
Apa keluarga Luo datang kemari untuk mendukung Lin Mu, Lin Yitai ... sorot tajam di balik kacamata beningnya cukup menusuk terhunus ke arah Lin Mu dan juga Bingyun.
Segenggam kepicikan tergambar dalam wajah yang tak bersahabat.
Mungkinkah rencana bertahun-tahun akan dihancurkan oleh keinginan Keluarga Luo? Lin Yifu, tenggelam di antara ketidakpercayaan juga kecemasan yang mencengkram--sama-sama menjebak.
"Lin Mu!"
Itu suara Lin Rong, satu-satunya Bibi Lin Mu di Keluarga Lin. Wanita itu berdiri di antara kiri Lin Yifu dan kanan Lin Yitai. "Kenapa hari ini begitu lama baru pulang?" tanyanya dengan wajah ... katakan saja rindu--mungkin.
Dengan tatapan sulit didefinisikan maknanya, Lin Mu menjawab ringan saja, "Aku masih ada kelas sore tadi. Aku baru bisa pulang setelah kelas selesai."
Lin Rong mengangguk--tipis saja, berusaha memahami. Tatapannya kini beralih pada Bingyun yang masih nyaman berdiri di samping Lin Mu. "Bukankah ini Presdir Luo?!" Wanita paruh baya berambut sebahu itu berseru, antara takjub, juga terkejut. "Tak kusangka ulang tahun kakek yang ke-80 dihadiri oleh Presdir Luo. Kami, Keluarga Lin ... sungguh merasa terhormat dengan kehadiranmu!"
"Anda terlalu sungkan dan berlebihan, Nyonya," Bingyun menyanggah tak enak. "Aku datang untuk mengucapkan ulang tahun Kakek sebagai teman Lin Mu. Sama sekali tidak mewakili Grup Finansial Haoyu."
Setipis kasa, Lin Rong menanggapi dengan senyuman manis, atau lebih tepatnya ... senyum terpaksa! "Tidak apa-apa. Asal Presdir Luo bisa datang, Keluarga Lin sangat senang menyambutnya."
"Di mana Kakek? Kenapa tidak terlihat?" Lin Mu memotong pembicaraan. Tujuannya pulang hanya untuk kakeknya, bukan tenggelam dalam drama konyol yang menjijikkan di antara paman dan bibinya.
"Kamu pasti tidak ingat? Sejak orang tuamu meninggal, Kakek menderita penyakit Alzheimer. Beliau tidak bisa menghadiri acara seperti ini lagi. Dia hanya bisa menetap di ruang belajar di lantai atas." Lin Rong melontarkan jawaban dipulas ekspresi prihatin.
"Aku mengerti, kalau begitu, aku pergi ke atas dulu untuk melihat Kakek." Lin Mu membalik tubuhnya lalu dengan gegas melangkah ke arah yang ingin ditujunya, tanpa peduli sekitar.
"Aku ikut denganmu!" Bingyun meminta.
Walaupun tak ada sambutan Lin Mu, gadis itu ... mana peduli.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" Yifu bertanya pada adiknya--Rong, setelah Lin Mu tak lagi terlihat dalam pandangnya.
"Gadis itu sulit ditebak, aku tidak bisa melihat kekurangan dalam dirinya." Jawaban Lin Rong--terlalu ambigu untuk bisa disimpulkan.
"Apa hubungannya dengan Lin Mu?" tanya Yifu lagi.
__ADS_1
"Sulit dikatakan. Tapi setidaknya, bukan pacaran."
Wajah keruh Yifu semakin tajam menyikapi situasi. "Hal ini tidak dapat diprediksi. Selanjutnya, masalah mungkin akan semakin rumit."
.....
Lebih tepatnya ... renta. Pria tua yang duduk di atas kursi roda itu dihampiri Lin Mu. Rambut-rambut putih yang nyaris botak di kepalanya, ia tutupi dengan topi jenis Laken Fedora Panama Cream. Tubuhnya masih cukup berisi dengan gumpalan daging yang menyamarkan lekuk tulang-tulangnya.
Seorang perawat perempuan nampak tenang menyuapinya dengan sesuap demi sesuap bubur yang mungkin tak lagi terasa enak di lidah tuanya.
"Kakek, aku pulang!"
Suara itu membuat Kakek spontan menjegal sesendok bubur yang hendak menerobos mulutnya melalui tangan si perawat.
"Tuan Muda Lin Mu!" Perawat itu mengguman setelah menoleh ke belakangnya.
"Keluarlah dulu. Aku ingin bicara dengan Kakek," pinta Lin Mu.
"Baik." Singkat saja perawat itu menyahuti.
