
Suasana semakin ricuh menguasai.
Umpat, cemooh, ejekan dan lontaran dengan rasa congkak mengarah satu tujuan secara serempak pada Lin Mu.
"Sebenarnya kata emas apa yang akan dia katakan?"
"Kami semua ingin mendengarnya!"
"Hahaha!" Dan didukung gelak tawa semua orang. Kecuali Song Yuru, Xuanrong, juga Zixi yang justru malah gelisah di tempatnya.
Kenapa Lin Mu bertingkah konyol seperti itu? Setidaknya begitu isi pikir mereka.
Seolah hanya mendengar gemericik air, Lin Mu masih nampak santai. Keadaan riuh tak merubah ekspresinya sedikit pun.
"Aku tak ingin orang lain mendengarkannya. Aku perlu mendekat ke Nona Situ," katanya enteng saja.
Tak kalah memasang nada mencela, pria penuh kerutan yang berperan sebagai pembaca acara pun mulai berujar, "Kamu harus bersyukur Nona Situ mau mendengarkan pembicaraanmu. Jangan meminta lebih!" tukasnya menegaskan.
Bertopang sepasang kaki jenjang, Situ Xiu menatap pemuda itu penuh selidik. Kekuatan orang ini tidak rendah! Dia sebenarnya mau apa?
Kedua pengawal yang berdiri di bawah panggung, masih setia menahan Lin Mu untuk bergerak naik.
"Tidak apa-apa! Biarkan dia naik!" Sang MC menghardik. "Karena Nona Situ sudah setuju, silahkan naik!" sambungnya sedikit sinis.
"Terima kasih." Lin Mu menyahut ringan, dilengkapi sedikit senyum.
Rambut coklat lurus yang sedikit gondrong itu melecut-lecut tanpa belenggu krim pomade. Dengan langkah santai, Lin Mu menaiki panggung dan menghampiri Situ Xiu setelah mengirim senyuman kecut pada dua pengawal yang tadi menghadang di bawahnya.
Walaupun cukup didera rasa tegang yang detik ini mulai menguasainya, Situ Xiu berusaha tetap terlihat tenang. Pundak bidang dengan tubuh jauh lebih tinggi darinya itu bergerak semakin dekat ke arahnya. Semakin kuat pula dadanya bertabuh. Sungguh tak biasanya ia seperti ini menghadapi seseorang.
Lin Mu ....
Tanpa berbasa-basi, mengikis jarak antara dirinya dan wanita itu, ia langsung saja mendekatkan kepalanya ke telinga Situ Xiu dengan telapak tangan terangkat menutupi sejajar mulutnya yang berbisik.
"Bajingan!" Seorang pria berjas menyembur di bawah panggung. Rasa terlangkahi oleh seorang pemuda sampah seperti Lin Mu, cukup mencuatkan radang emosi di dadanya. "Beraninya begitu dekat dengan Nona Situ! Jika terjadi hal buruk, lihat bagaimana aku memukulmu!"
Didukung anggukan orang-orang di sekitaran.
__ADS_1
Pasalnya, Situ Xiu adalah wanita high class yang cukup mustahil untuk mau berhubungan dengan logam kecil seperti Lin Mu, tentu saja sesuai penilaian semua kalangan yang jelas tahu siapa dan apa kedudukan wanita itu.
Sedang di posisinya, tak peduli suara apa pun, seolah hanya suara Lin Mu satu-satunya yang masuk ke telinganya, ekspresi Situ Xiu mulai menanjak perubahan. Sedikit terbelalak, menyusul mulut yang sedikit dibukanya menganga.
Sesaat kemudian, Lin Mu mulai menjauhkan wajahnya lalu mundur beberapa langkah, mengambil jarak kembali atas wanita itu. "Beberapa patah kata itu adalah hadiah untuk kamu, Nona Situ. Semoga berguna," ujarnya seraya merunduk dengan kepalan tangan terbungkus telapak lainnya di depan wajah, membentuk salam khas petarung di negaranya.
Di luar dugaan semua orang, Situ Xiu justru memperlihatkan ekspresi gembira menanggapi. "Terima kasih banyak, ya! Xiu sangat berterima kasih atas bimbingannya!" Ia membalas dengan gerakan serupa dengan Lin Mu.
Semua orang di seantero aula terjebak dalam cengang keterkejutan.
"Apa yang terjadi?!"
"Apa yang dia katakan?!"
