Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 47


__ADS_3

"Mu, kamu sedang lihat apa?" Hentak kejut suara Song Yuru berhasil merenggut perhatian Lin Mu dari sejurus tatapnya yang mengarah geming pada wanita bergaun kuning.


"Uhh, tidak," kilah Lin Mu sedikit tak nyaman. "Baiknya kita cari tempat duduk dulu," katanya menyarankan, sebagai bentuk peralihan.


Semua mengangguk menyetujui.


Hampir semua lingkaran kursi telah dalam keadaan terisi. Keempatnya masih mencari, dan berhasil menemukan di waktu tiga puluh detik kemudian.


"Kita duduk di sana sini saja!" ujar Xuanrong seraya menunjuk sepaket kursi yang masih kosong, sedikit menjorok ke belakang dengan satu pilar besar di samping kirinya. Keempatnya merendahkan tubuh, duduk di sana, dengan sisa dua kursi kosong di sisi Lin Mu dan juga Yuru.


"Mu, kamu melihat nona yang di sana tanpa berkedip." Zixi, seperti biasa akan selalu menjadi komentator paling kritis.


"Aku tidak ...." Kalimat balasan Lin Mu kemudian terpotong, oleh dengking suara cakap melalui microfon di atas pentas.


"Mohon perhatiannya para hadirin!" Seorang pria berjas hitam selaku pembawa acara, menghimbau dari kiri pentas. Sedang di tengahnya, wanita cantik bergaun kuning yang sedari tadi ditatap Lin Mu, berdiri percaya diri lengkap dengan senyumnya.


"Bukankah itu Situ Xiu?!" decit Zixi lagi-lagi. "Wanita yang terus menerus dipandangi Mu!"


Lin Mu menghela pandangnya gegas ke arah pusat perhatian semua orang. "Ternyata dia Situ Xiu," katanya seraya memalingkan wajah kembali ke semula. Ia lalu nerunduk dan memejamkan mata, dengan telapak tangan saling tertaut di atas pahanya yang terkekuk. Tidak disangka Nona Situ bisa mengeluarkan kekuatan Qi rasa sejati. Sungguh hebat, komentarnya dalam hati--dijuruskan lurus pada Situ Xiu di atas pentasnya.


Dan Situ Xiu ....


Kekuatan telepati! Wanita itu berdecit tak percaya--juga dalam hati. Ditatapnya Lin Mu di kejauhan sana dengan mata melebar dan tampang gusar. Ternyata dia mengetahui rahasia keluargaku.


Sebelum lebih banyak asumsi di kepala Situ Xiu, pembawa acara menyela--mengisyaratkannya agar segera membuka acara dengan kalimat sambutan, yang tentu saja dia sendiri sebagai ratunya malam ini.


"Hari ini adalah acara ulang tahunku. Aku ucapkan terima kasih pada semuanya karena sudah menyisihkan waktu untuk datang ke acaraku ini," tuturnya dengan senyuman juga wajah ramah yang mempesona. Sebias cahaya terpancar di wajahnya, hingga terlihat bersinar bak dewi rembulan. Namun tentu tak semua orang bisa melihat itu, kecuali ... Lin Mu. "Semoga kalian semua dapat menikmati malam ini," sambungnya, yang kemudian disambut tepukan tangan semua orang.


"SELAMAT ULANG TAHUN NONA SITU!"

__ADS_1


Sahut bersahutan kalimat itu terlontar antar kelumit manusia yang hadir. "SELAMAT ULANG TAHUN!"


Di posisinya, Lin Mu masih tenang mengamati. Wow, ternyata dia juga bisa teknik pesona, kata hatinya sedikit takjub. Sedikit saja.


"Baiklah, para tamu undangan yang sudah menyiapkan hadiah, dapat menyerahkannya secara langsung pada Nona Situ!" Pria berkumis dengan kulit menua--pembawa acara, kembali menghimbau.


Mendengar demikian, keadaan mulai ricuh. Semua yang merasa di garis bawahi dalam himbauan itu, mulai bangun dari posisi kemudian berduyun-duyun menguntai diri dalam barisan rapi. Tentu saja membawa serta hadiah mereka masing-masing.


"Nona Situ, kecantikanmu seperti rumor yang beredar. Sangat mempesona," seorang pria setara 27 tahunan, berujar penuh kagum seraya menyerahkan hadiahnya pada Situ Xiu. "Aku sangat beruntung bertemu langsung denganmu hari ini," sambungnya berbinar.


