Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 67


__ADS_3

Esok harinya ....


Menyusur jalanan, menyapa udara segar di tengah segala tatanan pagi yang cerah ini.


Lin Mu dan Zhou Shiyun.


"Lin Mu, kamu menyembunyikan kekuatanmu. Mungkin jika tahu dari dulu, kamu sudah berhasil mendapatkan satu inti cahaya kehidupan," ujar Zhou Shiyun di tengah dampingan langkahnya bersama Lin Mu.


Lin Mu menolehnya dengan seulas senyum lalu menjawab, "Mungkin tidak perlu sampai tahap tinggi, sudah dapat menyembuhkanmu." Kemudian kembali menatap jalanan di depannya.


"Semoga begitu," Zhou menimpal. "Aku akan membantu agar perkembanganmu semakin cepat." Nada cerianya berisi harapan yang mendalam.


Yang kemudian disambut Lin Mu dengan angguk dan senyuman--tipis saja.


Tidak akan menyerah selama masih ada kesempatan hidup. Sebagai seorang dokter, Zhou Shiyun lebih memahami tentang nilai kehidupan, batinnya bangga.


"Sebelumnya, selama banyak membantu orang, mati pun tidak akan menyesal. Tapi tidak disangka, aku bertemu kesempatan yang cukup menggembirakan," ujar Zhou Shiyun penuh syukur.


"Orang baik akan mendapatkan berkat dan pahala. Kali ini demi menyelamatkanku, Dokter Zhou juga mendapatkan kesempatan untuk hidup," tutur Lin Mu menimpal semangat.


"Benar," kata Zhou. "Menolong orang lain juga menyelamatkan diri sendiri." Kata-kata itu tiba-tiba membawa wanita itu pada wajah dan mulut mungilnya ketika kecil.


"Yun ... menolong orang adalah kewajiban seorang dokter. Selain itu juga menolong diri sendiri. Hal duniawi, sudah mempunyai takdirnya sendiri."


Rentetan kalimat Kakeknya saat itu, terasa menyengat perasaannya. Dan Lin Mu yang telah membuka kenangan itu tanpa sengaja.


"Iya, Guru. Yun akan ingat." Mulut kecilnya lalu menjawab.


Sampai suara Lin Mu kemudian menyentaknya kembali pada kenyataan.


"Bagaimana pun terima kasih banyak," ucap pemuda itu. "Aku harus pulang sekarang. Orang rumah sudah beberapa hari tidak melihatku, mereka pasti khawatir."


Zhou menanggapi dengan anggukan berpulas senyum. "Baiklah. Aku juga harus kembali ke rumah sakit. Kita berpisah di sini."


Perbatasan keramaian kota, akhirnya menjadi pemisah Lin Mu dan Zhou Shiyun. Gadis itu melambaikan tangan kemudian berlalu. Sedang Lin Mu menatapnya dengan senyuman manis seraya menyusupkan satu tangan ke dalam saku celana, mengiringi tangan lain yang melambai membalas Zhou yang mulai menjauh. Langkah kembali dilanjutkannya setelah wanita itu hilang di balik kelokan.


Setengah jam kemudian ....


Jalan santai menjadi pilihan Lin Mu untuk sampai ke kediamannya. Kini sehamparan panjang jembatan dengan laut lepas di tepiannya, dijejaki sepasang kakinya.


Angin kencang sesekali menampar wajahnya yang menawan. Burung-burung terbang menantang cakrawala.


Hingga pemandangan beberapa jarak di depan sana membuatnya cukup terusik.


"Ada apa di sana?" gumamnya bertanya--pada diri sendiri. Diserang rasa penasaran, Lin Mu mencoba mendekati orang-orang yang berkerumun di tepi jembatan itu.

__ADS_1


"Tamat sudah! Pengemudinya tidak dapat diselamatkan!"


"Benar, tim penolong bahkan belum datang, pasti pengemudi itu tidak dapat bertahan."


Kicauan-kicauan itu terdengar dan meresap ke telinga Lin Mu yang saat ini sudah berada tak jauh belakang mereka.


"Mobil sport itu terlihat mahal, tidak disangka akan meninggal di tempat seperti ini."


"Sudah takdir!"


Lin Mu lantas maju melerai jejeran orang-orang yang merapat dengan raut penasaran. Menerobos ke depan demi meraih jarak pandang lebih jelas perihal yang kini tengah menjadi buah bibir manusia-manusia tersebut.


Lautan lepas. Nampak masih setia dengan debur ombak yang meluap tersapu angin, di bawah sana.


