudah mengeluarkan tetesan liur menatap gambar-gambar makanan di buku itu dengan mata berbinar. "Hati angsa saos kaviar, kari kepiting dungeness, dan satu lobster Australia."
Pelayan yang sedari tadi berdiri sudah mencatatnya di nota kecil yang dipegangnya.
Lain dengan Lin Mu yang seolah tak peduli apa pun makanan yang dipesan Weilong tersebut.
"Permisi, toilet di sebelah mana?" tanya Lin Mu pada pelayan berseragam merah terang itu. Ia sudah dalam posisi berdiri.
"Mari saya antar, Tuan," imbuh pelayan itu.
"Baik, terima kasih."
Sesaat kemudian ....
"Tuan, di depan belok kiri. Di sana toiletnya."
Info itu disambut Lin Mu dengan anggukan. "Oke."
__
Ruang pribadi lainnya di hotel yang sama.
Selingkar meja putar dengan kursi-kursi seragam itu, penuh dikelilingi orang-orang yang tentu saja berkelas--bukan dari kalangan main-main.
"Nona Yao, kami memintamu datang kemari untuk membahas soal bermain sebagai pemeran utama wanita dalam film yang kita bicarakan sebelumnya. Apakah Nona Yao sudah membaca naskahnya?" tutur dan tanya seorang pria berambut keriting yang menggunakan jas biru di samping Yao Xianxian--si wanita artis yang dulu ditolak Lin Mu.
"Direktur Wang, aku sudah melihat naskahnya. Aku sangat puas," kata wanita cantik tersebut dengan senyum termanisnya. "Bayarannya juga tidak masalah. Hanya saja, aku tidak tahu siapa pemeran utama prianya."
"Pemeran utama pria untuk sementara belum bisa kami temukan," ungkap Direktur per-film-an itu. "Apakah Nona Yao ada orang yang bisa direkomendasikan?"
Yao Xianxian menanggapi lantas, "Menurutku, karena alasan isi naskahnya, pemeran utama pria sebaiknya mencari orang luar untuk memainkan peran itu." Pikiran Yao Xianxian sudah terisi bayangan seseorang. Dipejamkannya sejenak kedua mata seraya membayangkan wajah itu. "Aku kebetulan memiliki kandidat yang sepertinya akan sangat cocok dengan karakter itu. Tapi tidak tahu, apakah dia bersedia muncul atau tidak."
__ADS_1
Pria berambut pirang di seberang mejanya kemudian menanggapi, "Oh, jika begitu, silahkan Nona Yao sebutkan."
Seulas senyum kembali ditunjukkan Yao Xianxian. Ditatapnya satu persatu orang-orang film di sekitarnya itu dengan raut sedikit ... antara yakin dan tak yakin. "Aku bertemu orang ini di konserku. Aku mengundangnya untuk bernyanyi bersama di atas panggung, tetapi dia menolaknya dengan mentah. Sungguh memalukan!"