
Jangan lupa like!
Selamat membaca!
...*******...
Malam ini ....
Sebuah acara perjamuan makan malam tengah dilangsungkan di sebuah gedung.
Pilar-pilar tinggi yang dicat keemasan berdiri di beberapa titik sebagai pengokoh di dalam ruangan yang dipilih sebagai pusat acara.
Begitu elegan dan mahaluas.
Ruangan yang luasnya kurang lebih empat ratus meter persegi itu disulap sedemikian apik, dengan puluhan meja bundar berukuran super jumbo, bertaplak mewah menutupi dasar yang menjuntai hingga ke bawah kakinya. Setiap satu meja dikelilingi sepuluh kursi banyaknya. Dan setiap kursi diisi oleh tamu-tamu penting dengan tampilan sosialita yang sepertinya memiliki pengaruh cukup kuat di kota itu.
"Li, kamu sudah datang?!"
Seorang wanita dengan rambut ungu panjang yang memburai hingga ke ujung bokongnya, berseru memanggil sosok yang jelas dia kenali. Wanita berkacamata berbalut setelan blazer dan rok span di atas lutut, melangkah beberapa jarak di depannya, dialah sosok itu. "Bantu aku pegang ini sebentar." Sebuah gelas piala berisi anggur merah diberikannya pada wanita kacamata itu, setelah keduanya dalam posisi berhadapan dengan jarak tipis.
"Nona Luo, kamu mau pergi ke mana?! Perjamuannya 'kan belum selesai!" seru wanita berkacamata dengan ekspresi tak paham. Dia adalah asisten priabadi si wanita berambut ungu yang dipanggilnya Nona Luo tersebut.
"Aku ingin keluar mencari udara segar sebentar! Sisanya aku serahkan padamu!" kata Luo seraya melambaikan tangan tanpa menoleh. Kaki jenjangnya terus melangkah menyongsong pintu keluar tanpa peduli ekspresi si wanita berkacamata.
Wajah tercenung yang kental berkerut di antara kebingungan, wanita kacamata itu hanya bisa melemaskan bahu seraya men-desah menyikapi kelakuan nonanya.
....
Selang beberapa menit ....
Sebuah BMW hitam keluaran terbaru tahun ini sudah diduduki Luo di bagian kursi kemudi. Sepertinya ada yang ingin dilakukannya saat ini. Wajahnya nampak yakin terhadap sesuatu yang bergumul di kepalanya.
Oh, ya, apa kalian masih ingat wanita ini?
__ADS_1
Ya! Dia adalah wanita yang sama yang ditemui Lin Mu di dalam pesawat tempo lalu.
"Akhirnya keluar." Gadis itu bergumam dengan senyuman lega, seperti parkit kecil yang baru terbebas dari sangkarnya setelah terkurung selama bertahun-tahun. "Tapi ...." Seketika wajah cantik glowing bak putri salju itu berubah murung, saat sepasang matanya menangkap melalui spion di bagian luar kaca mobilnya. "Para pengawal masih mengikuti," desahnya resah. "Meskipun itu demi kebaikanku, tapi keempat pengawal khusus itu terlalu banyak."
Benar katanya.
Sebuah mobil hitam jenis Avanza, berisi empat pria yang memang disiapkan untuk menjaganya sepanjang waktu, sudah berada di belakang mobil yang mungkin akan dilajukan Luo.
Namun seperti angin melintas, sebuah ide muncul di kepala wanita itu dua detik setelahnya. "Ambil kesempatan saja!" ujarnya seraya tersenyum. "Sudah lama sekali tidak mengendarai mobil," lanjutnya senang, seolah baru menemukan cahaya di antara pekat yang menyelubung.
Semoga alam memberkati di antara tindak yang mungkin akan melemparnya ke tengah bahaya.
Kunci kontak mulai diputarnya ke posisi on, selanjutnya tanpa babibu, pedal gas di bawah kakinya ia injak sekali hentak dan melaju secepat tornado. Cukup keren untuk ukuran gadis seanggun dirinya.
Para pengawal di belakangnya sontak tercengang dengan mulut menganga lebar. Tak disangka mereka, Tuan Putri yang gemulai itu berani mengambil tindak layaknya bandit pencuri spion bajaj yang terparkir di tepi jalanan di bawah pohon di antara terik siang yang menyengat.
