Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 38 & 39


__ADS_3

Like - komentar - hadiah kecil - apalagi vote!


Pasti bikin Otor semangat nulis! Hehe ....


Selamat membaca!


Semoga terhibur!


...•°•°•°•°•°•°•...


"Hati-hati!" Lin Mu memperingatkan.


Xianxian, entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Berpura-pura tersandung dan tersungkur hingga bibirnya mendarat di pipi Lin Mu, kini ia menggesekkan dada besarnya ke dada Lin Mu, lalu melanting mundur seolah semuanya terjadi tanpa unsur kesengajaan.


"Kamu tidak apa-apa, bukan?" tanya Lin Mu dengan wajah terkejut.


Gadis itu menahan senyum seraya menutup mulutnya dengan tangan kanan, seperti sesuatu tengah menggelitik dirinya. "Tidak apa-apa. Semua salahmu berjalan terlalu cepat. Padahal aku hanya ingin berbicara denganmu."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Lin Mu. Tak disadarinya, jika saat ini di pipinya terlukis bentuk kecupan berwarna merah muda hasil karya Xianxian. "Kamu artis ternama, sedangkan aku hanya orang biasa. Hal apa yang layak dibicarakan denganku?"


Sedikit tak habis pikir. Apa yang begitu menarik dalam dirinya menurut Xianxian?


"Karena kamu adalah laki-laki pertama yang menolakku!" sergah Xianxian mengakui. Sorot tegasnya seperti melukiskan bahwa ia tak biasa dengan kata penolakan. "Sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang menolak permintaanku," tandasnya.


Kalimat itu ditanggap Lin Mu dengan senyuman kecut. "Aku akui, Nona Yao sangat mempesona. Tapi bukan berarti setiap laki-laki akan tenggelam dalam pesonamu." Pemuda itu hanya bersikap sebagaimana dirinya.


Namun tanggapan Xianxian di luar dugaan Lin Mu. "Maka dari itu aku tertarik pada orang pertama yang menolakku! Tadi itu aku hampir saja kehilangan percaya diri," tuturnya ditutup senyuman lebar, namun tak selebar goa yang menganga.


"Jika aku tidak sengaja menyerang rasa percaya diri Nona Yao, aku minta maaf," ucap Lin Mu sedikit menyesali. Tidak ada salahnya 'kan menjadi diri sendiri? "Bila tidak ada hal lain, aku permisi," ucapnya menuntaskan. Kali ini tungkai kakinya ia ayun dengan langkah-langkah lebar. Meninggalka Xianxian yang saat ini mematung dalam ekspresi sulit didefinisikan.


"Lin Mu ...," gumam wanita itu. "Menarik!" Entah dari jalan apa ia tiba-tiba mengetahui nama Lin Mu. Padahal belum sempat pemuda itu memperkenalkan siapa namanya. Tapi mengingat siapa dia dan perannya di kancah publik, segala sesuatunya pasti akan sangat mudah menurutnya. Terlebih hanya urusan kecil--mengetahui nama dan identitas orang lain.


***


Langkah-langkah lebar sepasang kaki Lin Mu berakhir di dalam toilet--masih di area gedung tempat konser Xianxian. "Aku harus cepat membersihkan bekas lipstik ini. Kalau tidak, pasti akan sangat susah jika terlalu lama dibiarkan," ujarnya seraya menyapukan air ke pipinya tepat di letak Xianxian menciumnya, secara berulang di depan cermin dan kran wastafel.


Beruntung, sebuah kaca di dalam gedung membuatnya bisa melihat lukisan bibir itu di pipinya. Jika tidak, berhadapan dengan ketiga macan di rumahnya saat pulang nanti, pasti akan sangat merepotkan.


Beberapa menit setelahnya, Lin Mu sudah berada di luar gedung mahaluas itu menyongsong jalanan untuk pulang.


"Sekarang seharusnya masih ada taksi." Ia berbicara pada dirinya sendiri seraya berjalan menyusuri halaman, dengan tangan masih sibuk mengusap-usap bagian pipinya. Berbeda dengan dari pria lain, saat mendapatkan kecupan gratis sang idola, mereka mungkin akan mempertahankan bekas lipstik itu sebagai kenangan-kenangan hingga tak mandi berminggu-minggu. Tapi Lin Mu ... sepertinya kecupan singkat merah muda buah karya Xianxian si idola seksi itu, cukup mengganggu dan membuatnya risih.


Satu wanita lagi, tapi belum juga membuatnya luluh dan jatuh cinta.


