Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 37


__ADS_3

"Mari kita undang penonton yang beruntung ini naik ke atas panggung!" Xianxian berseru dengan mikrofon yang menjadi alat transfer suaranya hingga mendengking keras didengar ribuan orang yang datang ke tempat pertunjukannya tersebut.


"Kenapa masih bengong saja?! Cepat naik!" Zixi berucap dengan dengusan kesal. Sepertinya tak terima lingkaran cahaya itu tidak jadi menyorot dirinya.


Dan dengan ringannya Lin Mu menyahuti, "Kenapa harus naik ke atas?" Ekspresinya nampak santai. Sedang orang-orang di sekeliling ricuh menyayangkan tentang hilangnya sebuah kesempatan.


Zixi membeliak sebal. "Naik ke atas untuk bernyanyi bersama Yao Xianxian. Kamu adalah penonton yang beruntung itu!" semburnya menjelaskan.


"Apa?!" Lin Mu tersentak. "Tapi aku tidak bisa bernyanyi," akunya dengan wajah polos.


Sedikit memajukan dirinya ke arah Lin Mu, Zixi lalu berujar seraya menyeringai, "Jika kamu tidak naik, bukannya Yao Xianxian akan malu?"


"Apa hubungannya denganku?" Lagi-lagi Lin Mu tak peduli.


Menanggapi pertanyaan pemuda itu, Zixi semakin meradang. Sementara Song Yuru dan satu temannya hanya diam seraya menahan tawa di posisinya. "Terserah kamu saja!" tukas Zixi akhirnya--menyerah.


Dari atas pentasnya, Xianxian masih menunggu. Mengapa pria tampan itu tak naik juga? pikirnya. Dan tema itu akhirnya ia putuskan dengan .... "Tuan yang terpilih, kamu tidak ingin satu panggung denganku, atau tidak berani naik?!" tanyanya mengarah pada Lin Mu yang masih dikungkung spotlight-nya.


Menanggapi itu, Lin Mu berdiri lalu menjawab dengan lantang, "Nona Yao benar, aku memang tidak berani naik. Karena aku memang tidak bisa bernyanyi. Aku berharap kesempatan ini diberikan saja kepada orang lain!" Posisi duduk paling depan, membuat suaranya cukup bisa didengar Xianxian meskipun di tengah kegaduhan ribuan manusia lain di sekelilingnya.


Dan keputusan Lin Mu tentu disambut baik oleh para penonton fanatik yang gemar cari simpatik.


Semoga mereka tak seperti itik yang mati tersengat listrik.


"Bagus, Xianxian! Cepat pilih aku! Aku bisa bernyanyi!" Seorang pria di belakang dengan lantang menawarkan diri.


"Bro! Aku mendukungmu!" Temannya menambahkan.


"Baiklah! Karena Tuan ini sendiri yang membuang kesempatan. Maka mari kita pilih penonton yang beruntung lainnya!" Di panggungnya, Xianxian memutuskan. Sedikit kilatan aneh di matanya menanggapi penolakan Lin Mu, namun disamarkannya dengan senyuman demi sebuah image.


Ia baru saja ditolak!


Hah? Apa ini mimpi?!


Ia dambaan semua pria!


Bisa-bisanya pria itu menolak!

__ADS_1


Dan spotlight pun akhirnya jatuh pada seorang pria berjas hitam si posisi paling tengah. "Yess, aku terpilih!" seru pria itu berjingkrak girang.


Sebuah lagu bertema duet pun mulai mengalun merdu tanpa hambatan. Cukup baik rupanya pria terpilih itu bernyanyi mengimbangi sang idola.


"Xianxian, aku menyukaimu," ucap pria itu di akhir lagunya.


"Aku juga menyukaimu. Terima kasih sudah mendukungku!" Xianxian membalas seadanya seraya memeluk pria itu sesaat saja. "Terima kasih semuanya!" Dan ucapnya itu mengarah pada semua orang seraya melambai-lambaikan tangan, sebagai penutup penampilannya.


 ____


"Ahh, konser ini lumayan bagus!" Zixi berkomentar seraya meregangkan ototnya dengan sepasang tangan dipautnya ke atas. "Sayangnya kesempatanku naik panggung direbut seseorang. Kalau tidak, konser ini pasti akan sangat sempurna!" sindirnya pada Lin Mu, masih dengan tatapan kesal tak terima.


Lin Mu dan ketiga wanita satu rumahnya, kini berjalan beriringan di halaman gedung di mana konser Xianxian itu dilangsungkan.


Di saat yang sama ....


"Permisi, Tuan!"


