
Walau secara usia Lin Mu masih sangat muda, namun pengendalian ruh Chang Kunzi dalam dirinya, membuat pemuda itu nampak gagah dan sangat lain dari ia yang dulu, sebelum mati, mengikuti postur tubuh Chang Kunzi yang sebenarnya--sebelum pria itu juga mati dan berakhir ruhnya terjebak di tubuh Lin Mu.
Rumit jika ditelaah secara mendalam.
Pagi ini, dengan gaya santainya, Lin Mu berjalan menapaki area penerbangan--bandara.
AERO MEXICO--nama pesawat yang akan membawanya terbang hari ini menuju kota di mana tumbuhan langka yang diinginkannya itu berada.
Pertama kali naik pesawat, tidak tahu bagaimana rasanya, kata hati--tentu saja Chang Kunzi.
Walaupun terdengar konyol, namun untuk ukuran orang awam yang berasal dari dunia yang berbeda seperti dirinya, ia cukup cepat dan tanggap dengan hal-hal berbau modern. Beruntung ia suka membaca, jadi semua jenis pengendalian tekhnologi dan semacamnya di jaman ini, bisa dengan mudah ia kuasai.
Kini sepasang kakinya mulai menaiki tangga pesawat, dan lihat ... tak ada siapa pun di sana selain dirinya. Apakah dengan uangnya, Lin Mu memesan penerbangan secara pribadi?
Oh, iya. Coba aku lihat nomor kursinya sebentar.
Melalui ponsel pintarnya, ia mengecek sedikit keperluan. Setelah cukup, sedikit senyum disunggingkan bibir manisnya. "Jika semuanya semudah ini, rasanya tidak buruk memiliki organisasi di belakang," gumamnya seraya menatap layar ponselnya, lalu melanjutkan langkah setelah benda itu kembali ia susupkan ke bagian dalam saku jasnya.
Hmm ....
Ternyata tak hanya dia yang akan turut mengudara dengan pesawat yang sama. Seorang wanita seksi, berambut panjang dengan warna ungu gelap, telah lebih dulu duduk mengisi salah satu kursi di baris penumpang.
Selain dilihat dari penampilan glamour dengan gayanya yang sedikit angkuh, empat orang pria berjas hitam seragam, duduk di empat titik sempurna--kanan, kiri, depan dan belakang, sebagai bodyguard wanita itu. Menandakan kalau ia bukanlah orang dari kalangan biasa.
Di tengah mode menunggu pesawat lepas landas, keheningan di antara kelima orang itu, sedikit terpecahkan dengan sosok yang tiba-tiba muncul dari arah depan mereka.
"Umm ...." Wanita seksi itu mengerutkan dahi, sedikit terkejut. "Bukankah pesawatnya sudah dipesan oleh kita?" tanyanya pada pria yang duduk di kanan posisinya.
Pria itu cukup ragu untuk menjawab, namun mau tak mau ia harus, "Sebelum kita naik pesawat, petugas bandara sudah bilang, kalau pesawat tiba-tiba akan menambahkan kursi untuk orang yang penting," terangnya.
Wanita itu melengak, mengangkat wajahnya menilai penampilan orang yang semakin dekat berjalan ke arahnya. "Orang penting?" gumamnya.
"Kelihatannya tidak mirip ...."
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Lin Mu, pemuda itu juga nampak terperangah, mendapati kelima sosok itu tengah memandang ke arahnya. Sebelum akhirnya ia memaksakan senyum dan sapaan ramah yang malah terkesan kaku, "Hallo."
Tak ada balasan.
Dan Lin Mu tak peduli, ia tetap melangkahkan kakinya menuju nomor kursinya yang ternyata hanya satu baris menyilang di depan wanita itu.
Monitor touch screen di hadapannya mulai diotak-atik Lin Mu, dan itu tak luput dari tatapan wanita berambut ungu di belakangnya. Sepasang mata yang dibingkai bulu lebat dan lentik itu mengamati dengan tenang di posisinya.
"Jika Nona Lu tidak puas, aku akan berkomunikasi dengan pihak bandara." Pria di sampingnya kembali berujar. Merasa mungkin takut jika nona-nya akan meradang setelah ini.
Dan ternyata sedikit di luar dugaannya.
