Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 17


__ADS_3

Dilihat dari ukuran dan bentuknya, jelas menyerupai sebuah sumur, namun bedanya ... lubang satu ini memiliki kedalaman dangkal.


Itu mungkin tempat sampah.


Lin Mu sudah berdiri menghadapnya dengan masih menenteng kedua tas berisi ratusan gepok uang di dalamnya, yang ia rampas dari para perampok itu beberapa saat lalu.


Nggg ....


Wait!


Merampas dari perampok?


Bukankah perampok juga hasil merampas?


Lin Mu?


Lalu yang dilakukannya itu ... apa bedanya?


Merampok yang dirampok oleh rampok!


Benar-benar predikat dan subjek yang menjengkelkan.


Tapi ... ya sudahlah!


Uang memang akan selalu menjadi primadona, tak peduli cara! Walau harus merangkak di atas api, atau menelan satu sekup kotoran sapi demi mendapatkannya, yang penting akhirnya ... be mine!


Namun tentu Lin Mu tak setolol itu. Ia suka uang, dan ia ... juga suka berkelahi. Memainkan otak dan otot dalam waktu seimbang, cukup bisa memudahkan sebuah pencapaian.


Dan aksi heroik yang dilakukan Lin Mu ... hasilnya ya ... dua tas besar berisi uang itu.


Di beberapa waktu ke depan mungkin ... belahan dunia juga akan bisa direngkuhnya hanya dengan satu kedipan mata.


Tak ada yang mustahil.


Dua tas besar berwarna coklat ditentengannya ia lemparkan ke dalam lubang dangkal tadi. Cukup rapi dan tak menyembul.


Setelah masalah selesai, baru aku akan datang mengambilnya lagi, niat hati Lin Mu dengan senyum tipisnya.


Setelah merasa semuanya apik, Lin Mu terlihat merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu--ponselnya.


"Hallo, Beibei! Aku menemukan beberapa tempat yang mencurigakan."

__ADS_1


____


Lin Mu dan Beibei ... keduanya kini sudah berada di halaman di mana lubang berisi tangga menuju ruang bawah tanah itu berpuncak.


Satu persatu sandera--termasuk di antaranya si wanita polisi seksi yang menyembul di posisi akhir, keluar dari dalam lubang.


Lin Mu menatap wanita itu lucu dari kejauhan, dengan kedua tangan mengisi saku celana. Seukir senyuman tipis terulas di wajahnya kala mengingat bagaimana wanita aparat itu bertindak melawannya, beberapa waktu lalu.


Cukup berani, komentarnya dalam hati. Dan cantik.


"Aku pergi memberitahu kantor pusat, kalau kita sudah menemukan sandera yang ditangkap. Langkah berikutnya sudah boleh dijalankan," tutur Lin Mu memberitahu.


"Ouh, baiklah." Beibei menyahut singkat. Sebelumnya ia berada di lingkungan tugas yang sama dengan Lin Mu, namun di petak bangunan yang berbeda, sehingga cukup cepat ia tanggap, mendatangi tempat di mana Lin Mu berada, dengan membawa serta beberapa rekan yang memang menjalani misi serupa.


Dan saat ini, tepat ketika si wanita polisi hendak melewati dirinya, Lin Mu dengan gegas membalik tubuhnya untuk menyembunyikan wajah, cemas wanita itu akan bisa mengenali pupil hijau matanya, jika dalam keadaan jarak pandang yang cukup dekat.


Tanpa curiga, Beibei bergerak melangkah menuju mini bus yang sudah terparkir di tepi halaman bangunan, mengantar para sandera. Lin Mu mengikuti perlahan dari belakang.


"Akhirnya tidak terjadi kesalahan apa pun," kata Beibei seraya menatap punggung mobil yang mulai menjauh. Lin Mu yang sudah berdiri di sampingnya hanya menanggap dengan senyuman.


Keduanya lalu berbalik ke belakang, seperti masih ada hal yang belum terselesaikan.


"Situasi sedikit mencurigakan?" Lin Mu bertanya tak paham. Dan setan pun pasti tahu, itu adalah bentuk kura-kura dalam perahu--kura-kura saja mungkin tahu.


"Sandera itu mengatakan, dua penculik yang menjaga mereka telah bertikai. Tapi saat kami sampai di lokasi, kedua penculik itu sudah dipukul hingga pingsan," terang Beibei dengan wajah serius berbalut bingung.


Ia dan Lin Mu kini mulai turun menjejak kembali anak-anak tangga menuju ruang bawah tanah.


