Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 63


__ADS_3

HOSH HOSH HOSH


Deru napas Lin Mu riuh terdengar di antara lari cepatnya. Tapak kakinya berdebam-debam memukuli aspal jalanan. Suasana mulai sepi seiring perputaran waktu melewati angka dua belas malam.


Ninja-ninja sialan itu benar-benar membuatnya kehilangan jejak mobil Ao Shaolong--pria pembeli kalung salah satu set abadi kuno yang diincarnya.


Brengsek!! Mobil itu sudah hilang, batin Lin Mu mengumpat di sela langkah cepatnya. Aku harus ganti rencana!


Namun sayang sekali, sepertinya alam belum mau meramahkan tangannya untuk memberi kebaikan pada Lin Mu. Langkah kakinya kembali terjegal memberi hambatan.


"Apa ini?!" Lin Mu dalam keterkejutannya.


Sebias cahaya hijau menyala melewati depan tubuhnya.


"Ngg?!"


Cahaya itu berbalik kembali ke arahnya, dan ....


SREEETTT


Darah segar seketika tersembur dari bagian perut Lin Mu hingga pemuda itu terhuyung dengan wajah meringis merasakan sakit yang dihasilkannya.


"Aaarrgghh!!" pekiknya.


Sesaat setelahnya ....


"Hehe ... aku tidak menyangka, kamu bisa juga merasakan seranganku!"


Kalimat itu ... terlontar sinis dari mulut seorang pria yang tak lain adalah Qing She, orang yang diminta Yan Langshi untuk menghabisi Lin Mu menyangkut masalah hati. Yang benar saja!


"Ugh, kamu!" Lin Mu memandangnya sedikit terkejut. "Seorang master!"


Dengan tubuh membungkuk, satu tangan pemuda itu menahan luka di perutnya yang cukup lebar dan tak henti mengeluarkan darah.


"Aku ... aku tidak menyangka, seorang master sepertimu juga menyerang diam-diam!"


Pengecut!


Definisi singkat dari kalimat Lin Mu tersebut.


Sebilah pisau, dengan logam pipih membentuk seekor burung elang yang menjadi pegangannya, berputar-putar di atas ketinggian mengitari area itu, dengan hiasan cahaya kehijauan melecut-lecut membungkus benda itu, lalu ....


GEP


Kembali ke tangan pemiliknya--Qing She, dengan sangat cantik.


Ya, benda itulah yang baru saja merobek bagian perut Lin Mu, hingga kemeja biru juga jas putihnya kini berganti pekat memerah di depannya.


"Sebagai pembunuh, aku dapat menggunakan cara apa pun, untuk menyelesaikan tugas," imbuh Qing She seraya mengusap elegan percikan darah Lin Mu di bilah pisaunya.


BRUKK


Lin Mu tersungkur merengkuh tembok jalanan. Luka di perutnya cukup membuatnya melemah.


"Uhuk, uhuk!" Ia mulai terbatuk seiring rasa sakit mendera hingga merayapi sekujur tubuhnya. "Tadi saat aku bertarung dengan ketiga pembunuh itu, kamu juga memperhatikannya bukan?!" tanya Lin Mu tanpa mengangkat wajahnya yang mulai memucat.

__ADS_1


Sepasang mata tanpa bulu alis di atasnya itu menatap Lin Mu tajam, namun juga penuh cemooh. "Benar. Karena kamu lumayan kuat, jadi aku menyerangmu secara diam-diam," aku Qing She. "Kamu adalah target kedua yang harus aku serang secara diam-diam, seharusnya kamu merasa terhormat untuk itu."


Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan di wajah Lin Mu. Dengan nada berat dan sedikit tergagap, ia kemudian berkata pada Qing She, "Dapat ... dapatkah kamu beritahu namamu? Aku ingin tahu, aku mati di tangan siapa!"


Tak ada jawaban. Qing She yang kini berbalik memunggunginya hendak pergi, terdiam dengan ekspresi tak terdefinisikan.


"Apa kamu menolak permintaan orang yang akan mati?!" lanjut Lin Mu lagi. Tubuhnya semakin ringkih, hingga tak mampu menopang tubuhnya sendiri untuk sekedar menegak.


"Qing She!"


Pembunuh bertampang vampire itu kemudian mengakui.


Dan Lin Mu ....


BRUK


Dengan posisi menelungkup, tubuhnya telah ambruk seluruhnya menyentuh dasar jalanan.


"Aku sudah ingat," katanya dengan suara lemah.


Tanpa menoleh lagi, dengan wajah tanpa senyuman, Qing She mulai berjalan menjauh meninggalkan Lin Mu yang sekarat.


Darah segar menggelimang naas di bawah timpaan tubuh pemuda itu.


Hening ....


.....


Sayangnya ... tidak ada jagoan yang mati dalam pertarungan tanpa perlawanan. Chang Kunzi adalah sosok disegani di dunia kultivasi.


