
Sebuah buku dengan tajuk antah berantah disibak Lin Mu helai demi helai.
Entah apa yang dicari pemuda yang memiliki jiwa pecundang setingkat langit itu.
Ia duduk di tepian brankar yang sampai detik ini belum jua ditinggalkannya.
"Aneh, peradaban manusia baru lebih dari lima ribu tahun. Bagaimana bisa kekuatan spiritualnya begitu sedikit? Bahkan aku juga merasa sulit untuk merasakannya," Lin Mu terus bergumam. Melontarkan ketidakpahaman yang tengah keras digalinya untuk mendapatkan penerangan.
Melalui buku yang dipegangnya, misalnya.
"Tapi aku memahami banyak hal dari buku," ucapnya mengakhiri kegiatannya seraya memejamkan mata.
____
Beberapa waktu berselang ....
Di halaman utama rumah sakit, Lin Mu sudah berdiri rapi dengan setelan jas beserta atribut yang biasa ia kenakan, berhadapan dengan Zhou, dokter cantik yang secara penuh merawatnya hingga saat ini.
"Aku lihat kamu sudah hampir pulih. Kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit," kata Zhou dengan nada tenangnya seperti biasa.
Lin Mu tersenyum menanggapi. "Baik, Dokter Zhou. Terima kasih sudah merawatku beberapa hari ini," ujarnya dengan telapak tangan satu terkepal dan satu terbuka, yang lalu ia adukan keduanya di depan wajah, membentuk salam yang biasa ditunjukkan para petarung kungfu.
Zhou bahkan cukup merasa aneh melihat jenis salam tersebut. "Bagaimana kamu mempelajari ini? Cukup lambaikan tangan saja!"
Pulasan senyum kikuk ditunjukkan Lin Mu. Bagian kanan telapak tangannya ia naikan untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe. Aku tidak memerhatikannya. Sudah mengikuti para pendekar di dinasti kuno itu," kelakarnya, yang mungkin ... benar.
Zhou lagi-lagi tersenyum. "Sudah! Cepat pergilah," katanya sedikit merasa lucu. "Setelah pulang ... ingat, untuk banyak berkomunikasi dengan orang lain. Ini bisa membantumu untuk kembali pulih."
.....
Kini dengan langkah yang lebih tegap, Lin Mu berjalan menapaki karpet tembok dengan hamparan rumput hijau di tepiannya, menuju keluar rumah sakit dan berhenti tepat di jalanan besar di mana berbagai kendaraan melintas di sepanjangnya. Ia berdiri di sana, menunggu sesuatu.
Tak lama, seolah mengerti apa yang diinginkan Lin Mu, sebuah taksi berwarna kuning menyala berhenti tepat di hadapannya.
__ADS_1
Pemuda itu masuk, lalu melaju di dalam kendaraan tersebut menuju suatu tempat tentu saja.
Di antara diamnya, pikiran Lin Mu mulai menjelajah ke sana kemari, seraya ditatapnya jalanan yang meninggalkan selaksa tempat demi tempat, seiring perputaran roda taksi yang membawanya terus melaju.
"Walaupun tempat ini kekurangan kekuatan spiritual langit dan bumi ...." Semua yang ditemukannya setelah sadar dan bangun sebagai Lin Mu yang berbeda, menjadi bahan penilaiannya. "Tapi perkembangan masyarakatnya, sangat tidak sederhana."
Tak berselang lama, taksi yang ditumpanginya telah terhenti di depan sebuah bangunan luas.
Universitas Donghai.
Lin Mu atau ... Cang Kunzi, bukan manusia bodoh yang tak mengerti tentang biaya atau ongkos kendaraan yang ditumpanginya.
Dirogohnya saku celana yang dilihat dari ekspresinya, tak ada apa pun yang ia temukan di sana.
"Bocah, kamu tidak mungkin tidak bawa uang, 'kan?!" Dari posisinya di kursi kemudi, sopir bertanya, melihat gelagat Lin Mu yang sedikit mencurigakan.
"Eh, ini ... Pak, umm ... maaf ...." Nada terbata, seraya mengusap tengkuknya merasa tak enak, Lin Mu cukup bingung. "Aku baru saja keluar dari rumah sakit. Aku lupa, kalau aku ... tidak bawa uang!"
"Apa?!" Sang supir tentu saja terperanjat. "Apa kamu benar-benar murid dari Universitas Donghai?!" tanyanya tak habis pikir.
"Kalau begitu, bukankah kamu bisa memanggil temanmu untuk keluar, dan membantumu membayarkan taksinya?" saran sang supir.
