Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 28


__ADS_3

"Apa?! Mau membatalkan pernikahan?!"


"Siapa yang menginginkannya?!"


"Mungkinkah Kakek Lin?! Bukankah Kakek Lin sudah linglung?!"


Kepo tingkat brandal. Lalu apa untungnya bagi mereka setelah terjawab?


Komentar para tamu undangan ricuh terdengar saling bersahutan kacau. Seperti mulut netizen yang saling lempar asumsi atas sebuah konten, walaupun itu konyol dan terkesan sinting, mereka tetap benar.


"Lin Mu, apa yang kamu katakan?! Kenapa mau membatalkan pernikahan? Padahal semuanya baik-baik saja?!" Cukup lantang suara Lin Rong mengudara memecah irama debat antara Lin Mu dan Xiaoyue, juga para penonton dengan segala argumen tak penting mereka.


"Nona Du menganggap aku tak pantas untuknya. Dia berulang kali memaksaku untuk membatalkan pernikahan." Dengan mata yang dipejamkan, Lin Mu menjawab bibinya dengan nada datar. Kemudian dibukanya kembali mata itu untuk ia sorotkan pada Xiaoyue. Sedikit senyuman remeh tersabit nakal di bibirnya. "Sulit bagi Kakek Du untuk mengambil inisiatif. Tidak masalah. Aku tidak malu untuk mengatakan hal ini."


Xioayue sudah kepalang dipermalukan, direndahkan, juga dibuat jatuh. Tatapan tajam penuh amarah ia hunuskan pada pemuda itu. "Terserah kamu!" decitnya bernada geram.


Di saat bersamaan, Luo Bingyun yang mungkin sudah puas bertegur sapa dengan Kakek Lin di lantai dua, turun berlenggok kemudian mengambil posisi di dekat Lin Mu. Lalu dengan ringan ia berujar, "Lin Mu, secara khusus aku memilih hadiah ulang tahun. Ini untuk kakekmu. Semoga dia suka."


Kenapa tidak diberikan secara langsung pada Kakek Lin selagi di atas? Pertanyaan semua orang--mungkin.


Ya, barangkali ada niat lain di baliknya.


Kita simak saja.


"Bingyun, kenapa ikut repot-repot! Apa ini?" tanya Lin Mu seraya memandang sebuah benda berbentuk kotak berwarna merah yang disodorkan Bingyun kemudian diterimanya. "Kamu tidak perlu menghamburkan uang."


Seperti biasa, Bingyun menanggapi dengan rekah senyumnya. "Buka saja, nanti kamu juga tahu!"


TRAK


Kotak berbahan dasar kayu itu kemudian dibuka Lin Mu. "Ini?" Bingkai matanya melebar seketika. Sebuah benda melingkar berwarna hijau menyala menyerupai warna jamrud, terselip di antara sekatan halus di bagian dalamnya.

__ADS_1


"Ini adalah cincin ibu jari yang pernah dipakai Kaisar Kangxi. Terbuat dari batu giok kelas atas dan diberi nama Queyang." Bingyun menerangkan.


Note; bukan ‘kuyang’ hantu kepala, Sudara-sudara.


"Batu giok memang bagus. Tapi tidak ada yang bisa mengatakan dengan tepat, dari mana asalnya." Xiaoyue menyela.


"Nona Du memiliki penglihatan yang baik ternyata. Bisa menilai kualitas bahannya dalam sekali lihat," kata Bingyun memuji ringan saja. "Tapi karena batu giok itu asli, asalnya juga asli. Tidak akan ada yang berani membodohi Keluarga Luo kami." Sekejap saja, tatapan Luo Bingyun berganti kelam. Komentar Xiaoyue, ia bukan tidak memahami makna di baliknya.


"Baiklah. Karena Kakak Luo sudah bicara begitu, cincin ibu jari itu pasti asli. Selamat kepada Kakek Lin, karena mendapatkan harta yang sangat langka di dunia." Du Xiaoyue menandaskan akhirnya. Akan cukup rumit jika meneruskan perdebatan bodoh semacam ini.


Seolah memperolok Xiaoyue, Lin Mu memasang senyuman terbaiknya untuk Bingyun. "Aku wakili Kakek, untuk mengucapkan terima kasih padamu." Seraya memasukkan kotak berisi cincin pemberian wanita tersebut ke saku bagian dalam jas yang dikenakannya. Kini wajahnya ia alihkan pada Xiaoyue, namun dengan tatapan yang tak sehangat seperti pada Bingyun. "Aku juga sudah menerima hadiah dari keluarga Du. Aku akan datang berkunjung untuk memutuskan kontrak pernikahan kita nanti. Agar Nona Du tidak perlu lagi khawatir tentang itu di masa depan."


