
Keesokan harinya ....
Cerah matahari mulai naik menyiram kiprah hari dengan kehangatan. Pagi-pagi di waktu sebelum jam kuliahnya, Lin Mu berjalan di antara hiruk pikuk orang berlalu lalang, menuju kampus tentu saja.
"KAK LIN, BERHENTI SEBENTAR!"
"Eh!" Tungkai terayun sepasang kaki Lin Mu terjegal. Rambut lembut hasil keramas pagi tadi nampak melecut seiring gerak menoleh, menyongsong asal panggilan. "Ternyata kamu, Gendut."
Xing Weilong, berjalan tergesa mendekat ke arahnya. Tampilan hidung diplester, juga tangan diperban yang tersangga sehelai kain yang dikaitkan ke leher, menjadikan sosok gempalnya sedikit naas.
"Hehe. Terima kasih banyak atas bantuan kemarin malam," ucapnya lengkap dengan senyuman mengembang. "Selanjutnya masalah Kak Lin adalah masalahku! Dan kamu tidak boleh menolak!"
Menanggapi ekspresi wajahnya saja sudah membuat Lin Mu tergelitik. "Tidak apa-apa. Aku hanya menggerakkan tangan saja. Tidak perlu begitu berlebihan."
"Kak Lin, tapi pergerakan tanganmu itu, telah menyelamatkan nyawaku!" kata Weilong dengan wajah penuh syukur. Ia lalu merundukkan tubuh, menekuk lutut, lalu turun dan bersimpuh di bawah kaki Lin Mu. Menumpukan satu tangannya ke tanah, si tambun itu kemudian bercakap, "Terimalah hormatku! Mulai hari ini aku--Xing Weilong, akan mengikuti Kak Lin seterusnya."
Merasa itu bukan pemandangan manis, Lin Mu menarik bangkit tubuh pemuda berbadan gempal itu dari simpuhnya. "Cepat berdiri! Tidak usah seperti ini!" tegurnya. "Apa asal-usul orang yang akan membunuhmu?!" Pertanyaan ingin tahu itu terlontar setelah Weilong tegak berdiri.
"Mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Anji. Mereka mengejarku karena aku menyinggung pimpinan cabang Pi Hongxing. Jadi mendatangkan musibah," jelasnya.
Lin Mu menggerakkan gestur mengajak, lalu keduanya mulai berjalan menuju ke arah universitas.
Di tengah obrolan di jarak mulai mendekati kampus, tiba-tiba ....
"Hey, hey! Di depan pagar kampus ada keramaian!" Seorang pemuda bercelana pendek dengan kaos hitam oblong, berseru seraya menepuk pundak pemuda lainnya--tepat di belakang Lin Mu dan Weilong.
"Ayo cepat, aku ingin lihat! Kalau tidak, tidak akan keburu!"
Lain dengan Lin Mu yang menanggapi datar seolah tak mendengar, Weilong justru tanggap dan penasaran. Ditariknya lengan salah satu dari dua pemuda tadi, untuk menghentikan langkah, demi mendapatkan jawaban dari keingintahuannya. "Permisi, ada keramaian apa?"
Dan disambut hangat oleh yang ditanya, "Berita besar! Wanita es Ji Qinglan, mau berkelahi dengan orang. Mereka bilang lawannya sangat cantik!"
Ji Qinglan?! Lin Mu menanggapi cukup terkejut. Bagaimana dia bisa berkelahi dengan orang?
"Kak Lin, ada tontonan menarik! Ayo kita juga lihat!" ajak Xing Weilong bersemangat.
Sejenak Lin Mu terdiam. Menatap jalanan di depannya dengan perasaan tak nyaman. "Aku tidak tertarik. Kamu pergi saja sendiri."
Namun tak diduga, Weilong sama sekali tak mendengarkan putusannya. Si gendut itu justru menariknya untuk pergi dengan cara paksa. "Sekarang tidak ada urusan, 'kan? Kita ramaikan saja!"
"Eh, jangan tarik-tarik! Aku bisa jalan sendiri!" Lin Mu berteriak menghardik.
Di keriuhan halaman luas universitas.
"Apa yang terjadi?" Salah satu penonton--anggap saja begitu, bertanya ingin tahu.
"Tidak tahu! Mereka berdua begini terus sedari tadi!" Lainnya menjawab.