"Kenapa tanggapan Nona Situ segembira itu?!"
Lin Mu sudah turun dari panggung dan menyusun langkah menghampiri teman-teman cantiknya kembali. "Kenapa tampilan kalian begitu tidak enak dipandang?" tanyanya dari jarak setara dua meter mendekati Zixi dan lainnya.
"Mu, kamu mengagetkan kami saja!" Song yuru menghardik.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir," ujar Lin Mu seraya menurunkan tubuh kembali duduk bergabung dengan teman-temannya tersebut.
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari ketiga gadis itu padanya. Saling menimpal berisi keingintahuan tentang ‘apa yang dibisikkan Lin Mu di telinga Xiu?’, yang kemudian dibalas pemuda itu hanya dengan; "Hanya hal kecil, tidak terlalu penting."
Pun dengan tatapan semua orang yang mengarah telak padanya, juga turut menyiratkan rasa ingin tahu yang kental.
Dan dalam irama percokolan ringan itu ....
"Yuru, Xuangrong, Zixi, kita bertemu lagi!" Situ Xiu menyapa dengan lambaian tangan dari posisi kurang dari lima meter saja. "Kelihatannya Tuan ini teman kalian. Aku masih belum tahu siapa namamu," ujarnya setelah benar-benar mendekat.
Lin Mu berdiri menyambutnya. "Namaku Lin Mu. Cukup panggil aku Mu."
Xiu tersenyum menyikapi. "Tuan Lin, senang berkenalan denganmu." Seraya melakukan gerakan salam khas kungfu.
Dan dibalas Lin Mu dengan gerak senada. "Senang berkenalan denganmu, Nona Situ."
Zixi terlihat mengangkat rendah tubuhnya untuk berdiri. "Kalian sedang apa? Latihan membuat film?" sarkasnya bertanya.
__ADS_1
"Uhh!" Lin Mu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Sedang Xiu, melihat dan menanggapinya dengan kekehan. "Zixi, kamu masih suka bercanda," tukasnya. "Kalau begitu silahkan nikmati makanan dan minumannya, aku pamit dulu. Masih ada urusan lain."
Yang lalu diangguki Lin Mu dan lainnya.
____
Menjelang tengah malam, mansion keluarga Situ.
"Ayah, sudah pulang?" Masih mengenakan gaun yang sama, Situ Xiu melangkah menghampiri pria tua--ayahnya, yang nampak terduduk apik di sofa, dalam sebuah ruangan mewah dengan lukisan kedinastian Ramses II terbentang mewah memenuhi dinding di belakang tubuhnya.
"Xiu, apakah pesta hari ini menyenangkan?" tanyanya dengan suara khas yang lembut terdengar, menyambut putrinya.
"Tentu saja, Ayah," sahut Xiu. Sofa kosong di samping pria tua itu ia duduki.
"Hmm, syukurlah."
Lengan santai ayahnya digamit Xiu, dipeluknya lalu menyandarkan kepalanya ke pundak pria berkumis putih itu. "Ayah! Aku tidak ingin kembali sekolah di kota. Tolong atur aku ke Donghai. Aku ingin masuk kuliah di Universitas Donghai," pintanya dengan nada manja.
Kerutan di kening pria itu semakin tebal tercetak. "Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang memaksa kuliah di kota?"
Xiu sontak mengangkat wajah menatap ayahnya. "Aku merubah pikiranku! Aku ingin di Donghai saja menemani Ayah."
"Benar ingin menemani Ayah?" Pria itu bertanya memastikan.
"Iya, Ayah. Tentu saja."
"Hahaha!" Sambutan tawa ceria sang ayah. Seraya merengkuh erat tubuh anak gadisnya tersebut dalam peluknya. "Xiu dapat berpikir seperti itu, Ayah sangat senang sekali."
Namun berbeda dengan sambutan girang pria tua yang menikmati perhatian lebih dari putrinya, ekspresi Situ Xiu jelas tak berada dalam tema serupa. Ia menikmati irama lain yang menurutnya lebih menarik dari hanya sekedar senyum seorang ayah.
Dia mengatakan empat kalimat yang sangat berharga. Dalam waktu singkat, dia dapat melihat kekurangan dari latihanku.
Pulasan senyuman manis di wajah Xiu seraya membayangkan wajah tampan milik Lin Mu, pria dengan karisma tajam yang jelas berbeda dari pria lain yang pernah ditemuinya selama ini.
Lin Mu menarik!
__ADS_1