Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 46


__ADS_3

Keesokan paginya.


Hari ini, tatanan langit cukup cerah sepertinya. Pendar-pendar cahaya matahari yang menyelinap melalui lubang-lubang ventilasi juga jendela, nampak tegas menyorot di antara dingin yang menyergap. Cukup merubah rasa menjadi sedikit lebih hangat.


"Waktunya makan!" Zixi berseru semangat. Sendok dan garpu di masing-masing kiri dan kanan tangannya, diketuk-ketukannya nyaring pada piring kosongnya dengan wajah riang, persis kelakuan seorang bocah--bocah dengan buah dada berukuran giant, idola para pria juga lansia. Bergeluguk air liur jika terus ditatap secara intens.


Tapi Lin Mu sepertinya sudah terlalu biasa dengan itu, hingga terasa basi dalam pandangnya.


"Makanan yang dimasak Mu sangat enak," komentar Song Yuru setelah menyuapkan satu sendok makanannya ke mulut dengan lahap. "Aku ingin memakannya seumur hidupku." Ia sudah cantik dengan tampilan formalnya seperti biasa--hendak menuju kampus. Rok span selutut juga blazer hitam yang sedikit ketat membungkus tubuhnya yang semampai bak gitar Espanyola.


Lin Mu hanya menanggapi dengan senyuman, tak terlalu berminat. Pikirannya berkalang kabut terbang entah kemana.


"Kemarin malam apa ada masalah? Kenapa kamu pulang telat sekali?" Zixi bertanya pada Lin Mu dengan satu tangan menopang dagu, dan satu lainnya masih sibuk memainkan sendok di atas piring makanannya.


"Tidak ada apa-apa," Lin Mu menyahut sekenanya. "Hanya bertemu dengan teman lama, dan mengobrol sampai malam," lanjutnya tanpa mengalihkan fokusnya dari makanan.


"Benarkah?" cecar Zixi tak yakin. Kali ini satu tangannya ikut naik menopang dagu, sedang oppaii gembulnya tersangga di atas meja tanpa tenaga.


Mohon maaf, lagi-lagi oppai.


"Apa harus berbohong?" Lin Mu membalas sedikit gusar. Gelas berisi air putih diambil lalu diteguknya. Ia berbohong, jelas saja!


"Haha! Mu, kamu jangan pedulikan Zixi. Dia memang selalu penasaran!" Gadis yang gemar mengenakan kemeja menimpal dengan kekehan.


Tak ada balasan, Lin Mu meneruskan santapnya dalam ekspresi datar, berusaha menyembunyikan apa pun yang dialaminya hari kemarin. Terlalu repot jika harus menjelaskan secara detail. Terlebih, ketiga wanita itu memiliki riwayat cemburu dan rasa ingin tahu yang cukup membuat perut bergejolak.


"Oh, iya, Mu, apa malam ini mau keluar bersama-sama?" Song Yuru bertanya. Sorot matanya sedikit menyiratkan pengharapan.


"Bukankah kalian mau pergi ke pesta ulang tahun teman SMA? Kurasa tidak enak jika kalian mengajakku!" Lin Mu melontarkan sesuai isi keadaan. Ia merasa bukan bagian dari scene itu.


"Tidak masalah, bertemu sekali bisa menjadi teman, 'kan?" Gadis berkemeja, sebut saja Xuanrong, melontar dukungannya.


"Betul!" dukung Song Yuru. "Kalau tidak, kamu akan bosan sendirian di rumah!" decitnya secara ringan, tapi berisi paksaan yang mendalam.


"Tapi ...."


Keraguan Lin Mu tersebut disela Zixi cepat-cepat-cepat, "Tidak ada tapi-tapian! Malam ini kamu harus pergi dengan kami!"

__ADS_1


...****...


Jalanan lengang terbelah. Sebuah sedan putih melaju ringan tanpa hambatan seolah didorong angin.


Lin Mu, memasang peran di balik kemudi, menjadi supir untuk ketiga wanita seksi yang menetap satu atap dengannya.


"Sudah bertahun-tahun tidak bertemu ... tidak tahu apakah dia masih ingat kami atau tidak!" Zixi berujar. Sejurus tatapnya mengarah pada Lin Mu. Ia duduk di kursi belakang bersilang posisi dengan pemuda itu.


"Iya betul. Saat SMA kita adalah teman baik." Xuanrong menambahkan. "Sayangnya kita jarang berkomunikasi karena urusan bisnis keluarganya," lanjutnya dengan gedikan bahu.