"Apa ada orang tenggelam?!" Lin Mu bertanya ingin tahu, pada orang-orang di sekitaran.


"Benar!" Salah satu menyahuti.


Kurang lebih lima belas detik kemudian, seorang pria paruh baya naik ke permukaan dari dalam lautan. Dengan tampilan seadanya, bermodal hanya keahlian menyelam, ia baru saja mencari tahu keadaan mobil dan pengendara yang beberapa saat lalu menabrak pembatas jalan, lalu terjun dan tenggelam, entah kehilangan kendali, atau hal lainnya.


"Ternyata seorang gadis. Kaca jendela mobilnya sangat keras. Bagaimana pun usahaku, kaca itu tetap tidak dapat dipecahkan," ungkap penyelam itu setelah naik, menanggapi keingintahuan orang-orang.


Mendengar demikian, Lin Mu maju ke depan, mendekati pembatas jembatan yang telah koyak dan hancur sisa tubrukan mobil naas itu.


"Anak Muda, apa kamu ingin turun menolong?!" Seorang pria tua bertanya pada Lin Mu dengan seruan.


"Tidak ada gunanya! Sebaiknya tunggu tim penyelamat. Kaca mobil itu sangat keras. Tidak dapat dihancurkan!" Pria penyelam memperingatkan Lin Mu.


"Aku akan mencoba!" jawab tegas Lin Mu. "Jika menunggu tim penyelamat, aku khawatir nanti hanya akan sisa mobilnya saja."


"?!"


Tanpa menunggu timpal-tampol orang-orang itu, Lin Mu langsung saja melompat ke dalam air. Bahkan tanpa membuka busana dan atribut ditubuhnya sedikit pun. Akan sangat membuang waktu, jika terus berbicara omong kosong, sementara di bawah sana ada satu nyawa yang membutuhkan tindakan.


BYUUURRR


Dingin air laut telah menelan tubuh Lin Mu. Pemuda itu mulai menyelam mendalam dengan keahlian yang cukup mumpuni.


Untung airnya tidak dalam. Di mana mobilnya?


Sepasang tangan dan kaki Lin Mu terus bergerak mengayuh tubuhnya sendiri menjamah area di dalam surga air tersebut, hingga ....


Ketemu!


Mobil itu masih dalam keadaan utuh. Tenggelam di kedalaman sekitar delapan puluh kaki di atas permukaan laut.

__ADS_1


Bertahanlah, aku segera datang!


Jika dia bukan Chang Kunzi, siapa pun pasti akan kesulitan karena sesak. Pria itu terus berenang menukik menyongsong mobil yang terbujur naas di bawah sana.


Sesampainya ....


Sebelum bertindak, Lin Mu menempelkan kening bersejajar dengan kedua telapak tangannya ke dasar jendela mobil untuk melihat si pengendara di dalamnya.


Dan ....


Apa?! Ternyata dia ...!


Sepasang netra Lin Mu tergerak melebar.


Luo Bingyun!


Wanita itu telah tak sadarkan diri di balik kemudinya. Entah masih hidup atau tidak.


DUK DUK DUK


Tanpa banyak berpikir, kaca jendela mobil dipukuli Lin Mu dengan tinjunya.


Sangat keras. Ini pasti kaca anti peluru! Pantas saja paman yang tadi tidak dapat memecahkannya!


Tetapi ....


Mau kaca anti peluru atau apa pun, tidak akan dapat menghentikan dan menahanku!


BRAAAAKKK


Sedikit tenaga dalam tersalur melalui telapak tangannya, seketika membuat kaca itu pecah berhambur menantang air.


Tanpa babibu, ditariknya tubuh lemah Luo Bingyun dari dalam mobil untuk mengeluarkannya.


Melihat wajah pucat gadis itu, Lin Mu memasang wajah cemas. Napasnya bahkan telah hampir hilang.


Dia akan kuat lagi. Aku harus memberikan kekuatan Qi kepadanya.


Ditatapnya wajah tenang itu sesaat sebelum akhirnya ....


Kamu harus bertahan! Aku tidak akan membiarkanmu mati!


Walaupun ragu pada mulanya, namun Lin Mu tetap harus melakukannya.


Dikecupnya bibir wanita cantik itu untuk menyalurkan kekuatannya demi sebuah napas.

__ADS_1


Ikan-ikan mendo'akan dengan rela. Gelombang air menerjang penuh harapan.


Dia harus hidup!


__ADS_2