
"Polisi, kenapa menangkapku?!" Li Mu bertanya seraya mengangkat sepasang tangannya yang sudah terborgol. Keningnya berkerut-kerut kebingungan.
"Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan!" jawab polisi wanita itu dengan sorot tegas dan terkesan memojokkan.
"Tahu persis?" Lin Mu mengulang perkataannya. "Aku ini membantumu!"
Wanita aparat itu berdecak. "Huh, kamu berani bilang bahwa kamu tidak kenal dengan sekelompok orang tadi?!"
"Bagaimana bisa aku kenal dengan mereka?!" Lin Mu menyela dengan oktaf cukup tinggi untuk ukuran berbicara empat mata. Menunjukkan jelas rasa marah dari ketidakterimaan yang dirasakannya.
"Tidak kenal?!" hardik polisi itu lagi. "Lalu kenapa orang itu mau menghormatimu?!"
Haha ....
Siapa yang tidak akan menertawakan, jika perangainya setolol tadi? Melepaskan residivis tanpa hukum atau seringan-ringannya tinju dua kepalan. Lin Mu adalah contoh paling keren, untuk siapa pun yang berniat ‘memporakporandakan tugas aparat’.
"Itu karena mereka tidak bisa mengalahkanku! Jadi sembarangan cari alasan untuk kabur!"
Alasan yang manis, Lin Mu.
Tepuk tangan saudara-saudara!
"Tiga orang tidak bisa mengalahkanmu yang seorang diri saja?!" Tentu saja wanita polwan itu tak percaya. "Kita ke kantor polisi dan buat keterangan dulu. Kamu bisa menjelaskannya nanti." Didorongnya punggung Lin Mu untuk memasuki mobil.
Lin Mu meronta-ronta tak menerima perlakuan yang seharusnya memang tidak untuknya. "Polisi, aku masih ada urusan lain. Bisakah beri kelonggaran?!" Ia mencoba bernego.
"Tidak bisa!"
Belum sempat tubuh Lin Mu dijejalkannya ke dalam mobil, deru suara mobil lainnya terdengar di belakang, dan berhenti tepat di sisi kiri di mana wanita itu mendorong-dorong Lin Mu.
"Bukankah ini petugas Wang?" Seorang pria turun dari dalam mobil tersebut. Dari busana yang dikenakannya ia jelas memiliki profesi yang sama dengan si polwan. Wajahnya sangat tampan berkarisma. Alis tegas, hidung mencuat mancung, dan sepasang mata sayu mempesona, membuatnya terkesan sempurna melengkapi kekar otot yang tercetak di pundak, lengan, juga tinggi badannya yang melebihi rata-rata orang di negara itu--tak jauh berbeda dengan Lin Mu.
"Ternyata kamu yang panggil bala bantuan?" tanya polisi pria itu setelah si polwan juga Lin Mu membalik tubuh menghadapnya. "Sepertinya si pencuri sudah tertangkap," lanjutnya mengarahkan tatap pada Lin Mu.
"Bukan dia! Tapi temannya!" sanggah si polwan. "Tolong bawa dia ke kantor untuk dimintai keterangan lebih dulu," pintanya pada polisi tampan.
"Baiklah." Polisi tampan mengangguk, lalu menggamit tangan Lin Mu mengambil alih untuk dimasukkan ke dalam mobil yang dibawanya--mobil dengan jenis dan suara serupa tentu saja.
"Petugas Wang mau kembali ke kantor?" tanyanya seraya menutup pintu. Lin Mu telah apik terduduk di jok belakang mobil itu.
__ADS_1
"Iya! Tapi kakiku baru saja terkilir. Bisakah kamu bantu untuk memapahku?" Wanita itu meminta dengan senyuman cling, isi gula-gula kapas yang manisnya keterlaluan. Sedikit tersirat raut enggan yang siapa pun bisa menilai ... itu bentuk kekaguman yang hakiki.
"Tidak masalah!" sahut polisi tampan. Berjalan menghampiri, lalu menggamit telapak tangan polisi wanita yang dipanggilnya Wang tersebut. Memapah wanita itu menuju mobil yang dikendarainya.
"Hehe, aku terlalu berusaha," kata polwan itu sedikit sungkan.
"Kenapa tidak hati-hati?"
Namun belum sempat pertanyaan itu dijawab sang polwan ....
"Ba-bagaimana bisa?" gumamnya dengan mata terbelalak. "Dia bisa melepaskan borgolnya!" lanjutnya tak percaya.
Jelas saja, kursi di dalam mobil itu telah kosong. Hanya tersisa borgol yang telah rusak dengan detail bagian yang berserak. "Apakah dia manusia?"
____
"Jika tahu begini, aku tidak akan ikut campur!" Lin Mu terus menggerutu sepanjang jalan. Ia bukan tipe pria yang banyak bicara sebenarnya, tapi rasa kesal akibat pengalaman beberapa saat lalu, dalam sekejap merubahnya seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya saat pulang dalam keadaan baju penuh lumpur.
"Lin Mu!" Suara seorang wanita menghentikan gesa langkahnya tiba-tiba.
"Ibu Guru Song!" sebutnya setelah sosok itu ia lihat di balik tubuhnya. "Bukankah Bu Guru Song sudah pulang tadi?" tanyanya seraya memutar hadap pada wanita itu.
Daripada melakukan hal bodoh lagi, tak ada salahnya menerima tawaran yang lebih menguntungkan, bukan? Setidaknya perut yang kosong akan terisi secara gratis. "Kalau begitu baiklah!"
