Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 26


__ADS_3

UNIVERSITAS DONGHAI


Gedung pendidikan yang paling disembah di kota itu--kota yang sama--Donghai. Dengan para mahasiswa yang terkenal tangkas berkualitas, cantik dan tampan pula, biaya selangit sesuai fasilitas yang berkelas, namun juga rawan pencitraan.


Silahkan mendelik sesuka hati.


Di lain kelas--bukan ruang kelas Lin Mu.


BRAK!


Seseorang baru saja menggebrak meja.


Hmm ... ternyata si gadis cantik berambut merah lagi-lagi--sahabat dekat Xiaoyue.


"Apakah kamu baru saja melihatnya?! Ada seorang gadis datang mencari Lin Mu dan mengatakan bahwa dia akan ikut pulang bersamanya, untuk merayakan hari ulang tahun Kakek Lin Mu?!"


Pertanyaan panjang kali lebar lengkap dengan nada tinggi itu ia lontarkan untuk Du Xiaoyue yang masih santai duduk di kursinya.


"Oh."


Sesingkat itu, Xiaoyue mengomentari. Tatapan nanarnya membentur meja yang baru saja digebrak si rambut merah.


Dengan wajah kesal, tak puas dengan komentar Xiaoyue, gadis rambut merah itu menegakkan tubuhnya. "Lin Mu akan membawa pulang wanita lain, kenapa kamu masih begitu tenang?!" tanyanya tak paham.


Jika terdengar, udara mungkin tengah mengejek. Dulu si rambut merah itu adalah penentang garis keras atas pertunangan Xiaoyue dengan Lin Mu. Tapi sekarang ... ia juga yang rusuh memprovokasi, agar Xiaoyue mempertahankan hak pertunangan itu dengan pemuda yang acapkali dihujat sebagai sampah tersebut.


Apakah Anda sehat, Nona?


Hmm ... terang saja! Lin Mu yang dulu, lain dengan Lin Mu yang sekarang. Jauh lebih berkarisma, lebih tampan, juga ... lebih berotot. Hohooo ....


"Lalu, apa hubungannya denganku, dia ingin membawa pulang siapa? Kami dari awal sudah ingin memutuskan pertunangan." Xiaoyue menjawab dengan nada dan raut tenang--kamuflase, maybe.


Dua temannya yang lain terlihat datang menghampiri dari arah belakang si rambut merah.


"Tapi kontrak pernikahanmu belum berakhir! Lin Mu hanya ingin menampar wajahmu dengan melakukan ini!" Si rambut merah terus menjejalkan asumsinya ke kepala Xiaoyue.


"Benar!" Satu teman yang mengenakan rok mini rempel di belakangnya menimpali lengkap dengan anggukan.


Huh!


Kalimat tekanan teman-temannya bukan tidak berhasil menyentuh dan mengorek jiwa Xiaoyue, gadis itu sebenarnya cukup gusar menyikapi. Tapi ia hanya tak ingin dipandang tolol dengan keputusan tiba-tiba mengejar dan mempertahankan Lin Mu. Setelah kata ‘sampah’ itu, berulang kali ia lontarkan sebagai penghinaan. "Sudahlah, cepat duduk! Dosen akan segera datang!"


Di lain sisi ....


Setelah kelas berakhir.


Lin Mu, berjalan seorang diri menapaki pelataran mahaluas halaman kampus. Semua teman-temannya mungkin sudah merebahkan diri di kamar asrama masing-masing.

__ADS_1


Saat langkah mencapai titik ujung halaman ....


BZZZZ


BZZZZ


Ferarri merah milik Luo Bingyun berhenti tepat di hadapannya.


"Lin Mu!" panggil gadis itu setelah menurunkan kaca mobilnya. "Apakah kamu bisa menyetir?" tanyanya.


"Bisa!" Lin Mu menyahut langsung saja.


Bingyun berseru riang, "Kalau begitu kamu saja yang menyetir. Tentu saja karena kamu pasti lebih hafal jalan menuju rumahmu!"


Dalam beberapa detik ....


NGUNGGGG


Mobil sudah melesat membelah jalanan dengan Lin Mu di posisi kemudi.


Di pertengahan jalan, Bingyun nampak merundukkan tubuhnya, melakukan gerak memijat pada bagian pergelangan kakinya.


"Ada apa? Apa lukanya belum sembuh?"


Bingyun menegakkan kembali tubuhnya lalu menoleh Lin Mu dengan senyuman, kemudian menjawab, "Sudah sembuh. Hanya saja ... kakiku akan terasa kram jika menggunakan sepatu hak tinggi dalam waktu yang lama."


