
"Mu, jalan pelan sedikit!" seru Qinglan seraya terus mengikuti langkah cepat Lin Mu. Daging-daging di tubuhnya ikut bergetar layaknya agar-agar. Padahal ia tak gendut sama sekali. Selain bagian-bagian yang memang memiliki daging berlebih.
Teras bagian belakang gedung universitas, mereka jejaki saat ini. Memperdebatkan sesuatu yang saling bertolak belakang.
Dari rusuhnya cara berjalan, sepertinya Lin Mu dalam keadaan terburu-buru. Entah lapar ... atau berusaha menghindar. Qinglan terus saja berceloteh hal serupa sedari tadi mereka keluar dari kebun kampus, usai menanggapi seseorang yang datang mengejutkannya dan juga Lin Mu.
"Di Universitas Donghai, belum pernah ada seorang pun yang dapat mengalahkan Yagyu Kojiro," ungkap Qinglan sedikit tersirat cemas. Ia mulai bisa mengimbangi langkah cepat Lin Mu. "Apa kamu yakin bisa?" tanyanya meragukan.
Informasi itu diterima Lin Mu dengan senyuman tipis. Langkahnya ia buat berhenti dengan tatapan membentur sekuntum bunga di tepian teras. "Belum pernah kalah? .... Hmm ... menarik!" komentarnya senang.
Aku belum pernah menemukan lawan yang sepadan setelah mendapatkan alam roh. Semoga Yagyu Kojiro tidak mengecewakanku!
Kilas balik setengah jam yang lalu ....
Sapaan suara bariton itu ternyata milik seorang pria tinggi bersetel jas hitam dan segala atribut lengkapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Namaku Yagyu Kojiro, dari Klub Karate Universitas Donghai." Ia memperkenalkan diri. "Hari ini aku ingin mengajak Tuan Lin Mu untuk bertanding," imbuhnya di antara ekspresi tegas, menekan, juga ... lumayan bersahabat.
Belum sempat Lin Mu menjawab, Qinglan lebih dulu menyerobot, " Aku tidak peduli siapa pun kamu. Apa tidak lihat, aku sedang berbicara dengannya?!" Putih kulit wajahnya seketika berubah merah--ia marah, ia tak suka.
"Maaf mengganggu kalian berdua," kata Kojiro terkesan dingin. "Tapi jika Tuan Lin Mu tidak menerimanya hari ini ...."
"Apa?!" Qinglan menyela tak sabar. "Akan apa jika tidak menanggapinya?!" tanyanya meradang. Kedua telapak tangannya sudah terkepal di masing-masing sisian tubuhnya, menandakan gejolak emosi akibat rasa terganggu.
Hilang sudah lebel dingin yang disandangnya selama ini dalam sekejap.
"Aku terima tantanganmu!" Lin Mu menyela langsung saja.
"Mu!" Qinglan menghardik tak setuju.
Namun Lin Mu lebih tak suka jika gadis itu ikut campur lebih banyak perihal urusannya. Telapak tangannya tergerak menghadang Qinglan yang terus mencoba mengacau.
Hmm, Ji Qinglan ... merasa jadi siapa dia dalam scene ini?
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Lin Mu," Kojiro menyahuti dengan gerakan merunduk tipis sebagai bentuk hormatnya. "Aku akan menunggumu jam enam sore ini di stadium universitas,"lanjutnya menginfokan.
Kilas balik selesai.
Masih berada di antara pilar-pilar tinggi bangunan belakang kampus, Lin Mu berdiri bersilang lengan menghadapi Ji Qinglan yang masih terus mencoba menggagalkan niatnya.
"Aku tahu kekuatan Yagyu. Kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti bisa mengalahkannya!" Lin Mu meyakinkannya.
"Jangan berkata seperti itu terlalu cepat! Atau kamu akan celaka!" Qinglan menghardik lagi-lagi. "Lagipula kamu tunanganku! Aku tidak mau kamu menjadi penonton yang memalukan!"
Yey! Mari beri dia tepuk tangan, lalu menghujat sesuka hati.
Hanya seulas senyuman kecut dihadiahkan Lin Mu atas perkataan wanita itu. Rasanya sungguh tak enak didengar! Hatinya berdecit tak suka.
___
Pukul 18.00 - Stadium Universitas Donghai.
Gema riuh suara komentar dan saling timpal antar para penonton, sudah mengudara dari setengah jam sebelum detik ini, hingga bergemuruh seperti gelombang beliung.