Sengan perasaan setengah murka Xiaoyue mengangguk gegas dengan sorot meyakinkan.


"Lin Mu! Kenapa kamu memutuskan masalah sebesar ini sendirian? Masalah pernikahan ini adalah ...."


"Bibi Rong!" Lin Mu memungkas cepat. Tubuh yang semula memunggungi kini ia hadapkan lurus pada wanita paruh baya itu. "Hal yang tidak mengikuti arus, tidak akan mendapatkan hasil yang baik. Karena kedua pihak tidak bersedia, memutuskan kontrak pernikahan adalah cara terbaik, dari pada kedua keluarga jadi musuh kelak!" tuturnya menggurui--anggap saja demikian. "Atau Bibi Rong punya pandangan lain?"


Pertanyaan jebakan itu membuat wanita setengah baya itu melengak. "Umm ... ti-tidak!" jawabnya tergagap.


Beberapa waktu setelah acara makan malam selesai ....


Menggilas jalanan, ferrari merah milik Luo Bingyun kembali dikendalikan Lin Mu di kursi kemudi.


"Du Xiaoyue sungguh cantik. Apakah kamu sungguh-sungguh rela membatalkan pernikahannya?" Bingyun bertanya--sekedar ingin tahu ... atau mungkin ada lain hal.


"Dia saja tidak mau menghiraukan aku. Jadi sehebat apa pun dia, apa hubungannya denganku?!" jawab Lin Mu, disertai ekspresi kelam tak menyenangkan.


"Kamu bisa mencoba untuk mengejarnya. Dengan begitu mungkin bisa mengubah pandanganmu terhadapnya."


Barang sejenak Lin Mu terdiam. Lalu melanjutkan, "Sudahlah. Aku juga bukan harus menikahinya. Wanita cantik dan hebat sangat banyak." Sorot mata hijaunya kemudian melirik Bingyun di sampingnya. "Selain itu, menolak yang dekat dan mencari yang jauh ... bukan gayaku."

__ADS_1


Chang Kunzi tak peduli, ia juga bisa melawan. Tidak ada yang perlu ia cemaskan.


Hidup si sampah Lin Mu ternyata sungguh merepotkan!


Kalimat Lin Mu sebelum itu mengundang kekehan lucu di bibir Bingyun. "Kamu pintar bicara," komentarnya menanggapi.


Di pertengahan jalan, melewati sedikit zebra cross, mobil sudah dihentikan.


"Sudah sampai di rumahmu, Tuan Muda Lin Mu!" kata Bingyun dengan nada mengejek.


Lin Mu mengangguk lalu turun dari ferrari marun milik Bingyun tersebut. Namun sebelum saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan, ponsel Bingyun terdengar nyaring berbunyi. Ia merogoh tasnya untuk melihat siapa gerangan penelepon.


Nomor tidak dikenal.


Belum sempat wanita itu mengangkatnya, Lin Mu lebih dulu menyela, "Itu nomorku. Hati-hati di jalan. Hubungi aku jika ada apa-apa."


Mendengar demikian, wajah Bingyun seketika sumringah. "Baiklah. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa," Lin Mu membalas. "Daaah." Seraya melambaikan tangannya sekilasan saja, sampai mobil itu kemudian melaju menjauhinya.


Sejenak saja, pemuda itu mematung menatap ferrari merah Bingyun yang semakin mengecil ditelan jarak.


Setelahnya, ia mengingat sesuatu yang diselipkannya di dalam saku bagian dalam jas. Merogohnya, mengambil, lalu membuka lipatannya.


Ya, sehelei kertas kecil dengan warna cream-- yang tadi diselipkan Kakek Lin ke telapak tangannya ketika di villa.


Lin Mu, jangan khawatirkan Kakek. Kakek hanya tak ingin peduli dengan keinginan mereka untuk memperjuangkan harta keluarga. Oleh karena itu, Kakek berpura-pura linglung. Kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan keluarga. Kakek sudah membuat wasiat, dan akan memberikan kekayaan yang membuatmu tidak perlu khawatir seumur hidup. Bertahan hiduplah dengan baik.


^^^~Kakek^^^


Dengan sorot nanar, Lin Mu menatap tulisan itu. Perasaannya sulit dideskripsikan saat ini. "Kakek," gumamnya.

__ADS_1


Tak bisa dipungkir, walaupun ia Chang Kunzi yang jelas tak ada kaitan apa pun dengan keluarga Lin, tetap saja ... satu poin telak yang tak bisa diubah, baik olehnya, mau pun alam.


Selain wujud, darah yang kini mengalir di dirinya, adalah darah Lin Mu--si pecundang merepotkan. Darah Keluarga Lin!


__ADS_2