Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 11


__ADS_3

Ruang perpustakaan yang luas dan sangat mewah, dijejaki sepasang kaki Lin Mu saat ini.


Satu meja bundar disetel dengan masing-masing tiga buah kursi santai, terpecah-pecah berpuluh banyaknya, berjarak setiap satu meter, menjadi tempat ternyaman untuk para penghuni universitas, membaca atau sekedar bercokol kecil mengisi waktu senggang sebelum atau sesudah bergelut dengan pelajaran sesungguhnya.


Sedikitnya sekitar tujuh buah buku dengan ketebalan berbeda, diambil Lin Mu dari rak-raknya. Ia lalu melangkah untuk mencari lingkaran kursi mana yang akan dipilihnya.


Setelah dapat, ia lalu duduk di sana. Satu buku bersampul putih mulai disibaknya, sedang sisanya ia taruh di atas meja.


"Wang Dong!"


Teriakan itu spontan mengalihkan pusat perhatian Lin Mu dari bukunya. Pemuda itu melihat ke arah sumber suara.


Dari jarak kurang dari enam meter saja, sepasang netranya menangkap pemandangan itu dengan sangat jelas.


Du Xiaoyue bersama seorang pemuda. Sepertinya mereka tak sedang berbicara baik-baik.


"Aku peringatkan kamu! Jangan ganggu aku lagi!" Seruan Xiaoyue pada pemuda bernama Wang Dong yang berdiri terhalang meja di depannya, cukup terdengar keras. "Hanya ada sedikit uang, lalu memamerkannya di hadapanku? Kamu kira aku orang seperti apa, hh?!"


Seulas senyum disunggingkan Wang Dong. Tampangnya cukup menjengkelkan untuk berhadapan dengan seorang dewi kampus se-elegan Xiaoyue. "Xiaoyue, bersama denganku tidak akan menghina statusmu, 'kan?" katanya ringan saja. "Kita adalah penerus dari keluarga masing-masing. Kita sangat sepadan," imbuhnya percaya diri.


Xiayue mendengus kesal. "Kamu termasuk apa?!" tanyanya dengan sorotan tatap menusuk. "Apakah kamu bisa menjadi penerus Keluarga Wang?!" Kemudian berbalik tanpa menunggu sanggahan Wang Dong yang mungkin hanya akan semakin membuat kepalanya merayang.


Merasa cukup menanggapi kekonyolan pagi ini, ia melenggang cepat meninggalkan pemuda itu tanpa menolehnya lagi.


Sayangnya ....


"Jangan pergi Xiaoyue!"


Pergerakan Wang Dong yang tiba-tiba, menyusul langkah dan berdiri di sampingnya, sontak membuat ayunan kaki Xiaoyue terhenti.


"Apakah kamu menolakku karena memiliki janji pernikahan dengan keluarga Lin?" Wang Dong bertanya.

__ADS_1


Belum berniat merespon, atau memang tak berminat, Xiaoyue masih diam, selain sepasang telapak tangan yang ia gulung membentuk kepalan geram.


"Aku dengar tunanganmu itu adalah orang yang tidak berguna. Bagaimana bisa orang seperti itu pantas untukmu?"


Kali ini berbeda, kalimat Wang Dong tersebut sukses membuat kepala Xiaoyue terangkat mendongak menatapnya.


Sedangkan di posisinya, Lin Mu masih diam. Terlihat masih konsentrasi dengan aktifitas membaca yang ditekuninya saat ini. Helai demi helai disibaknya tak terganggu.


Sampai ....


"Hei, bukankah itu Tuan Muda Lin?" Seraya bersilang lengan, Wang Dong memandang ke arah Lin Mu dari tempatnya. Seulas senyuman remeh nampak ringan menghias wajahnya yang bulat.


Walaupun mendengar, Lin Mu tak tergubris sedikit pun. Buku di tangannya menarik rasanya untuk tak peduli.


"Huh, masih cukup memiliki kepribadian rupanya!" Wang Dong menggeram. Dengan langkah angkuh, ia berjalan mendekati Lin Mu. "Aku sedang berbicara denganmu! Apa kamu tuli?!" semburnya setelah berdiri tepat di hadapan Lin Mu dan bersilang lengan.


Bukan sangat, hanya ... sedikit merasa terganggu, Lin Mu mengangkat wajahnya, lalu bertanya dengan nada ringan, "Permisi ... apa kamu ada urusan denganku?"


Tak seulas pun tersirat ekspresi terkejut apalagi takut di wajah Lin Mu. Kedua telapak tangannya masih santai bermain dengan lembaran buku yang dibacanya. "Oh, aku sudah membatalkan janji pernikahan yang kamu maksud. Kelak urusannya sudah tidak ada denganku," jelasnya. "Jangan datang untuk menemuiku lagi." Ia menandaskan.


