
Sore hari berikutnya. Kediaman Keluarga Ji.
"Kakek, ini Mu." Ji Qinglan memperkenalkan.
Selingkar meja makan berkuran 3 x 2 panjang lebarnya, dengan jumlah kursi lima buah di setiap sisi memanjang, dan satu buah di posisi ujung ke ujung. Ji Qinglan duduk berhadapan dengan ayahnya--mengapit kiri dan kanan kakeknya. Sedang Lin Mu, ia duduk di posisi kursi paling ujung--berhadapan jauh dengan Kakek Ji.
Ya, hari ini ... sesuai rencana, Ji Qinglan membawa Lin Mu menghadap keluarganya yang hanya terdiri dari ayah dan kakeknya tersebut di rumah besarnya.
"Mu, mengenai masalahmu dengan Qinglan ...." Kakek Ji memulai percakapan. "Apa rencanamu?"
Di posisinya, Lin Mu menyikapi pertanyaan itu cukup tenang. Senyuman ringan membawa bibirnya untuk menjawab, "Aku sementara waktu ini belum ada rencana apa pun."
"Apa?!" sentak Kakek Ji. Berlainan dengan sikap santai Lin Mu, tanggapan pria tua itu justru berkebalikan. Jawaban Lin Mu jelas bukan seperti dalam bayangan dan sesuai keinginannya. Terlihat dari wajah santai yang langsung berubah penuh amarah.
BRAKKK!
Meja kayu dengan cat flitur mengkilat itu digebraknya keras. "Tidak ada niat untuk menikah dengan Qinglan? Jadi kamu hanya main-main saja, begitu?!" Emosinya sudah tersulut hanya dengan deretan ringan kalimat Lin Mu.
"Tidak, tidak!" elak Lin Mu seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan dada. "Aku hanya ingin lulus kuliah dulu, baru ...."
"Qinglan!" Kakek Ji menyergah tinggi. Namun terjurus pada Qinglan yang duduk di sampingnya. "Kalian berdua tidak ada rencana apa pun?! Apa menganggap pernikahan hanya sebagai mainan?!!"
Ekspresi Qinglan menyiratkan rasa tertekan. "Kakek, bukankah masih ada dua tahun lagi untuk lulus? Tidak perlu terburu-buru, 'kan?" ujarnya coba menenangkan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan terburu-buru!" Kakek Ji menghardik keras. "Melainkan sikap dia yang bermasalah!" semburnya seraya menodongkan telunjuknya ke arah Lin Mu.
Qinglan menggeleng-geleng tak terima. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Gadis bodoh!" berang pria tua itu lagi pada Qinglan. "Setelah lulus dia akan menempuh jalannya sendiri! Dia itu ingin kabur! Akan kemana kamu mencarinya?!" teriaknya menyimpulkan. "Aku tahu banyak tentang orang yang menipu perasaan! Nanti yang akan rugi adalah kamu!"
__ADS_1
Di tengah irama debat cucu dan kakeknya itu, Lin Mu masih geming memperhatikan.
Semua ini bukan kesalahanku! Ji Qinglan yang memaksa menarikku. Jadi sudah jelas, semua kesalahan sekarang ada padanya.
"Qinglan! Aku tidak mengerti, bagaimana kamu menyukai orang semacam ini!" Kemurkaan Kakek Ji masih berlanjut. "Dia ini tidak ada rencana apa pun. Lelaki macam dia tidak layak dipertahankan!"
Menanggapi setiap kalimat kakeknya, Qinglan mulai menangis. "Kakek ... Lin Mu tidak seperti yang Kakek bayangkan." Ia coba membela di antara isaknya. "Dia ...."
"Cukup!" pungkas keras pria tua itu. "Tidak perlu dikatakan lagi. Aku tidak setuju pada pernikahan ini!" Ia memutuskan pada akhirnya. Satu ketukan tanpa palu yang sepertinya tak akan bisa diganggu gugat.
Sedang ayah Qinglan hanya diam tanpa sedikit pun menimpal. Perangai ayahnya ia hafal jelas. Tak ada yang bisa mengoreksi atau pun mengubah setiap keputusannya. Hanya desah kasar yang ia lakukan sebagai tanggapan.
Sepertinya sudah cukup.
"Maaf, semuanya!" Lin Mu menyela tiba-tiba.
