Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 8


__ADS_3

"Apakah ini juga teman di kelas kita?"


Pertanyaan Lin Mu tersebut sontak mengundang gelak tawa seluruh penghuni kelas, tak terkecuali Beibei.


"Bukan! Ini adalah Guru Song Yuru, konselor kita!" jawab gadis itu seraya menutup mulutnya menahan untuk tak tertawa lebih keras.


Tentu saja Lin Mu terkejut. Sekejap saja, ekspresi wajahnya berganti kikuk, merasa perkataannya tak cukup sopan.


"Lin Mu, kamu ikut ke ruanganku sebentar!"


Dan semakin kikuk ketika seruan itu didengarnya dari mulut Song Yuru.


"Ah? .... Iya, baik!" balas pemuda itu gelagapan.


Pintu yang baru saja menghilangkan tubuh Song Yuru di baliknya itu, di tatap Lin Mu. Seperti kecoa terinjak, ia terpaku dengan tampang bodoh.


"Kenapa masih berdiri saja?!" teriak Beibei mengagetkannya. "Pergi dengan Guru Song ke ruangannya!"


"Eh!"


Beberapa saat kemudian ....


Setelah dihentak teriakan Beibei, Lin Mu telah berada di ruangan yang dimaksudkan.


Duduk berhadapan dengan Song Yuru, dengan sebuah meja menjadi penyekat antara keduanya di tengah-tengah.


"Aku sudah mendengar masalahmu. Apakah semua luka di tubuhmu sudah benar-benar sembuh?" Song Yuru bertanya dengan kesan penuh perhatian.


"Terima kasih untuk perhatiannya, Guru Song. Sudah hampir sembuh," jawab Lin Mu seadanya saja.


Terlihat kelegaan di wajah Song Yuru. Sedikit senyum ia hadiahkan untuk Lin Mu. "Bagus kalau begitu. Jika perlu bantuan, kamu bisa mencariku kapan saja. Tidak perlu takut merepotkan."


"Umm ... baik. Terima kasih untuk kepeduliannya, Guru Song."


Tatapan itu ... Lin Mu merasakan ada keanehan di baliknya. Seperti ... sebuah kepedulian yang terasa lebih hangat dari sekedar kepedulian seorang guru terhadap muridnya.


Tapi ya ... hanya asumsi. Entahlah!


Dan saat ini, sepertinya tema empat mata Lin Mu dan Song Yuru harus rela terpecah, setelah suara ketukan dari luar pintu mengalihkan perhatian keduanya.


Dan muncullah sosok ajaib dengan tingkat keakuratan setara Cang Kunzi itu.


"Guru Song, maaf. Apakah kalian sudah selesai bicaranya?"

__ADS_1


Siapa lagi dia ... kalau bukan Tang Beibei, si gadis tomboy dengan rambut ungu dan kaos kaki belangnya. "Aku dan Lin Mu sudah janjian untuk makan siang bersama. Lalu membawanya untuk mengenal lingkungan!" tuturnya dengan wajah riangnya seperti yang terlihat sebelum-sebelumnya.


"Sudah merepotkan Beibei." Song Yuru berkata dengan wajah tenang.


Beibei menanggapi sungkan, "Hehe ... sudah seharusnya. Kita 'kan teman sekelas."


Tidak ada hardik atau jenis penolakkan lainnya, Lin Mu mulai bangkit dari tempatnya. "Kalau begitu kami permisi ... Guru Song."


Hanya anggukkan kecil disuguhkan Song Yuru sebagai tanggapan.


Ditatapnya punggung tegap Lin Mu yang mulai menjauh dari hadapannya. Pikirnya mulai dijejali banyak pertanyaan yang saling menekan mengharapkan kejelasan.


Apakah dulu ... paras Lin Mu seperti ini?


Itu salah satu keingintahuan menonjol yang terpendam dalam hati Song Yuru saat ini.



Siang ini udara cukup sejuk. Angin bertiup sesekali membelai dedaunan di pohon-pohon yang berjejer di sekitar halaman universitas, hingga terayun melambai-lambai.


Dengan kedua tangan terselip, masing-masing di kiri dan kanan saku celananya, Lin Mu berjalan cukup santai, beriringan dengan Beibei yang melangkah ringan di sampingnya.


"Beibei, melihat tampilanmu saat bermain dart tadi itu, biasanya kamu sering berlatih, 'kan?"


Dengan senyuman cukup percaya diri, Beibei menolehkan kepalanya ke arah pemuda itu. "Itu hanya trik kecil, jika dibandingkan dengan keluarga kami ...." Merasa tema pembicaraan itu cukup menarik, Beibei malah melontarkan pertanyaan baru, sebelum kalimat tadi diselesaikannya. "Kenapa? Kamu juga ingin berlatih?"


Sesuai harapannya, Beibei kembali memasang senyumnya menanggapi itu.


Gadis itu menggeser tubuhnya, mengambil posisi berhadapan dengan Lin Mu.


Dalam beberapa saat, ia menyapukan tatapnya ke tubuh pemuda di hadapannya, mengamati.