Berita yang baik--bagi Wang Dong. Ia menoleh pada Xiaoyue yang masih berdiri beberapa jarak di belakangnya, untuk memastikan. "Benar begitu?"


Gelengan kaku, pelan, dan mungkin ... sedikit tak menerima, digerakkan Xiaoyue. "Ti-tidak," jawabnya dengan suara lebih mirip dengan bisikan.


Namun tak ayal, Wang Dong masih jelas mengerti maksudnya.


PLAK


Buku yang digenggam Lin Mu seketika terjatuh ke dasar lantai, saat dengan kasar Wang Dong menghempasnya. "Kamu berani mempermainkanku?" tanyanya sinis. "Apa kamu percaya, aku bisa memberimu sedikit pelajaran?"


"Hmm." Tak menunggu jarum jam menanjak angka enam puluh detik, Lin Mu telah lebih dulu bertindak. Tubuh santainya ia angkat, lalu berlanjut menggamit kerah baju Wang Dong. Tatapan tajamnya cukup terlihat mengerikan. "Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?!"

__ADS_1


BRUKKK


Tidak perlu menunggu jawaban. Akan sangat manis jika bermain dengan kecepatan. Sekali hentak, tubuh Wang Dong telah terjungkal di bawah kakinya.


Cukup lucu ekspresi teriakan Wang Dong terlihat. Ia bangkit susah payah memegangi dadanya yang sedikit terasa kebas, seraya terbatuk-batuk. "Kamu ... berani ...."


GREEBB


"Aaarrgghh!!" Anggap saja mode bersambung, teriakan Wang Dong kembali terdengar, ketika dengan cepat, Lin Mu menempatkan tapak kakinya di perut pemuda itu hingga membuatnya tersungkur. Semua orang yang berada di sana sudah sibuk menjadi penonton, termasuk Du Xiaoyue.


"Apakah kamu masih ingin melanjutkan janji pernikahannya?" tanya Lin Mu pada gadis itu tanpa menoleh. Sedang satu telapak kakinya masih berada di perut Wang Dong.


Xiaoyue menyahut cukup serius, "Tentu saja tidak!" Ah, terlalu munafik rasanya, di saat hatinya sudah cukup berdesir terisi oleh perasaan kagum terhadap pemuda pecundang itu. "Tapi paling tidak, ini adalah pernikahan yang disepakati oleh kedua kakek kita sendiri. Jika ingin membatalkan pernikahan itu, tentu saja harus dibatalkan dengan resmi. Semalam hanya dikatakan seperti itu ... tidak berlaku."


Hhh, bukankah itu lucu?


Lin Mu menyentuh kepalanya, sedikit merasa pusing menanggapi. "Ternyata begitu? Sungguh merepotkan." Singkat saja. Pandangannya mulai kembali pada Wang Dong yang masih terbaring dan tertahan naas di bawah kakinya. "Apakah kamu sudah dengar? Sekarang statusnya adalah masih tunanganku. Jadi menjauhlah sejauh mungkin darinya. Apa kamu mengerti?!"


Kata-kata itu cukup menjengkelkan. Dengan sisa nyali dalam dirinya, Wang Dong menggeram, "Bocah, apa kau tahu siapa aku?!"


Dan ya ... sialnya, pertanyaan itu disambut tak sedap oleh Lin Mu. Satu kakinya malah bergeser menginjak lengan pemuda dengan tingkat kesombongan setara Gunung Fuji tersebut.


"Aku sedang bertanya padamu!" teriak Lin Mu.


Dengan ekspresi kesakitan luar biasa, Wang Dong berteriak menjawab, "Me-mengerti ...! Aku akan pergi!!"


Intonasi yang cukup baik. Lin Mu langsung mengangkat siksaan telapak kakinya dari tubuh Wang Dong. "Enyahlah!" tandasnya seraya menyilang sepasang tangannya di depan dada.


Untuk saat ini mungkin masih sebentuk kesempatan bagi Wang Dong. Pemuda itu mulai mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Dengan rasa remuk di sekujur tubuhnya, dipapahnya sepasang kakinya untuk mengambil langkah meninggalkan sitausi yang cukup memalukan baginya tersebut.


Di sepersekian jarak, sejenak Wang Dong menolehkan kepalanya ke arah Lin Mu, berbalut wajah geram yang melukiskan keruhnya perasaan dendam.

__ADS_1


Bocah tengik! Tunggu saja! Kamu ... pasti mati!


__ADS_2