
Kediaman keluarga Situ.
KRING KRING KRING ....
Ponsel yang tergeletak di atas nakas itu terus berdering meminta dinotice. Situ Xiu yang semula tengah terlelap dalam pejamnya, mulai terusik. Tanpa membuka mata, telapak kanan tangannya yang berjarak paling dekat dengan benda itu, naik untuk meraih. "Siapa pagi-pagi begini ...." Dengan suara paraunya ia berdecit.
Benda itu berhasil digenggamnya, Xiu kemudian menempelkannya di telinga. Sebuah sapaan gegas membangunkannya lantas. "Yuru, ada apa?" tanyanya seraya mengangkat bangkit tubuhnya.
"Apa?!" Kedua katup matanya melebar sontak. "Lin Mu sudah menghilang tiga hari?!" Sejenak diam mendengarkan penuturan Song Yuru di seberang line teleponnya. "Baiklah, aku tahu. Kamu tunggu saja kabar dariku." Telepon pun kemudian terputus.
Ditatapnya benda pipih itu dengan wajah mengernyit. "Aku masih memerlukan bimbinganmu untuk pengembanganku. Kamu jangan sampai ada masalah," katanya penuh harap. "Sebentar, biarkan aku berpikir."
Belum tuntas kepalanya bekerja, sebuah panggilan kembali masuk melalui ponselnya.
Tertera nama Yan Langshi di dalam sana.
"Apa dia ...?" Demi sebuah kejelasan asumsinya, Xiu mengangkat panggilan itu cepat-cepat. "Yan Langshi, katakan dengan jujur! Apa kamu ada hubungannya dengan hilangnya Lin Mu?!" tanyanya langsung saja dengan nada tinggi tak main-main.
Nama itu jelas yang paling dicurigai Xiu, mengingat betapa mengerikannya perangai tunangannya tersebut. Walaupun hanya menyangkut masalah kecil yang sebenarnya tak perlu dihadapi dengan otot apalagi golok.
__
Tiga hari sebelumnya ....
Di alas tempat tidur yang sama dengan yang lalu direbahi Lin Mu ketika berjuang menghadapi racun di tubuhnya, Zhou Shiyun terbaring lemah lengkap dengan selimut yang menutupi hingga sebatas lehernya.
Cukup lama ia tak sadarkan diri, karena proses penyelamatan Lin Mu yang cukup banyak menguras energinya.
__ADS_1
Dan saat ini matanya baru saja terbuka. Ia sadar. "Aku ... aku di mana?" tanyanya meracau parau. "Di surga'kah?"
Tak cukup dengan hanya berbaring, Zhou kemudian mengangkat dirinya untuk duduk. Seluruh tubuhnya masih terasa kaku. Pandangnya lalu mengedar ke sekeliling. "Ternyata di rumah. Sepertinya kali ini aku masih beruntung."
Setelah cukup kesadarannya pulih, kepalanya sontak bekerja mengingat satu hal ....
Lin Mu!
"Di mana dia?"
Pemuda itu sudah tak ada di ruangan. Zhou mencarinya tentu saja.
Dengan langkah masih sempoyongan, wanita itu menyusur setiap detail ruang demi ruang di dalam rumah sederhananya, kemudian berakhir di pintu depan menuju area halaman.
Dan ... dapat!
Lin Mu tengah duduk bersila di atas sebuah bantalan kayu pipih persegi panjang, di depan halaman rumah. Kedua telapak tangannya telentang dengan ibu dan jari tengah yang saling diadukan di atas masing-masing lutut. Matanya terpejam pekat. Mungkin pemuda itu tengah bermeditasi demi memulihkan kekuatannya yang terkuras akibat racun pisau sialan itu.
Sepasang matanya spontan terbuka. "Dokter Zhou, kamu sudah sadar?!" tanyanya dengan ekspresi penuh binar.
Dari wajahnya, Zhou jelas tak baik-baik saja. Wanita itu nampak pucat dengan bulir keringat menggelinding saling menyusul dari atas pelipis ke pipinya.
"Lin Mu, tidak disangka pemulihanmu sangat cepat. Sebaiknya kamu ... uhuk, uhuk!" Batuk itu menghentikan ujarannya.
