Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 77


__ADS_3

"Belakangan ini akan ada orang Eropa muncul di Donghai. Dia adalah seorang pembunuh bayaran," ungkap Lin Mu dalam keseriusannya.


Sebuah kotak kecil berwarna coklat tersangga apik telapak di tangannya yang terjulur sedikit ke depan. "Aku ingin kalian membantuku untuk mencarinya."


Semua yang hadir di ruangan itu saling beradu pandang, sebelum akhirnya salah seorang yang memiliki luka gores di wajah melemparkan pertanyaan, "Apakah orang ini memiliki ciri khusus?"


Lin Mu mengalihkan pandang spontan pada pria itu. Rautnya cukup menyayangkan. "Masih belum jelas. Sekarang aku hanya tahu, kalau dia orang Eropa. Jadi, kalian harus perhatikan orang asing yang baru masuk." Entah itu sebuah saran, atau menambah tumpukan beban orang-orang itu.


Pria botak dengan kumis tipis menanggapi dengan dahi mengernyit. "Tuan Lin, ini ... sepertinya terlalu sulit, bukan?"


Yang lalu ditimpal oleh pria pemilik rambut mohawk dengan raut tak jauh berbeda, "Benar, banyak sekali orang asing masuk ke Donghai. Jika tidak tahu cirinya, bukankah sama saja mencari jarum di tumpukan jerami?"


"Sedangkan mengikuti seorang pembunuh sangat berbahaya, salah langkah akan kehilangan nyawa!" Si botak lagi menambahkan seraya mengangkat tubuh untuk berdiri. Wajah cemasnya tak bisa ia sembunyikan.


"Aku memahami kekhawatiran kalian semua," ujar Lin Mu. Senyuman tipis saja ia sunggingkan. "Tapi semakin tinggi sebuah resiko, semakin besar manfaatnya." Benda sebesar kotak korek api di tangannya itu ia buka. Sebutir pil hasil racikannya berada di dalamnya. "Kalian hanya membantuku menemukan pembunuh itu, lalu akan kuberikan obat ini." Disodorkannya benda itu ke depan.


"Tuan Lin, ini ...?" Si pria mohawk menatap benda itu bingung. Hatinya mungkin berkicau, bukankah ini konyol?


Lin Mu memahami tatapan mereka. Ia lantas bangkit dari tempatnya. Mengambil posisi tepat di tengah-tengah mereka. "Siapa di antara kalian yang berani bersama denganku memperagakan sesuatu, untuk mengetahui kekuatan pil-ku ini?" tantangnya.


Orang-orang itu saling melempar tatap dengan raut bingung.


"Ini ...?"


Lin Mu masih memperhatikan. Hingga terdengar seseorang berseru dengan suara lantang di belakangnya.


"Aku saja!"

__ADS_1


Wu Tianming--pria kepala keamanan yang mengantar Lin Mu ke ruangan itu, mengangkat tangan. Lin Mu berbalik menghadapnya.


"Tuan Lin, bagaimana cara mencobanya? Berikan perintahmu padaku!" kata Tianming bersemangat.


Senyuman Lin Mu menyambutnya senang. "Terima kasih. Silahkan lepaskan bajumu dan arahkan punggungmu menghadap semua orang!"


"Baik!"


Jas hitam dan kemeja putihnya mulai dipreteli pria botak itu satu persatu. Hingga tubuh polos dengan perut penuh sekatan, pundak, dada, dan punggung yang terlihat kekar itu, mengkilat sombong.


"Bagus. Jangan bergerak!" perintah Lin Mu.


Untuk sejenak ditatapnya punggung tegap Wu Tianming dengan wajah berpikir. Batinnya mulai berbicara kemudian, orang ini terlihat seperti veteran, seharusnya dia akan kuat menerima seranganku.


Setelah cukup berasumsi, Lin Mu menaikan satu tangannya ke atas. Telunjuk dan jari tengahnya rapatkan, sementara sisanya masih terkepal. "Aku akan memulai, mohon tahan sedikit," pintanya pada petugas keamanan itu.


Selarik cahaya keluar dari sepasang jari Lin Mu yang tadi dipersiapkannya. Kemudian dengan sekali gerak, jari-jari itu sudah membentuk goresan lebar memanjang di punggung Wu Tianming. Darah segar mengalir seketika itu juga di bagiannya.


"Ukh!" Pria itu terdengar mengerang sesaat, namun masih tetap bergeming tak merubah posisinya sedikit pun.


Semua yang berada di ruangan itu membelalakan mata tak percaya.


"Tuan Lin, apa yang kamu lakukan?!" Satu orang mulai bersuara.


"Kamu, bagaimana kamu melakukannya?!" Lainnya memasang wajah serupa.


"Tidak perlu memperhatikan hal kecil, buka mata kalian saja!" hardik si pria botak dengan kumis tebalnya.

__ADS_1


"Semuanya, aku akan mengambil sedikit saja dari pil ramuan ini," kata Lin Mu. Dari sebesar butir kelereng ukuran utuhnya, Lin Mu hanya mencubit seujung kuku dari pil miliknya itu. "Hanya dengan sekecil ini, dapat menyembuhkan luka dengan sangat cepat!" sambungnya meyakinkan.


Secubit pil itu diremas Lin Mu hingga berubah menjadi remahan halus, yang lalu ditaburkannya ke bagian luka yang tadi dibuatnya di punggung Tianming.


Dalam sekejap ....


"Apa aku tidak salah lihat?" Pria mohawk bertanya takjub. "Dengan mata telanjang begini dapat melihat kecepatan penyembuhan lukanya."


Ya, dalam sekejap, goresan besar di punggung kekar itu menyusut, lalu menghilang seketika, pun dengan darah yang sempat merembas, tak tersisa walau setetes.


Yang lain masih terbuai takjub dengan mulut menganga juga mata melebar menyaksikan keajaiban itu


Dan Lin Mu, ia mulai berbalik menghadap para pria dewasa di belakangnya.


"Kalian semua telah melihat efeknya. Selama masih bernapas, pil ini dapat menyelamatkan hidup kalian." Seulas senyum tersabit puas di bibirnya. "Namamu Wu Tianming, 'kan?" tanyanya seraya menolehkan tipis kepalanya pada pria yang baru saja dijadikannya bahan percobaan.


"Iya, Tuan Lin." Tianming berbalik menghadapnya.


"Kau hebat. Orang yang berani. Aku berikan ini padamu," ujar Lin Mu lagi seraya menyerahkan sisa pil-nya pada pria itu.


"Tidak! Tidak, Tuan Lin. Ini terlalu berharga. Aku tidak memerlukannya!" tolak Tianming seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan dada, lebih kepada perasaan tak enaknya. Ia mengerti tatapan penuh minat orang-orang di sekelilingnya yang tergiur dengan kedahsyatan pil di tangan Lin Mu.


Si pria botak maju mendekat ke samping Lin Mu setelah beberapa saat. "Tuan Lin, Anda benar bersedia berikan obat ajaib ini pada kami, jika kami berhasil menemukan pembunuh itu?" tanyanya penuh binar.


"Benar," sahut singkat Lin Mu. Sedikit sorak dalam hatinya. Usaha kecil yang dilakukannya ternyata tak sia-sia.


Sepertinya mereka sudah menyadari nilai pil ini. Bagi mereka yang seringkali membunuh orang, tidak ada hal penting selain nyawa sendiri, batinnya berkicau senang.

__ADS_1


__ADS_2