Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 22


__ADS_3

Semakin jauh berlari, ayunan sepasang tungkai kaki milik Luo semakin melemah.


Sudah sampai di sini, seharusnya sudah aman untuk saat ini, hatinya berasumsi seraya membungkukkan tubuh, menopangkan dua telapak tangannya di lutut untuk menetralkan napas yang cukup berat dan tersengal.


Setelahnya, Luo kemudian mulai bangkit menegakkan tubuh lalu mengedar pandang ke sekeliling mengamati. Jalanan yang dihimpit bangunan-bangunan yang mungkin toko di tepiannya itu terlihat sepi. Namun ....


TAP


TAP


TAP


Suara langkah kaki terdengar menggema dari suatu arah. Luo seketika memasang raut waspada.


Pengawal mengejar! Tidak, langkahnya begitu santai. Seharusnya hanya orang yang lewat.


Sampai ....


Sesosok pria menyembul dari belokan sebelah kiri. Semakin mendekat, Luo semakin bisa menangkap wajah itu dengan jelas.


Pria yang di pesawat!


Ya! Siapa lagi kalau bukan Lin Mu.


Merasa mendapat angin segar, tanpa berpikir apa pun, Luo menarik lengan pemuda itu tepat ketika Lin Mu melewati dirinya.


Dan Lin Mu menanggapi sedikit terkejut.


"Nona?" tanyanya dengan kening berkerut. "Maaf, aku tidak membutuhkan pelayanan apa pun. Kamu mencegat orang yang salah."


Kalimat penegasan itu membuat Luo tersentak. Sepasang netranya melebar lengkap dengan mulut menganga. "Pelayanan?" gumamnya tak percaya. Apakah pria itu mengira bahwa dirinya seorang wanita malam yang kerap menawarkan diri pada pria-pria hidung loreng?


Ya, Lorrddd ....


Kemudian ia mulai menyapukan tatapnya mengamati penampilannya sendiri dari ujung kaki hingga ke dada.


Sabrina blouse berwarna coklat yang dikenakannya jelas memperlihatkan pundak putih dan melorot hingga ke belahan dada. Juga rok payung di atas lutut ber-stocking jaring hitam menutupi sampai mata kaki.


Hmm ... memang seksi dan bisa masuk kategori penampilan wanita malam.


"Hey! Kamu berhenti!" cegat Luo berteriak, ketika diangkatnya kepala dan mendapati Lin Mu sudah memunggungi dengan langkah menjauh. "Kamu salah paham terhadapku. Aku bukan wanita seperti itu. Ada seseorang yang mengejarku dan ingin membunuhku. Bisakah kamu membantuku?"


Lin Mu yang sudah berbalik badan, nampak tersenyum tipis menanggapi, "Ternyata seperti itu. Kalau begitu kamu ikuti aku," ujarnya. "Aku tinggal di dekat sini. Dan tidak jauh dari sini ada kantor polisi. Kamu bisa pergi ke sana untuk meminta polisi membantumu."

__ADS_1


Rembulan tersenyum di ketinggian dengan lingkaran penuh. Bintang-bintang berkedip manja seolah meminta perhatian.


Lin Mu, dan juga Luo, keduanya kini sudah berdiri di seberang bangunan kantor kepolisian.


Merasa tugasnya mengantar gadis itu sudah selesai, Lin Mu menuntun langkah untuk berlalu dari tempat itu seraya bercakap, "Sebaiknya biarkan polisi mengantarmu pulang. Jangan lagi berkeliaran sendirian di luar malam-malam seperti ini."


Namun ada yang tak beres. Lin Mu melirik dengan tatapan tajam, lalu berbalik menghadap ke belakang. Huhh, gadis itu bukannya masuk ke kantor polisi, malah ikut berjalan mengikutinya. "Ada apa? Apa masih ada hal lainnya?"


Sepasang tangannya ia tautkan, merundukkan kepala dengan raut--antara kaku dan malu. "Apakah kamu benar-benar tidak mengenaliku?" tanya Luo akhirnya.


Sedikit saja mengernyit, Lin Mu lalu menjawab, "Sejak tadi juga sudah kuanggap saling kenal. Kalau kita berjodoh, kita akan bertemu kembali. Aku akan pulang untuk bergegas makan malam."


Luo tertegun di posisinya. Hati dan pikirnya laju mulai sibuk memasang argumen.


Si bodoh ini benar-benar tidak mengenaliku. Mungkinkah sekejap mata pun dia tidak senang melihatku, dan hanya ingin pulang untuk makan malam?


Lalu menundukkan wajah dengan tatap membentur aspal di bawah kakinya.


Tetapi pada saat ini untuk memanggil polisi ....


Ah, lebih baik menunggu orang dalam keluarga untuk datang menanganinya nanti. Yang terpenting sekarang adalah menemukan tempat persembunyian yang aman.


