Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 35


__ADS_3

"Aku sudah lama mendengar tentangmu!" kata Lin Mu mengarah pada perampok yang masih kuat mencengkram Polisi Wang. "Kak Lai, ini adalah hadiah pertemuanku untukmu!" lanjutnya seraya memperlihatkan sebuah tas berwarna coklat yang ia gamit dari seorang perempuan di belakangnya tersekat garis polisi.


"Hey! Pria baju putih merampok tasku!" teriak wanita pemilik tas. Tapi apa daya, tak ada yang bisa dilakukannya. Ia tentu takut jika harus melakukan perlawanan. Pun dengan semua orang--tak ada bedanya, sama-sama tak ingin terlibat.


Perhatian semuanya kini terfokus pada apa yang akan dilakukan pemuda itu--Lin Mu.


"Kak Lai, kamu adalah idolaku sejak kecil, aku ingin menjadi pahlawan sepertimu," kata Lin Mu berkelakar. Iras manisnya ia buat sememelas mungkin. "Gadis ini mengejarku seharian, alhasil kamu bisa menangkapnya dalam sekejap!" Ia mungkin tengah mengadu. Kali ini wajahnya berganti sedikit bersemangat


Petugas Wang si polwan itu membelalakan matanya, menatap Lin Mu dengan raut marah hingga memerah. "Aku tahu kamu bukan orang baik! Kamu adalah penjahat seperti Lai Zidong!"


"Tutup mulutmu!" Lin Mu menghardiknya keras. "Kamu tidak lihat, aku sedang berbicara dengan Kak Lai?" Sorot mata hijaunya membalas tak kalah menyala.


"Jangan omong kosong!" Lai Zidong berteriak menyembur Lin Mu. "Siapkan mobil! Kita bicarakan nanti setelah meninggalkan tempat ini!" Seraya menekankan moncong pistolnya semakin kuat ke pelipis Petugas Wang, hingga wanita itu berkali-kali meringis menahan sakit.


"Baiklah," kata Lin Mu dengan anggukan tipis. "Mobil gadis ini ada di sekitar sini. Kak Lai tunggu sebentar, ya!" Ia laju berbalik badan kembali ke arah kerumunan. Namun ....


"Aduh, Kak Lai, hati-hati dengan penembak jitu! Ada pantulan dari jendela sebelah sana!" seru Lin Mu seraya mengarahkan telunjuknya, menunjuk sebuah gedung yang menjulang menyerupai susunan apartemen.


"Apa katamu?!" Lai Zidong--si begundal, tentu terkejut. Diikutinya kemana telunjuk Lin Mu mengarah. "Brengsek! Kamu menipuku! Sudah bosan hidup?!" semburnya setelah mendapati tak ada apa pun di jendela gedung itu.


Kesempatan pengalihan itu diambil Lin Mu gegas. Tas yang dipegangnya ia lempar ke arah tangan Lai Zidong untuk memecah cengkramannya atas si polwan.


Menyadari gerakan itu, Lai Zidong spontan mengarahkan air soft gun-nya ke arah Lin Mu, dan ....


"Awaaasss!" Wang berteriak memperingatkan. Diiringi pekik jerit orang-orang di sekitaran.


DORRRR


GEP


Tembakan melesat dan menembus dasar jalanan. Lin Mu lebih dulu berhasil meraih pergelangan tangan Lai Zidong dengan tangan kanannya, sedang tangan lainnya ia gunakan untuk menonjok bagian rahang penjahat itu hingga memuncratkan darah segar dari mulutnya.


BUG


Sekali tarikan, Lin Mu menumbangkannya hingga berakhir dengan posisi menelungkup, lalu dengan cepat mengunci kedua tangannya di atas punggung. Lututnya ia gunakan untuk menekan tubuh si penjahat agar tak berontak.

__ADS_1


"Tamatlah riwayatmu! Aku akan ...."


"Lai Zidong! Kematian sudah dekat, masih saja keras kepala!" Polisi Wang menyergah di posisi bebasnya.


"Polisi, bantu aku kembalikan tas pada nona itu. Aku tidak bisa melakukannya," pinta Lin Mu sedikit tak sabar--menahan kuat Lai Zidong yang terus meronta-ronta ingin terlepas.


Wang mengerjap kaku. "Umm, baiklah." Ia mulai menurunkan tubuhnya, berjongkok untuk memunguti ceceran isian tas yang hanya terdiri dari lipstik, bedak, dan pembalut anti bocor.


Tak lama, sirine mobil aparat lainnya mulai bergaung mendekati area. Mungkin salah seorang dari kerumunan melaporkan.