Ji Qinglan, berdiri berhadapan lurus dengan seorang wanita cantik berambut ungu. Tidak ada gerakan, timpuk-timpukan, atau jambak-jambakan, keduanya hanya diam saling bertatap tajam, seolah perkelahian itu diwakili hanya dengan tatapan mata.
"Ayo pukul! Jangan saling pandang saja!"
Orang-orang yang mengelilingi mereka mulai berteriak mengompori.
Weilong dan Lin Mu, mulai bergabung menyelinap ke tengah mereka demi mendapatkan jarak pandang yang jelas atas sesuatu apa yang sedang terjadi.
"Beri jalan!" Weilong berseru seraya menyibak kerumunan, bertingkah layaknya bodyguard bagi Lin Mu.
Setelah di depan, pemandangan itu jelas tertangkap netra hijau Lin Mu. Ia bisa melihat siapa yang berdiri berhadapan tatap dengan Qinglan.
__ADS_1
"Nona Situ."
...( Eps - 55 )...
...________...
"Hehe, cantik sekali," komentar seorang mahasiswa seraya menatap ponselnya dengan wajah termehek-mehek. Dua temannya mengapit kiri dan kanan ikut memandang ke titik yang sama.
"Tampaknya posisi bunga kampus harus sudah diubah."
Potret seorang gadis cantik dengan senyuman manis--yang tak lain adalah Situ Xiu, berhasil menghebohkan jagat Universitas Donghai. Seperti ledakan bom, kedatangan gadis itu membuat situasi gempar dalam waktu singkat, menelan habis semua perhatian.
Di waktu bersamaan ....
"Ada apa dengannya?" tanya Situ Xiu pada ketiga temannya--Song Yuru, Zixi, juga Xuanrong, yang saat ini duduk menemaninya di lingkaran kursi sebuah kafe, tak jauh dari kampus, pandangannya jatuh pada Ji Qinglan yang saat ini berdiri berhadapan di suatu sudut dengan Lin Mu.
"Namanya Ji Qinglan, dengan julukan wanita es di universitas," Yuru mengambil jawaban.
"Wanita es?" Situ Xiu bertanya aneh. "Sepertinya dia biasanya sangat dingin," ia berkomentar datar, lalu kembali menoleh ke arah yang juga menjadi titik pusat pandangan ketiga temannya.
....
"Mu, aku membawa bekal, ayo makan bersama." Ji Qinglan, dengan wajah malu-malu menyodorkan sebuah kotak yang terbungkus dengan kain berwarna merah muda berisi makanan, pada Lin Mu.
"Terima kasih, Qinglan. Tapi aku tidak dapat menghabiskan ini semua." Lin Mu menjawab tak enak.
Di posisinya, Xiu kembali berkomentar, "Tidak. Kelihatannya seperti dia gadis yang ramah."
"Dia hanya begitu terhadap Lin Mu. Di hadapan orang lain tatapannya seperti es." Dengan tampang tak suka, Zixi menghalau.
"Tidak! Mana ada, jangan bicara sembarangan!" Zixi menerjang kilah lebih dulu dengan nada keras.
"Be-benar, mana mungkin kami menyukainya," Xuanrong menimpal tergagap.
"Tidak mungkin terjadi!" Disambung Song Yuru yang memasang wajah tak kalah tegang.
"Hahaha!" Xiu tergelak menanggapi. "Jangan tegang begitu! Aku hanya bercanda!"
....
Kembali pada Lin Mu dan Qinglan.
"Permisi! Apakah Anda Tuan Lin Mu?!"
Eh?
Suara bass yang warnanya menyerupai tokoh Patrick dalam animasi Spongebob itu berhasil menggoyah ruang privasi Lin Mu dan Qinglan. Keduanya spontan menoleh bersamaan guna melihat wujud si pemilik sapa.
Seorang pria berbadan kekar dan besar, berjas hitam, juga kumis tebal yang semakin menambah kesan seram dalam dirinya, didampingi satu pria kurus berbusana serupa di belakangnya.
"Ada apa?" Qinglan memilih bertanya lebih dulu. "Tidak lihat kami baru mau makan?!" hardiknya tak suka.
"Maaf, mengganggu acara makan kalian," kata pria kekar itu. "Ada masalah penting. Ketua kami memiliki masalah yang ingin dibicarakan dengan Tuan Lin Mu," ungkapnya langsung saja.
