Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 44


__ADS_3

Gedung menjulang dengan tiga lantai bercat putih itu, tak lain adalah Kantor Polisi.


"Polisi, permasalahannya demikian, jika tidak ada hal lainnya aku pamit dulu." Rendah tubuhnya yang tertekuk diangkat Lin Mu dari kursi yang didudukinya di depan seorang petugas polisi.


Ia baru saja diinterogasi perihal kejadian yang menimpa Polisi Wang.


"Kawan, Tunggu!" Petugas itu mencegah, tepat ketika Lin Mu hendak berbalik. Telapak tangannya melayang terjulur ke arah Lin Mu dengan tubuh setengah terangkat.


"Masih ada masalah apa?" tanya Lin Mu menolehnya, lalu berbalik kembali menghadapnya.


Polisi itu mulai melangkah mendekati Lin Mu. Dijulurkannya tangan ke arah pemuda itu. "Untung kamu membantu. Sehingga Polisi Wang bisa diantar ke rumah sakit tepat waktu."


Lin Mu balas menjabat dengan suka hati. "Aku hanya melakukan yang seharusnya," katanya disertai senyuman ringan.


Polisi itu tersenyum seraya menepuk pundak Lin Mu penuh bangga.


.....


Tiga jam kemudian ....


RUMAH SAKIT PERTAMA DONGHAI


"Pasien sedang dioperasi. Keluarga pasien mohon menunggu di luar!"


Peringatan biasa, seperti yang sering kita dengar di sinetron-sinetron dengan adegan serupa.


"Eh, kamu salah sangka!" Lin Mu mengelak. Ia bukan keluarga Wang. Hanya ....


Ya, apa sajalah!


Tidak ada siapa pun di sana, selain Lin Mu seorang yang menunggu di luar ruang operasi.


"Sudah lama sekali, masih belum keluar juga." Lin Mu mulai mengeluh. Sedikit pemikiran yang tercuat sebagai alasan khusus, mengapa ia mau repot-repot menunggui Wang dalam pertaruhan hidup dan matinya di ruang operasi.


Memastikan sesuatu! Begitu setidaknya.

__ADS_1


Tampaknya situasinya tidak terlalu baik, hatinya mulai berkicau. Punggung tegapnya ia sandarkan ke dinding dengan tangan bersedekap dan kepala mendongak. Ini akan menjadi moment menunggu yang melelahkan, pikirnya.


Selang beberapa waktu.


Lampu berwarna merah yang melingkari tulisan OPERASI di atas bagian pintu, terlihat dimatikan, pertanda proses panjang menguras segalanya itu sudah usai dilakukan para petugas medis.


Tak lama, pintu pun terbuka, dan menyembullah seorang dokter yang masih mengenakan pakaian operasi lengkap dengan segala atributnya, mulai dari masker, penutup kepala juga sarung tangannya, disusul sebuah brankar terdorong dari dalam yang di mana terbaring Wang di atasnya.


"Pelan-pelan," kata seorang dokter pada perawat yang turut membantu penanganan itu.


Lin Mu mengangkat antusias tubuhnya untuk menegak. Diikutinya gerak brankar yang semakin dekat ke arahnya itu dengan rasa waswas.


Sial! Harusnya aku sadar lebih awal. Dia tidak akan berakhir di tempat ini sekarang! decit hatinya menyesali.


"Polisi Wang bagaimana kondisimu?" Lin Mu bertanya tak sabar.


"Untuk sekarang, anestesinya belum memudar. Dia tidak akan mendengar kata-katamu!" Suara itu tentu terdengar tak asing di telinga Lin Mu. Ia sontak berbelok hadap, sedang brankar Wang mulai didorong menjauh darinya.


Zhou! Wanita dokter berambut cola, yang merawatnya hingga pulih pasca kecelakaan jatuh dari villa kala itu. Wanita itu menyembul dari dalam ruangan dengan pakaian yang sudah berganti seperti biasanya ia bertugas.


"Dokter Zhou, bagaimana keadaan Polisi Wang?!" Lin Mu melanjutkan keingintahuannya.


Tapi bukan pada itu perhatian Lin Mu terpusat. Kepala dan hatinya masih dipenuhi hal menyangkut Wang. "Dokter Zhou, aku perlu bicara dengan Polisi Wang. Apa aku bisa masuk ke ruang rawat untuk melihatnya?"


