
Malam harinya ....
Beriringan dengan Xing Weilong, Lin Mu tengah berjalan menyusur sehamparan lantai berkramik abu di dalam sebuah gedung mahaluas.
"Gendut, sebenarnya mau kemana?" tanya Lin Mu ingin tahu. Pasalnya, Xing Weilong yang mengajaknya bergerak keluar malam ini. "Misterius sekali," dengusnya sedikit kesal, karena sahabat barunya itu terus saja tak mau menjawab.
"Kak Lin tenang saja! Sebentar lagi juga akan tahu," jawab Weilong tenang saja. Pipi gembulnya tertarik-tarik karena senyuman.
Tak jauh di depan mereka, dua orang pria berjas hitam seragam berjaga masing-masing di kiri dan kanan sebuah pintu kembar berukuran raksasa. Dan pintu itulah yang lurus dituju Weilong dengan segala teka-teki bodohnya.
Setelah mendekat ...
"Silahkan masuk," kata dua penjaga pria itu dengan nada serempak seraya mengarahkan tangan ke arah daun pintu yang secara otomatis tersibak lebar, menyambut Lin Mu dan si Gendut tanpa tegur atau pemeriksaan yang berarti.
Dari beberapa jarak saja, suara riuh telah terdengar menggaung memenuhi gedung. Banyak orang telah memadati ratusan kursi di dalamnya.
Ternyata acara malam amal, kata hati Lin Mu setelah membaca tulisan besar yang terpampang di layar besar di atas panggung megah yang berkilauan.
"Gendut, aku tidak menyangka kamu ada minat pada acara seperti ini?" Lin Mu bertanya tak percaya. Siapa pria itu juga perangainya ia tahu jelas, mengapa tiba-tiba jadi lembut seperti itu?
Hmm ....
Biar saja angin yang menanggapi rasa ingin tahunya secara mendalam.
"Kak Lin, ini bukan acara malam amal biasa," sahut Weilong dengan senyuman masih penuh teka-teki. "Pokoknya kamu akan segera tahu!"
Belum sempat Lin Mu menyambar kalimat lanjutan, ia merasakan ada yang tak beres di sisi kanan tubuhnya. "Eh!" pekiknya pelan saja.
Apa yang terjadi? tanya hatinya bingung. Cincin ini tiba-tiba ....
Ia merunduk ke samping kanan bawahnya menatap telapak tangannya yang tergantung, di mana cincin yang melingkar di jari telunjuknya tiba-tiba memunculkan reaksi aneh. Terang memancarkan cahaya putih dan biru menyilaukan mata.
Weilong menyadari perubahan ekspresi Lin Mu. "Kak Lin kenapa? Wajahmu tiba-tiba pucat!" tanyanya ingin tahu.
Gegas tangan bercincin itu disembunyikannya ke balik punggung. Lin Mu menoleh pria tambun di sampingnya dengan tatapan seperti orang kebelet. "Ahaha, mungkin aku salah makan," kelakarnya garing. "Toiletnya di mana?"
__ADS_1
Meskipun cukup bingung, Weilong berusaha percaya saja. "Toiletnya di depan." Kernyitan tebal bergaris di kening lebarnya.
Mengikuti kemana wajah Weilong mengarah, Lin Mu lantas berujar, "Kamu tunggu di sini, aku akan segera kembali." Lalu melanting pergi meninggalakan Weilong di antara sirat herannya.
Beruntung, pancaran lampu-lampu di atas pentas yang memendar ke segala arah, cukup menyamarkan cahaya yang keluar dari cincinnya, sedikit menolong hingga tak menimbulkan perhatian sekitar.
Di dalam toilet ....
"Sialan!" umpat Lin Mu sembari memandangi cincinnya yang terus bereaksi.
Bukan hanya mengeluarkan cahaya, benda itu juga bergerak-gerak seperti berusaha melepaskan diri dari jarinya.
"Apa yang terjadi?!" tanyanya jelas tak akan ada yang menjawab. Ruangan itu nampak sepi, selain satu kubikel paling sudut yang nampak tertutup.
Sekujur tubuh Lin Mu mengeluarkan keringat dingin. Tak lepas dipandanginya cincin berukir aneh yang masih melingkar di telunjuknya itu, dengan tatapan tak paham. Entah sesuatu apa yang bisa menjawab kebingungannya.