"Tidak apa-apa," balas wanita itu terdengar tanpa beban. "Dia cukup menarik dibandingkan orang-orang yang aku temui belakangan ini," tandasnya dengan senyuman tipis.
Selang dua jam kemudian, pesawat sudah mendarat sempurna di atas landasan lainnya--kota tujuan Lin Mu.
Wanita itu bersama keempat orang pengawalnya mulai turun menanjak satu demi satu tangga.
Cukup tenang pada mulanya--seperti sebelumnya. Namun kemudian berubah, ketika Lin Mu tiba-tiba melewati mereka dengan langkah songong dan gegas tak peduli apa pun.
Satu pengawalnya meradang tak suka menanggapi perangai Lin Mu yang mungkin menurutnya ... tak tahu aturan. "Nona Lu, apa perlu ...."
"Tidak masalah! Aku hanya sedikit merasa tidak terbiasa saja," sergah sang nona.
_____
Ratusan kursi berwarna merah memadati sebuah aula gedung yang mana di dalamnya tengah dilakukan sebuah acara pelelangan berbagai jenis barang antik juga mewah. Dan Lin Mu sudah duduk di salah satu bagiannya.
Di depan sana--di atas panggung, sang pembawa acara sudah bercakap mungkin lebih dari seribu kata, terlihat dari warna bibirnya yang mulai memar dan menebal--mungkin.
Itu hanya asumsi konyol untuk memperpanjang jumlah kata.
Barang demi barang dengan pemilik berbeda ditunjukkan pembawa acara satu persatu, pada seluruh tamu yang hadir mengisi tempatnya. Yang kemudian dan selalu terjadi penawaran dan timpalan harga dari para pembeli, hingga berakhir di angka tawar tertinggi sebagai pemenang dan pemilik barang itu kemudian.
__ADS_1
Lim Mu masih menunggu, apa yang diinginkannya belum juga mendapat giliran menunjukkan.
Sistem pelelangan itu tak seperti pada umumnya, di mana hanya barang yang ditunjukkan. Di sini, si pemilik turut berpartisipasi dengan mendeskripsikan kelebihan dari barang yang akan dijualnya.
"Silahkan penjual berikutnya!" seru sang MC melalui microfon yang memantulkan suaranya dengan sangat keras, hingga mendengking di seantero aula tersebut.
Keluarlah sosok seorang pria mengenakan setelan jas abu-abu dan rambut kriting yang menggulung di bagian depan keningnya.
Sebuah kotak kayu membentuk peti kecil seukuran 20 x 15 sentimeter, mulai dibukanya.
"Rumput obat ini didapatkan dari seorang pemetik ramuan dan telah diidentifikasi secara profesional, memiliki nilai obat yang sangat tinggi," tutur pria kriting itu menjelaskan seraya menunjukkan apa yang dimaksudkannya pada seluruh tamu.
Itu dia barangnya! Lin Mu tersenyum senang di posisinya. Apa yang ditunggunya sudah menunjukkan rupanya dengan cukup cepat.
Seperti tak ingin berlama-lama, si pemilik barang menandaskan tujuan intinya, "Mengenai harganya, dimulai dari dua puluh juta!"
"Hanya dua puluh juta?" Lin Mu terperanjat, namun tersenyum senang kemudian. "Sekelompok orang ini tidak mengerti nilai dari rumput muzhi," komentarnya.
Dan mulai ramai saling bersahutan, orang-orang di sekitaran dengan berbagai penawaran harga.
"24 juta!"
"26 juta!"
"30 juta!"
Yang kemudian berakhir ....
"Tujuh puluh juta!" Lin Mu menandaskan, lebih dari dua kali lipat dari suara penawaran akhir sebelum dirinya.
"Tujuh puluh juta sekali! Apa masih ada harga yang lebih tinggi?!" Pembawa acara menyerukan dan bertanya. "Tujuh puluh juta dua kali?! Tiga kali?! ...." Tak ada yang menyahuti lagi, dan .... "SEPAKAT! Rumput obat ini sudah menjadi milik Tuan ini!"
.....
__ADS_1
Menyusur koridor mengarah pada pintu keluar, Lin Mu nampak dengan wajah bahagia bersama kotak kayu berisi rumput muzhi itu di tangannya.
Saat kembali ke Kota Donghai, tungku perunggu yang aku pesan, seharusnya juga sudah sampai.