"Tapi memakai sepatu hak tinggi itu terlihat cantik! Kaki juga nampak indah dan panjang!" Bingyun menyanggah.


Dengusan tipis keluar dari mulut Lin Mu. "Aku tidak mengerti dengan kalian para gadis. Demi menjadi cantik, bagaimana pun menderitanya, tapi dapat menahannya seperti tak terjadi apa-apa."


Komentar yang blak-blakan.


Jangankan Lin Mu, penulis saja bingung. Sepatu setan itu memang merepotkan, menahan langkah, membatasi gerak, juga ... membahayakan.


"Biasanya tidak masalah tidak menggunakannya! Tapi ada alasan khusus untuk hari ini!" Jawaban Bingyun di antara tawa renyahnya.


Lin Mu ....


Bingung menanggapi.


Apa maksud ucapan gadis itu terhubung dirinya?


Entahlah!


__


VILLA KELUARGA LIN.

__ADS_1


Puluhan mobil mewah terparkir memenuhi pelataran villa.


"Tuan Muda Mu sudah kembali." Seorang pria berkacamata menyambut di depan teras. Dari kerutan tebal di kulit wajahnya, juga rambut yang mulai memutih, melukiskan jelas usia yang tak lagi muda.


Lin Mu dan Luo Bingyun sudah berdiri di hadapannya.


"Hallo, Paman Chen!" sapa Lin Mu.


Selama terpisah dari keluarganya, Lin Mu atau ... Chang Kunzi sebut saja, cukup luas mempelajari silsilah keluarga Lin, lengkap dengan mengingat setiap wajah pemilik nama-nama yang kini sudah cukup baik dihafalnya. Setidaknya memang harus. Walaupun atas nama amnesia sebagai alasan menyamarkan keadaan sesungguhnya.


Meminjam raga orang juga butuh pertanggung jawaban yang mendalam, bukan?


"Ini siapa?" tanya pria tua yang tadi disapa Lin Mu dengan nama Paman Chen tersebut--mengarah pada gadis yang datang bersama sang Tuan Muda.


"Temanku, Luo Bingyun. Aku membawanya untuk ikut merayakan ulang tahun Kakek." Lin Mu menjawab apa adanya.


"Hallo!" Bingyun menyapa dengan senyum cerianya. Tingkahnya nyaris menyerupai anak TK yang berkenalan di atas perosotan.


"Oh, selamat datang, Nona Luo! Silahkan masuk!" Paman Chen mengarahkan telapak tangannya ke arah pintu.


Sejenak saja, pemuda itu terdiam--sebagai Chang Kunzi. Kepalanya ia buat mendongak, menatap kelam ke arah loteng paling akhir di ketinggian villa mewah itu. Ia tahu, Lin Mu si sampah ... celaka dari atas sana, hingga berakhir raganya kini ia tempati.


"Ada apa?" Luo Bingyun bertanya heran, ketika melihat Lin Mu masih membatu di tempatnya.


"Tidak apa-apa. Ayo kita masuk."


Setelah di dalam villa ....


Berbagai tipe suara milik para tamu undangan juga keluarga besar tuan rumah, terdengar riuh saling bersahutan.


Lin Mu berjalan sedikit di belakang Luo Bingyun. Ada perasaan dan atmosfer aneh yang bahkan ia pun tak paham tentang itu.


"Keluargamu cukup besar!" Bingyun dengan nada cerianya seperti biasa.


Lin Mu tak menanggapi. Pikirannya telah terisi hal lain yang tak cukup membuatnya nyaman berada di sana.


"Wanita di sebelah Lin Mu ... tampaknya agak familiar?" Lin Yitai--paman pertama Lin Mu, menelisik Bingyun dengan mata menyipit di posisinya.


"Iya. Kau benar. Tapi aku tidak bisa mengingatnya!" Lin Yifu--paman kedua, menimpali dengan tampang tak sedap.


"Bukankah itu Nona Besar Keluarga Luo?!"


Seorang tamu pria berjas hitam yang berdiri di antara deretan para wanita, berseru dengan tatapan takjub ke arah Luo Bingyun.


Dan seruan itu menjadi jawaban jelas atas pertanyaan kedua paman Lin Mu.


Keluarga Luo ...? Grup Finansial Haoyu?! Bagaimana bisa Lin Mu berhubungan dengan Keluarga Luo?! Lin Yifu membatin terkejut.

__ADS_1


Di sudut lainnya .... Mengambil posisi yang sedikit berjarak dari kemeriahan pesta, Du Xiaoyue ... menanggapi tak jauh berbeda. "Luo Bingyun, ya ...?"


__ADS_2