Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 5


__ADS_3

UNIT PERAWATAN INTENSIF 303


Kamar 12 - 14


Dengan segala asumsi yang semakin lama semakin sesak menjejali kepalanya, Zhou nampak berdiri diam seperti biasa dengan tangan bersilang, tepat di samping brankar yang mana terbaring Lin Mu di atasnya.


Tatapannya terlihat keruh. Cukup memaksakan pikirnya untuk bekerja, berharap mendapat jawaban pasti atas pertanyaannya.


"Apakah teknik akupunturku yang menyebabkan dia hilang ingatan?" Ia bertanya, entah pada apa dan siapa.


Karena Lin Mu pun tak mungkin melontarkan jawaban, di saat pemuda beruntung itu bahkan tengah lelap dalam tidurnya.


Mungkin pada angin yang melintas.


Entahlah!


Dan ya ....


Benar, meskipun secara fisik sudah bisa dikatakan pulih sepenuhnya, namun vonis hilang ingatan atas kepalanya, membuat Lin Mu tetap harus mendapatkan perawatan secara intensif, dan butuh perhatian lebih dari pihak medis.


Selain itu, juga butuh banyak penelitian bagi para dokter agar bisa memecahkan kasus aneh atas Lin Mu yang baru pertama kali mereka alami ini, untuk menemukan jawabannya secara akurat.


Dan apa itu mungkin?


Ya ... jika penyebabnya bukan sesuatu di luar nalar dan logika, atau hanya sebatas keadaan mati suri, mungkin bisa!


Karena pada kenyataannya, Zhou pun merasa kesulitan walau hanya mendapatkan setitik penafsiran.


Terlalu ajaib.


Tak lama, sebuah pergerakkan dari tubuh Lin Mu tertangkap Zhou. Menyusul suara samar membentuk gumam dari mulut pemuda itu. "Ehmm ...." Terdengar parau dan cukup lemah.


"Apa kamu bahkan tidak ingat dengan namamu sendiri?" Zhou melontarkan pertanyaan itu langsung saja. Perasaan bingung sekaligus penasaran membumbung membentuk kesatuan yang cukup menekan dalam pikirnya.


Namun sepertinya perasaan ingin tahunya itu harus rela mengambang, ketika dilihatnya bibir Lin Mu masih saja diam, rapat terkatup. Pun dengan matanya yang juga masih terpejam tenang.


Hembusan napas berat terdengar dari mulut wanita berambut cola itu.


Ya ... cukup sulit.


Baiklah, ia mungkin harus bersabar.


Belum saatnya pemuda itu diajak berbicara. Kondisinya belum cukup dikatakan stabil secara keseluruhan, ia menyadari.


"Jangan khawatir. Mungkin setelah beberapa saat, kamu akan mengingat semuanya," kata Zhou mencoba menenangkan, walaupun nyatanya Lin Mu masih beku dalam pejamnya.


Ditatapnya wajah pemuda itu dengan raut sulit dideskripsikan, penyatuan berbagai perasaan yang membingungkan.


"Jika kamu perlu bantuan, tekan tombol ini. Perawat akan datang kemari." Sebuah benda kecil berkabel berbentuk persegi panjang dengan tombol merah kecil di salah satu sudutnya, di tunjuk Zhou di sisian brankar Lin Mu, seakan pemuda itu memperhatikan apa pun yang dikatakannya. "Aku pergi dulu. Masih ada urusan."

__ADS_1


Mulai membalik tubuhnya ke arah berlawanan dengan Lin Mu, Zhou melangkah pergi menggapai pintu keluar, meninggalkan pemuda itu dalam keheningan.


Suara debam pintu yang ditutup Zhou dari luar, baru saja terdengar.


Dalam sepi, hanya berteman bunyi alat-alat medis yang terhubung dengan tubuhnya, Lin Mu masih nampak tenang dalam pejamnya.


Tenang yang mungkin berarti lain ....


Karena sesaat setelahnya, ekspresi Lin Mu nampak sedikit berubah. Katup matanya bergerak-gerak kecil seolah ada yang dirasakan atas dirinya.


"Hampir tidak bisa merasakan kekuatan spiritual. Sebenarnya tempat apa ini?" kata tersebut ia ucapkan bertepatan dengan mata yang mulai dibukanya.


Tatapan dengan pupil hijau itu terlihat keruh.


"Sungguh tubuh yang sangat lemah! Bahkan lebih buruk dari petarung hebat yang hanya seorang manusia!" Bibirnya kembali diam usai melontarkan umpatan tersebut.


Perlahan, sepasang tangannya ia sembulkan dari balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Lalu ia angkat dan ditatapnya kedua telapak tangannya itu, dengan tatapan sedikit menyesalkan.


"Aku sudah menggunakan kekuatan spiritual sejati tingkat sembilan yang terakhir untuk mengubah tubuh ini. Kalau tidak, aku tidak tahu berapa banyak kekuatan jiwa yang akan hilang."


Diraupnya banyak-banyak udara untuk menetralkan ketidaksetaraan perasaannya.


Ini bahkan terlalu ambigu untuk bisa dipecah.


Sesaat, seulas senyuman tersungging kecut di bibir Lin Mu. Meresapi ... betapa hidup, kadang setolol ini.


Ya .... coba terima saja!