Cincin ini berusaha melepaskan diri. Jika aku tidak menggunakan kekuatan Qi untuk menahannya, tidak tahu apa yang akan terjadi!
Sorot hijau matanya berkilat-kilat seperti mencemaskan sesuatu.
Untuk mendapatkannya, aku hampir mati di dunia Xiuzhen. Tidak boleh terjadi apa-apa.
Di saat yang sama, pintu kubikel yang dimasukinya tiba-tiba terketuk dari luar.
"Lin Mu! Aku tahu itu kamu! Keluarlah!"
Suara perempuan, batin Lin Mu. "Siapa?!" serunya menyahuti.
Tak ada jawaban.
Pemuda itu kemudian keluar untuk memastikan, dan ....
"Nona Situ, kenapa ada di sini?!" tanyanya sedikit terkejut.
Situ Xiu dengan sintingnya berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Dengan gegas, Lin Mu menyembunyikan tangan yang terpasang cincin itu ke balik punggungnya.
"Di sini toilet pria," katanya mengingatkan Xiu.
"Toilet pria ...." Wanita itu tersenyum kecut. "Lalu kenapa? .... Lagi pula tidak ada orang lain," katanya ringan saja. "Ngomong-ngomong, Tuan Lin juga berminat dengan acara malam amal?"
Lin Mu tersenyum menanggapi itu. "Bukan, Gendut yang membawaku ke sini," ungkapnya, lalu sambung bertanya, "Nona Situ ada keperluan apa?"
Pertanyaan Lin Mu sepertinya cukup menyentak. Xiu mulai mengingat tujuannya menghampiri Lin Mu, bahkan hingga rela masuk ke dalam toilet pria yang jelas bukan ranahnya.
"Tadi pagi Yan Langshi mengira salah dengan hubungan kita berdua. Seperti dia akan segera membalasmu!" ungkapnya dalam sekali tarikan napas.
Lalu dengan santainya Lin Mu menanggapi, "Maksud Nona Situ ... orang yang tadi pagi menembakmu di depan sekolah itu?"
Berbeda dengan sikap santai Lin Mu, Situ Xiu menyemburkan ekpsresi kelam. "Lin Mu! Kamu jangan berpura-pura!" hardiknya seraya menarik keras kerah baju yang dikenakan Lin Mu. "Kamu pasti bisa merasakan aura membunuhnya! Iya, 'kan?!"
"Benar! Aku dapat merasakannya. Trus kenapa, Nona Situ?" jawab Lin Mu ringan saja.
Xiu menyergah marah, "Jika itu tombak dan pedang, dia seharusnya bukan lawanmu!" Jelas wajah cantik itu menunjukkan kecemasan yang membumbung. "Dia pintar bermain trik! Aku takut kamu akan kehilangan nyawamu!"
Ya ....
Entah ancaman jenis apa yang akan menghentak Lin Mu hingga mencuatkan rasa takutnya, peringatan keras Situ Xiu sama sekali tak berpengaruh baginya. Bukannya gemetar, Lin Mu malah berimbuh santai dilengkapi senyuman manis, "Tidak kusangka Nona Situ begitu mengkhawatirkan keselamatanku. Aku merasa tersanjung."
Sadar ekspresinya terlalu berlebihan, Xiu menarik gegas cengkramnya dari kerah baju Lin Mu dipulas wajah kikuk. "Sayangnya ... aku tidak akan peduli padamu, jika tidak membutuhkan bimbinganmu."
Dari ekspresi wajah cantik itu, Lin Mu bisa menilai; Ada kebohongan! Hehe.
"Terima kasih atas peringatan Nona Situ. Aku akan berhati-hati," ucapnya kemudian.
"Apa yang sudah aku katakan, sudah aku katakan," tutut Xiu kembali pada mode suara datar. "Jaga dirimu baik-baik."
Setelah mengangguki, Lin Mu menuntun Xiu untuk keluar beriringan dengannya, lalu ....
"Eh!" Seorang pria berambut kuning plontos, beranting satu di kanan daun telinganya, terbelalak menilai gelagat Lin Mu dan Situ Xiu yang baru saja melangkah mencapai ambang pintu keluar.
__ADS_1
Begitu terburu-buru ... di toilet pria pun jadi! decit hati orang itu--jelas mengarah pada hal-hal absurd yang tak senonoh menurutnya.
Lin Mu menolehnya dengan tatapan sedikit tak nyaman, lalu gegas keluar berusaha tak peduli.