Situ Xiu membalas dengan senyuman ramahnya, "Kamu terlalu menyanjungku!"


Lanjut pria berikutnya. Kali ini yang berbadan gempal dengan perut maju setara dua puluh liter susu. "Nona situ, selamat ulang tahun. Ini sedikit hadiah kecil dari perusahaan kami. Mohon diterima," ujar pria itu menyodorkan kotak berwarna biru dengan lilitan pita merah di atasnya.


"Terima kasih, sudah repot-repot mengeluarkan uang untuk hadiah ini." Situ Xiu menerima seperti sebelumnya.


Sedang di lingkaran meja Lin Mu dan wanita-wanitanya ....


"Umm, ini ...." Zixi nampak ragu-ragu.


Yang kemudian disergah Song Yuru dengan penjelasannya, "Hanya hadiah yang berharga yang langsung diberikan kepadanya. Hadiah biasa tidak perlu diberikan di atas panggung. Cukup berikan kepada resepsionis."


Tanggapan Lin Mu disertai kerutan tebal di keningnya. "Ternyata begitu. Memberikan hadiah juga ada aturannya," komentarnya tak habis pikir. "Kalau begitu ...."


Entah apa yang terlintas di pikirannya, Lin Mu bangkit dari posisinya untuk berdiri. "Kalian tunggu di sini. Aku juga akan memberikan hadiah kepada Nona Situ," imbuhnya dengan tampilan percaya diri.


"Apa?!"


Tentu saja kelakuannya itu mengundang kernyitan kuat di wajah tiga wanita tersebut, hingga mereka saling bertukar pandang.

__ADS_1


"Kamu? Kamu bahkan datang dengan tangan kosong, apa yang akan kamu berikan kepadanya?" Xuanrong menghardik.


"Benar, Mu. Jangan main-main." Zixi menimpal dengan dengusan. Sedang Yuru, hanya menggedik bahu--bingung harus mengatakan apa.


Tapi sepertinya hardikan mereka tak didengar Lin Mu. Dipulas senyuman aneh, pemuda itu menggeser jauh tubuhnya, tetap melakukan apa yang diniatkannya.


Di belakang jejeran orang yang masih mengantri, ia berseru lantang, hingga menggema ke seantero aula dan tentu saja didengar semua orang. "Aku juga mempunyai hadiah mewah untuk diberikan langsung kepada Nona Situ!!" teriaknya.


Situ Xiu ... menatapnya tak cukup sedap. Orang di depannya bahkan diabaikannya demi melihat apa yang dilakukan Lin Mu.


Kekuatan pria ini sama denganku. Aku ingin lihat, dia mau berbuat apa!


"Tuan, kedua tanganmu kosong!" Dua orang penjaga menjegal langkahnya di tengah-tengah. Karena memang dengan songongnya, Lin Mu melewati barisan antrean dengan mengambil jalur lain menuju panggung. "Apa hadiah yang sangat mewah itu?!" lanjut salah satu mereka bertanya.


Raut Lin Mu tak menyiratkan kecanggungan, takut, apalagi malu, dia dengan santainya menjawab, "Aku memiliki beberapa kata yang ingin disampaikan kepada Nona Situ. Yang mungkin akan sangat berguna untuknya!"


Kalimat sederhana itu disambut gelak tawa semua orang. Hujatan merendahkan juga cemooh ramai terlontar saling bersahut dipulas kesombongan untuk Lin Mu.


"Apa aku tidak salah dengar?! Beberapa patah kata bisa dikatakan hadiah mewah?!"


"Otak pemuda ini pasti bermasalah!"


"Hahahaha!"


Dalam keadaan riuh, Zixi, Yuru dan Xuanrong beradu pandang dengan ekspresi merenyih.


"Celaka, ini penghinaan untuk Lin Mu!" kicau Zixi seraya memijat keningnya. "Situ Xiu bukan orang biasa yang bisa disinggung. Kali ini Mu akan dirugikan." Kemudian diangguki kedua temannya.


Di atas panggung rendahnya, Situ Xiu mencoba bersikap sewajarnya. Akan sangat buruk untuk reputasinya jika ia dengan mudah menghardik pria itu tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakannya. "Terima kasih untuk hadiah Tuan ini. Aku akan mencoba mendengarkannya!"

__ADS_1


Mari kita lihat, apa yang akan dia lakukan!


__ADS_2