Walau ia tak membacanya, seperti jiwa Lin Mu tak menerima saran tersebut. Senyum tenangnya, dalam sekejap saja telah berangsur datar, lalu merangkak pada seulas ekspresi tajam yang menusuk.


"Sekte Xuantian! Sekte Hantu! Kalian sungguh berani sekali!" geramnya bercampur amarah yang memanas. "Tunggu setelah aku ... Cang Kunzi, kembali ke dunia kultivasi. Aku pasti akan membunuh kalian!"


....


_____


Di Villa Keluarga Lin


"Ada apa dengan rumah sakit kalian ini?!"


Lin Yifu, paman kedua Lin Mu, berteriak penuh amarah. Darahnya menanjak sekaligus hingga ke ubun-ubun, deru jantungnya berdebam melewati batas normalnya.


Setelah mendengar kabar mengejutkan itu.


Kabar yang seharusnya mereka syukuri, namun malah terdengar buruk dari pada terjangkit virus korona.


"Sesaat bilang tidak bisa disembuhkan, dan mati! Sesaat lagi bilang sudah hidup kembali!" lanjutnya lagi dengan kepala nyaris meledak. "Sebenarnya bagaimana keadaan keponakanku ini?!"


Ekspresi dengan takaran amarah yang memuncak, Lin Yifu masih mendengarkan penjelasan seseorang di line telponnya.

__ADS_1


Semakin ia mendengarkan, raut wajahnya semakin terlihat membingungkan.


"Apa?! Walaupun sudah hidup kembali, tapi dia sudah sepenuhnya hilang ingatan?!"


Sungguh mengejutkannya.


"Aku sudah mengerti, kalian jaga keponakanku dengan baik! Biaya rumah sakit bukan masalah!" Panggilan kemudian ditutup Lin Yifu. Ekspresinya ia satukan, antara marah, terkejut, dan juga bingung.


Lin Rong, yang sedari tadi duduk di sampingnya cukup bingung menyikapi. "Ada apa sebenarnya? Kenapa sesaat hidup sesaat mati?"


"Bagaimana aku bisa tahu!" hardik Lin Yifu dengan nada geram. "Tapi rumah sakit bilang, walaupun bocah itu sudah hidup kembali, dia sepenuhnya hilang ingatan!"


Lin Rong cukup terperanjat mendengar itu. "Hilang ingatan?! Apakah bocah itu sudah menjadi idiot?!"


"Bagaimana hilang ingatan dan orang idiot bisa disamakan?!" Lin Yifu menghardik lagi-lagi. Sedikit menyiratkan cemooh.


"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?!" Pertanyaan balik Lin Rong dengan kening berkerut, sepasang alisnya nyaris saling bertemu.


Untuk sejenak Lin Yifu terdiam--memikirkan. Sebelum akhirnya mengusulkan, "Kau biasanya berhubungan baik dengan bocah itu. Pergi cari tahu ke rumah sakit terlebih dahulu." Tatapan tajam ia hunus menyamping ke arah Lin Rong. "Harus lihat dengan jelas. Apakah bocah itu benar-benar hilang ingatan, atau tidak!"


_____


Lin Mu nampak tengah terduduk di atas brankar perawatannya. Sejurus tatapnya mengarah pada sebuah layar televisi yang menyala, lurus di depannya.


Di saat bersamaan, terdengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" sahut pemuda itu singkat saja.


Sesaat kemudian, Zhou muncul bersama seseorang di belakangnya.


"Dokter Zhou, apakah ada masalah?" tanya Lin Mu seraya melihat ke arah dokter cantik itu.


"Lin Mu, ada orang yang datang menjengukmu," kata Zhou langsung saja. "Apakah kamu masih ingat siapa dia?"


Pandangan Lin Mu mengikuti kemana telapak tangan Zhou mengarah. Dari ekspresinya, pemuda itu nampak tengah berpikir. Diketuk-ketuknya pelipis yang masih terlilit perban itu, berusaha meraih ingatannya.


"Lin Mu, aku adalah bibimu, apakah kamu tidak mengingatku lagi?" Terkikis kesabarannya, Lin Rong menyela sebelum pemuda itu menjawab.


"Maaf, aku sungguh tidak ingat!"


Menyikapi itu, Lin Rong menunjukkan wajah kecewanya. Dengan suara seperti orang bersedih, ia lantas berujar, "Kalau begitu kamu berobat dengan baik di rumah sakit. Aku akan sering menjengukmu."


Tidak demikian kecewa, ada perasaan lain mengendap di hati Lin Rong. Ia berbalik badan ke arah Zhou yang masih diam di posisinya. "Dokter Zhou, kenapa tampilan keponakanku, sedikit berbeda dari sebelum ia cedera?"


"Karena wajahnya tergores saat jatuh ke lantai, jadi kami membantunya melakukan operasi invasif minimal untuknya. Oleh karena itu, tampilannya sedikit berbeda," Zhou menjelaskan.


"Ternyata begitu. Kalian sudah bekerja dengan sangat keras," ujar Lin Rong menanggapi. "Kalau begitu biarkan dia istirahat dengan baik. Jika ada waktu, aku akan menjenguknya lagi." Sejenak Lin Rong mengamati keponakannya, sebelum berlalu dari ruangan itu.


Bocah ini ... apa benar-benar hilang ingatan?

__ADS_1


__ADS_2