
"Semuanya minggir! Jangan menghalangi jalanku!" Pria yang mendekap sesuatu di depan perutnya itu berteriak seraya menyibak kasar kerumunan orang-orang.
Di posisi paling kiri jalan, Lin Mu mengikuti pergerakan orang itu dengan tatapan keruh.
Lebih baik aku tidak ikut campur, pergi saja, ia memutuskan.
Beberapa saat setelah pria yang dicurigai pencuri itu semakin jauh meninggalkan kerumunan, sebuah mobil bersirine bertuliskan ‘POLICE’ di bagian depan juga kedua sampingnya, berhenti spontan di tengah jalan, tepat ketika pria itu melintas di depannya.
"Berhenti! Saya polisi!"
Ya, memang polisi--polisi wanita! Bersetel rok span hitam selutut dengan kemeja biru khas profesinya, berseru setelah menyibak kasar pintu mobilnya lalu turun dengan gegas hendak menjegal orang yang memang tengah dikejarnya.
Sedangkan pria pencuri terus berlari tanpa menoleh, menyusun langkah demi langkah cepat seperti waktunya hanya tentang menghindar. Namun lagi-lagi, alam terkadang akan mendukung yang seharusnya. Pria itu terpeleset, tersungkur, lalu terjatuh dengan posisi tengkurap. Sedang barang yang merupakan sebuah tas yang sedari tadi didekapnya, terlempar tak cukup jauh di kanan posisinya.
Wanita polisi berambut mocca sebahu dengan topi hitam kebanggaannya, melompat tangkas layaknya atlet parkour yang sudah terlatih--menghampiri si pria pencuri untuk melakukan tugasnya sebagai aparat hukum--tentu saja.
"Berhentilah melawan dengan keras kepala!" seru wanita itu cukup lantang.
Dengan tampang muak menatap sang polwan, pria residivis pemilik rahang tegas itu berdecih tak suka. Ia bangkit mengangkat rendah tubuhnya untuk berdiri. Setelahnya, terlihat telapak tangannya meliuk ke belakang--ke balik punggungnya, seperti mengambil sesuatu.
Dan benar!
Sebilah pisau dengan gerigi menyerupai sirip ikan di atasnya, dilengkapi gagang besi kehitaman, sudah terselip di tengah kepalan telapak tangannya. Benda tajam dengan ujung runcing itu diacungkannya ke depan seraya berseru, "Pergi, wanita sialaaan!!"
SRAAASSSH
Sabetan pertamanya meleset melewati sasaran. Wanita polisi berhasil menghindar dengan memiringkan gegas tubuhnya.
"Cepat hentikan perlawanan!" hadang polisi wanita itu. "Menyerang polisi adalah pelanggaran!" tukasnya mengingatkan.
"Huh! Kamu menangkapku, itu pelanggaran!" Si pencuri menghardik seenak jidat. "Menyerang polisi asalkan tidak tertangkap bukankah sama saja?! Aku bisa melakukan apa pun!" tandas pria berambut coklat tanah tersebut dengan wajah menjengkelkan.
"Kamu tidak bisa kabur! Polisi akan datang kemari!"
Pria begundal itu tak peduli. Tak ada ketakutan walau sebesar debu di wajahnya.
"Asalkan kamu menyerahkan diri! Aku tidak akan menganggap menyerang polisi ini pernah terjadi! Mencuri bukanlah kejahatan berat! Jangan biarkan dirimu terjerumus lebih jauh!" Khotbah si polwan dengan sikap profesionalnya.
"Mimpi kamu!" Pencuri itu menghardik lagi-lagi. "Aku tidak akan pernah menyerahkan diri!" kukuhnya menekankan.
__ADS_1
"Begitu, ya?" Menunjukkan raut kesalnya, sang polwan mulai meradang. "Kalau begitu tidak ada cara lain ...." Tanpa berpikir panjang, wanita itu mengayun tungkai kakinya langkah demi langkah mendekati si pencuri.
"Jangan mendekat!" Pencuri itu menghardik seraya menodongkan pisaunya mengantisipasi.
GEP
Sebelah tangan di mana pisau itu digenggam si pencuri, ditangkap sang polwan tepat di bagian pergelangan. "Kamu bersikeras, malah akan menderita dan menyulitkanmu nantinya. Bukankah lebih baik menyerahkan diri tanpa perlawanan?!" tekan wanita itu setelah berhasil melumpuhkan pencuri tengik dengan satu gerak membanting yang cepat dan tangkas.
Posisi pria itu kini tertelungkup dengan kedua tangan dikuncinya di belakang tubuhnya sendiri, sedang ia bertekuk menahan punggung si pencuri menggunakan lututnya agar tak melarikan diri.
