
Satu jam kemudian ....
Saat ini Lin Mu dan Xing Weilong tengah mengayun langkah beriringan, berniat keluar dari area gedung tersebut.
"Makanan di sini sangat memuaskan," komentar Lin Mu seraya mengusap perutnya--cukup kekenyangan.
Weilong menolehnya seraya tersenyum senang. "Bagus sekali kalau Kak Lin puas. Lain kali kita sering-sering datang ke sini."
Yang hanya dibalas Lin Mu dengan senyuman simpul.
Di beberapa langkah kemudian ....
"!!!"
Pandangan Lin Mu tiba-tiba terkunci oleh sosok yang saat ini berjalan mengarah berlawanan--di depannya.
"Lin Mu, kamu kenapa bisa di sini?!"
Suara merdu itu, siapa lagi kalau bukan milik Yao Xianxian, si artis cantik serba bisa itu.
"Yao Xianxian?!"
Weilong spontan menghentak pandang ke arah Lin Mu, lalu beralih pada wanita di depannya yang kini berjalan beriringan bersama beberapa orang pria di kiri dan kanannya.
Apa ini? Bukankah dia aktris terkenal Yao Xianxian? Tidak disangka dia juga kenal Kak Lin!
Si gendut itu tentu saja terkejut.
Wajah Xianxian berbinar seketika, seperti racun yang mendapatkan penawarnya. "Sutradara, ini orang yang aku bicarakan tadi. Bagaimana menurutmu?" tanya artis cantik itu pada pria di sampingnya.
__ADS_1
Pria berkacamata berambut kuning keemasan itu memandang Lin Mu dengan tatapan menilai, seraya menaruh jari-jarinya di bawah dagu--menelisik cukup dalam. Hingga beberapa saat kemudian .... "Ya, lumayan juga!" imbuhnya. "Mata Xianxian cukup unik. Dia tampan dan tempramental. Benar-benar memenuhi kebutuhan naskah," tandasnya tentu setuju.
Satu pria berjas hitam dengan t-shirt hijau di dalamnya, maju mendekat ke arah Lin Mu yang masih menatap orang-orang itu dengan raut bingung. "Tuan, kami ingin berbicara sebentar. Tidak mengganggu waktu Anda, bukan?"
Dengan gegas Weilong menyambar, "Tidak masalah! Hari ini kami ada waktu. Silahkan, mau bicara di mana saja boleh." Lalu menoleh pada Lin Mu. "Kak Lin, mereka adalah orang-orang besar di dalam lingkaran industri hiburan. Berbicara dengan mereka sebentar akan bermanfaat dan tanpa bahaya."
Barang sejenak Lin Mu nampak berpikir, mencerna sesaat kalimat Weilong, lalu memutuskan kemudian, "Kalau begitu baiklah."
Bibir Xianxian menyabit senyuman manis. Langkah pertama cukup baik, pikirnya.
"Silahkan kemari." Pria berjas coklat kemudian mengarahkan jalan untuk orang-orang itu.
Dan sampailah mereka di sebuah ruangan besar dengan sofa melingkar mewah di bagian tengahnya, yang kemudian diduduki mereka satu persatu.
"Lin Mu, Beliau adalah investor terkenal di China--Direktur Wang." Xianxian memperkenalkan salah satu dari para pria berjas super mahal itu pada Lin Mu.
"Direktur Wang, apa kabar?" balas Lin Mu menyapa dengan tangan terulur ke arah Direktur bernama Wang tersebut, setelah sesaat menatap Xianxian.
"Sama baiknya, terima kasih."
"Ini adalah Penulis Skenario Wang Shuyu, Produser Wang Jian, dan Sutradara Feng Yufan," lanjut Xianxian menunjuk para pria itu bergiliran.
"Hallo." Ketiganya menyapa bersamaan pada Lin Mu.
"Baiklah, tidak perlu basa-basi lagi," kata Xianxian gegas. "Kami ingin mendiskusikan sesuatu denganmu," lanjutnya nampak semangat.
"Nona Yao, silahkan bicara." Lin Mu memberi ruang.
