
Setiap pernyataan tentu harus diperkuat kebenaran, bukan?
Jika hal itu ditaruh di muka tanpa kejelesan kenyataannya, maka diperlukan penelusuran yang dalam, hingga menjadi vivid.
Misal; Tes keaslian, tindak pembuktian dan sebagainya.
Dan itulah yang tengah dilakukan Wang Junli saat ini. Selepas pil gila itu dipaksa Lin Mu melewati kerongkongannya tempo hari lalu, ia benar-benar tak bisa menjalani waktunya dengan tenang.
Benarkah pil itu akan membuatnya menjadi gila, jika tak meminum penawarnya dalam waktu tiga bulan?
Ancaman yang menakutkan.
"Bos, rumah sakit sudah memberikan hasilnya." Seorang pria, yang terang saja telah lama ditunggu Wang Junli, baru saja memasuki ruang kerja milik pria tua itu. "Ini adalah laporan pemeriksaan." Sebuah amplop lebar berwarna coklat, dengan lipatan tutup dibentuk segitiga, diserahkan pesuruh itu pada Wang Junli.
Dengan perasaan ragu mendekati takut, Wang Junli membuka amplopnya perlahan, merogoh isi, lalu membacanya penuh keseriusan. Walaupun sebenarnya istilah-istilah asing kedokteran yang tertera di lembar kertas itu, tak cukup dipahaminya.
"Tubuhmu normal, tidak ada tanda-tanda keracunan." Pria pesuruh itu lanjut menjelaskan.
Wang Junli masih diam menyimak penuturannya. "Selain itu, tubuhmu masih sangat sehat," tandasnya. "Walaupun ada sedikit definisi ginjal." Entah kenapa vonis terakhir itu tak turut disuarakannya sejelas sebelumnya.
"Jaga mulutmu, jangan katakan yang tak seharusnya dikatakan!" hardik Wang Junli. Ya ... tak ingin mendengar, mungkin. "Keluarlah!"
Tatapannya tak cukup baik untuk diajak berbicara baik-baik. Terlalu tajam dan penuh amarah. "Apakah bocah itu sedang menggertakku?!" gumamnya setelah pesuruh itu berlalu dari hadapannya.
Di tengah irama berpikirnya ....
KRING KRING KRING
Ponsel yang digeletakannya di atas meja berbunyi nyaring, pertanda sebuah panggilan meminta ia sahuti.
Dilihatnya benda pipih itu, untuk memastikan siapa gerangan penelpon.
NOMOR TIDAK DIKENAL
Begitulah keterangannya.
"Hallo. Siapa?!" tanya Wang Junli setelah ponsel itu ditempelkannya di telinga.
"Bos Wang, secepat ini sudah melupakanku." Suara dari seberang line teleponnya.
Wang Junli sedikit terkejut sebenarnya. Namun sesingkat kilat ia merubah ekspresinya untuk menghasilkan irama santai dari nada bicaranya, guna menyamarkan amarah yang masih membumbung, mengingat betapa mengerikannya bocah itu. "Ah, ternyata Adik Lin. Kenapa? Apa ada urusan mencariku?"
....
__ADS_1
Di tempatnya, Lin Mu menyahuti, "Tidak ada apa-apa. Aku menyewa sebuah kamar di paviliun Wangjiang. Aku ingin meminta Kakak kemari untuk bertemu."
"Baik, Adik Lin. Tunggu sebentar. Aku akan segera tiba." Sambungan pun terputus. Beragam asumsi mulai menjejali kepala Wang Junli.
Apa yang diinginkan Lin Mu?
Untuk apa?
Apakah?
Bagaimana jika?
Dan masih banyak lagi pertanyaan merayangi kepalanya yang sudah cukup panas dan serasa ingin meledak.
Detik berikutnya ia kembali menjuruskan ingatannya pada perangai dan kekuatan pemuda itu ketika melawannya. Sangat mengerikan dan beresiko fatal, jika tidak berhati-hati dalam mengambil sikap juga langkah yang benar-benar tepat.
Beberapa saat kemudian ....
"Bos Wang datang cukup cepat," kata Lin Mu menyambut dengan sedikit senyuman.
Wang Junli terkekeh kecil menanggapi, "Tidak, tidak juga!" Ada sebersit rasa enggan di hatinya, saat tatapnya dan Lin Mu kembali dipertemukan. Atau lebih jelasnya ... ia takut.
Keduanya kini duduk berseberangan mengisi kursi dari ujung ke ujung, dengan sebuah meja raksasa menjadi penyekat di antaranya. Di meja tersebut, beragam makanan dan minuman sudah terhidang apik sebagai menu makan malam, yang sebenarnya terlalu banyak untuk porsi dua orang saja. Namun ya ... Lin Mu sedang banyak uang, jadi maklumilah.
