
Setengah jam kemudian ....
Ini dia ... Yinghuang Zhaoge. Berdiri menjulang menatap sehelai pintu kaca sebuah bangunan di depannya, Lin Mu telah sampai di tempat yang disebutkan oleh orang yang mensabotase telepon Zhou Shiyun.
Dengan langkah mantap, didekatinya pintu yang dijaga seorang pria berambut kuning, rapi dengan setelan jasnya tersebut.
"Hey, hey, siapa kamu?! Apa sudah ada reservasi?" tanya pria penjaga itu seraya membentangkan satu tangannya menghalangi Lin Mu tepat ketika pemuda tampan itu hendak masuk.
"Aku mau bertemu dengan bosmu, bawa aku padanya!" jawab Lin Mu dengan wajah kelamnya.
"Siapa kamu?! Bosku bukan orang sembarangan yang bisa dengan mudah ditemui!" Penjaga itu terus menahan.
"Bosmu yang memintaku untuk datang!" bentak Lin Mu meradang.
"Aaarrggh!" Penjaga muda itu berteriak kesakitan, sesaat ketika Lin Mu memelintir pergelangan tangannya penuh emosi.
"Jika kamu tidak mau bekerja sama dan terus menunda waktuku, kamu akan menanggung akibatnya!" Ancaman keras Lin Mu.
"Aarrgh, sakit!" pekiknya lagi. "Baik, aku akan mengantarmu!" katanya kemudian. Tentu karena tak ingin tangannya dibuat patah sia-sia oleh Lin Mu.
Lin Mu melepaskan cengkramannya secara kasar. Untuk saat seperti ini, jangan dulu bermain-main, atau siapa pun akan merasakan tangan kasarnya tanpa pandang bulu.
Siapa sebenarnya dia? Batin pria penjaga sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang sakit seraya melangkah menuntun Lin Mu menapaki lantai mewah bangunan itu.
Di depan sana, sehelai pintu klasik nampak terbuka seperempatnya saja. Si penjaga mengetuknya dengan kepala sedikit melongok ke bagian dalam. "Bos, ada orang yang mencarimu!" serunya memberitahu.
Lin Mu tak mau menunggu hal remeh apa pun. Ia menerobos sebelum orang di dalam ruangan menyahuti laporan si penjaga.
"Apa kamu Lin Mu?" Seorang pria berkepala plontos tanpa rambut serta dagu yang ditumbuhi bulu-bulu tipis hingga ke bawah rahangnya, duduk santai di sebuah sofa. Di sampingnya, Zhou Shiyun terduduk dengan tubuh dan kedua tangan terikat ke belakang juga mulut tertutup lakban.
"Hmm, hmm!" Wanita dokter itu bergeliat-geliut berharap dilepaskan, setelah dilihatnya Lin Mu sudah berdiri di hadapan pria botak--dalang penculikan yang menimpanya.
Ternyata Dokter Zhou ada di sini, batin Lin Mu sekilas menoleh wanita itu.
"Tidak peduli apa pun tujuanmu! Lepaskan dia sekarang!" Lin Mu berteriak dalam murkanya. Sepasang matanya keruh sepenuhnya. Ia benar-benar marah kali ini. "Keparat, beraninya terhadap wanita!"
__ADS_1
Pria botak dengan brewok tipis itu tertawa. "Kupikir orang hebat itu seperti apa, ternyata hanya seorang bocah berkulit pucat," oloknya senang. "Uang ini gampang sekali dihasilkan."
Lin Mu menatapnya dengan mata menyipit. Belum satu pun kata keluar dari mulutnya. Sampai beberapa saat kemudian, sekisah pergerakan dirasakannya dari balik punggung. Tanpa merotasikan penuh kepalanya, Lin Mu menolehnya tipis saja.
Didapatnya ....
Sedikitnya sembilan orang pria kekar sudah berjejer di belakangnya, mengepung.
Kembali menghadapkan wajahnya ke depan, sejenak memejamkan mata, Lin Mu lantas berujar, "Aku tidak ingin membuang waktu di sini. Maju semuanya!"
