
Keesokan harinya ....
Cahaya matahari menyorot ke segala arah. Hari ini cukup cerah. Biru lautan nampak berkilauan layaknya butir-butir berlian yang menebar ke mana-mana.
RESORT KELUARGA DU
Sebuah resort yang didesain di atas permukaan laut dengan bentuk menyerupai bahtera, namun jelas bukan terbuat dari kayu seperti pada umumnya. Sangat kokoh dan elegan.
"Siapa kamu? Untuk apa datang kemari?!"
Langkah kaki Lin Mu terjegal oleh dua orang pria yang berjaga di kiri dan kanan tangga yang terhubung bagan resort.
"Lin Mu ... dari keluarga Lin. Aku ada urusan mencari Kakek Du," ungkapnya apa adanya.
Tanpa melontarkan kata ‘ya’ atau ‘tidak’, salah satu dari dua penjaga itu terlihat melakukan panggilan melalui ponselnya. Cakap pemberitahuan teruntai menjadi bentuk tanya atas sebuah perizinan. "Benar, hanya ada satu orang." Kalimat lanjutan orang itu sembari tetap memegangi microfon headsetnya di depan mulut.
Tak lama ....
"Silahkan, Kakek menyuruh Tuan langsung naik," kata pengawal itu seraya mengarahkan tangannya ke tangga di belakangnya.
"Terima kasih sudah bekerja keras," balas Lin Mu seadanya saja.
Setelah kedua penjaga itu memberi jalan, dengan gegas, Lin Mu langsung melanting menaiki tangga dengan langkah lebar dan gagahnya.
Deck kapal yang diinjaknya saat ini merupakan bagian puncak resort. Dimana dipenuhi kursi santai panjang tanpa payung yang ditaruh apik mengelilingi sebuah kolam renang berukuran minimalis di tengahnya. Beberapa gadis dengan tampilan nyaris telanjang mengisi kursi-kursi tersebut disertai cekikikan centil dengan nada menggoda.
"Kakek Du! Selamat pagi!" Lin Mu sudah berdiri di tepian kolam, menyapa seorang pria tua yang bertengger kacamata hitam di tulang hidungnya. Pria tua yang tak lain adalah kakek Du Xiaoyue itu, tengah asyik berbaring di salah satu kursi dengan wajah menantang matahari.
Sebut saja dia, Kakek Du.
Ia sontak mengangkat tubuhnya kala mendengar suara Lin Mu. "Ada apa, Lin Mu?" tanyanya tanpa basa-basi. Tak ada sambutan manis layaknya calon kakek mertua pada cucu menantunya. "Ada masalah apa kamu datang terburu-buru kemari?"
"Aku langsung pada intinya saja," ujar Lin Mu.
Sama saja. Basa-basi mungkin terlalu mahal untuk keduanya. Atau lebih tepatnya ... terlalu membuang waktu. "Apakah Kakek Du memahami cucuk Kakek, Du Xiaoyue?" lanjut Lin Mu bertanya.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" Kakek Du membalas dengan pertanyaan. Ekspresinya masi terlihat santai.
Tak terkecuali Lin Mu, yang juga menanggapi dengan nada tenang dan mata terkatup. "Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit tidak puas dengan kontrak pernikahan yang dibuat oleh Kakek saat itu."
Pria berjanggut putih dengan dada telanjang itu menyikapi dengan kekehan kecil, seolah yang dilontarkan Lin Mu mungkin hanya lelucon anak kecil yang berebut permen. "Sangat biasa ada perselisihan antar sepasang kekasih. Tidak perlu terlalu serius."
Laju dengan cepat disergah Lin Mu, "Kakek! Kita berdua ini, aku dan Xiaoyue, sudah dewasa dan sama-sama lugas. Xioayue tidak setuju, dan aku juga tidak ingin mengganggu kehidupannya dengan memaksakan apa yang tidak seharusnya." Sejenak diam untuk meraup udara. "Keluarga Lin akan memutuskan kontrak pernikahan ini!" tukasnya kemudian.
"Kamu memutuskan kontrak sesuka hatimu! Kamu anggap apa keluarga Du kami?!" Seorang pria pemilik rambut hitam klimis yang berdiri di samping Kakek Du, bereaksi dengan wajah murka tak terima.
"Jangan menyela!" Kakek Du menghardiknya keras.
Suasana tiba-tiba hening, selain debur ombak juga kesiur angin yang sesekali melintas kasar.