"Cepat!" Salah seorang dari pengawal yang duduk di samping jok kemudi berteriak. "Cepat, kejar dia!"
Pria di balik kemudi tersentak lalu mengerjap. "Ah, iya! Aku tahu!"
NGUUUUNGGGGG
NGUUUUNGGGGG
Terjadilah aksi saling kejar-kejaran antara Nona Muda dan para pengawalnya.
Keadaan jalanan yang cukup lengang sedikit memudahkan wanita itu untuk bertingkah serampangan tanpa peduli apa pun.
Poin keberuntungan lainnya bagi Luo, karpet merah milik alam sepertinya memang dibentangkan khusus teruntuknya saat ini, mobil yang diisi oleh para pengawal di belakangnya terlihat terhenti. Rambu jalan menunjukkan sebuah peringatan, di mana lampu merah memelototi di atas sana seakan memang sengaja disiapkan untuk menghambat gerak mereka.
Para pengawal itu akan dapat masalah jika melakukan pelanggaran sekecil apa pun. Namun akan semakin bermasalah ketika sang nona sudah lebih dulu melaju, melewati rambu-rambu--berbelok ke bagian kanan jalan, tanpa rasa takut.
Dan beruntungnya, itu bukan pelanggaran. Luo melewatinya tepat sesaat sebelum lampu merah dinyalakan oleh pemantau.
__ADS_1
"Cepat ikuti!" Satu di antara para pengawal kembali menginstruksikan.
Yang lalu mendapat sambutan keras dari rekannya, "Apa kau tidak melihat lampu merah?!" geramnya menghardik.
Sedang di jalurnya--di dalam mobil, Luo tersenyum menang. Sedikit mengurangi kecepatannya tepat di posisi berseberangan tersekat batas tikungan, ia melihat sejenak mobil para pengawalnya yang berhenti karena jegalan gangguan klasik.
"Hmm ... apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" Wanita itu bertanya--lebih kepada dirinya sendiri. Menghadapkan pandangnya kembali lurus ke depan, lalu melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan semula meninggalkan jauh para pengawalnya. "Atau ... aku beritahu mereka dulu agar tidak khawatir. Aku ...."
CKIIIIDDDD
Seiring ucapan yang digantungnya spontan, rem juga diinjaknya mendadak dengan ekspresi terbelalak dan jantung nyaris terpental.
Seseorang tiba-tiba muncul dan berlari secepat kilat, tepat di depan jalanan yang tengah dilaluinya.
DOOORRRR
Di saat bersamaan, sebuah peluru melesat tepat di depan wajahnya, yang dalam sekejap menciptakan lubang kecil sebesar kelereng di kaca samping kemudinya.
Dan inilah salah satu alasan, mengapa ia tak biarkan bepergian sendirian kemana pun.
Cukup lama Luo terjebak dalam keterkejutan. Jantungnya masih berdentam kencang tak karuan. Kembang kempis paru-parunya nyaris terlihat seperti ikan yang terlempar ke daratan--megap-megap kehabisan napas.
Lalu sepersekian menit kemudian, setelah cukup kembara jiwanya dalam irama terpental, dengan tubuh dan lutut yang masih dalam keadaan gemetar karena terguncang, Luo memaksakan diri keluar dari dalam mobilnya. Ditatapnya sesaat lubang kecil berbingkai retakan di kaca itu dengan raut kelam. "Tuhan ...." Wajahnya kemudian ia edarkan ke sekeliling mengamati sekitar jalanan.
Tak ada siapa pun di sana. Orang yang tadi menyeberang seperti kilat di depannya juga tak terlihat sama sekali.
Ia bahkan tak ingat wujud orang itu. Yang dia ingat hanya satu, orang itu ... adalah seorang pria.
Iya, pria!
"Untunglah demi menghindari orang itu, aku langsung menginjak rem. Kalau tidak, kurasa ... aku mungkin sudah mati," ujarnya dengan tatapan berubah geram.
Sampai sesuatu yang lain berhasil ditangkap sepasang mata indahnya. Lu melotot dengan mulut sedikit menganga.
__ADS_1
"Sial, mobilnya dilihat! Aku harus mencari tempat untuk bersembunyi lebih dulu. Baru mengabari pengawal!" Gadis itu mulai kelabakan, lalu berlari mengikuti instingnya ke suatu arah tanpa lagi banyak berpikir.