Dua orang pria petugas kepolisian melewati garis batas, lalu menggantikan Lin Mu menahan Lai Zidong kemudian memboyongnya pergi menuju mobil mereka.


"Tunggu aku keluar ...." Lai Zidong menggeram.


"Perampokan dengan senjata dan sandera, jangan harap kamu bisa keluar kali ini!" Salah seorang polisi pria itu menghardik dengan nada kesal.


Satu jam kemudian ....


TING TONG


"Lin Mu! Kenapa baru pulang? Kamu kemana saja?!" Song Yuru menyambut dengan seruan cemasnya.


"Huh, sebaiknya tidak usah dibahas. Yang jelas, aku mengalami kesialan," jawab Lin Mu tanpa minat. Sepasang kakinya melangkah melewati pintu dan juga Song Yuru.


"Ada apa sebenarnya?! Kami sangat mengkhawatirkanmu!" Wanita itu mengikuti dari belakang.


"Tidak ada! Hanya mengalami hal tak terduga. Umm, sudahlah, tidak perlu diungkit lagi."


Yuru men-desah kasar menanggapi. Ia lalu berbelok, kembali mengambil posisi duduk di antara teman-temannya yang tengah asyik menonton siaran televisi.


Langkah Lin Mu yang semula hendak memasuki kamarnya, tiba-tiba terhenti. Beralih pada televisi dan menatapnya barang sejenak. "Ada siaran apa di tv?" tanyanya ingin tahu.


"Yao Xianxian akan mengadakan konser." Yuru mengambil jawaban.


"Aaah, aku sangat ingin menonton konsernya! Tapi tiket konsernya sulit didapat." Wanita yang lagi-lagi mengenakan celana jeans berkata dengan raut menyayangkan.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu sudah meninggalkan kami dan tidak ada penjelasan apa pun!" Zixi, kembali dengan dress seksi terbuka yang lagi-lagi menonjolkan belahan dada gemuknya yang mengkilap, berdecit dengan delikan malas.


"Mana mungkin begitu. Tentu saja aku akan minta maaf," Lin Mu menyanggah. Sekilas saja ia menoleh Zixi, lalu kembali memandang ke arah televisi.


Penyanyi terkenal Yao Xianxian akan mengadakan konser di Donghai.


Begitu penggalan kata yang dibaca Lin Mu di layar persegi panjang yang menempel di seperempat tinggi dinding di hadapannya.


Dari kernyitan wajahnya, sepertinya ia tengah berpikir sesuatu. "Sebentar, aku mau menelepon seseorang dulu," katanya pada ketiga wanita itu.


"Kamu 'kan baru saja pulang! Kenapa? Apa ada masalah lagi?" Zixi melontar tanya.


"Iya. Tunggu aku kembali. Dan aku akan beritahu kalian nanti." Dengan ponsel yang sudah digenggamnya, Lin Mu mengayun langkah meninggalkan ruangan.


"Apakah Lin Mu sungguh mahasiswa? Dia tampak misterius." Zixi bertanya pada Yuru, selepas Lin Mu tak terlihat lagi dalam pandangan mereka.


"Benar! Terkadang, aku juga merasa dia sangat dewasa," jawab Song Yuru menambahkan.


"Ouh, hanya dewasa?" Sepertinya Zixi tengah memancing banyak hal dari sahabatnya tentang Lin Mu.


Tak lama ....


"Nona-Nona Cantik, tiga hari lagi, aku akan bawa kalian menonton konser Yao Xianxian! Apa kalian ada waktu?" tanya Lin Mu sedikit bersemangat.


Kalian pasti suka dengan hadiah minta maafku.


Zixi melanting bangkit tak kalah bersemangat.


"Yao Xianxian! Aku sudah ingin nonton sejak awal, bagaimana kamu bisa dapat tiket?!" tanyanya tak percaya seraya memegangi kedua pundak Lin Mu.


"Hehe ...." Lin Mu tersenyum senang. "Petapa selalu punya trik sendiri," kelakarnya. "Kalau begitu sepakat ya. Sampai jumpa tiga hari lagi.''


Setelah itu Lin Mu berlalu, meninggalkan tiga orang wanita yang nyaris berperawakan sama, kecuali Zixi yang sedikit memiliki otot, terhubung bela diri yang dipelajari dan dikuasainya, selebihnya mereka nampak sama, sama-sama cantik dan juga seksi.


Tidak disangka, orang bermarga Wang itu ... berguna juga.

__ADS_1


__ADS_2