"Jadi kamu datang untuk membatalkan pernikahan?" tanya Kakek Du memastikan. Tatapan matanya sulit ditebak--terhalang kacamata pekatnya.
"Benar! Aku dan Du Xiaoyue tidak akan ada hubungan apa-apa di masa depan."
"Baik. Karena Keluarga Lin bersikeras untuk membatalkan ... lakukan saja!" tukas Kakek Du. "Untuk ke depannya aku minta, jangan bicara omong kosong apa pun tentang Keluarga Du melanggar kontrak dan sebagainya."
Punggung Lin Mu yang menjauh ditatap pria muda berambut basah klimis itu dengan sorot keruh. "Kakek! Kenapa semudah itu menyetujuinya? Jika hal ini tersebar, mau ditaruh di mana harga diri keluarga Du?!" ujarnya berdemo.
"Harga diri? Aku yang berjuang untuk harga diri keluarga Du. Apa hubungannya dengan kalian?" balas sinis Kakek Du menyikapi pria yang entah siapanya--mungkin cucunya--kakak Xiaoyue. "Jangan sudah mendapat manfaat, lalu mengatakan hal yang tidak masuk akal. Aku tahu segalanya tentang hubungan pribadi kalian dengan Keluarga Luo."
"Keluarga Luo adalah keluarga yang benar-benar terkenal di Kota Donghai, lebih dari Keluarga Lin. Tentu lebih baik bagi Xiaoyue dan putra Keluarga Luo untuk menikah--"
"Apa kau pikir aku tidak mengerti teori ini?" Kakek Du menghardik lagi-lagi. "Karena kontrak pernikahannya sudah dibatalkan, mulai sekarang tidak perlu menutup-nutupi jika ingin melakukan sesuatu!"
...***...
Pusat Kota.
Lin Mu baru mencapai tempat itu dalam perjalanan pulangnya. Suasana cukup ramai oleh hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang.
"Guru Song!" Lin Mu berseru memanggil seseorang yang jelas dikenal dan tak sengaja ditemuinya di tempat itu.
__ADS_1
"Lin Mu."
"Kebetulan sekali bertemu di sini," ucap Lin Mu dengan senyuman hangat. "Itu ... biar aku bantu Guru Song untuk membawanya."
Kantong transparan berisi sebuah kotak dengan pita merah muda melilitinya teratur, ditenteng satu tangan Song Yuru. "Oh, ini ... terima kasih," ucap wanita itu seraya menyerahkannya ke tangan Lin Mu tanpa sungkan.
"Apa ada orang yang berulang tahun hari ini?" tanya Lin Mu ingin tahu.
"Aku sendiri yang ulang tahun. Aku beli beberapa sayuran untuk acara makan di rumah," ungkap Song Yuru malu-malu.
"Sendirian?" tanya Lin Mu.
"Ada teman sekamar juga. Tapi dia pulang terlambat. Bagaimana denganmu? Maukah ikut bersama?" Song Yuru menawarkan.
Lin Mu sontak terperanjat, "Aku?"
"YURU!"
Seorang pria memakai setelan kemeja biru cerah yang ditimpalnya dengan jas merah muda terang, tiba-tiba datang menyela, "Bagaimana bisa merayakan ulang tahun sembarangan?" katanya dengan tampang mencemooh. "Ayo! Biar aku traktir kamu makan, dan merayakannya dengan baik."
Li Guangrui, nama lengkapnya. Pria muda berambut emas dengan wajah tampan yang memikat, namun sedikit terkesan angkuh.
Dua pengawal pria kekar berdiri tegak di balik tubuhnya.
Siapa dia, akan diketahui nanti.
"Tidak perlu merepotkan, Tuan Muda Li. Di rumah sudah ada orang yang akan menemaniku merayakannya," ujar Song Yuru--bentuk penolakan secara halus.
"Maksudmu Zixi, 'kan?" tanya Guangrui. "Suruh dia ikut saja. Di Republik Korea, ulang tahun adalah hal yang sangat penting."
Memasang wajah tanpa minat, Song Yuru menyongsong arah berlawanan dengan pria itu setelah berbalik badan. Namun tak disangka, satu pria pengawal Guangrui menghadang, tak membiarkannya pergi.
Cukup terkejut dengan hal itu, Song Yuru lantas kembali menghadapkan dirinya pada pria berjas merah muda yang berdiri tak jauh darinya tersebut. "Li Guangrui, apa maksudmu?!"
Pria itu tersenyum simpul, "Hehe."
__ADS_1