
"Hati-hati!" Song Yuru berseru memperingatkan pada Lin Mu.
Melalui pupil hijaunya, Lin Mu menelisik diri pria yang akan menjadi lawannya.
Li Guangrui, tampaknya juga bukan orang bodoh, hatinya menilai.
Satu tendangan kaki kanan Guangrui melesat cepat mengarah padanya.
Tapi jika ingin mengalahkanku, itu mimpi! Lin Mu menghindar tak kalah cepat dengan gerak gesit yang manis. Sepasang telapak tangannya telah siaga dengan kepalan ketat.
"Terima jurusku!!" Guangrui berteriak keras. Sorot mata elang menantang siap makhluk muda di depannya.
BLAAM
Tendangan kaki kirinya melecut melewati sasaran, setelah Lin Mu berhasil menangkisnya dengan kedua tangan yang ia satukan. Kemudian menyusul tendangan-tendangan berikutnya bergantian kaki penuh kekuatan.
"Hebat juga, kamu! Bisa menangkis tendangan bertubi-tubiku!" Guangrui memuji, belum takjub, hanya sedikit kagum. Bibirnya masih dipulas senyuman tipis-tipis meremehkan.
"Tapi lihat bagaimana nasibmu selanjutnya!" Ia menandaskan di antara balutan congkak.
"Lin Mu, kamu baik-baik saja, 'kan?!" teriak cemas Song Yuru di posisinya. Matanya melebar lengkap dengan deru jantung yang berdentam saling bertabuh.
Guangrui kembali mundur dengan posisi tangan masih mengepal. Lagi-lagi, Lin Mu berhasil menahan pukulannya.
Aku bisa menendang tiang kayu dengan mangkuk tebal. Bagaimana dia bisa menghalau seranganku seperti tidak apa-apa.
"Tentu tidak apa-apa! Aku tidak menyangka, dia cukup hebat," kata Lin Mu membalas seruan Song Yuru.
"Kamu juga hebat! Kapan berlatihnya?!" Konselor kampus itu bertanya dengan raut takjub. Mulutnya bahkan hingga menganga saking terpukau.
"Aku mulai berlatih setelah keluar dari rumah sakit." Lin Mu, setelah dikuasai Chang Kunzi, dia resmi menjadi seorang pembohong kelas kutilang. Banyak juga kelakar yang dibuatnya demi menutupi sebuah gelombang kekuatan yang memang seharusnya tak ia umbar atas nama kesombongan.
"Sudah cukup mengobrolnya?!" Guangrui berteriak memecah. "Hey! Jika kau hebat, terima seranganku selanjutnya!" Seraya melompat lambung, seperti seekor cheetah dengan kaki siap menendang ke arah Lin Mu.
Dan ....
"Sesuai harapanmu!" kata Lin Mu. Sepasang telapak tangannya ia buka dengan kelima jari berjejer tegak, tak ada kepal--disiapkannya di depan dada.
Dua tangan?
__ADS_1
Tajam Guangrui menatap gerakan Lin Mu.
Dia ingin menangkap tendangan kuatku dari atas ke bawah dengan dua tangan?
Pria itu terus mengayun tendangan dengan posisi menukik. Yang lagi-lagi dihadang Lin Mu tak cukup kewalahan. Ia tentu masih sekuat biasa.
Jika dia benar-benar bisa menangkapnya, aku tidak boleh beri dia kesempatan!
Menukar kaki dengan gerak cepat di antara tubuhnya yang melambung lagi-lagi.
"Gawat!" Song Yuru memekik cemas.
SWOSHHH
Sayangnya di luar dugaan Guangrui, Lin Mu mencelat hindar lalu berbalik untuk mengambil celah kemudian dengan cepat menangkap telapak kaki beralas sepatu hitam miliknya. Sedang tangan Lin Mu lainnya menahan betisnya.
"Beraninya menjebakku, aku akan memberimu pelajaran yang sebenarnya!" seru Lin Mu dengan gigi beradu. Tak sampai dua detik, telapak kaki lawannya ia remas dan memelintirnya sekuat tenaga, menyeimbangkan tekanan dengan betis yang ditahannya tak kalah kuat.
"AAAARRRGGGHH!" Teriakan menggema Guangrui membelah langit.
BRUK
"Jika kamu tak cukup hebat dalam kungfu, jangan pernah memainkan gerakan yang sulit. Jika tidak, maka kamu yang akan rugi. Paham?!"
Anggap saja petikan pelajaran dari jagoan kultivasi. Bukankah Guangrui seharusnya beruntung?
"Sial!" Pria itu mengumpat geram seraya ditatapnya punggung Lin Mu juga Song Yuru yang perlahan menjauh dari pandangnya.