"Jika dilihat-lihat ...." Untuk memperkuat penilaiannya, Beibei menaikkan sepasang tangannya ke pundak Lin Mu, terbagi di kiri dan kanannya. Melakukan gerak memijat kecil merasai perubahan yang tertangkap matanya lebih dulu "... bentuk tubuhmu yang sekarang, jauh lebih kekar jika dibandingkan dengan sebelum cidera."


Sepersekian detik setelahnya ... sepasang mata Beibei perlahan bergerak melebar, sampai kemudian benar-benar terbelalak, ketika ia mulai menyadari sesuatu yang lebih besar dibandingkan hanya sebatas pundak kekar yang dirabanya--setelah pengamatannya ia buat mendalam dan lebih detail.


"Selain itu ... kelihatannya seperti sudah menjalani pelatihan serba bisa, untuk jangka waktu yang panjang," imbuhnya menyiratkan ketidakpercayaan yang cukup kuat.


Beibei bukan wanita biasa yang hanya peduli dengan kantong-kantong belanjaan dan kecantikan. Atau merebah santai berjam-jam dengan pijatan-pijatan lembut tangan-tangan pegawai spa. Ia wanita yang terlahir dengan ketangguhan melewati batasan seorang wanita pada umumnya. Dan yang didapatnya saat ini dari Lin Mu ....


"Apakah terjatuh dari gedung, bisa memiliki keuntungan seperti ini?"


Itu pertanyaan bagus sebenarnya. Sangat bagus, hingga terdengar lebih konyol daripada kumis pria tua yang dicat dengan warna merah muda.

__ADS_1


Dan tak kalah konyol, ketika Lin Mu menyahuti pertanyaan itu dengan santainya, "Aku hampir mati saat terjatuh dari gedung. Jika dibandingkan dengan keuntungan kecil ini ... bayarannya juga sudah terlalu besar, 'kan?"


Ngok!


Anggap saja kedua orang berlainan gender itu sedang menggantikan Mr. Been juga Charlie Chaplin di pentas lawak mereka. Terlihat serius ... namun melenceng dari jalur sebenarnya dalam beberapa saat.


"Benar juga. Jika benar-benar mati ... itu akan rugi besar!" Beibei kembali menimpal. "Tapi ...."


Pandangan Beibei perlahan berubah aneh.


Dan Lin Mu menerka dari tatapan itu, akan ada yang tak beres setelah ini.


"Beibei ... jangan memikirkan ide yang buruk!" serunya dengan tampilan wajah khawatir.


Dan yang dilihatnya saat ini dari gadis itu justru sebentuk ekspresi membeliak.


"Bukan itu!" sanggah Beibei. "Aku hanya ingin bertanya rencana masa depanmu!"


Hhuufftt ....


Lin Mu menarik napas. Seperti bisul besar yang akhirnya pecah, melegakan. "Masa depan ...," ucapnya mengulang. Sepasang netra hijaunya ia sembunyikan di balik pejam. "Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya," katanya seolah menyesalkan. "Tapi mungkin aku pernah memikirkannya sebelum hilang ingatan."


Sejenak mencerna rangkaian kalimat Lin Mu barusan, kepala Beibei mulai membayangkan sesuatu yang terhubung dengan itu. Dan ....


"Kalau begitu ... apakah kamu ingin mencoba kehidupan yang lain?"


Sontan Lin Mu menghela pandangnya ke arah gadis bertopi yang mungkin ... telah menjadi rekan untuknya mulai hari ini. "Kehidupan yang lain?" tanyanya tak cukup paham. "Apa maksudmu?"


Menanggapi pertanyaan itu, Beibei terlihat menegakkan badan. Kedua tangannya yang terkepal ia posisikan lurus di masing-masing sisian tubuhnya.


"Dulu sifatmu sangat tertutup, juga tidak mengerti untuk melawan. Makanya Du Xiaoyue berani menindasmu!" ungkapnya dengan oktaf menggebu. "Tapi ... sekarang kamu sudah berubah. Bukan hanya dari tampilan, tapi juga di sini." Telunjuknya ia arankan ke bagian dada kirinya.


Lin Mu masih terdiam, memperhatikan.


"Menurutku ... ini adalah kesempatan merubah diri, yang diberikan langit kepadamu!" seru girang Beibei dengan kedua tangan terangkat tinggi penuh kemenangan. "Kalau tidak, bagaimana mungkin memberikanmu tubuh yang berbeda dari orang biasa!"


Seolah mendapatkan jackpot dalam permainan domino, wajah Beibei terlonjak senang membayangkan betapa beruntungnya pemuda itu. "Jadi menurutku ... seharusnya kamu mencobanya dengan berani!"


Barang sejenak Lin Mu mempekerjakan pikirnya. Ia terdiam, mencerna bait demi bait kalimat Beibei. Sampai ....


"Kalau begitu ... apa yang harus aku lakukan?"


Yess!!

__ADS_1


Melengkapi ide cemerlang di kepalanya, Beibei menoreh senyum yang di dalamnya berisi sebuah tujuan besar--atas Lin Mu.


Dengan sedikit memajukan wajahnya ke arah pemuda itu, gadis itu kemudian berbisik, "Apakah kamu tahu, grup Baolong?"


__ADS_2