Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 42


__ADS_3

PLAAKK!!


Tamparan keras mendarat di pipi kiri Lin Mu. Menghela sontak wajahnya ke samping dengan ringisan cukup kental yang menandakan ... ya sakitlah!


Lin Mu mengerjap seraya membalik cepat wajahnya ke depan. "Jangan-jangan tadi itu adalah ...." Ia bergumam. Lalu menghela pandangnya gegas ke arah Qinglan.


Gadis itu nampak tak tenang di posisi yang belum berubah--masih bersila dan berhadapan dengan Lin Mu. Kedua tangannya menyilang di depan dada, seolah sesuatu baru saja merenggut hal penting dalam dirinya. Wajahnya memerah menahan geram dengan kepala tertunduk tipis.


"Ji Qinglan, cepat sadar! Tadi itu hanya ilusi." Lin Mu mengguncang kedua pundak gadis di depannya sedikit keras.


Faktanya, saat ini tubuh mereka tak lagi polos. Busana yang mereka kenakan masih lengkap seperti semula. Juga ... mereka kembali ke tempat yang sama--bangunan lapuk di tengah hutan.


Qinglan mengangkat wajah menatap Lin Mu. "Ilusi? Tapi kenapa rasanya seperti sungguhan?" Ia bertanya gamang.


Lin Mu beringsut mendekat. Dipegangnya kedua lengan Qinglan untuk meyakinkan asumsinya. "Mungkin karena penggabungan kekuatan Qi yang murni. Sehingga kita mengalami kesadaran spiritual alam bawaan!" terangnya menggebu.


Sepasang mata Qinglan melebar sekali lagi. Kedua tangannya masih diam tersilang di depan dada.


Kesadaran spiritual? tanyanya dalam hati. "Jadi tadi itu ... alam bawaan?!"


Sesaat Lin Mu mendesah. Kali ini tatapannya ia turunkan ke bawah membentur lantai usang yang menjadi salah satu saksi segala lakonnya di tempat itu.


"Benar. Alam tahap penggabungan ada tiga alam utama. Paling dasar alam roh, selanjutnya alam bawaan." Sejenak diam untuk mengambil napas. "Sekali masuk ke alam bawaan, akan menghasilkan kesadaran spirutual," jelasnya seraya mengangkat kembali tunduk wajahnya menatap Qinglan.


Sedang gadis itu masih diam memperhatikan dan menyimak, seraya berusaha mencerna tiap bait kalimat Lin Mu.


"Dengan pengertian mendalam tentang kesadaran spiritual tentu saja. Hal itulah yang menyebabkan kita tiba-tiba telanjang." Lin Mu menandaskan penjelasannya. Ia lalu tersenyum--senyuman simpul.


Berdasarkan pengetahuanku tentang dunia Xiuzhen, tadi itu pasti kesadaran spiritual, sambungnya dalam hati.


Itu artinya ... Lin Mu menang banyak hari ini.


Hahaha!


Ji Qinglan mengalihkan kedua tangannya menyentuh wajahnya. Masih belum ada hal perihal tanggapan yang bisa disimpulkan dari sorot matanya.


"Namamu Lin Mu, 'kan?" Tiba-tiba saja gadis itu bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Betul, kenapa?" jawab Lin Mu seadanya.


"Itu ... umm ...." Raut wajah Qinglan dalam sekejap menunjukkan keraguan. Untuk menetralisir perasaannya, ia mengalihkan tatap ke sembarang arah. "Apa kamu sudah punya pacar?!" Dan langsung memejamkan mata setelah pertanyaan itu ia lontarkan.


"Pacar?" Kening Lin Mu mengernyit menanggapi. "Untuk apa kamu bertanya hal ini?" tanyanya penasaran juga.


"Beritahu saja padaku! Sebenarnya ada atau tidak?!" teriak Qinglan seraya mencondongkan tubuhnya ke depan Lin Mu seolah akan menelannya hidup-hidup.


Secara refleks Lin Mu memundurkan tubuhnya, namun tanpa berubah posisi, hanya sedikit mementalkan punggung belakang. "Ti-tidak ada!" jawabnya terbata. Matanya masih terbelalak menyikapi perubahan sikap Qinglan yang mirip seekor kambing yang akan melahirkan, menurutnya.


"Benar tidak ada?!" tanya Qinglan seraya mengangkat bangkit tubuhnya lalu berdiri dan berkacak pinggang.


"Iya! Tidak ada! Untuk apa aku membohongimu!" Lin Mu meyakinkan dramatis.


Tak cukup dipahaminya, mengapa tiba-tiba pembicaraan masalah kekuatan yang beberapa saat lalu mereka lakukan, menjadi berbelot pada bahasan tentang pacar?!


Wanita itu kenapa?


Apa dia sakit?


"Sebaiknya kamu tidak membohongiku!" sembur Qinglan lagi--masih berkacak pinggang. Wajahnya saat ini persis menyelarasi ibu-ibu kost yang menagih paksa uang sewa kamar. Bahkan dada jumbonya sampai ia busungkan ke depan, seperti turut mengancam. "Atau aku tidak akan melepaskanmu!"