"Hehe, bukan hal yang besar," sahut Lin Mu alakadar. Pandangannya kini mengarah pada dua tas jumbo berisi gepokan uang hasil rampokannya, di bawah meja di dekatnya. "Bos Wang harusnya tahu, keadaanku dengan anggota keluargaku." Seraya menuangkan anggur dengan warna merah pekat ke gelasnya, Lin Mu melanjutkan, "Ada sedikit hal. Dan aku hanya bisa meminta bantuan pada Bos Wang."
Wang Junli menyambut ringan, "Tidak apa-apa, Adik Lin. Katakan saja langsung."
Lin Mu tersenyum. Sorot pupil hijaunya terasa lebih menyala di bawah sinar lampu yang tergantung percaya diri tepat di tengah langit-langit ruangan. "Sekarang aku punya uang tunai berlebih, yang perlu diurus sebentar. Tapi aku tidak menemukan cara yang baik untuk sementara waktu," tuturnya membuka niatnya. "Bisnis Bos Wang begitu baik, seharusnya ada cara untuk membantu aku, 'kan?"
Setipis kain kasa yang transaparan, Wang Junli menarik sudut bibirnya. "Ternyata hanya hal kecil seperti ini, Adik Lin tenang saja," imbuhnya. "Aku tidak punya kemampuan lain. Hanya ada sedikit pengalaman dalam berbisnis." Sedikit ia memajukan tubuhnya, menyanggakan kedua lengan di atas meja, menatap Lin Mu ingin tahu. "Memangnya, Adik Lin ... ingin investasi berapa banyak?"
Di antara senyumnya, Lin Mu mengungkapkan dengan tegas, "Kurang lebih ... 2.040.000.000.000 (dua triliun empat puluh milyar)."
Wang Junli tentu terkejut. Nominal uang dengan banyak bulatan angka nol di belakangnya itu ... dari mana bocah itu mendapatkannya? Terlebih ... dalam bentuk uang tunai ....
Benar-benar mengerikan!
"Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli apa yang Bos Wang lakukan. Asalkan uang ini bisa berubah menjadi uang yang lebih banyak." Lin Mu menandaskan.
"Tenang saja. Serahkan uang itu padaku. Pasti tidak ada masalah." Pria tua dengan kumis setengan kuning ayahnya Wang Dong itu, meyakinkan dengan sorot tajam.
"Sepakat! Terima kasih, Bos Wang!" ucap Lin Mu seraya mengangkat gelas piala berisi setengah cairan anggur di tangannya, untuk melakukan cheers, sebagai penutup kerjasama.
__ADS_1
"Adik Lin jangan sungkan. Ini sudah seharusnya aku lakukan." Gelas anggur miliknya juga diangkat Wang Junli--menerima ajakan cheers dari Lin Mu.
...****...
Gedung Universitas Donghai
Di dalam kamar asrama, yang tak hanya dihuni oleh satu orang mahasiswa saja, Lin Mu tengah duduk di sebuah kursi tunggal pasangan meja ber-laci dengan sebuah laptop di depannya.
Ugh, asrama sungguh banyak orang. Lebih baik ganti tempat yang lebih tenang saja, ia bergumam dalam hati, dengan raut tak nyaman. Selain itu, berlatih juga menjadi repot.
Ia mulai memaksa jemarinya untuk bekerja, mencari-cari di internet. Tempat mana yang bisa ia gunakan untuk melakukan hal serahasia itu.
Sampai sepersekian menit kemudian, sebuah gambar rumah di layar lipat miliknya, berhasil mencuri perhatian.
Umm ... tempat itu, sepertinya tidak busuk, kata hatinya menilai.
Ia mulai membereskan laptopnya, lalu gegas berdiri dan bersiap menyusun langkah keluar.
"Aku ada urusan di luar sebentar," katanya pada teman satu kamarnya.
Selang beberapa waktu.
Jalanan beraspal hotmix selebar satu setengah meter, tengah ditapaki sepasang kaki Lin Mu saat ini.
Kelihatannya memang ini tempatnya.
Memang tidak buruk, katanya dalam hati.
Langkahnya kemudian terhenti tepat di depan lembaran pintu kembar.
Semoga pemiliknya juga orang baik.
Bell yang terpatri di kiri atas dinding samping pintu, mulai ditekannya.
TING TONG
Menyusul kemudian sebuah sahutan dari dalam rumah. "Aku datang! Tunggu sebentar!"
Lin Mu memundurkan tubuhnya sedikit menjauh--menunggu.
Hingga menit berikutnya, menyembullah sosok pria kecil dengan kacamata bulat tebal dan hanya setinggi dadanya, dari balik pintu.
"Permisi, kamu mencari siapa?"
__ADS_1