Sorot mata hijaunya mulai berkilat-kilat.
"Maaf, kedatanganku hari ini membuat semuanya tidak senang. Ini adalah salahku." Mulai diangkatnya tubuh untuk berdiri, bertopang telapak tangan yang tekankan di atas meja. "Menurutku ... ke depannya aku juga tidak perlu datang lagi." Sekilas membungkukan tubuh sebagai hormat. "Permisi." Lalu berbalik meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
"Mu, tunggu!" Qinglan sontak bangkit untuk mencegah.
"Qinglan!" Lagi-lagi Kakek Ji menghardiknya. "Orang yang hanya memikirkan hal kecil, pasti tidak dapat melakukan hal yang besar," kicaunya seraya menarik kedua lengannnya ke posisi bersedekap. "Percayalah kepada Kakek. Lepaskan saja dia!"
Ulu hatinya telak terhantam, Qinglan terisak pilu di tengah kubangan keruh yang menenggelamkannya tanpa perasaan. "Mu, jangan pergi!" cegahnya tercekat. "Kakek tidak mengerti sama sekali," tukasnya menatap rapuh orang tua itu, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan dengan buraian yang semakin deras di pipinya.
Keadaan menjadi hening dalam sekejap.
Walaupun cukup tak tega, ayahnya sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Kakek Ji adalah harga mati sebuah aturan.
__ADS_1
"Ayah, perkataanmu terlalu berat." Akhirnya pria itu mengemukakan komentarnya.
Kakek tua yang masih nampak tegap itu menghardik, "Meskipun Keluarga Lin memiliki kekuatan, namun masih tidak dapat dibandingkan dengan Keluarga Ji kita!" Dihempaskannya punggung ke sandaran kursi, lalu kembali melanjutkan, "Aku hanya menguji saja. Apakah dia pacaran dengan Qinglan untuk mendekati Keluarga Ji."
Ekspresi bengisnya menunjukkan kecongkakan yang vivid.
"Jika ada motif tersembunyi, tadi pasti akan sempurna!" lanjut Kakek Ji seraya menegakkan kembali tubuhnya. "Meskipun dia tak rendah hati. Tapi aku tak menyangka, dia sangat arogan dan sombong. Hingga tak tahan dengan keluhan apa pun."
Ayah Qinglan menyela cepat, "Ayah, karena tujuannya bukan ingin masuk ke Keluarga Ji. Jadi tidak heran, jika dia sedikit menunjukkan sikap sombongnya." Kesiur napas kasar dihembuskannya di antara kekesalan yang tertahan. "Dengan perkataanmu tadi, jika itu aku, aku juga tidak akan senang!" Ia menempatkan diri sebagai contoh.
Kakek Ji mulai berdiri. "Bagaimana pun juga dengan sikapnya yang sekarang ini, meskipun menikah dengan Qinglan, dia juga tidak akan dapat bertahan di Keluarga Ji. Kecuali dia merubah pikirannya. Jika tidak, maka tidak perlu membahas pernikahan ini lagi," ia menandaskan.
Telak tak ada lagi kata. Ayah Qinlan terhempas ke dasar dengan tampang pasrah. Tidak akan pernah menang menghadapi pria tua itu, kecuali jika sesuatu membuatnya berubah pikiran.
Huh, ayah yang keras kepala. Mau bagaimana pun menasihatinya, pun tidak akan mempan. Baiklah, hari ini sampai di sini saja, kicau hatinya menyerah dalam keterpaksaan.
Lain ayah Qinglan, lain pula hati kakeknya.
Langkah gontai menuntun kaki tuanya hingga ke halaman. Menatap penuh kesan jalan kosong yang beberapa saat lalu ditapaki Lin Mu saat datang, juga berlalu.
Menurutku ... pemuda itu cukup baik, komentarnya dalam hati. Semoga kesombongannya dapat memudar seiring waktu.
___
Di dunia abadi, ada banyak hal yang tidak membuatku pusing. Tapi tak disangka, hari ini aku bisa begitu marah. Apakah toleransiku mulai berkurang?
Lin Mu mengayun langkah di tengah hening. Sapuan angin sesekali menampar durja muramnya yang temaram.
Tidak! Ini pasti watak asli tubuh ini yang berpengaruh kepadaku, asumsinya. Iya! Pasti begitu.
__ADS_1