"Dokter Zhou, kamu tidak apa-apa, 'kan?!" tanya Lin Mu cemas, bangkit cepat dari posisinya kemudian bergerak memegangi kedua bahu dokter itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa," sangkal Zhou.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu duduk dulu." Lin Mu menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh darinya.
"Jangan khawatir, tubuhku hampir pulih sempurna," katanya menenangkan, lalu duduk di kursi lainnya bersebelahan dengan Zhou. "Dokter Zhou, kamu adalah penyelamat nyawaku. Aku pasti akan membalasnya di kemudian hari," ucapnya Seraya mengadukan antara kepal dan rentang telapak tangannya di depan wajah.
Sembari memegangi dadanya yang cukup terasa ngilu, Zhou tersenyum lalu bertutur, "Itu tidak perlu. Menyelamatkan orang adalah tugas seorang dokter. Aku melakukannya tidak untuk menerima imbalan darimu."
Terdengar manis memang, tapi Lin Mu merasa yang dilakukan Zhou, lebih dari sekedar apa yang baru saja diucapkan wanita itu. Ia selamat dari kematian karena tindak-tanduk Zhou yang bahkan belum dimengertinya. "Tapi bagaimana cara Dokter Zhou mengeluarkan racun dari tubuhku?" tanya Lin Mu seraya menatap telapak tangan yang kini diangkatnya setara leher. "Aku pikir tidak akan selamat kali ini," tandasnya.
Lagi-lagi seulas senyum ditunjukan Zhou Shiyun. "Aku menolongmu dengan metode akupuntur dengan jarum emas yang merupakan metode rahasia guruku," jelasnya kemudian melanjutkan, "Dulu, dengan mengandalkan 27 jarumnya, ia menyelamatkan banyak orang, hingga mendapat gelar dokter jenius."
Kalimat Zhou terhenti sejenak, karena lagi-lagi batuk sialan itu menyerang tenggorokannya. "Tetapi aku hanya belajar beberapa pengetahuan dasar darinya. Aku menggunakannya dengan susah payah dan hampir gagal."
Lin Mu menatapnya cukup iba. "Dokter Zhou, wajahmu pucat. Jangan tergesa-gesa."
"Tidak apa-apa," hardik Zhou. "Tubuhku memang lemah. Ditambah kemarin malam menggunakan banyak tenaga untuk mengeluarkan racun di tubuhmu."
Seketika perasaan bersalah menyergap Lin Mu. Dengan tatapan tak enak, dia lalu berkata pada Zhou, "Maafkan aku, Dokter Zhou. Karena aku kamu jadi sakit seperti ini," ucapnya penuh sesal. "Badanmu begitu lemah. Apa gurumu tidak ada cara untuk menyembuhkanmu?"
Sayangnya, kalimat akhir itu sepertinya tak cukup baik diterima Zhou. "Guru telah berusaha," hardiknya. "Jika bukan karena dia, aku sekarang tidak mungkin ada di sini." Cukup tinggi ia mengambil nada. Sejenak meraup udara demi meraih ketenangan kembali. "Tapi demi menolongku ... kakek menggunakan terlalu banyak energinya. Ia meninggal sepuluh tahun lalu ...."
Lin Mu tercenung. Pandangannya jatuh ke dasar meja di hadapannya. Perasaan tiba-tiba berkecamuk, antara iba dan cemas menjadi satu.
Dia dapat mengeluarkan racun dari dalam tubuhku, hanya dengan pengetahuan dasar. Tapi sebenarnya dia menderita suatu penyakit, gurunya pun tidak dapat menyembuhkannya.
"Aku ...." Satu telapak tangan Zhou naik menyentuh kepalanya. "Kepalaku pusing. Aku ...." Keringat bercucur memandikan wajahnya hingga terlihat naas. Dan ....
"Dokter Zhou!" Lin Mu berseru terkejut. Wanita itu tiba-tiba ambruk, kehilangan kesadarannya. Mengambil tindak cepat, gegas Lin Mu mengangkat lalu membopongnya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
*Kelihatannya dia menggunakan banyak tenaganya.
Dia bahkan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan aku*.