"Benar-benar merepotkan! Hari libur masih harus lembur!" Polwan itu mengumpat, seraya mengambil borgol yang terkait di satu sisi pinggangnya dengan satu tangan, sedang tangan lainnya masih mengunci kedua tangan si pencuri.
Namun sial, belum sempat ia menggeser tangannya ....
"Nona jangan ikut campur!"
Sebuah suara geram dan berat menyentaknya dalam keterkejutan.
Seseorang baru saja menginjak punggungnya dengan cukup bertenaga hingga ia merunduk. Dadanya yang besar bahkan sampai menyentuh punggung si pencuri di bawahnya.
"?!"
Sekali hentak, polwan itu melantingkan tubuhnya ke samping dan berakhir dengan posisi berjongkok dengan satu lututnya menyentuh aspal.
Dua orang pria, ternyata teman-temannya si pencuri tadi. Totalnya menjadi tiga orang.
Si pencuri yang ia lumpuhkan mulai bangkit berdiri setelah dibantu satu temannya. Tas hasil rampasannya dipegang temannya yang lain pemilik rambut plontos menyerupai tentara.
"Berani sekali kalian bertiga!!" sembur si polwan yang juga sudah berdiri, lengkap dengan kuda-kuda setengah jadi dan kepalan tangannya di depan dada--bersiap menyerang. Ia mungkin melupakan air soft gun-nya di dalam mobil.
Dua detik kemudian, ketiga residivis mulai berbalik badan, hendak berlalu tanpa peduli kicaunya yang hanya dianggap kerincing mainan bayi.
"Aku adalah polisi, mana mungkin aku biarkan kalian pergi begitu saja?!"
"Cari mati!" Satu pria pemilik rambut mirip tentara merespon dengan nada dan wajah geram. Ia berbalik, melangkah cepat lalu melayangkan pukulannya ke arah wanita aparat itu. Beberapa saat pergelutan terjadi. Pukulan dan tangkisan berbelit cepat, seperti halnya mengocok telur di dalam mangkuk.
Namun sial, sepertinya keberuntungan berada di tangan si penjahat. Wanita itu tersandung hingga terhuyung ke belakang.
Gawat! kata hatinya cemas. Ia akan terjungkal kali ini.
__ADS_1
"Mati sana!" Penjahat itu berteriak garang. Lalu mulai bergerak kilat menerjang wanita aparat menggunakan kakinya.
Namun ....
GEP
Geraknya spontan terhenti. Seseorang meraih lengannya dari belakang--menggagalkan. Ia tentu terkejut, melebarkan matanya, lalu menoleh untuk melihat siapa gerangan yang berani menahannya.
"Bersikaplah lembut terhadap orang lain, apalagi seorang wanita!"
Siapa lagi, kalau bukan ... lagi-lagi Lin Mu. Ia merasa harus terlibat kali ini. Pemandangan seorang wanita dikeroyok tiga orang pria itu sedikit tak sedap ditangkap pandangnya. Terlebih wanita itu nyaris K.O.
"Hanya mencuri barang, tidak perlu sampai membunuh orang, 'kan?" lanjut Lin Mu dengan suara ringan. Senyum di bibirnya lebih mirip mengajak seorang bayi bercanda.
Pria berambut mirip tentara itu menarik tangan dan memundurkan dirinya gegas, seraya memegangi pergelangan tangannya yang sedikit nyeri akibat cekalan Lin Mu. Ia lantas berujar dengan entengnya, "Hari ini aku akan mengampuninya karena menghormatimu. Beritahu gadis kecil ini untuk tidak sembarangan bertindak."
Kedua temannya saling melempar pandang mengangguk bersamaan di belakang. Seulas seringai mereka sunggingkan sebagai bentuk dari kata puas.
"Ayo kita pergi!"
Mereka laju berlalu tanpa beban.
Lin Mu menatap punggung-punggung tegap itu semakin menjauh dari pandangnya. "Tidak apa-apa. Mereka sudah pergi." Kalimat itu ia ucapkan sebelum ia menoleh pada wanita berseragam aparat di dekatnya.
Namun, ya ....
Sepertinya jalan kebaikan itu memang tidak akan mudah diterima.
KRATAK
Pasang mata yang melebar juga kepala yang dihentaknya bersamaan mengarah pada kedua telapak tangannya yang tiba-tiba saja sudah diborgol wanita itu.
Haha!
Ternyata Chang Kunzi memiliki ketololan juga.
Melepas pergi begitu saja para begundal, dengan penutup kata manis dari salah satunya, jelas saja membuatnya akan dicurigai!
Dibalik orang kuat dan cerdas, juga terselip kekurangan yang merepotkan!
__ADS_1