Keempatnya serempak membalik tubuh ke belakang. Di mana dua orang pria dengan setelan jas seragam, berdiri menatap ke arah Lin Mu.


"Siapa nona kalian?" tanya Lin Mu berhak tahu.


"Nona Yao Xianxian!"


"Hmm, ternyata Nona Yao," kata Lin Mu mengulang. "Tapi kenapa dia ingin menemuiku?"


"Kami juga tidak tahu mengenai itu. Kami hanya melaksanakan tugas."


Untuk sejenak Lin Mu berpikir. Sedang ketiga teman wanitanya masih diam memperhatikan.


"Baiklah, aku ke sana," putusnya kemudian, lalu berbalik menghadap ketiga teman wanitanya. "Kalian pulanglah dulu. Nanti aku pulang naik taksi sendiri."


Song Yuru menyahuti, "Ya, pulanglah cepat. Hati-hati."


"Jangan lupa pulang setelah bertemu Yao Xianxian." Zixi menimpal sedikit mengejek.


Lin Mu menanggapi dengan anggukan tipis. "Ayo, tunjukan jalannya!" katanya pada kedua pria berjas suruhan Xianxian.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian ....


Lin Mu sudah berdiri di depan sehelai pintu yang sedikit terbuka--masih bagian dari gedung konser. "Pintunya tidak terkunci," gumamnya.


"Cepat sekali kamu datang?"


Pemandangan di depannya seketika membuat bola mata Lin Mu nyaris terpental--membelalak sempurna. "Ma-maaf!" Dengan spontan ia membalik tubuh, lalu berjalan gegas kembali keluar ruangan, menutup pintu dengan jantung sedikit berdebar malu.


Xianxian, wanita penyanyi itu dengan santainya berdiri seraya mengaitkan bra di balik punggungnya, tepat ketika Lin Mu muncul. Ia tengah tak berbusana. Selain setelan pakaian dalam berwarna biru tua yang hanya menginterupsi bagian intim tubuhnya.


"Tidak apa-apa! Aku kira tadi hanya staff." Sehelai gaun merah muda berlengan panjang, namun ukurannya tetap saja menyerupai orang te.lanjang tanpa celana--hanya melewati sedikit pangkal paha. "Masuklah. Aku sudah selesai ganti baju!" Wanita itu kemudian berteriak dari dalam.


Lin Mu masuk kembali dengan langkah enggan.


Di dalam, Xianxian sudah nampak santai terduduk bersedekap tangan dengan kaki bersilang di atas sebuah kursi.


"Ada apa Nona Yao mengundangku secara khusus kemari?" tanya Lin Mu langsung saja. Seketika matanya kembali dibuat melebar, yang lantas dialihkannya cepat ke bawah--menunduk.


Bagaimana tidak, kelakuan Xianxian lebih pas dikatakan seorang lon-te, ketimbang publik figur. Kaki jenjangnya yang bersilang, nampak jelas seperti ayam yang sudah dikuliti. Terlebih jika sudah dipanggang, siapa pun pasti ingin melahapnya secara rakus--untuk para pria khususnya.


"Kenapa kamu tidak berani naik panggung? Padahal aku juga tidak akan memakanmu!"


Lin Mu sedikit mengangkat wajah, meliriknya. "Nona Yao, aku ini pria muda dan sehat!" ujar Lin Mu dengan nada sedikit menekan. Sebaiknya kamu ubah gaya dudukmu! batinnya menggeram. Bilahan paha mulus itu ... sedikit mengganggunya.


"Benarkah?" Xianxian tersenyum menanggapi. "Apakah maksudnya, pria sepolos dirimu bisa berubah menjadi liar?"


Sejenak memejamkan mata. Situasi ini sedikit mengerikan bagi Lin Mu. "Maaf, jika Nona Yao tidak ada urusan apa-apa, aku pergi! Apa gunanya mengolok diriku sendiri dengan meladeni yang tidak penting!" tuturnya bernada sedikit tinggi.


Merasa terlalu membuang waktunya, Lin Mu melangkah cepat menyongsong pintu untuk keluar meninggalkan ruangan.


"Tunggu sebentar!" Xianxian mencegah, membuat Lin Mu kembali menghentikan langkahnya.


Wanita itu mulai bangkit lalu melangkah mendekati Lin Mu. Bagian bawah gaunnya nampak melecut-lecut seiring gerak, terkibas-kibas hingga memperlihatkan celanadalamnya.


Entah apa niat wanita itu, langkahnya sedikit ia buat sempoyongan, dan berlagak layaknya orang tersandung, hingga ....


"Mmuach!"

__ADS_1


__ADS_2