Dan melanjutkan racauan batinnya seraya mengangkat wajah, namun membenturkan tatapannya pada lain hal di sudut kiri.


Sampai kemudian sebuah gagasan muncul di kepalanya.


"Aku tidak punya uang sepeser pun sekarang! Bisakah kamu mentraktirku makan malam, dan aku akan membayarnya kelak di lain waktu."


Netra hijau Lin Mu melebarkan kelopaknya. Ada sedikit perasaan kasihan menatap wanita itu.


"Baiklah! Tapi pulanglah segera setelah kamu selesai makan. Tidak aman berada di luar sendirian."


Udara malam semakin menyembah dingin yang menusuk. Lin Mu berjalan dengan posisi di depan membelakangi Luo seraya menyusupkan sepasang telapak tangannya ke saku celana.


"Apakah ada restoran di tempat ini?" tanya Luo memecah situasi.


"Restoran?" Sejenak terdiam. "Tentu saja aku pulang ke rumah. Kalau tidak pulang, bagaimana aku bisa memasak untukmu!" ujar Lin Mu sedikit mendengus.


Luo yang masih setia mengikuti, memasang senyuman tipis menyikapi gaya dan tata bahasa pemuda di hadapannya itu.


Meskipun aku merasa dia tidak akan bermaksud buruk, tapi ... ini juga terlalu santai.


Hah!

__ADS_1


Apa yang sebenarnya dipikirkan wanita itu?


Tak lama, sampailah keduanya di halaman sebuah rumah minimalis yang saat ini ditempati Lin Mu seorang diri.


Lantai kramik berwarna putih polos mulai mereka jejaki satu persatu sampai berakhir di dalam, dan menyongsong satu set sofa berwarna gelap.


Tanpa dipersilahkan, Luo langsung saja mengambil posisi duduk di salah satunya, terhubung kakinya yang sudah cukup pegal karena berjalan cukup jauh, dan juga tadi sempat berlari.


Lin Mu sejenak mengamatinya, dan berhasil menangkap sedikit keganjilan di bagian pergelangan kaki wanita itu melalui setetes darah yang meresap ke bagian luar stocking gelapnya.


Ternyata pergelangan kakinya terluka parah. Kalau tidak sengaja terkilir, mana mungkin bisa seperti ini. Jadi yang dia katakan seharusnya benar. Tapi dia kuat juga ... tidak mengeluh sedikit pun.


Lantas tanpa memperpanjang untaian kata di balik kepalanya, Lin Mu melangkah menuju dapur. Dan kembali sesaat kemudian dengan sebaskom kecil air hangat di kedua tangannya.


Luo menyambutnya dengan wajah terbelalak, ketika baskom berisi air hangat itu ditaruh Lin Mu di bawah kakinya dengan posisi seperti orang bersimpuh.


"Rendam kakimu sebentar. Tunggu sampai darahnya menghilang. Aku akan memijatnya sedikit. Ini bukan hal yang serius," kata Lin Mu enteng saja.


"Te-terima kasih," sahut Luo terbata.


Setelah menurunkan stocking juga melepas sepatunya, gadis itu mulai menaikkan sepasang kaki polosnya yang mulus tak ada burik walau setitik itu, ke dalam rendaman air hangat yang disedikan Lin Mu.


"Omong-omong, aku belum memperkenalkan diri," ujar gadis itu mencoba mengalihkan irama aneh yang menyergapnya tiba-tiba. "Namaku Luo Bingyun."


Nah! Itu dia nama lengkapnya.


Dan lalu disambut Lin Mu dengan ekpsresi ringan, "Namaku Lin Mu. Senang berkenalan denganmu."


Beberapa saat setelahnya, Lin Mu sudah berpamitan untuk melakukan niatan awalnya di dalam dapur yang hanya disekat kaca di kiri ruangan minimalis yang ditinggalinya itu. Menyebabkan cukup jelas sosoknya ditangkap Luo Bingyun yang tak lepas memperhatikannya di ruang tamu.


Lin Mu, ya ....


Jika aku hanya orang biasa, lalu ada seseorang yang terus menjaga dan memperhatikanku seperti ini, nampaknya menyenangkan.


Itu mungkin sebentuk harapan.


Ya, aminkan saja!


Tak berselang lama, Lin Mu sudah muncul mendekat ke arahnya dengan sepiring makanan di tangannya. "Kenapa tatapanmu terlihat tidak sabar? Apa sudah sangat lapar?!"


JRENG


Luo Bingyun seketika mengerjap--bodoh. "Ahh, ti-tidak!" elaknya tergagap. Lalu menjatuhkan tatapnya pada sesuatu di bawah kakinya untuk mengalihkan pembicaraan. "Umm, apakah ini sandal yang disiapkan untukku?!" Lalu digunakannya gegas sepasang sandal spon putih yang wujudnya mirip dengan sandal yang biasanya tersedia di dalam kamar hotel tersebut. "Cukup pengertian, ya!"

__ADS_1


__ADS_2