Tanpa menunggu apa pun, Xianxian lantas menjelaskan ihwalnya disertai senyuman. "Begini ... Direktur Wang sedang mempersiapkan untuk membuat film baru. Dan aku merekomendasikanmu untuk memainkan peran utama pria."
__ADS_1
"Apa?!" Dengan mata terbelalak Weilong menyergah. "Apa aku tidak salah dengar?! .... Kalian ingin Kak Lin bermain film?!" tanyanya tak percaya. Dan pemeran utama pria?
"Benar, Tuan." Sutradara berkacamata itu mengambil jawaban. "Xianxian merasa dia sangat cocok dengan pemeran utama pria dalam film ini. Baik itu citra, ataupun tempramen," ungkapnya, lalu tersenyum. "Sepertinya film ini memang dibuat khusus untuknya."
Berbeda dengan percaya diri semua orang, Lin Mu masih memasang wajah bingung. "Tapi ... aku tidak bisa berakting," ungkapnya. "Aku kuliah mengambil jurusan sejarah."
Pria sutradara itu kemudian menyela, "Tuan Lin, hidup itu seperti sandiwara. Semua tergantung pada kemampuan akting. Dan akting adalah seni mengekspresikan kehidupan." Ia melancarkan jurusnya. "Terlebih lagi, ada Nona Yao yang berakting dengan Anda. Aku percaya, film ini layak ditonton."
Lin Mu mulai merasa tersudut. Sebutir keringat menggelinding dari pelipis ke pipinya. "Ini tidak terlalu bagus, bukan? Jika aku mengacaukan kinerjanya, bukankah itu hanya akan membuang-buang waktu dan energi semua orang--"
"Lin Mu, anggap saja bantu aku kali ini," Xianxian menyergah cepat. Sepasang tangannya ia katupkan di depan dada sebagai bentuk pendukung permohonannya. "Aku tidak dapat memikirkan orang lain yang lebih cocok." Ia mulai memelas. "Jangan khawatir ... aku, sutradara dan lainnya akan membantumu."
Weilong menepuk pundak Lin Mu dengan wajah bersemangat. "Kak Lin, coba saja! Setiap orang punya waktu pertama kali, bukan?" dukungnya. "Mungkin saja kamu punya bakat akting, hanya sementara waktu belum ditemukan!" tandasnya meyakinkan.
"Benar. Apa yang Saudara Gendut katakan ini, benar sekali," timpal Yao Xianxian memperkuat. "Banyak orang yang berasal dari jurusan, kebetulan tidak terlalu populer di industri hiburan. Kamu malah akan mendapatkannya dengan mudah, jika mau berusaha sedikit saja. Dan mulai dari sini, bersamaku."
Dalam beberapa jenak, Lin Mu nampak tercenung. Satu demi satu pikirannya dijejali isian bayangan tentang peran seorang aktor. Hingga kemudian .... "Baiklah. Karena kalian semua berkata begitu ... aku akan mencobanya," putusnya lantas. "Tapi aku ingatkan dari sekarang, jika ada masalah, jangan salahkan aku."
"Setuju, jangan khawatir," jawab cepat sutradara itu. "Selama aku sutradaranya, dipastikan tidak akan pernah muncul masalah."
Semua orang menanggapi senang, terutama Weilong yang sampai sedikit berjingkrak.
Lalu dilanjutkan oleh sang direktur paruh baya yang duduk di seberang kirinya. "Tuan Lin, apa Anda besok ada waktu? Kita akan menandatangani kontrak resmi."
Dengan ragu, Lin Mu menjawab, "Ada. Kira-kira kapan waktunya?"
Seraya memberikan kartu namanya pada Lin Mu, sang direktur menjawab lugas, "Pagi sekitar jam sepuluh. Anda pergi ke alamat ini."
Lin Mu menerima benda tipis itu lalu membacanya sekilas saja. "Mengerti," ucapnya. "Terima kasih sudah memandangku. Besok aku pasti akan tepat waktu."
__ADS_1
...____...
Di tengah musuh yang semakin banyak, kira-kira ... masalah apakah yang akan dihadapi Lin Mu selanjutnya?