Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 53


__ADS_3

Huh! Apa bagusnya Keluarga Ji, beraninya merendahkan aku! Ruang hati Lin Mu terus berdecit terisi umpatan-umpatan kekesalannya hari ini. Selanjutnya aku tidak boleh terlalu merendahkan diri, ia memutuskan.


Jalanan yang ditapakinya nampak lengang. Suara hentak sepatunya terketuk-ketuk terasa nyaring terdengar saking sepinya. Kerikil-kerikil kecil sesekali ditendangnya hingga melambung tak terlihat--entah mendarat di mana dan menimpa apa, Lin Mu hanya meluapkan segenap kekesalannya.


Sampai ....


DRAP


DRAP


DRAP


Eh? Nada teratur itu sedikit mengusiknya, dan ....


"TOLOOONGG!"


Menyusul teriakan itu. Lin Mu jelas mendengarnya. Bahkan terasa sangat dekat. Gegas tubuhnya ia putar dengan kepala berotasi berkeliling mencari sumber suara.


"TOLOONG!"


Seorang pria bertubuh gempal dengan rambut yang dipotong menyerupai bentuk separuh terpurung kelapa yang terbelah, memaksakan kakinya yang berat untuk berlari, sudah tertangkap sepasang pupil hijau Lin Mu.


Sepertinya aku pernah melihat si gendut itu, ia berkicau dalam hati. Diamati dengan mata terpicing, lelaki gendut itu terus berlari semakin dekat menyongsong ke arahnya. Gerakan lambat karena berat badan berlebih membuat napas pria gendut itu terdengar lantang, mengimbangi derap kakinya yang terseok serampangan.


Aku ingat! Bukankah dia Xing Weilong yang gemar mengganggu laki-laki dan perempuan di universitas?


Mulai dipunguti Lin Mu, ceceran ingatan tentang perangai si gendut itu selama yang diketahuinya.


Salah satu yang diingatnya ....


Saat itu ia tengah berjalan santai di jalanan sekitar kampus. Cukup tenang pada awalnya, sampai keramaian di depan saja mulai mengusik perhatiannya. Diperlambatnya langkah seraya membidik tatap pada titik itu untuk menuntaskan keingintahuannya. Titik di mana beberapa lelaki setara usianya, tengah merundung seseorang lelaki lainnya yang terdengar meracau penuh permohonan.


"Bocah! Kalau jalan buka lebar-lebar matamu!" Itu tak lain adalah intonasi congkak milik Xing Weilong. Ia berseru dengan tangan bersilang dalam posisi tegak berdiri dipulas keangkuhan, diapit dua lelaki yang mungkin--katakan saja anak buahnya.


Sementara seorang lelaki berkacamata bersetel kemeja rapi, yang pasti adalah korban bully-nya, terdampar ketakutan di hadapannya.


"Xing ...." Ia meralat, "Umm, maaf, Kakak! Maaf. Maafkan aku!"


.....

__ADS_1


.....


.....


"Xing Weilong!" tegur Lin Mu setelah pria tambun itu berhenti tepat di hadapannya diiring napas terengah-engah. "Malam ini, ada hal menarik apa, sampai kau berlari-lari seperti itu?" tanyanya dengan senyuman mengejek.


"Lin, Lin Mu!" balas Weilong tergagap karena terkejut. Namun juga terselip sedikit kesyukuran. "Beruntung sekali ada penyelamat!" ujarnya seraya menoleh bolak-balik depan belakang dengan wajah ketar-ketir--mencemaskan sesuatu.


"Heeyy!! Berhenti! Malam ini kau harus mati!!!" Teriakan disusul gemuruh hentak belasan pasang kaki menyusul di belakang Xing Weilong.


Segerombol pria, berlari mendekat ke arah Lin Mu dan si tambun Weilong seraya mengacung-acungkan senjata mereka ke depan. Terdiri dari badik, katana, pisau, juga pemukul bola baseball, terayun-ayun gembira secara serentak hanya untuk memburu satu orang pria gendut dengan napas pendek dan langkah berat gebay-geboy seperti bebek.


Lin Mu menatap mereka sedikit terkejut, lalu menjatuhkan lihat pada Weilong yang mulai beringsut ke belakangnya. "Kamu biasanya bermain dengan sangat keras. Kenapa bisa tiba-tiba dikejar untuk dibunuh?" tanyanya pada Weilong sedikit heran.


Sekarang jangan tanyakan itu dulu! Weilong menghardik keras dalam hati. Kepalanya berotasi lagi-lagi menatap gerombolan pemuda yang kini menjejak penghapusan jarak di depannya. "Lin Mu, kita adalah teman sekelas. Tolong aku!" pintanya di tengah keringat bercucur. Malaikat maut mungkin tengah menggelitiknya. "Kalau tidak, malam ini pasti aku akan mati."