Kebetulan bisa menghindari masalah.
Tak berselang lama, Lin Mu dan Song Yuru sudah tiba di sebuah rumah.
Rumah itu tak lain adalah rumah yang dulu tak jadi disewa Lin Mu--rumah enam belas juta perbulan, di mana bocah sinting bernama Meng Xuan tinggal di dalamnya sebagai ‘sang aturan’.
"Secepat itu sudah pulang?" Salah satu dari dua orang wanita yang duduk di sofa bertanya.
"Wah, Yuru beli bumbu atau beli pria tampan?" Satu lainnya menimpali. Tampilan busana yang dikenakannya sedikit berbeda dari Song Yuru yang formal, dan satu temannya yang santai dengan jeans panjang dan kemeja ber-aksen keriting di bagian kerah.
Wanita satu ini bergaya ala-ala pe-lacur. Gaun hitam transparan tanpa lengan dengan panjang di atas lutut, yang bagian depannya mengekspos jelas belahan dada bersama separuh isi kembarnya yang menyembul percaya diri--putih dan mulus. Rambut panjang sebatas bokong merah menyala, tergerai seperti selendang yang terjuntai di tali jemuran tetangga di ujung jalan.
Entah tetangga siapa, entah jalan yang mana.
Yang jelas ... dia sangat seksi.
__ADS_1
"Zixi jangan menakuti orang!" hardik wanita bercelana jeans.
"Hallo, Nona-Nona Cantik," sapa Lin Mu dengan senyuman ringan. "Senang bertemu kalian." Ia sudah berdiri berdampingan dengan Song Yuru menghadap dua wanita yang santai duduk di sofa.
"Yuru, kenalkan dia pada kita."
Song Yuru merespon langsung saja, "Dia Lin Mu, muridku."
"Yuru, kenapa dia kamu bawa pulang? Tampaknya dia bukan murid biasa." Wanita seksi bernama Zixi melontar tanya penasaran.
"Hari ini Lin Mu mewakiliku untuk memberi pelajaran pada Li Guangrui. Aku bawa dia pulang untuk merayakannya bersama. Tadinya dia hampir jadi teman sekamar kita. Sayangnya dia pergi setelah kamar itu disewa oleh Meng Xuan," ungkap Song Yuru sambil lalu menuju dapur.
"Ada hal semacam ini? Kenapa aku tidak tahu?" Wanita bercelana jeans yang belum diketahui namanya itu bertanya--pada siapa saja.
"Kamu seharian tidak di rumah, mana bisa tahu masalah di rumah!" Si seksi bernama Zixi menghardik. Setelahnya ia menghadapkan dirinya ke arah Lin Mu yang masih berdiri di seberang meja. "Namamu Lin Mu, 'kan? Ke depannya, aku panggil kamu Mu, ya?" Itu bentuk pertanyaan sekaligus keputusan. "Li Guangrui bukan pria baik. Kamu bisa memberinya pelajaran, berarti kamu pandai berkelahi juga," katanya menyimpulkan. Telapak kanan tangannya terlihat menepuk-nepuk lahan kursi kosong di sampingnya--meminta Lin Mu duduk di sana.
Lin Mu menanggapi dengan anggukan sungkan. "Hanya berlatih sembarangan, pasti tidak lebih hebat darimu," ujarnya seraya mendudukkan diri di samping Zixi.
Satu tangan wanita berpakaian setengah telanjang itu terlihat naik ke pundak Lin Mu, menumpangkannya di sana. "Pasti Yuru memberitahumu latar belakangku. Kalau tidak bagaimana kamu tahu aku bisa bela diri?"
"Ini ...."
Belum sempat Lin Mu menjawab, Zixi lebih dulu menyergah, "Meng Xuan sudah ke luar negeri, bagaimana kalau kamu langsung pindah kemari?"
Lin Mu seketika tergagap menanggapi. Spontan menolehkan wajahnya pada wanita itu. "Ini ... tidak begitu baik, 'kan? Lagi pula aku sudah menyewa rumah."
"Tidak masalah! Kamu tinggal di bawah, kami tinggal di atas. Jika ada pekerjaan fisik, kamu kan bisa membantu kami!"
"Benar, Lin Mu. Jika kamu pindah ke sini, semua orang bisa menjagamu!" Dari ambang pintu, Song Yuru menimpali kalimat Zixi.
"Baiklah kalau begitu," kata Lin Mu tanpa pikir panjang.
"Karena mulai besok kita akan tinggal bersama, demi menghindari perselisihan, kita buat aturan!" Wanita bercelana jeans menambahkan. "Pertama, lantai atas adalah ruangan khusus wanita, kamu tidak boleh naik tanpa izin!" Ia lantas bangkit, berdiri bersedekap tangan seolah tengah menggurui. "Kedua, lantai bawah adalah tanggung jawabmu! .... Ketiga, semuanya makan bersama. Tapi setelah makan, kamu bertugas mencuci piring. Keempat ...."
"Masih ada berapa lagi?!" Lin Mu menyela dengan kerutan tebal di dahi.
"Masih ada belasan, dengarkan saja!" Zixi mengambil jawaban.
"Itulah aturannya!" Sang pengemuka aturan menyela. "Selanjutnya ayo kita pesta ... mengucapkan selamat ulang tahun pada Song Yuru!"
__ADS_1
"Hey! Kamu terlalu cepat mengalihkan topik!"