"Kakek, selamat ulang tahun," kata Lin Mu lembut. Seperti Lin Mu sebenarnya, pemuda itu mengecup sepasang tangan kakek penuh ketulusan. "Kakek lihatlah dengan seksama. Bisakah Kakek mengenali siapa aku?"
Tanpa diduga, wajah datar tanpa ekspresi dengan tatapan kosong itu menyahuti, walau terdengar cukup lemah dan lebih mirip igauan, "Lin ... Lin Mu."
Belum sempat Lin Mu melontarkan kalimatnya, Bingyun lebih dulu memotong, "Hallo, Kakek. Semoga Kakek panjang umur!" Dengan senyuman ceria yang memperlihatkan deretan gigi putihnya seperti biasa.
"Dia adalah temanku. Hari ini dia datang untuk merayakan bersama-sama ulang tahun Kakek." Lin Mu menimpali.
"Ba-baik." Suara parau tak bertenaga itu lagi-lagi menyahuti, tak biasanya. Seperti ada sesuatu yang menarik, Kakek mengangkat wajahnya--mendongak tipis menatap Lin Mu. Sekuat tenaga, ia mengangkat tangannya untuk meraih tangan cucunya.
Mata Lin Mu melebar sedikit terkejut, kala sesuatu berpindah dari tangan Kakek Lin ke telapak tangannya.
Cukup lama dua pasang telapak tangan itu saling merengkuh.
__ADS_1
Di saat yang sama, seorang pelayan datang menyerukan, "Tuan Muda Lin Mu, acara makan malam akan segera dimulai. Nona Du Xiaoyue ada di bawah. Bagaimana ...."
"Du Xiaoyue?" Mendengar nama itu, Lin Mu gegas mengangkat tubuhnya untuk berdiri. "Kalau begitu jaga Kakek, aku akan turun." Lantas berbalik tanpa menghiraukan Bingyun yang masih diam di posisinya.
Setelah turun ....
"Lin Mu, aku sudah menunggumu sangat lama." Xiaoyue berdiri menyambutnya bersama seorang pria paruh baya bertubuh pendek di belakangnya.
"Untuk apa kamu datang kemari?" Hoho ... sinisme. Ada seulas raut tak sedap dipasang Lin Mu di wajah tampannya.
"Kakekku menyuruhku untuk datang mewakili keluarga." Xiaoyue membalas tak kalah kelam. "Ini adalah hadiah ulang tahun dari Keluarga Du, untuk Kakek," lanjutnya tetap berusaha tenang.
Sebuah guci berbentuk--lebih mirip labu siam, dengan ukiran bunga-bunga cantik di sekelilingnya, dikemas apik dalam sebuah kotak kaca, dipegang oleh pria pendek di sebelahnya, dan ditunjuk Xiaoyue melalui kiri telapak tangannya. "Vas plum doucai, periode Yongzheng," ungkapnya menyebutkan nama benda itu.
Suasana sekitaran mulai ricuh terdengar.
"Wah, itu vas plum doucai dari periode Yangzheng!"
"Itu adalah harta yang cukup langka!"
"Kakek Du sungguh rela, ya?!"
"Bukankah setidaknya vas itu bernilai milyaran?"
Dan masih banyak kicau yang lainnya.
"Kami sudah menerima niat baiknya. Tapi hadiah ulang tahun ini terlalu berharga. Lebih baik Nona Du membawanya kembali."
Du Xiaoyue, spontan terperanjat mendengar perkataan Lin Mu yang menurutnya ... mungkin mempermalukan, seketika membuat harga dirinya serasa terinjak melalui sebuah penolakkan. "Bagaimana pun aku juga cucu menantu dari Kakek Lin. Sudah seharusnya mengirim hadiah ulang tahun untuknya!" seru lantang gadis itu tak terima.
"Apakah Nona Du juga pernah mati suri sepertiku? Kenapa tiba-tiba teringat kontrak pernikahan dengan Keluarga Lin?!" Kalimat sarkas Lin Mu.
"Kontrak pernikahan dibuat secara pribadi oleh kedua kakek. Dan sebelum itu dibatalkan, aku tetap adalah menantu perempuan dari Keluarga Lin!" Xiaoyue menegaskan. "Ini adalah tugasku sebagai generasi penerus untuk datang mengucapkan selamat ulang tahun."
__ADS_1
Pupil hijau mata Lin Mu mulai disapa bara menyala. "Mungkin aku yang salah," geramnya. "Jika aku lebih awal mendatangi Keluarga Du untuk membatalkan pernikahan, mungkin tidak akan merepotkan Nona Du untuk datang sendiri hari ini!"