"Bocah! Kami ingin si Gendut!" Salah satu pemuda dari deretan manusia bersenjata itu berseru pada Lin Mu. Posisi mereka saat ini telah rapi berjejer, beberapa jarak saja di antaranya. "Jika tidak ingin mati ... cepatlah minggir!" Ultimatum yang manis didengar Lin Mu.


Xing Weilong semakin gemetar. Kaki sintalnya telah tak mampu menopang tubuh. Ia melemas, lalu ambruk berlutut dalam ketakutan yang luar biasa. "Lin Mu ... kamu bisa mengalahkan Yagyu Kojiro, seharusnya para Gangster ini bukan masalah untukmu, 'kan? Tolonglah aku!" pintanya seraya menarik-narik lengan baju Lin Mu.


Untuk sejenak Lin Mu menimang, lalu memutuskan lima detik kemudian ....


"Kamu masih tidak mau minggir juga?!!" Satu bagian dari gangster itu kembali berteriak menyergah. "Apa kamu tidak menginginkan nyawamu lagi?!"


Sembari menggulung lengan jas berikut kemeja yang rangkap dikenakannya, Lin Mu berujar santai menanggapi mereka, "Maaf, dia teman sekelasku. Jika kalian cari masalah dengannya, mana bisa aku berdiam diri saja!"


"Jangan banyak bicara!" Pria yang berdiri paling depan menghardik keras. "Serang! Lumpuhkan mereka!" komandonya pada teman-temannya.


"Baik, Kakak!" Semua mengangguki serentak.


"Dasar bodoh!" Mereka mengejek. "Begitu ingin mati rupanya! .... Akan kami kabulkan!"


Senyuman Lin Mu menyambut tanpa beban secuil pun.


Level para gangster ini tak ada tantangannya sama sekali!


Sedangkan Weilong terduduk tanpa daya dimakan ketakutannya sendiri. "Hati-hati, Lin Mu! Mereka membunuh tanpa berkedip!" Ia mengingatkan.


"Benarkah?" tanggap Lin Mu datar. "Kalau begitu ...." Satu kakinya mulai ia majukan. ".... Biarkan mereka menderita sedikit!" tandasnya. Sepasang tangannya sudah dalam posisi siap serang, didukung kuda-kuda tipis yang dibuat tak cukup kokoh. Ia tak membutuhkan antisipasi.

__ADS_1


Dilihat kasat mata, telapak tangannya nampak mengeluarkan cahaya kuning keemasan lalu berpendar menguasai sekujur tubuhnya.


"MATILAAAAHH!"


"SERAAAANNGGG!!"


Para Gangster itu mulai maju. Gemuruh yang ditimbulkan cukup mengacau udara tenang dalam kelam yang membumbung.


"Kalian sungguh semangat ingin maju," ujar Lin Mu masih santai. Dibentangkannya tepalak tangan di samping pinggangnya, lalu memutar sesaat seperti gerakan sebuah jurus. Sinar-sinar keemasan yang tadi memendar luas di tubuhnya, kini nampak berkumpul di sana.


"KALAU BEGITU, RASAKAN INI!!" Sekali hentak dorongan telapak tangannya ke depan--mengarah pada gerombolan bromocorah, cahaya emas itu terlontar menghantam mereka seperti sebuah kepalan tangan raksasa.


"AAAAARRRRGGGGHHH!!"


Tidak satu pun terlewat, tubuh-tubuh para Gangster itu terpental serempak ke belakang dengan tubuh menekuk dalam, ke dasar tanah yang mereka jejaki.


BRUK


BRUK


BRUK


Berakhir dengan posisi bercecer, namun juga ada yang bertumpuk serampangan saling menindih.


Di tempatnya, Xing Weilong menatap dengan mata terbelalak. "Pukulan tenaga dalam?" gumamnya terperangah. "Apa aku tidak salah lihat?"


"SAKIIIITT!"


"DADAKU RASANYA PANAS!"


Satu persatu mereka mulai berkicau dengan keluhan serupa.


Fiuh! Berhasil.


Lin Mu menarik kembali lengannya yang terjulur ke depan. Ditatapnya telapak tangan yang masih terang kekuningan itu dengan senyuman puas.


Cukup menghilangkan rasa dongkolnya hari ini karena cercaan Keluarga Qinglan.


"Bukankah pukulan itu cuma ada di film?!" Xing Weilong bergumam di antara keringat yang bercucur tak terkendali.

__ADS_1


Jangan bercanda!


__ADS_2