Dan disambut Zhou dengan sedikit hardikan kecil. "Dia baru saja selesai operasi. Perlu banyak istirahat. Kamu kembali lagi saja besok!"


"Ini hal sangat penting! Jadi tolong beritahu aku, Dokter Zhou!" Lin Mu memaksa. Raut wajahnya cukup serius untuk dikatakan sebuah celoteh anak-anak.


Zhou terdiam. Menggerak-gerakkan bola matanya menelisik pemuda tampan di depannya.


"Kumohon! Aku berjanji akan cepat selesai, lalu pergi," sambung Lin Mu. Sorot matanya pekat menandakan ia tak sedang main-main, seperti halnya pria yang hanya ingin mengecup singkat kening kekasihnya sekedar menyemangati.


Zhou mendesah singkat. "Baiklah. Dia akan bangun sepuluh menit lagi. Bicaralah dengan cepat," imbuhnya memberi kesempatan.


"Hehe ... terima kasih, Dokter Zhou."

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu ....


Pintu bertuliskan ruangan perawatan itu mulai diketuk Lin Mu. "Polisi Wang. Aku datang untuk melihatmu." Lalu masuk tanpa menunggu sahutan dari dalam.


"Lin Mu?!" Polisi berambut pendek itu berucap dengan nada parau juga kening berkerut.


"Eh." Lin Mu juga terheran. "Bagaimana polisi Wang tahu namaku?" tanyanya seraya melangkah mendekati brankar yang direbahi Wang.


Seulas senyuman kecut dihadiahkan Wang untuk menyikapi pertanyaan pemuda itu. "Hh, aku adalah polisi. Apa kau lupa?"


Lin tersenyum tipis saja. Lantai kosong di samping brankar dijejaki sepasang kakinya. Kedua tangan tersembunyi manis di dalam saku celana. Terlihat menawan.


Dan setiap gerak-gerik itu tak luput dari perhatian Wang yang masih lemah terbaring di ranjangnya dengan selang infus yang tertancap di punggung telapak tangan. "Apa penjahat itu sudah tertangkap? Kamu tidak terluka, 'kan?" tanyanya sedikit bernada cemas.


Namun baru saja katup bibir Lin Mu hendak terbuka, rintihan sakit terdengar dari mulut Wang. Tubuhnya sedikit bergeliat membenarkan posisi yang sepertinya tak cukup nyaman dirasanya.


"Kamu baru saja selesai operasi! Jangan banyak bergerak!" Lin Mu menghardik cemas. Namun tak cukup berani untuk menyentuhnya walau seusap saja. Alhasil hanya gerakan mengambang yang terlihat disertai keraguan.


Beberapa saat kemudian, Wang sudah cukup mendapatkan posisi nyaman sepertinya. Mata lelahnya sudah terkatup rapat.


Lin Mu menatapnya sedikit lega. Pikirnya mulai menyembulkan asumsi, kelihatannya dia tidak tahu, bagaimana aku menghabisi penjahat itu. Urusannya jadi mudah.


Kepalanya laju bergerak menyusur kilas balik beberapa jam yang lalu, ketika ia menghadapi penjahat yang telah mencelakai Wang.


Saat itu, dalam keadaan yang sudah tak berdaya, di mana darah segar mengalir dan menggenang di sekitar ia tergolek, Wang telah kehilangan kesadarannya. Wajahnya mulai terlihat pucat keabuan, serta suhu tubuh yang perlahan mendingin. Namun di antara itu, tiupan napas masih terdengar, walaupun sangat tipis, cukup menjadi harapan.


Sedang Lin Mu, pemuda itu masih santai menghadapi pria begundal yang membuat Wang sampai terpuruk berlumur darah.


KLEK


KLEK


KLEK


"Kak, cara menembakmu sepertinya biasa saja." Lin Mu berujar mengolok. Ia mengayun sepasang kakinya dengan langkah ringan--semakin dekat ke arah penjahat itu.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak dapat menembak orang ini!" Di posisinya, dengan masih menondongkan pistolnya, si pria penjahat mulai gusar. Pelatuk itu berkali-kali ditariknya, namun tetap tak menghasilkan apa pun. Seperti halnya mainan, pistol itu tiba-tiba tak mau bekerja.


Sedang Lin Mu semakin menipiskan jarak di antaranya. Seringai yang terpulas di wajah pemuda itu ... sedikit mengerikan dilihatnya.


__ADS_2