Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 40


__ADS_3

Selingan Author!


Mohon maaf, dua bab sebelumnya terpaksa disatukan dalam satu bab, terhubung jumlah kata yang kurang dari ketentuan editor. Jadi yang kemarin baca lebih awal tepat sesaat bab rilis, disarankan baca mundur ke bab sebelumnya untuk membaca bab ke 39 yang kemarin menyusul secara mendadak, demi menyambungkan cerita agar tidak menjadi rancu. Terima kasih.


...🍃🍃🍃🍃...


Hamparan hijau rerumputan, dihiasi batu-batu alam yang tertanam di beberapa titik memukau penglihatan, di sanalah Lin Mu berada saat ini.


Sulit dipercaya!


"Amitabha."


Suara Buddha utama. Buddha yang begitu besar dengan ukuran tubuh mungkin sepuluh kali lipat besarnya ukuran manusia normal pada jaman ini.


Buddha itu duduk bersilah di atas sebuah batu yang terbuat dari emas dengan ukiran menyerupai bunga teratai. Sepasang tangannya saling beradu antar jari dengan posisi telapak putih di bagian atas--tepat di lahunannya. Ia mengambang di ketinggian puluhan kaki di atas permukaan tanah, dengan mata terpejam tenang.


Cahaya keemasan dari tubuhnya berpendar ke seluruh jagat layaknya surya.


Dan Lin Mu ....


Pemuda itu kini berdiri di bawahnya dengan mata takjub terbelalak.


Biksu yang tadi membimbing langkahnya tak lagi nampak berada di sampingnya.


Apakah ini tempat Master bertapa? Seperti mimpi, tapi terasa nyata.


Dengan kedua tangan tergantung di sisi tubuhnya tanpa gerak, Lin Mu mendongak masih menatap Buddha itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan.


Apakah ini rumor tentang sang Buddha yang legendaris? Ia terus melancarkan asumsi di kepalanya.


"Indera keenam yang jernih. Sangat berbakat. Aku akan serahkan satu paket keahlian yang akan membantu pertapaanmu!" Buddha itu bertutur dengan suara menggelegar, namun matanya masih tetap terpejam.


Dan perlahan, telapak tangannya bergerak menjulur tepat ke arah Lin Mu.


"Terima kasih, Buddha," ucap Lin Mu menyahuti.


Seberkas cahaya keluar dari dalam jari Sang Buddha. Membentuk garis lusur persis menyerupai senter LED.


"Pergilah!" kata Buddha itu menyuruhnya.


TRING


"Ini ...." Cahaya lurus Buddha itu menembus tepat di tengah keningnya. Lin Mu menerimanya dengan mata melebar dan perasaan tak percaya.


Di sisi lain ....


"Tak disangka, dermawan kecil itu mendapat berkah dan menerima hadiah dari Buddha." Biksu yang tadi membimbing Lin Mu, berkata. Saat ini ia berdiri di pangkal sebuah tangga berundak dua, di sekitaran kuil. "Amitabha," ucapnya mengiring segala kesyukurannya hari ini.

__ADS_1


Keesokan harinya ....


Suara kicau burung terdengar riang saling bersahutan di sekitaran kuil. Keadaan sungguh sangat sejuk pagi ini, tentu saja seperti sebelum-sebelumnya.


"Aduh!" Lin Mu mengangkat tubuhnya perlahan.


Sehelai selimut berwarna kuning membalut sebagian tubuh bawahnya. Sesaat ia mengedar pandangnya mengamati sekitar. "Apa jangan-jangan tadi itu, aku sedang bermimpi?!" Mengingat itu, ia seketika membelalakan matanya. "Ini tidak benar." Kemudian menyentuh kepalanya yang cukup berat dirasakannya. "Kepalaku sekarang sakit sekali. Pasti efek samping dari energi spiritual."


Beberapa waktu kemudian ....


Lin Mu sudah terlihat lebih segar. Ia mulai keluar dari dalam bangunan kecil yang ia tiduri semalam. "Sudah pagi rupanya. Aku tidur semalaman di sini," katanya seraya melangkah menapaki paving block usang yang sudah banyak ditumbuhi rumput liar di sela-selanya.


"Tuan!" Suara panggilan itu menghentikan langkah gegas Lin Mu. "Tuan sudah bangun?" Rupanya biksu yang kemarin.


Melihat pria tua berjanggut putih itu, Lin Mu seketika membungkukan tubuhnya seraya mengatupkan telapak tangan di depan dada. "Lin Mu memberi hormat kepada Master! Terima kasih atas pertemuan ini."


Biksu itu balas mengatupkan tangan. "Ajaran Buddha tidak terbatas. Semoga Tuan mendapat pencerahan yang baik di masa depan," tuturnya. "Amitabha."