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang ini?!" Lin Mu bertanya ingin tahu, kemudian mengangkat tubuhnya untuk berdiri.


Mata coklat pekat milik Qinglan menatapnya tegas. "Kakek bilang ... tubuh diberikan ke siapa, arinya harus menikah dengan siapa! Maksudku ... pria yang sama," tuturnya menjelaskan. "Dan jika tidak bisa menikah dengan pria itu ... maka Kakek bilang ... harus membunuh pria itu." Kalimat terakhir sedikit menyiratkan rasa tak nyaman.


Tidak ada respon terkejut, kepala Lin Mu manggut-manggut menyetujui argumen itu. "Menurutku perkataan kakekmu itu sangat masuk akal. Anak perempuan memang seharusnya ...."


JRENG JRENG JRENG


Wait a minute!!


Ekspresi wajah Lin Mu berubah menegang. "Tunggu, Qinglan!" cegatnya. Kedua matanya seakan tercongkel lepas keluar, lengkap dengan mulut menganga--bahkan sebelum ia meneruskan kalimatnya. Setelah dicerna sesaat, maksud dari penuturan Qinglan ....


"Kamu tidak akan menikah denganku, bukan?!" tanyanya memastikan. "Kamu tidak memberikan tubuhmu padaku!" Ia menegaskan.


Namun sepertinya perkataan Lin Mu tak cukup sedap di telinga sang bersangkutan. Dalam sekejap, atmosfer kelam menyelubung sekitaran.

__ADS_1


Dalam penglihatan Lin Mu, di tengah gejolak pikir yang tak bersahabat dengan ketenangan, wujud Qinglan seakan berubah menjadi sesosok moster dengan ukuran tubuh sama besar dengan Buddha Amitabha. Di kepalanya terdapat sepasang tanduk merah menyala menyerupai iblis. Bersayap seperi kelelawar dan gigi tajam yang menakutkan. Lengkap dengan tombak dengan tiga busur runcing di ujungnya--siap menghujam jantungnya yang hanya sebesar upil.


Menyeramkan!


"Kamu sudah melihat dengan jelas seluruh tubuhku! Jadi kamu harus bertanggung jawab! Jika tidak ...."


GROAAARRR


Erangannya bahkan terdengar mengerikan di telinga Lin Mu.


"Aku bukan ... aku tidak ...," katanya tergagap seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan dada. "Tadi itu hanya ilusi dari kesadaran spiritual! Jadi tidak bisa termasuk!" ujarnya berusaha meyakinkan.


Sebutir keringat menggelinding melewati pelipis. Entah kenapa ia merasa tak berdaya kali ini.


"Huh! Apa menurutmu aku tidak tahu kesadaran spiritual itu apa?!" Qinglan menghardik tajam. Sinkron dengan sorot matanya yang juga tak kalah tajam. "Apa yang kamu lihat melalui kesadaran spiritual, jelas lebih nyata dibandingkan mata telanjang!" Deru napasnya semakin tak beraturan.


Sepasang tangannya yang mengepal ia lipat kembali di depan dada. "Keluarga kami juga telah menghasilkan orang hebat melalui alam bawaan! Aku pernah melihat catatannya!" Qinglan menjabarkan.


Kali ini Lin Mu hanya bisa berdesah pasrah. Ia tertunduk di antara kekalahan yang konyol.


Sepertinya tidak dapat menipunya, kata hatinya menyesalkan.


"Bagaimana pun juga kamu harus menikahiku!" Qinglan mulai mendesak. Sorot mata tajamnya bercampur pendirian yang akan sulit dipatahkan.


"Pernikahan adalah hal yang sangat serius!" Lin Mu menyela. "Bagaimana kalau kita tidak cocok?!"


Dan pertanyaan itu justru berhasil merubah raut wajah Qinglan menjadi lebih redup.


"Kakek berkata, menikah dengan ayam mengikuti ayam, menikah dengan anjing mengikuti anjing, menikahi pengemis maka akan berjalan di jalanan," tuturnya dengan senyuman ringan.


Untuk sejenak Lin Mu membatu menanggapi statement sialan itu. Kemudian menutup matanya setelah meraup sedikit udara.


"Sepertinya kakekmu telah mengajarimu banyak hal. Lalu apalagi yang dia katakan?" tanyanya dengan nada datar.


Laju dengan antusias disambut Qinglan, "Kakek juga berkata ... menikah juga tidak boleh terlalu awal. Paling cepat tunggu sampai aku lulus. Sampai sebelum harinya, banyak-banyak berkomunikasi dulu dengan pasangan."


Dan kalimat tandas Qinglan tersebut berhasil membuat Lin Mu mengendurkan pundaknya yang tegang dengan tarikan napas lega.

__ADS_1


Aku pikir harus hari ini menikahinya. Untung saja sesudah lulus. Fiuh ....


__ADS_2