Tidak akan semudah itu, Keparat!


Sepasang mata Qing She seketika melebar. Ia jelas merasakan pergerakan di belakangnya.


"Apa?!"


SWOSSHH


Secepat kilat pria berambut hijau metalic itu menghindar.


Menghindar?


Lin Mu sudah berdiri kembali dengan posisi siaga. Memasang kuda-kuda lengkap dengan kedua kepal ketatnya.


Tidak disangka dia bisa menghindari serangan mendadak. Bahkan sangat cepat, decit hatinya tak percaya.


Qing She membalik tubuh menghadap Lin Mu dengan pandang terbelalak.


Ada apa dengan orang ini?! Jadi tadi hanya pura-pura mati?! tanya hatinya terkejut. Tidak mungkin! Tadi jelas-jelas pisauku menembus tubuhnya.


SEEETT


Satu pukulan tanpa aba-aba dari Lin Mu, berhasil dihindari Qing She. Wajar saja, Lin Mu hanya mengandalkan kekuatan sisa dengan satu tangan lainnya tetap menahan lukanya yang semakin terasa menyiksa.


Sepertinya dia adalah seoarang master yang telah berlatih sampai tahap alam roh, dan telah membuka kekuatan Dantian Qihai, asumsinya di tengah perlawanan.

__ADS_1


Meski begitu, aku juga tak akan kalah darimu!


"YANG HARUS MATI ADALAH KAMU!" Teriak Lin Mu mengerahkan segenap kekuatannya, melakukan serangan pukulan juga tendangan membabi buta.


Qing She tentu membalas tak kalah sigap.


Sudah terluka parah, tapi kekuatannya masih begitu kuat, kicau hatinya tak menyangka.


Kemudian ....


"Celaka!" seru Qing She, saat dilihatnya ada yang tak lazim ditunjukan lawan duelnya.


SWUUSSHH


Dua jari--telunjuk dan jari tengah dari tangan kanan Lin Mu terlihat mengeluarkan cahaya menyerupai kobaran api, yang kemudian dihujamkannya ke dada Qing She. "Qing She, sampai di sini saja!" teriaknya murka.


DUGG


"Aaarrrrggghhh!!" Teriakan Qing She menggaung menantang udara.


"Pppfffttt!! .... Aarrhhh!"


Seketika darah segar menyembur kencang dari mulutnya.


BRUUGGHH


Tubuh tegap pemilik tahta kecongkakan itu, akhirnya tumbang menjamah jalanan berdebu dengan punggung membentur tembok sebuah bangunan.


Tatapan tajamnya seketika meredup layu. Qing She memegangi dadanya yang terasa terbakar. Sedang baju di sekujur dada dan perutnya mulai habis tersapu darah yang menyembur dari mulutnya.


"Kamu ... siapa kamu sebenarnya?" tanya pria itu pada Lin Mu.


"Lin Mu," akunya. "Sudah ingat siapa yang membunuhmu?!" sarkasnya bertanya, lalu berbalik badan dan memapah langkah gontainya meninggalkan tempat itu.


Tubuh Qing She perlahan ambruk dengan segala penderitaan. Ditatapnya punggung Lin Mu yang mulai menjauh dari pandangnya dipulas urat-urat menegang di sekitaran wajah.


"Bagaimana mungkin ... aku ... pisauku jelas-jelas--" Dan malaikat maut pun menghentikan racau lemahnya saat itu juga. Qing She mati!


....


Setapak demi setapak jalanan dijejaki langkahnya. Memaksakan dengan irama terhuyung-huyung. Seraya terus membekap luka dengan tangannya, Lin Mu terus mencoba bertahan. Setidaknya bisa sampai di rumah sakit, atau di manapun yang mungkin menjadi lahan pertolongan untuknya.


"Sepertinya racun di pisau itu telah mencapai jantungku ...," kicaunya dengan suara semakin melemah dilengkapi ringisan kental menandakan rasa sakit yang merajam penuh siksa. "Apakah aku ... Chang Kunzi, hanya sampai di sini saja ...?"


BRUKKK


Ia pun tumbang pada akhirnya. Energi tubuhnya benar-benar terkuras seiring darah yang semakin banyak dikeluarkan, juga racun pisau yang semakin menyebar tanpa kendali.


Benar-benar menyengsarakan.


"Aku tidak terima," Lin Mu masih meracau.


Pandangannya mulai mengabut remang, hingga perlahan menurunkan katup matanya untuk tertutup.


"Sayang sekali."

__ADS_1


Suara seorang wanita.


Suara itu masih bisa didengar Lin Mu di antara timbul tenggelam kesadarannya. Pemilik sepasang kaki jenjang yang berdiri tepat di hadapannya, tertangkap mata Lin Mu sebelum akhirnya matanya benar-benar terkatup lalu menghitam seluruhnya.


__ADS_2