"Kata-kata Master akan Lin Mu ingat," tutup Lin Mu sebelum akhirnya berlalu meninggalkan tempat itu. Melakukan lari kilat seperti sebelumnya untuk bisa sampai di pusat kota dengan cepat.


Sore harinya di Unversitas Donghai.


"Hari ini kita akan membahas tentang antiderivative," kata seorang dosen pria paruh baya yang saat ini tengah mengisi jam kuliah Lin Mu di depan kelas.


Pemuda itu sendiri nampak tenang seperti biasa di deretan kursi paling depan.


Ternyata teknik yang Buddha berikan tadi malam, disebut Zhu Xieyin. Lin Mu berceloteh dalam hatinya. Saat ini sepertinya perhatiannya tak sedang fokus pada bait-bait kata yang dijabarkan sang dosen, terlihat dari matanya yang terus menatap meja di depannya seraya tersenyum-senyum.


Keningnya kini berganti kerutan, dengan sorot mata berubah gamang. Sayangnya teknik ini terlalu misterius. Tidak dapat digabungkan dengan kekuatan spiritualku.


Menghela napas cukup berat, lalu membenturkan punggungnya pada sandaran kursi.


Tapi pasti berguna di kemudian hari.


Sekarang sudah lebih cepat masuk ke tahap penggabungan, sampai ke alam roh!


Aku pikir sebelumnya perlu waktu satu setengah tahun untuk sampai ke alam roh.


Hening ....


Di depannya dosen pria itu mungkin sudah mencapai dua benua perihal pembahasan pelajarannya. Tapi Lin Mu masih asyik dengan pikirannya sendiri.


Ketika aku reinkarnasi, aku mendapat sedikit kekuatan spiritual dari kekuatan sejati tingkat sembilan, yang membuat tubuh ini bertransformasi. Barulah pelatihan alam dasar bisa berjalan sangat lancar.


Ia lalu merundukkan kepalanya, menatap tulisan di bukunya yang sama sekali tak sinkron dengan isi kepalanya saat ini sama sekali.


Jadi dari awal, aku sudah masuk ke alam sensitif.

__ADS_1


Kembali tersenyum dengan tubuh menegak.


Setelah berlatih, pasti akan sampai dengan mudah di alam roh. Langit sungguh sudah membantuku.


Penjelasan!


Alam tahap dasar dibagi menjadi tiga, antara lain;


Alam solid, alam sensitif, dan alam permulaan.


Alam tahap pembangunan dibagi menjadi tiga, antara lain; Alam roh, alam bawaan, dan alam menembus kegelapan.


Lin Mu menajamkan matanya mengingat bagaimana ia akan melalui semuanya ... mungkin dengan mudah.


Kekuatan di alam roh sendiri, lebih kuat berkali lipat dibandingkan alam tahap dasar.


Dari sebuah senyuman, lalu menjadi seringai, kemudian ....


"Hahahaha ...!"


Tanpa sadar, Lin Mu tergelak keras di tengah keheningan mata kuliah yang tengah berlangsung.


Semua orang tersentak, terperanjat, juga terkejut menanggapi kelakuan anehnya.


"Ups!" Lin Mu menghentikan tawanya sontak, setelah menyadari ketololannya.


Gawat! Sangking senangnya aku sampai lupa tempat!


"Hey! Apa yang kamu tertawakan?! Apa kelasku sangat lucu menurutmu?!" Dosen pria dengan kacamata bulat bening dan perut buncit itu menghardiknya dengan tampang keruh.


"Maaf! Maaf, Pak!" Lin Mu tergagap.


....


Di gang menuju jalan pulang, Lin Mu menghentikan langkahnya.


"Sialan!" Dinding usang sebuah bangunan ditinjunya keras. "Baru memasuki alam roh saja aku sudah kehilangan akal," decitnya kesal. "Kalau begini, aku akan menyandang gelar orang pertama yang gagal melakukan pertapaan."


Wajah keruh akibat rasa kesal ia bawa dalam setiap ayunan langkahnya. Maki demi maki dilontarkannya dalam hati sebagai pelampiasan perasaan tolol atas dirinya sendiri.


Sampai sesuatu berhasil menggantikan perasaan itu. Bukan lagi terhadap dirinya sendiri.


"Perasaan ini ...."


Rasa yang sama ketika ia bertemu dengan gadis yang memiliki Qi es dalam dirinya.


"Tidak mungkin salah. Pasti dia lagi," terkanya seraya mengedar pandang mengabsen setiap sudut tempat yang kini dipijaknya.

__ADS_1


"Ketemu! Dia di sana!" Menarik tipis kedua sudut bibirnya, Lin Mu mendapati wanita itu tengah berjalan di antara lalu lalang orang.


Setelah sampai di alam roh, jarak yang begitu jauh juga sudah bisa merasakan dia. Kali aku harus bertanya dengan jelas. Tidak boleh kehilangan dia lagi.


__ADS_2