Tantangan itu mendapat sambutan senyum dari orang-orang itu. Tentu selain menang jumlah, dilihat dari sisi mana pun, Lin Mu tetap terlihat hanya seekor kelinci kecil yang lugu di mata mereka.
Di posisi santainya, si pria botak lalu berkicau, "Sombong sekali!" Lantas menyandarkan punggungnya setenang mungkin ke badan sofa. "Kamu akan segera tahu kekuatan--"
....
"Kami."
Dengan suara gamang juga mata melebar, pria botak itu melanjutkan kalimatnya. Tak sampai tiga detik, bahkan belum kering lidahnya bertutur, Lin Mu sudah melibas habis beberapa orang-orangnya tanpa gerakan yang berarti.
GEDEBUUUGGG
"Apa yang baru saja dia lakukan?!" Seorang pria yang belum sempat menyerang, berseru bingung. Dalam sekejap, teman-temannya sudah terkapar tanpa bergerak lagi di beberapa titik.
"Kenapa kalian bengong saja!" Sang boss menyerukan anak buahnya yang tengah terjebak dalam mode tolol itu penuh kesal. "Serang bersamaan!"
Mendengar demikian, sisa dari pria-pria itu mulai maju memasang antisipasi dan gestur siap menyerang.
Yang kemudian ditanggapi Lin Mu dengan senyuman remeh. "Huh, sekelompok burung," ejeknya, lalu bersiap memasang kuda-kuda.
"Jangan senang dulu, Anak Muda! Aku tidak percaya dengan banyak orang yang tidak dapat mengalahkanmu!"
"Terima ini!"
"Kepung dia!"
__ADS_1
Kicau-kicau itu ditanggap Lin Mu lagi-lagi dengan senyuman sinis. "Tak berguna!"
"Kyaaaakk!"
WUSSSHH
"Eh, tidak kena!" Sepasang mata salah satu pria itu terbelalak. Tinju yang dihantamkannya tepat di bagian wajah Lin Mu, hanya menantang udara kosong. Padahal ia berpikir tadi itu pukulannya sudah sangat pas kemana mengarah.
Lin Mu tiba-tiba menghilang. Tubuhnya berubah menjadi asap hitam yang mengepul tanpa bayangan. Orang-orang itu dibuatnya kebingungan. Berkeliling sekonyong-konyong dengan tampang bodoh.
"Kalian sedang cari apa?" Suara itu mengudara tanpa wujud. Dan mulai kentara lima detik kemudian. "Aku di sini!"
"Apa?!"
Di posisinya, Zhou Shiyun menatap takjub.
Lin Mu ahli dalam kekuatan qi. Menghadapi bajingan-bajingan ini, pasti hanya masalah kecil baginya.
"Aaarrggh!" Satu persatu pria pesuruh itu mendapat hantaman tinju Lin Mu yang berkeliling cepat seperti tornado.
BRUK
BRUK
BRUK
Semua terkapar hanya dalam hitungan tak sampai lima detik saja. "Lemah sekali!" oloknya seraya membenarkan ujung tangan kemejanya.
Sejurus pandangnya lalu jatuh pada Zhou Shiyun. Lin Mu melangkah menghampiri wanita itu gegas. "Dokter Zhou maaf, aku datang terlambat dan membuatmu menderita," ucapnya sembari melepas tali yang mengikat tubuh dan kedua tangan wanita itu.
Si pria botak masih belum berkedip dalam keterkejutannya. Diedarnya pandang menyapu sekeliling tempat di mana seluruh anak buahnya terkapar tak berdaya menggelimpang memenuhi lantai ruangannya. "Ba-bagaimana bisa? Dalam waktu singkat merubuhkan semua bawahanku."
Lin Mu lalu menanggapi, "Hehe, salahkan saja mereka karena terlalu lemah. Apa kamu sedikit lebih kuat daripada mereka?" tanya pemuda itu sedikit dengan nada mengolok.
Walaupun cukup ketakutan, Pak Tua botak itu mencoba mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Telapak tangannya tak lagi kosong, setelah mengambil sesuatu dari balik punggungnya. "Bocah tengik, apa kungfu-mu tidak terkalahkan? Aku tidak percaya kamu lebih cepat dari peluru!"
__ADS_1