"Eh?!" Lin Mu cukup bingung menanggapi. Bagaimana ini, aku tidak kenal satu orang pun, kata hatinya.
Dan lagi, waktu selalu punya cara untuk setiap persoalan.
Di tengah kebingungan masalah ongkosnya ....
"Lin Mu? Lama tidak berjumpa."
Seorang gadis bertopi ungu, dengan potongan rambut hampir menyerupai anak laki-laki, menyembulkan kepalanya tepat di kaca samping Lin Mu.
Lin Mu menolehnya cukup terkejut, lalu mulai menjelaskan, "Itu, aku langsung datang ke sekolah begitu keluar dari rumah sakit. Aku lupa membawa uang, jadi ...."
__ADS_1
"Tidak masalah, aku ada." Gadis berambut pendek itu menyela. Sebuah dompet berbentuk animasi kucing, diperlihatkannya. Tapi sebelum membayarnya, terlebih dahulu gadis itu mengamati Lin Mu. "Tapi ... apakah kamu dirawat di rumah sakit karena operasi plastik?" tanyanya melontarkan asumsinya. Karena pandangnya menilai, ada yang lain dari pemuda itu.
Lin Mu menanggapi dengan senyuman canggung, "Bukan! Kamu pinjamkan uang padaku untuk bayar ongkosnya dulu, setelah itu ... aku akan turun dan memberitahu."
Tanpa banyak lagi menimpal, gadis itu lalu membayar biaya taksi Lin Mu.
Dan kini keduanya mulai berjalan beriringan memasuki area Universitas.
"Sebenarnya seperti ini ...." Sesuai janjinya pada gadis itu, Lin Mu memulai penjelasannya. "Aku jatuh dari gedung, lalu ...." Selanjutnya ia mulai menjelaskan apa diketahuinya dari Zhou apa yang telah terjadi padanya hingga berakhir dengan wajah yang berbeda.
Dan sesuai seharusnya, sambutan gadis berambut ungu itu terkejut tentu saja. "Lupa ingatan karena jatuh dari gedung?! Jadi kamu tak ingat siapa pun, begitu?!" Kini tatapannya berubah menelisik. "Kalau begitu, bukankah seharusnya kamu juga tidak ingat denganku?"
"Benar, aku tidak lagi! Maaf!" jawab gegas Lin Mu dengan tawa konyolnya.
Gadis itu Mendengus. "Kalau begitu, apa kata dokter? Apa masih ada kemungkinan untuk pulih?!"
Lalu dengan santainya Lin Mu menyahuti, "Tidak tahu! Mungkin saja."
Sesaat kemudian, gadis bertopi itu berubah ekspresinya menjadi redup. Seperti ada beban yang bersemayam di dalam dadanya, yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri tentu saja. "Sebenarnya mungkin hilang ingatan adalah sebuah hal yang baik," komentarnya dengan suara pelan. "Kadangkala, aku juga berharap, aku bisa hilang ingatan."
Di tengah jalan, sebelum mencapai area dalam universitas, langkah Lin Mu dan gadis bertopi itu tak sengaja berpapasan dengan tiga orang gadis berpenampilan feminim, yang tak lain adalah ... Du Xiaoyue dan kedua dayang-dayangnya--anggap saja.
Sepasang mata Xiaoyue menangkap keganjilan dalam diri Lin Mu, hingga menampilkan otomatis kelopaknya yang melebar, tak percaya.
Setelah cukup sapuan pandangnya, gadis berambut hitam panjang itu, mulai menyusun kata, "Kamu ... meminta izin untuk melakukan operasi plastik?" Terang saja ia ingin tahu.
Lin Mu sedikit terkejut menanggapi, "Tidak! Aku hanya--"
"Benar! Kenapa?! Sangat tampan, 'kan?!" pungkas gegas si Gadis bertopi. Ada sorot tak suka dalam matanya atas Xiaoyue.
"Hmm ... jangan mengira aku tidak akan membatalkan pernikahan, hanya karena kamu melakukan operasi plastik," tutur Xiaoyue ringan saja. Sedikit terselip nada sombong di dalamnya.
Kecantikan yang seharusnya dipenuhi ketulusan juga attitude yang mempuni, malah terkesan masam dan menjijikkan. Begitu yang terlihat setidaknya.
__ADS_1
Dalam kuasa kecongkakkan, di tengah genggaman merasa paling mampu dengan segala kelebihan, hati dan pikiran Xiaoyue saling terkait, membentuk hujatan yang mungkin hampir setiap saat ia hunuskan pada sosok si Pecundang ... Lin Mu.
Sampah selamanya adalah sampah!