Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 57


__ADS_3

Tiga hari kemudian ....


"HUH! KURANG AJARR!!"


BRAAAKK


Seraya mengangkat tubuh dari duduknya, meja persegi di hadapan digebraknya cukup keras.


"Aku masih belum mati! Orang b'rengsek itu kembali berulah!" teriaknya menyambung.


Dialah Duan Fusheng--Panglima Distrik Angkatan Laut Timur. Seorang pria tua berkepala plontos tanpa rambut yang tak lain adalah orang yang dibangunkan Lin Mu dari koma, melalui seulas kekuatan Qi pemuda itu.


"Selama aku masih bernapas ... coba lihat, siapa yang berani menyentuh Laut China Timur!" lanjutnya berseru marah, seraya menurunkan kembali tubuhnya, duduk seperti semula.


"Guru, jangan marah dulu. Perhatikan kesehatanmu!" Ketua Wang menghardiknya cemas.


Mendengar kata ‘kesehatan’, wajah Duan Fusheng berangsur datar, lalu terdengar seulas hembusan napas kasar keluar dari mulutnya kemudian. "Sayangnya aku tidak dapat hidup beberapa tahun lagi," keluhnya lemah.


"Jangan khawatir, Guru. Setelah rintangan ini ...."


"Kamu tidak perlu menghiburku!" sergah orang tua itu. "Aku mengerti kondisi badanku sendiri .... Aku kira kali ini tidak dapat bertahan, tapi tak disangka dapat kalian selamatkan," ujarnya terlontar penuh syukur. Tubuh renta yang nyaris tanpa daging itu dibenturkannya ke sandaran sofa. "Dan yang menyelamatkanku adalah seorang pemuda .... Katamu dia akan melihatku hari ini, apa kamu mengutus orang untuk menjemputnya?"


"Guru tenang saja. Segalanya telah diatur. Dia akan segera sampai." Ketua Wang mengungkapkan.


Belum kering bibir Wang berucap, suara ketukan pintu berdebam mengudara.


"Ketua, tamunya sudah datang!" suara seorang pria berseru memberitahu dari luar.

__ADS_1


"Baru saja dibicarakan sudah datang," kata Ketua Wang dengan senyuman seraya bangkit dari duduknya lalu melangkah menyongsong letak pintu dan membukakannya.


Berdirilah sosok Lin Mu di baliknya. Sesaat saling sapa dengan suara ringan, Ketua Wang kemudian menuntunnya untuk masuk ke dalam ruangan.


"Guru, inilah dia pemuda yang menyelamatkanmu!" ungkap ayahnya Xiqing itu seraya mengarahkan tangannya pada Lin Mu yang berdiri sejajar di sampingnya, di hadapan meja Duan Fusheng.


"Tetua apa kabar? Namaku Lin Mu. Anda boleh memanggilku Mu," tutut Lin Mu seraya membungkukan tubuhnya tipis saja, sebagai salam hormat.


"Duduklah!" pinta Duan Fusheng. Intonasi lazim seorang pemimpin, sangat tegas terdengar, walau fisiknya telah lapuk dimakan usia.


"Terima kasih, Tetua." Lin Mu mengangguk. Kursi beroda di depannya ia tarik untuk duduk di sana.


"Kamu bukan orang militer, panggil aku Kakek Duan saja."


"Baik, Kakek Duan." Lin Mu menyahut sopan.


"Mu, ini semua berkatmu. Jika tidak, si tua bangka ini tidak akan ada di sini sekarang," tutur Duan Fusheng.


Seulas senyuman miring dihadiahkan Duan Fusheng pada Lin Mu. "Kamu terlalu rendah hati. Bisa menyelamatkan nyawaku saja, itu sudah sangat hebat," pujinya. Sepasang tangannya ia alihkan pada masing-masing ujung lengan kursi. "Orang dulu berkata, saat umur tujuh puluh tahun, lakukankah hal yang tidak melampaui aturan. Pada umurku ini, aku dapat melihat beberapa perkara. Masalah hidup dan mati, bukan masalah besar."


Menyikapi dengan seksama dan serius, Lin Mu lantas mulai berujar, "Kakek Duan sangat berpikiran terbuka. Dapat mengerti tentang kehidupan dan kematian. Mu sangat mengagumi Anda."


Di sela obrolan ringan itu, Ketua Wang muncul dari arah pintu. "Guru, makanan sudah siap! Mari kita makan sambil berbincang-bincang."


"Baiklah. Hari ini sangat cerah. Mari kita minum untuk bersenang-senang!" Duang Fusheng menyambut gembira.


Setelah di meja makan, tak disangka, Kakek renta itu benar-benar menenggak anggur yang jelas saja menjadi salah satu larangan perihal penyakitnya.

__ADS_1


"Guru, Anda baru sembuh! Anggur ini ...." Ketua Wang menatapnya cemas.


Sampai tiga jam kemudian ....


Di luar, cahaya bulan tersenyum berkilauan memendar terang ke seluruh jagat. Malam mulai naik ke pertengahan.


"Kakek Duan ... hari ini sampai di sini saja. Aku sudah tidak kuat minum lagi." Lin berujar dengan parau dan mendayu, khas orang mabuk. Sepasang matanya telah berat terbuka.


"Baiklah, di lain waktu, kita teruskan lagi."


...🍃🍃🍃🍃...


Di kediaman Keluarga Situ.


"Nona!" Seorang wanita berpakan formal, masuk ke ruangan itu dengan langkah tergopoh. Menghadap wanita cantik yang duduk termenung di atas sofa--Situ Xiu. "Hari ini ada perkembangan terbaru tentang permintaan yang Anda pinta," ungkap pelayan itu memberitahu.


"Bagus sekali! Katakanlah!" Situ Xiu menyambut semangat.


"Lin Mu tadi sore pergi ke pangkalan militer selama tiga jam. Pergi pulang diantar jemput tentara," lanjut pesuruh itu menjelaskan.


Dengan wajah berkerut terheran, Situ Xiu lantas bertanya, "Begitu lama di departemen militer .... Apa kamu tahu dia melakukan apa di sana?"


"Untuk sementara ini masih belum jelas, Nona."


Jawaban menggantung itu tentu memantik amarah Situ Xiu dalam ketidakpuasannya. "Tidak jelas?! .... Kalau begitu buat apa masih berdiri di sana?" sarkasnya bertanya. "Lanjutkan pengecekan!"


Dalam nada tak enak sedikit kaku, wanita pesuruh itu menyahuti, "Baik, Nona. Segera kami lakukan." Lalu mencelat keluar setelah membungkukan tubuhnya memberi hormat pada sang nona.

__ADS_1


Situ Xiu nampak tercenung.


Lin Mu ini ... siapa sebenarnya? Ternyata dia kenal dengan orang militer ....


__ADS_2