Untuk sejenak Lin Mu menelisik orang itu. Pria ini berbadan kekar dan luar biasa. Tidak kelihatan seperti orang yang mencari masalah.
"Siapa ketua kalian?" tanyanya tentu saja ingin tahu.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak datang sendiri?!" Qinglan menyela kasar.
"Ini ...." Dari sirat wajahnya, pria kekar itu cukup bingung menanggapi pertanyaan Qinglan.
"Qinglan, kamu jangan membuat dia susah," sela Lin Mu seraya memberikan tepukan penenang di punggung Qinglan. Ia menyadar jelas ekspresi gamang pria berkumis di depannya. "Mungkin memang ada masalah! Aku akan pergi melihatnya dulu," putusnya.
"Terima kasih pengertian Tuan Lin Mu," ujar si pria kekar seraya membungkukan setengah tubuhnya. "Kalau begitu silahkan ikut denganku!"
Lin Mu mengangguk ringan tanda menyetujui, lalu kembali memandang Qinglan yang masih menunjukkan sikap keberatannya.
"Hati-hati," ucap Qinglan berat hati.
"Jangan khawatir. Apa kamu masih tidak percaya dengan keahlianku?"
....
Tapak kaki Lin Mu terayun tenang mengikuti dua orang pria di depannya.
Sebuah mobil BMW berwarna legam sudah terparkir di depan sana, siap menelan mereka.
"Tunggu sebentar!" Pria kekar itu mencegah di beberapa jarak singkat dari mobil itu. "Aku akan memberitahu Ketua dulu."
Lin Mu menuruti. Ia terdiam berdiri tepat di garis putih jalanan--menunggu.
"Ketua! Lin Mu sudah datang," kata si pria kekar memberitahu dengan bungkuk badannya pada seorang pria yang duduk di jok belakang BMW itu.
"Biarkan dia naik ke mobil!" titah pria yang disebutnya ketua tersebut.
Setelah menerima gestur dari pria kekar yang jelas adalah seorang pesuruh itu, untuk mempersilahkannya masuk ke dalam mobil, Lin Mu menurut tanpa banyak kicau atau desisan.
"Mu, apa kamu masih ingat padaku?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut pria berkacamata yang disebut ketua itu, tepat setelah Lin Mu mengambil posisi duduk di sampingnya.
Untuk sejenak Lin Mu berpikir seraya menatap pria itu dengan tatapan menelisik tipis.
"Jika tidak salah ... Anda adalah ayah petugas Wang, bukan?" tanyanya memastikan.
Ya, ia pernah bertemu orang itu saat kunjungan keduanya pada Wang Xiqing di rumah sakit saat itu.
"Baru bertemu sekali sudah ingat? Ingatanmu sangat bagus," pria itu memuji.
"Tidak seperti itu, Paman. Biasa saja," Lin Mu membalas tak nyaman.
"Mu, berkat bantuanmu ...."
Selebihnya pria ayahnya Polisi Wang itu terus berceloteh tentang tindak tanduk penyelamatan yang dilakukan Lin Mu terhadap putrinya, dengan penuh rasa syukur dan terima kasih.
"Paman terlalu berlebihan. Petugas Wang adalah temanku. Dia ada masalah, aku harus menolongnya," tutur Lin Mu sedikit sungkan. "Jadi bagaimana tahap penyembuhannya sekarang?"
Ayah Wang kemudian menjawab, "Dia sudah pulih. Juga menitipkan pesan, agar kamu datang ke rumah jika ada waktu."
"Tidak masalah! Beberapa hari nanti aku akan datang menjenguknya," ujar Lin Mu dipulas senyuman renyah.
"Bagus kalau begitu. Kamu harus berjanji, ya?" Ayah Wang dalam mode penuh harap.
Disambut Lin Mu dengan anggukan pasti.
Sejenak diam seperti tengah menyusun beberapa untai kata, lalu melontarkannya sesaat kemudian. "Paman mencariku ada apa? Katakan saja!"
Ini jelas bukan hanya bahasan tentang Petugas Wang, Lin Mu menyadari. Sepertinya memang tidak sesederhana itu.
__ADS_1
"Benar. Aku tidak akan menyembunyikannya lagi." Pria itu tersenyum, lalu menggerakkan gestur memerintah pada anak buahnya agar mobil dilajukan segera. "Masalahnya begini ...."