.....
Seraya mengayun zigzag dan ringan pasang tangan-tangannya, kedua manusia berlainan gender itu nampak santai berjalan beriringan.
"Tak kusangka, Lin Mu. Kamu baru berlatih beberapa bulan saja sudah sehebat itu!" puji Song Yuru, kali ini ia benar-benar dibuat takjub. Lin Mu yang dulu diketahuinya sangat pendiam, tak banyak bicara, juga ... katakan saja lemah, kini seribu kali lebih memukau dibandingkan atraksi lumba-lumba di kebun binatang, atau ahli sirkus yang bergelantungan di ketinggian seribu kaki di atas permukaan tanah--kaki semut.
"Tidak, aku hanya menjaga kebugaran," Lin Mu berkilah. "Tak kusangka bisa berguna."
Bibir kecil Song Yuru nampak manis tertarik ke samping membentuk senyuman. "Setelah kamu keluar dari rumah sakit, sepertinya kamu berubah jadi orang lain. Kamu sangat hebat dalam segala aspek." Lalu sebersit bayangan tiba-tiba melintasi kepala wanita dengan kacamata beningnya tersebut. "Omong-omong, kungfu wanita yang tinggal bersamaku juga sangat hebat!" ujarnya memberitahu. Entahlah untuk apa.
Tapi bukan Chang Kunzi jika tidak tertarik pada hal-hal berbau jurus dan kekuatan.
__ADS_1
"Apakah Zixi yang diungkit Guangrui tadi?" tanyanya tertarik. Benar saja. Ia akan bersemangat walau dalam keadaan tidur sekali pun.
"Kamu benar. Zixi sudah berlatih beladiri sedari kecil. Terakhir kali aku melihatnya berlatih pedang. Tarian pedangnya selancar aliran air." Yuru menambahkan.
"Sehebat itu? Apa yang biasanya dilakukan master seperti itu?" tanya Lin Mu ingin tahu.
Song Yuru menggedik bahu. "Entahlah. Aku tidak tahu soal itu. Biasanya Zixi keluar lebih awal, dan akan pulang terlambat. Aku juga belum pernah dengar dia membicarakan soal itu."
Langkah kedua manusia itu akhirnya terhenti di depan halaman sebuah rumah setelah berjalan cukup jauh.
"Tidak mau masuk, duduk dan minum dulu?" tanya Song Yuru. "Hari ini Master ada di rumah loh!" Kalimat itu seperti pancingan.
Lin Mu menanggapi dengan senyuman sungkan. "Tidak perlu. Terima kasih atas tawarannya. Aku tidak mau mengganggu. Lagipula aku masih ada urusan," tutur Lin Mu dengan nada halus. "Selamat ulang, Ibu Guru Song," ucapnya setulus putik mendampingi benang sari.
"Baiklah kalau begitu. Lain kali harus datang, ya!" Dengan lapang hati Song Yuru mengiyakan.
Dan disambut Lin Mu dengan anggukan tipis. "Sampai jumpa, Ibu Guru Song. Aku pamit."
Lambaian tangan menjadi pemisah pertemuan tak terduga hari ini bagi Lin Mu dan Song Yuru.
Pemuda berlensa hijau itu kembali menuntun langkahnya menyusur jalan.
Sepasang tangannya ia susupkan ke saku celana. Menikmati angin yang sesekali berlalu dengan tamparan menyejukkan di wajahnya.
Hari ini ....
Dua perkara serasa dengan mudah dilaluinya. Walaupun cukup memakan waktu, bahasa dan juga tenaga, Lin Mu menyikapi seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Sekarang, ia Xiaoyue telah lepas ikatan, putus pertalian, juga ... luruh segala bentuk hinaan wanita itu atas dirinya.
Dan Song Yuru, semoga wanita konselor itu bisa lepas terbebas tanpa kejaran manusia semenjijikkan Li Guangrui, ia berharap.
Di saat bersamaan, saat hatinya nampak terbuai dalam ketenangan, sebuah suara ricuh berdebam sedikit jauh di balik tubuhnya, berhasil mengejutkannya.
"Tangkap pencuri itu! Tangkap! Dia mencuri sebuah barang!" Teriakan saling bersahutan juga saling menimpal terdengar semakin dekat ditangkap pendengaran Lin Mu.
Lin Mu berbalik sontak untuk mengetahui yang terjadi. Dan tertangkaplah sesuatu. Lin Mu menatapnya dengan mata terpicing.
Seorang pria setara tinggi dengannya, berlari dengan memeluk erat sesuatu berbentuk kotak di depan perutnya.
__ADS_1
Mungkinkah dia yang diteriaki orang-orang?