Di sudut lantai dasar ruang bawah tanah tersebut, sosok dua pria penjaga, di mana ada si Botak, dan si Kurus yang bajunya dipinjam Lin Mu, sudah dibaringkan berdampingan.


Ternyata mereka tidak jadi mati, syukurlah!


"Selain itu, uang hasil rampokan mereka juga tak ditemukan di tangan mereka." Beibei melanjutkan.


Salah pria pelaku ditatap gadis itu dengan sorot tajam, seperti menelisik dan mengamati, bagaimana pria itu kehilangan kesadaran. Garis tebal melingkar yang tercetak membentuk lebam di sekitar lehernya, sudah jelas itu adalah hasil cekikan. Asumsinya.


"Ah, tidak perlu membicarakan uang curian dulu. Kamu lihat dua penculik yang dihajar hingga pingsan ini. Orang yang bertindak pasti adalah petarung hebat. Tindakannya bersih dan cepat. Kedua orang ini dibuat pingsan tanpa ada perlawanan apa pun." Tentu saja Beibei penasaran, seperti apa rupa sosok itu?


"Ternyata ada karakter seperti ini di dalam tentara bayaran. Aku harus melaporkannya pada atasan," putus Beibei pada akhirnya.


Di posisinya, dengan senyuman samar dan perasaan bahagia diam-diam, Lin Mu menanggapi, "Iya, aku setuju. Ini memang perbuatan dari petarung hebat."

__ADS_1


WEEEWW


_____


Malam semakin menyembah sunyi, mendekati angka perputaran jam menuju pagi.


"Ehm ... sampai jumpa." Beibei melambaikan tangannya pada Lin Mu yang baru saja mengantarkannya ke depan pintu asrama universitas.


"Karena tugasnya sudah selesai dilaporkan, aku pergi dulu. Masih ada urusan. Sampai jumpa," balas Lin Mu. Lalu berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu. Sedikit menyembunyikan ketergesaannya akan suatu hal.


Sebuah taksi yang dipesannya sudah terparkir di tepian jalan universitas. "Tolong antarkan aku ke Distrik Pinjiang."


Ya ... tempat yang kurang dari dua jam lalu didatanginya beramai-ramai, bersama anggota Grup Baolong. Dan sekarang, Lin Mu akan kembali ke sana. Bukankah masih ada yang ditinggalkannya?


Taksi pun mulai melaju membelah jalanan yang mulai senyap dari hiruk pikuk manusia.


Lin Mu bersandar ke kursinya dengan tenang. Walaupun hari ini cukup melelahkan, tapi ya ... setidaknya ada yang membuatnya tidur nyenyak di sisa gelap malam ini.


Tak lama, kendaraan itu pun sampai di tempat yang disebutkan Lin Mu.


"Pak, tolong tunggu aku di sini sebentar. Aku pergi untuk membereskan sedikit baju, dan akan segera kembali," pinta Lin Mu setelah keluar dari dalam mobil. Ia membungkuk dan menjulurkan telapak tangan yang berisi beberapa helai uang ke arah si supir, sebagai upah jasa tambahan.


Tentu saja supir itu menyanggupi dengan senang. Uang yang diberikan Lin Mu, lebih dari cukup untuk memberi makan seminggu anak dan istrinya. Ditatapnya Lin Mu yang mulai berjalan memasuki area bangunan dengan senyuman penuh syukur.


Namun baru saja sebatang rokok dinyalakannya untuk menemani masa tunggunya, Lin Mu sudah terlihat keluar. "Singkat juga!" komentarnya.


Setelah dekat, pemuda itu melongokan kepalanya pada bilah kaca terbuka di sampingnya.


"Pak, bisa tolong buka bagasinya sebentar?"


"Umm, baik."


Bagasi pun terbuka menganga, Lin Mu langsung memasukkan kedua tas yang tadi ia sembunyikan di dalam lubang, ke dalamnya. Menutup, lalu melenggang menyusupkan diri kembali ke dalam mobil.


Dengan sebatang rokok masih terselip di antara jepitan sepasang bibirnya, supir itu menatap Lin Mu terheran. "Adik, apakah hanya mengambil baju, bisa membuatmu sebahagia itu?"


Tak bisa disangkal, kedua tas itu memang membuat Lin Mu terlampau bahagia.


Baju seharga sepuluh juta Euro, apa bisa tidak bahagia? decit hatinya riang.


"Ah begitukah?"

__ADS_1


__ADS_2