"Begitulah, dia juga beda level dengan kita." Yuru menimpal sedikir terkesan merendah.


Semakin jauh mobil itu melaju. Obrolan ringan keempatnya membuat jarak perjalanan tanpa terasa telah terpungkas cukup jauh.


"Kita sudah sampai!"


Bangunan megah ber-arsitektur Inggris abad pertengahan, mereka jejaki sore menjelang malam hari ini.


"Hotel Princeton, benar di sini," kata Zixi dengan lagak barbarnya seperti biasa.


Pintu elevator telah terbuka setelah ditekan Xuanrong, dan dimasuki mereka secara bersamaan.


"Apa teman kalian Situ Xiu sangat kaya?" Lin Mu bertanya ingin tahu.


"Keluarga Situ adalah keluarga kaya berkuasa, yang memiliki sejarah lima sampai enam ratus tahun. Bukan keluarga kaya sembarangan." Xuanrong menjelasakan singkat.


DING DONG


Angka 19 menghentikan laju naik kotak ajaib yang mereka tumpangi. Sampailah mereka di titik temu kemeriahan pesta.


Ratusan kursi berjejer melingkari ratusan meja. Ruangan luas itu sepertinya memang diperuntukkan untuk acara-acara semacam ini.


Lin Mu menatapnya takjub.


Tidak heran dia adalah anggota keluarga terkemuka. Begitu banyak orang menghadiri pesta ulang tahunnya.


"Bukankah ini adalah putri dari Keluarga Song? Tak disangka kamu bisa datang di ulang tahun Keluarga Situ." Seorang pria muda berambut kuning, yang disisirnya klimis ke belakang, datang mendekati Song Yuru. "Boleh, kita minum bersama?"

__ADS_1


Sekilas melirik Lin Mu, Song Yuru lalu membalas pria itu dengan nada dan raut tak cukup sedap. "Maaf, aku tidak kenal kamu!" ujarnya menolak.


Zixi dan Xuanrong saling melempar pandang seraya terkekeh. Sedang Lin Mu ....


Tunggu ... perasaan ini .... Mata hijaunya kembali menyala. Apakah Ji Qinglan ada di sini? tanya hatinya sedikit terkejut. Ia tak peduli dengan pria berambut kuning, Song Yuru dan lainnya. Gejolak di dadanya jauh lebih kuat dari pada teman-temannya.


Tapi sepertinya bukan dia. Tidak ada perasan dingin yang serupa dengan tarikan Qi milik Ji Qinglan, Lin Mu merasakan.


Kekuatan Qi rasa sejati, lanjutnya menyimpulkan. Kepalanya mulai berotasi mengedar. Mengamati satu persatu orang yang berjejal di setiap titik tempat itu.


Seseorang yang ada di sini memiliki kekuatan Qi rasa sejati. Siapa dia? Yang mana orangnya?


Memakan bermenit lamanya, Lin Mu menyapu pandang. Menelisik satu persatu orang. Hingga ....


Ketemu!


Seorang gadis bergaun kuning tanpa lengan semata kaki. Bagian depan busana itu terbelah hingga ke pangkal paha. Rambutnya biru terburai melewati pinggang. Ia tengah berjalan menapaki altar kelabu diikuti dua orang pengawal di belakangnya.


Ternyata dia! Tapi bagaimana bisa seorang perempuan mengeluarkan Qi rasa sejati?


Sepasang netra Lin Mu menatapnya tanpa kedip.


Dan tanpa diduga, dalam posisi berada dalam satu garis lurus dengannya, wanita itu menolehnya disertai senyuman tipis.


Hey, Tampan. Sangat tidak sopan memandang seorang wanita dengan tatapan seperti itu.


Kalimat yang ditutur dalam hati tersebut sangat jelas didengar Lin Mu. Pemuda itu terbelalak untuk ketiga kali selama berada di tempat ini.


Kekuatan telepati? Ternyata ada orang di dunia ini yang menguasainya.


Ini sungguh luar biasa.


Gadis itu telah berlalu dari pandangnya. Menyusun langkah tapak demi tapak menyalami banyak orang yang ditemuinya satu persatu.


Dalam diam menikmati belaian hati yang hanya ia seorang diri yang merasakan, Lin Mu tersenyum.


Kekuatan spiritual di tempat ini sangat tipis. Tapi aku menemukan banyak orang hebat. Sangat menarik!

__ADS_1


__ADS_2