TAK TAK TAK


Langkah kaki Lin Mu sontak berhenti. Bola matanya bergerak-gerak penuh antisipasi. Tempat itu sudah sangat sepi setelah orang-orang berbondong-bondong pergi selepas konser usai.


"Siapa?!" Ia bertanya tanpa membalik hadapnya.


"Berbaliklah! Dengan begitu, aku bisa melihat mayatnya lebih enak."


Seorang pria. Mengenakan jubah hijau dengan tudung yang ia naikan untuk menutupi kepalanya. Panjang jubahnya melewati dengkul dan belum mencapai pergelangan kaki--pertengahan betis, tepatnya. Yang kemudian disambung celana panjang berwarna senada hingga melewati mata kaki.


Tak lama berpikir, Lin Mu menuruti. Ia membalik tubuhnya untuk melihat siapa gerangan pemilik suara dengan oktaf arogan itu. Setelah jelas matanya menangkap, ia laju mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi hingga melewati kepala. "Aku ingin tahu, aku sudah memprovokasi siapa, sampai kamu ingin aku mati?" tanyanya dengan nada ringan. "Kalau ada sesuatu bicarakan baik-baik saja. Kenapa harus bertengkar?" Masih sedikit santai.


Di balik tudung yang menyatu dengan jubahnya itu, rambut biru memburai tebal melengkapi wajah tegas nan tampan yang saat ini memulas ekspesi tak cukup sedap. "Untuk orang yang akan mati, tidak ada salahnya jika aku beri tahu," katanya percaya diri. "Tapi apakah orang yang akan mati perlu tahu?"


SREETT


Dari sela-sela jari terkepal milik pria berjubah itu, muncul bilah-bilah pisau yang runcing dengan ketajaman tak main-main, persis menyerupai pisau tangan milik Wolverine si tokoh Mutan dalam film Marvel bertajuk ‘X-Men'. Namun milik pria berjubah ini sedikit lebih pendek.


Tanpa banyak menguntai basa-basi lagi, pria berjubah hijau berambut biru itu membanting tangannya ke depan sekuat tenaga untuk melesatkan pisau-pisaunya ke arah Lin Mu.


Dan di posisinya, sepasang mata hijau Lin Mu menyala dan terbelalak. "Pisau terbang ...."

__ADS_1



Tak tahu bagaimana nasib si pria berjubah hijau itu, yang jelas Lin Mu masih baik-baik saja.


Saat ini ia tengah berjalan di antara ramainya hiruk pikuk manusia dan lalu lalang kendaraan.


Padahal aku sudah rendah diri. Kenapa aku masih bisa bertemu dengan orang yang perhitungan. Racau hati Lin Mu mengarah pada Xianxian. Hari ini sungguh-sungguh membuang waktunya.


Tepat ketika kakinya mencapa ujung zebra cross yang dilaluinya ....


DEG


Perasaan ini .... Ia merasakannya lagi.


Dan ....


Dia ....


Gadis yang dilihat Lin Mu di antrean makanan tempo lalu, ia melihatnya saat ini tengah berdiri hendak menyeberang di jalan yang sama dengannya, namun ke arah berlawanan. Hingga posisi mereka saat ini tepat berhadapan--saling memandang terperangah.


Orang ini yang tempo hari kutemui di kantin, batin wanita itu.


Di saat yang sama, ia merasakan tubuhnya mulai bergelenyar dingin. Cahaya biru berpendar keluar dari tubuhnya secara tiba-tiba. Gadis itu kemudian bergerak memeluk tubuhnya sendiri.


Kenapa kekuatan Qi es-ku ini tiba-tiba bergejolak? tanya hatinya tak mengerti.


Apa ada hubungannya dengan orang itu?


"Kemu kenapa? Apa tidak enak badan?" Lin Mu memutuskan bertanya seraya menghampiri.


Aku harus gunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang kekuaran Qi di tubuhnya, ia memutuskan.


Posisinya dan gadis berambut hitam itu hanya tersisa kurang dari tiga jengkal. Lin Mu menaikan kedua tangannya perlahan untuk menyentuh pundak gadis itu.


TAK


"Lepaskan! Siapa kamu?! Mau berbuat apa?!"


Walau pun cukup terkejut dengan sambutan itu, Lin Mu tetap menjawab halus, "Namaku Lin Mu. Satu sekolah denganmu."


Dalam beberapa detik, gadis itu masih bungkam. Mundur perlahan, lalu berlari kabur kemudian.


"Hey! Kamu mau kemana?!" Sebelah tangan Lin Mu terjulur seperti mencegah, namun gadis itu terus berlari tanpa menolehnya sedikit pun.