"Aku dengar hari ini Ketua menantang seseorang yang sangat hebat." Salah seorang pemuda di barisan penonton berkicau penasaran.
"Jangan khawatir! Bagaimana pun hebatnya orang itu, pasti bukanlah lawan Ketua." Satu temannya membalas yakin.
Dan ....
"Lin Mu datang!" Teriakan itu terdengar dari barisan para wanita yang juga penasaran dengan agenda petang ini.
"Itu Lin Mu ... tampan sekali ...." Lainnya berkomentar kagum dengan pipi merah.
Tubuh tegap dengan bisep dan trisep yang tertutup jas putih itu bergerak gagah dari arah pintu masuk.
Lin Mu, diikuti Qinglan di belakangnya, datang tanpa mengganti kostumnya sama sekali.
__ADS_1
Kenapa semua orang melihatku? tanya Lin Mu bingung, juga ... konyol.
"Apa dia orang yang ditantang Ketua? Kelihatannya sangat lemah!" Lagi-lagi komentar dari deretan anak buah Kojiro. Ia dan rekan-rekan satu team-nya menunjukkan ekspresi tak cukup puas.
Dalam bayangan mereka, penantang Kojiro adalah pria dengan tubuh tegap dengan otot-otot besi dan rahang tegas yang tak jauh berbeda dengan sang ketua. Nyatanya ... hanya pemuda manis yang mungkin akan merengek memanggil-manggil nama ibunya setelah pertarungan ini selesai.
Yagyu Kojiro mulai membuka mata. Lin Mu sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Tuan Lin Mu ... aku akan mengungkapkan sesuatu terlebih dahulu," katanya. Lalu bergerak mengangkat tubuhnya untuk berdiri. "Aku adalah teman Li Guangrui," akunya. "Aku dengar kamu dengan mudah bisa mengalahkannya. Itu berarti ... tenagamu lumayan!" Wajah tegasnya tak menunjukkan aroma pertikaian sama sekali. Pembawaannya cukup tenang. "Tuan Lin Mu jangan berprasangka buruk terlebih dahulu. Aku tidak mengundangmu kemari untuk balas dendam."
"Li Guangrui ...?" Lin Mu menyentuh dagunya dengan kepala miring, nampak berpikir.
Hingga sepersekian detik kemudian .... "Oh, orang yang saat itu bertarung denganku, karena mengejar Bu Guru Song?" Gambaran wajah angkuh Li Guangrui sejenak mengisi kepalanya.
"Seorang ahli beladiri selalu ingin menantang yang lebih hebat!" Kalimat itu menyentak Lin Mu dari keasyikan pikirnya tentang perangai Guangrui.
"Karena Tuan Lin Mu sangat kuat, dari itu aku ingin menantangmu." Kojiro menandaskan.
"Aku mengerti!" Lin Mu menyahut tenang. "Karena ini pertandingan persahabatan, aku tidak akan menggunakan kekuatan penuh."
Kojiro menyela cepat tak setuju dengan ide Lin Mu, "Tidak! Kumohon Tuan Lin Mu jangan segan-segan!" Raut wajahnya menunjukkan keseriusan yang tak bisa dihadang. "Aku selalu menggunakan kekuatan penuh dalam setiap pertandingan. Sebagai rasa hormatku kepada lawan," tukasnya meyakinkan.
Barang sejenak saja Lin Mu berpikir, lalu tersenyum menyambut kemudian. "Baiklah! Mohon bimbingan Tuan Yagyu," katanya seraya melakukan salam khas seperti biasa.
"Juga mohon bimbingan Tuan Lin Mu," Kojiro membalas serupa. Tak sedikit pun tersirat aroma meremehkan dalam dirinya. Tampilan wajah bengis miliknya itu seakan hanya topeng, sangat berbanding terbalik dengan wibawa dalam dirinya.
"Mari mulai!" instruksi Kojiro langsung saja. Sepasang tangan dan kakinya mulai siap dalam posisi siaga. Kepal ketat, juga kuda-kuda kokoh yang menandakan ia cukup tak sabar untuk segera beradu hantam dengan Lin Mu.
"KYAAAA!!!" Teriakan Kojiro membahana menantang udara. Tubuhnya telah terdorong maju untuk meninju.
Sedang Lin Mu ....
Sepertinya belum menyusun persiapan apa pun.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG ....^^^