Aku tidak boleh melepaskannya! Aku harus menanyakan dengan jelas kepadanya! Intuisi Lin Mu menuntun tubuhnya bergerak cepat untuk mengejar.


Ramai jalanan cukup menyulitkannya berlari.


Tapi ia tak boleh sampai kehilangan jejak.


Kali ini langkah cepatnya sudah mencapai deretan bangunan padat dengan gang-gang yang cukup terlihat sepi.


"Tunggu sebentar! Aku hanya ingin bertanya kepadamu!" teriak Lin Mu tepat ketika sampai di sebuah belokan gang.


Gadis itu sempat berhenti dan tercengang. Jika hanya berlari orang itu pasti berhasil mengejarnya! Ia lalu memutuskan untuk ....


SWUUUSSSHH


"Apa?!" Seakan tercongkel dari tempatnya, kedua bola mata Lin Mu membelalak, lebih dari sekedar terkejut. Apa jangan-jangan ini ... ilmu peringan tubuh?!


Gadis itu melayang dengan kepala mendongak.


TAP


TAP

__ADS_1


TAP


Jarak demi jarak dinding diijaknya naik dengan gerakan melesat cepat. Persis menyerupai Ninja.


"Ternyata masih ada orang yang memiliki ilmu beladiri sehebat ini!" gumamnya di antara keterkejutan. "Tapi aku juga tak boleh kalah darimu!" Tanpa berpikir lagi, ia laju melesat dengan lari cepatnya mengejar wanita itu.


Dua jam kemudian ....


HOSH HOSH HOSH


"Sialan! Ternyata aku kehilangan dia!"


Di antara napas tersengal, deru jantung tak beraturan, juga peluh yang bercucur, Lin Mu membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut. "Fiuhh ... aku sudah sampai di mana ini?" tanyanya--mungkin pada semilir angin yang melintas.


Ia kini berdiri di atas sebuah bukit, dengan pemandangan hijau merata di hadapannya.


DONG


DONG


DONG


"Ada bunyi lonceng!" Lin Mu merotasi lehernya ke belakang, di mana degung lonceng itu berasal.


"Ternyata ada sebuah kuil di sini ...."


Ia menemukannya setelah memapah langkah dan mencari.


Bangunan kuil yang indah, dengan tiga tingkat yang semakin mengecil ke atasnya.


"Sekalian aku masuk untuk melihat-lihat saja."


Ternyata cukup banyak orang di dalamnya dengan beragam suara permintaan dan do'a.


"Berikan keselamatan untuk bayiku ...." Itu salah satunya. Do'a seorang perempuan hamil yang datang didampingi suaminya.


Lin Mu menapaki lantainya jengkal demi jengkal. Hingga ia merasakan sesuatu yang lain ....


"Hmm, sepertinya ada kekuatan Qi keluar dari dalam kuil," asumsinya. Pandangnya lalu jatuh pada sesosok biksu tua yang tengah khusyuk kegiatan pertapaannya di dalam sana. Apakah ini?


Tubuh biksu itu dikelilingi cahaya keemasan yang memendar hangat ke sekitaran.


Cahaya Budha! Mata Lin terbelalak. Apa ini hanya ilusiku saja?!


"Aamitabha!"


Suara itu mementalkan angan Lin Mu yang terjebak di dalam keterkejutan.


Apa yang terjadi? Dalam sekejap mata dia sudah ada di sampingku?!


Dengan kedua telapak tangan saling menempel di depan dada, biksu itu mulai bertanya, "Tuan sudah berada di sini selama dua jam? Apa ada masalah dan ingin mencariku?"


Dua jam?!


Padahal Lin Mu merasakannya baru hanya sekejap saja.


"Hormat kepada Master." Ia membungkukan tubuhnya setelah berhasil menata diri. "Aku terlalu memikirkan perkara hati, hingga mengganggu pertapaan Master. Aku mohon maaf!"


Biksu suci ini tidak sengaja memperlihatkan auranya. Tidak disangka aku jadi tertarik dan malah terheran-heran.


"Tidak ada." Biksu itu menyanggah. "Indera keenam Tuan sangat jernih. Silahkan ikut aku masuk!" Seraya mencondongkan tangan kanannya ke suatu arah.


"Master, tempat apa ini?" tanya Lin Mu saat sepasang kakinya menapaki rerumputan hijau di bagian belakang kuil.


"Di sini adalah tempatku biasa belajar ajaran Budha," jawab sang biksu.

__ADS_1


__ADS_2